Pelaminan

Pelaminan
Bab 72


__ADS_3

Sepulang dari pesta ulang tahun Sofia, Kevin dan Regina kini tengah duduk bersama di atas tempat tidur. Kevin memeluk Regina dari samping. Seperti yang Kevin janjikan di pesta tadi, bahwa ia akan menceritakan tentang Sabila pada Regina.


"Aku akan menceritakan semuanya, aku harap kau tidak salah paham dan bisa mengerti keadaanku." tutur Kevin sebelum memulai ceritanya.


"Iya, aku siap mendengarnya." ucap Regina dengan senyumnya.


.


.


.


.


.


Hari itu, Kevin tengah sibuk sejak pagi menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Sabila, kekasihnya. Mereka menjalin hubungan sejak duduk di bangku sekolah kelas dua SMA. Sabila-lah yang selalu berada di samping Kevin, mereka memulai bersama usaha Wedding Organizer dari nol. Keluarga kedua belah pihak pun sudah menyetujui hubungan keduanya. Karena selama mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, Kevin dan Sabila selalu bisa menjaga kepercayaan keluarganya untuk tidak terjerumus dalam pergaulan bebas. Mereka berusaha saling menghormati dan menjaga satu sama lain.


Tak di sangka, usaha WO yang mereka rintis saat mereka masih di bangku kuliah, kini menjadi berkembang pesat dengan segala pencapaian yang membanggakan. Kevin dan Sabila membuktikan bahwa mereka bisa berdiri sendiri tanpa embel-embel nama besar keluarga mereka.


Setelah menyelesaikan pendidikan mereka di bangku kuliah serta usaha WO mereka yang berjalan dengan baik, Kevin memutuskan untuk melamar Sabila di hari yang tahunnya.


"Bagaimana, Vin? Semuanya sudah siap?" tanya Ayah Agung pada Kevin.


"Sudah, Yah. Kevin akan menjemput Sabila sebentar lagi." Kevin melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah Kevin. Ia dan Sabila memang sepakat untuk menikah muda. Bagi mereka, sudah cukup waktu untuk mereka saling mengenal dan memahami selama tujuh tahun kebelakang.


Kedua orang tua Kevin pun sangat bangga dengan apa yang sudah di raih oleh putra pertamanya ini. Meskipun di awal mereka tidak setuju Kevin membangun usaha sendiri karena Aldo saat itu tidak menunjukkan keseriusan dalam bidang bisnis, tapi karena penjelasan Kevin yang lembut, membuat orang tuanya akhirnya mengerti dan memberikan restu serta doa yang terbaik untuk Kevin.


Aldo, pria slengekan yang sebenarnya tidak tertarik terjun ke dunia bisnis. Ia lebih suka dengan dunia olah raga. Namun karena perintah dan pengertian yang di berikan Kevin, akhirnya Aldo pun bersedia untuk turun di dunia bisnis membantu Ayahnya.


"Sayang, aku akan menjemput mu sekarang." isi pesan Kevin pada Sabila.


"Iya, berhati-hatilah." balas Sabila sembari menyelipkan emoticon senyum pada Kevin.


Sabila adalah gadis kalem dengan senyum menawan. Tinggi badannya sama seperti Regina, tingginya hanya sampai di dada Kevin. Meskipun kalem, Sabila tidak suka memakai rok ataupun high heels. Jika terpaksa ia baru akan mengenakan dress dan sepatu high heels yang menurutnya sangat mengganggu pergerakannya.


Sabila selalu memakai kaos serta celana jeans, tak lupa sepatu kets yang setia menemani hari-harinya. Rambutnya selalu ia ikat kuda dengan poni menyamping ke kanan.


"Kau tahu, kau sebenarnya juga cantik jika kau mau memakai dress seperti ini?" Kevin berucap sembari mengulurkan tangannya pada Sabila.


"Iya kau benar, Vin. Putri ku ini sebenarnya sangat cantik jika saja ia mau memakai dress dan menggerai rambutnya seperti ini. Aku sampai tidak mengenali jika ia adalah putriku." ucap Papa Erwin.


"Papa !" rengek Sabila yang mendapat suara tawa dari Kevin dan Papa Erwin. Mama dari Sabila sudah meninggal lama sejak Sabila masih duduk di bangku kelas enam SD. Papa Erwin memutuskan tidak akan menikah lagi dan hanya akan mengurus Sabila.


"Kita pergi dulu, Om." pamit Kevin. Kevin berbohong pada Sabila bahwa mereka akan menghadiri pesta pernikahan dari rekan bisnis Ayah Agung. Semua keluarga sudah tau jika Kevin akan melamar Sabila, termasuk Papa Erwin.


"Kevin, kita kemana? Katamu kita akan menghadiri pernikahan rekan bisnis Ayahmu." tanya Sabila setelah mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah pantai. Sebelum turun, Kevin menutup mata Sabila dengan kain.


"Jangan banyak tanya, ikut saja denganku." ucap Kevin sembari mengikat penutup mata pada Sabila.


"Tapi kemana?" tanya Sabila.


"Ayo turun." Kevin menuntun Sabila turun dari mobil, satu tangannya melindungi kepala wanita itu agar tak terbentur atap mobil.


"Pelan-pelan saja." Kevin menuntun Sabila semakin mendekat di bibir pantai, dimana ia sudah menyiapkan kejutannya. Jantung Sabila berdetak tak karuan, meksipun bingung, namun ia percaya sepenuhnya pada Kevin. Tidak ada alasan yang membuat ia tidak percaya pada pria yang selalu berada di sampingnya sejak tujuh tahun ini.


Kevin berdiri di belakang Sabila, membuka ikat penutup mata itu dengan perlahan.


"Happy birthday, sayang." bisik Kevin di telinga Sabila saat mata wanita itu terbuka.


Sabila menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya, buliran air mata itu tak kuasa ia bendung dan jatuh membasahi pipinya. Selama bersama Kevin, Sabila tidak pernah mendapat kejutan indah seperti ini. Dimana ada balon berbetuk love yang di ikat di tiang dimana ada bunga Lily kesukaannya yang tertata rapi membentuk bundar dan mengelilingi meja dengan dua kursi di tengahnya. Di tambah sorot lampu dari satu titik tepat di atas meja itu membuat suasana semakin romantis.


Kevin menggandeng tangan Sabila yang masih mematung melihat keindahan kejutan yang di berikan Kevin untuknya.


"Kau yang menyiapkan ini semua?" Kevin sedikit menarik kursi agar Sabila duduk di sana.


"Ya, aku yang menyiapkan ini semua. Apa kau tidak suka?" tanya Kevin yang ini duduk di kursi depan Sabila.


"Aku suka, sangat suka." jawab Sabila sembari menepiskan senyumnya meskipun air matanya masih mengalir.


"Jangan merusak hari ini dengan air matamu, sayang." Kevin menghapus air mata Sabila dengan ibu jarinya.


"Aku sangat bahagia, biasanya saat aku ulang tahun kau hanya akan memberikan satu bucket bunga saja. Tidak seperti ini." Sabila mengedarkan pandangannya menatap keindahan kejutan dari Kevin.


"Karena hari ini adalah hari yang special. Aku ingin hari ini menjadi hari yang tidak terlupakan." ujar Kevin.

__ADS_1


"Kevin, kenapa meja ini kosong, dimana makan malam kita?"


"Tidak ada makan malam." ucap Kevin.


"Kalau tidak ada kenapa kau menyiapkan meja ini?"


"Meja dan kursi ini hanya pelengkap saja, mana tahan aku terus berdiri." Sabila berdecak kesal. Meksipun begitu, ia tetap sangat bahagia dengan kejutan dari Kevin.


"Tapi aku lapar." ucap Sabila dengan wajah cemberutnya.


"Badan mu ini kecil tapi makan mu banyak sekali. Apa kau tidak bisa menahan rasa laparmu sebentar saja? Setelah ini aku akan mengajakmu makan malam di tempat lain." ujar Kevin.


"Justru yang berbadan kecil seperti ini yang makannya banyak." Sabila dan Kevin tertawa bahagia.


"Apa aku bisa berbicara serius sekarang?" tanya Kevin.


"Kau dari tadi sudah banyak bicara, Kevin." Sabila menarik hidung Kevin dengan gemasnya.


"Sayang! Aku serius, aku ingin berbicara mengenai hubungan kita." Sabila terdiam, mimik wajahnya berubah. Selama ini, ia takut jika Kevin akan merasa bosan dan membuangnya jika Kevin sudah mencapai kesuksesan. Sama seperti cerita drama yang ia tonton.


"Sayang, kita sudah bersama selama tujuh tahun. Aku rasa kini sudah saatnya aku untuk---"


"Apa kau bosan padaku? Apa kau akan membuang ku? Meninggalkanku?" tukas Sabila. Kevin menaikkan kedua alisnya, merasa heran atas ucapan Sabila.


"Kau ini bicara apa, aku belum selesai bicara tapi kau sudah menyimpulkan semuanya."


"Berarti benar, kan? Kau akan meninggalkanku?" hidung Sabila memerah, tanda air matanya akan kembali membasahi pipinya.


"Sayang," Kevin berdiri, duduk berjongkok di samping kursi Sabila.


"Kau ini bicara apa? Kau pikir aku menyiapkan semua ini untuk mengakhiri hubungan kita?" Kevin menghapus air mata Sabila.


"Memang benar, kan? Semua pria jika sudah sukses pasti akan meninggalkan wanita yang sudah menemaninya dari nol." Sabila menangis, bibirnya mengerucut. Sangat menggemaskan di mata Kevin.


"Sabila, tidak ada niat sedikitpun di hatiku untuk meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu, selamanya." tutur Kevin, ia berdiri lalu memeluk tubuh Sabila.


Kevin melepas pelukannya, di belainya lembut kepala Sabila.


"Dengarkan aku, aku menyiapkan ini semua karena aku ingin bertanya padamu." Kevin menangkup kedua sisi wajah Sabila dengan telapak tangannya.


"Bertanya apa?" Sabila berhenti menangis, namun masih tersisa sedikit isakan darinya.


"Maukah kau menjadi ibu dari anak-anak ku? Menemani ku seumur hidupku?" Kevin menjulurkan tangannya yang memegang cincin pada Sabila.


Sabila kembali menangis, sebuah senyuman ia tepiskan pada pria yang tengah melamarnya ini.


"Jawab, Sabila. Kaki ku sudah mulai kesemutan." ucap Kevin. Sabila tertawa, kedua tangannya berada di lengan Kevin. Mengajak pria itu untuk berdiri.


"Tentu aku mau. Aku mau menjadi ibu dari anak-anakmu. Selalu berada di sampingmu apapun yang terjadi." ucap Sabila dengan tegas. Kevin tersenyum, ia memasangkan cincin di jari manis Sabila. Mencium keningnya lalu memasukkan tubuh Sabila ke dalam pelukannya.


Bahagia menyelimuti mereka berdua, setelah sekian lama hanya saling memeluk. Sabila melepas pelukannya lalu menatap Kevin dengan tatapan marah namun sangat menggemaskan bagi Kevin.


"Aku lapar! Kau jahat sekali, melamarku tapi tidak memberiku makan." seru Sabila. Kevin terkekeh, mencubit kedua pipi Sabila lalu menggandeng tangan wanita itu menuju ke mobil.


"Apa bunga itu akan kau buang?" tanya Sabila dengan polosnya.


"Tidak, sayang. Bunga itu akan berada di kamarmu nanti. Kau suka kan?"


"Tentu aku suka. Kau kira kau akan membuangnya, kan sayang jika di buang." dengus Sabila.


"Apa meja dan lampu itu juga perlu aku kirim ke kamarmu?" tanya Kevin yang mendapat pukulan kecil di lengannya oleh Sabila.


"Itu tidak perlu !" seru Sabila. Kevin terkekeh, meraih jari jemari Sabila lalu menciumnya.


Kevin mengajak Sabila ke salah satu restoran untuk makan malam. Sesudah satu jam mereka menghabiskan waktu di restoran tersebut. Kevin memutuskan untuk segera mengantar Sabila pulang karena hari sudah semakin malam.


"Kevin," panggil Sabila sebelum mereka masuk ke mobil.


Kevin mendekat, menyentuh lembut pipi Sabila.


"Apa?"


"Terima kasih, aku sangat bahagia untuk hari ini." ucap Sabila, Kevin memeluk tubuh Sabila. Mencium puncak kepala wanita itu.


"Berjanjilah kau akan selalu bersamaku, jangan pernah tinggalkan aku." ujar Sabila yang masih dalam pelukan Kevin.

__ADS_1


"Aku berjanji, sayang." ucap Kevin.


"Ini adalah hari yang sangat special untukku, aku tidak akan pernah melupakan hari ini." Sabila mendongakkan wajahnya, menatap wajah Kevin dengan senyum bahagianya.


"Aku mencintaimu." ucap Kevin.


"Aku mencintaimu." balas Sabila.


Kevin melepas pelukannya setelah mencium kening Sabila lama. Ia membukakan pintu mobil untuk Sabila.


Di tengah perjalanan, Sabila meminta berhenti karena ia melihat ada pasar malam. Ia sangat ingin membeli es krim di sana.


"Ini sudah malam, sayang. Besok saja kita berangkat lebih awal dan membeli es krim disini." ucap Kevin yang langsung mendapat wajah cemberut dari Sabila.


"Baiklah, ayo kita turun dan membeli es krim." Kevin melepas self belt-nya. Sabila tersenyum bahagia, ia juga melepas self belt-nya dan segera turun.


"Ayo." ajak Sabila. Namun suara dering ponsel Kevin membuat ia menyuruh Sabila untuk menyeberang terlebih dahulu. Karena memang penjual es krim itu berada di pinggir jalan seberang dan Kevin tidak perlu untuk memasukkan mobilnya ke area parkir pasar malam tersebut.


Sabila sudah membeli dua es krim cone untuknya dan untuk Kevin.


"Kevin !" teriak Sabila dengan girangnya. Kevin menoleh sebentar lalu kembali sibuk melanjutkan obrolannya dengan seseorang yang menelponnya.


"Kevin !" teriak Sabila lagi, dengan senyum yang merekah sempurna serta dua es krim di tangannya, ia melangkah menyeberang jalan.


"Kevin !!" teriak Sabila lagi. Kevin menoleh dan---


Brakkk


Di depan mata Kevin, tubuh Sabila di hantam mobil dengan kerasnya. Mobil itu berhenti, namun tidak dengan tubuh Sabila yang terseret jauh, wajahnya penuh darah, es krim di tangannya jatuh entah kemana.


Kevin menjatuhkan ponselnya. Ia berlari mendekat pada Sabila yang memandangnya.


"Sabila !!!" teriak Kevin. Kevin meraih tangan Sabila yang penuh darah, senyum Sabila tak pernah pudar dari bibirnya.


"Sayang, bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit." panik Kevin, ia memangku kepala Sabila yang penuh darah. Semua orang berkerumun, melihat Sabila dengan tatapan takut serta khawatir.


"Ayo, sayang. Aku akan membawamu ke rumah sakit." Kevin hendak menggendong Sabila, namun tak lama sebuah ambulance datang. Seseorang rupanya telah menelepon rumah sakit yang cukup dekat dengan lokasi Sabila kecelakaan.


Tubuh Sabila di angkat dan di baringkan di bed hospital. Dokter yang ikut di dalam ambulance tersebut mengeluarkan alat pacu jantung begitu ia melihat kondisi Sabila yang semakin melemah. Kevin masih menggenggam erat tangan Sabila.


"Bertahanlah, sayang." ucap Kevin. Ia tak henti berdoa demi keselamatan wanita yang sangat ia cintai ini.


Satu ..


Dua ..


Tiga ..


Kevin melihat tubuh Sabila tertarik ke atas begitu alat pacu jantung itu di letakkan di dada Sabila. Tubuhnya melemas tatkala Dokter menoleh padanya dan menggelengkan kepala.


"Maaf, Tuan." ucap Dokter tersebut. Sekujur tubuh Sabila di tutupi selimut putih, bed hospital itu pun di tarik masuk kedalam ambulance. Genggaman tangan Kevin dan Sabila perlahan terlepas. Kevin mematung melihat ambulance yang semakin menjauh dari pandangannya. Kevin terduduk lemas, berlutut di tengah jalan. Hujan malam itu turun dengan derasnya, membahasi tubuh Kevin yang penuh oleh darah Sabila.


"Sabila." Kevin masih menatap lurus jalan dimana ambulance membawa Sabila menjauh darinya. Bulir bening dari ujung mata Kevin tumpah dengan sendirinya.


"Sabila." Kevin tak henti memanggil nama kekasihnya tersebut. Kevin tak peduli orang-orang memanggilnya dan berusaha menenangkannya. Ia tetap terduduk lemas di tengah jalan.


Sampai akhirnya Aldo dan Ayah Agung datang menghampiri Kevin. Menuntun tubuh lemas pria itu ke dalam mobil dan membawanya pulang.


Paginya, Kevin masih melamun. Bayangan dimana tubuh Sabila dihantam oleh mobil itu masih terlihat jelas di matanya.


"Kak, ayo kita berangkat." ucap Aldo. Kevin berdiri, ia berjalan di samping Aldo untuk menuju pemakaman Sabila.


Sesampainya di pemakaman, Kevin turun ke liang lahat, membantu proses pemakaman kekasihnya itu. Tidak ada air mata, namun bibirnya diam seribu bahasa.


Bunga Lily yang Kevin katakan akan menaruh semua bunga itu di kamar Sabila, kini semua berjajar, tertata rapi di sebuah gundukan tanah yang masih basah itu.


Satu persatu orang yang hadir di pemakaman itu pun pulang, begitupun dengan Papa Erwin, papa Sabila. Ayah Agung dan Papa Erwin meninggalkan Kevin yang duduk di samping makam bertuliskan nama Sabila itu.


Aldo menepuk bahu Kevin sebelum pergi. Tak tega ia meninggalkan kakaknya dalam keadaan seperti ini, tapi ia tau jika Kevin membutuhkan waktu untuk sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2