
Malam dimana Kevin harus meeting sekaligus makan malam dengan pihak management Nona Jenny pun tiba. Ia sudah mengenakan setelah jas berwarna hitam dengan kemeja berwarna putih bersih. Wangi maskulin serta tatanan rambut yang sempurna membuat ia sangat terlihat mempesona.
"Kenapa suami ku tampan sekali ? Aku ingin sekali memeluknya dan mencium bibirnya itu. Tidak tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku masih marah dengannya." Batin Regina.
Regina merasa lucu sekaligus bingung dengan dirinya sendiri. Hatinya masih terasa perih saat mengingat tentang pil itu, namun entah mengapa ia masih bertahan di sisi suaminya. Kata maaf dari Kevin belum pernah ia balas. Regina hanya diam, ia tidak ingin mengatakan ya aku sudah memaafkanmu, sedang kenyataannya ia belum bisa memaafkan Kevin. Ia belum bisa berdamai dengan kata maaf.
Biarlah ia menjadi munafik di saat ia belum bisa memaafkan namun dengan setia berada di sisi Kevin dan menjalani hari-harinya sebagai istri.
"Ayo sayang..." Ajak Kevin. Ya, Kevin mengajak Regina untuk ikut turun ke restoran untuk meeting sekaligus makan malam. Ia tidak mau memberi kesempatan pada Regina untuk pergi darinya.
"Tapi ingat janjimu tadi." Regina menunjuk Kevin.
"Iya aku ingat. Tapi juga ingat janjimu, kau tidak akan kabur dariku." Ujar Kevin juga ikut menunjuk Regina.
"Ikat saja leherku dengan rantai yang panjang seperti doggy." Jengah Regina. Kevin terkekeh mendengarnya.
"Sayang.."
"Jangan panggil aku sayang !" Lagi, Regina kembali berseru.
"Regina......" Panggil Kevin dengan suara terendahnya.
"Apa?"
"Sebelum kita keluar, apa aku boleh memelukmu?" Kevin memohon. Regina hanya mengernyitkan keningnya, heran dengan permintaan suaminya ini.
"Aku mohon, aku sangat merindukan mu." Kevin memasang wajah melasnya.
Regina menghembuskan napasnya dengan kasar sembari memutar bola matanya.
"Iya, tapi hanya peluk saja." Kevin mengangguk dan langsung di peluknya tubuh yang amat ia rindukan ini.
Matanya terpejam merasa nyaman dengan posisinya saat ini. Sudah lama ia merindukan tubuh istrinya, biarlah hanya sekedar memeluk. Meskipun itu tidak cukup, Kevin tetap akan menahan hasratnya sampai Regina benar-benar sudah memaafkannya dan menerima dirinya lagi.
Tanpa sadar, Regina membalas pelukan Kevin dengan erat. Aroma tubuh Kevin menyeruak masuk ke indera penciumannya. Rasa nyaman itu datang, ia rindu di peluk dan di manja oleh suaminya. Air matanya ingin menerobos keluar, rasa haru sekaligus perih memenuhi relung hatinya.
Cup
Kevin mencium puncak kepala Regina, ia masih memeluknya erat. Regina hanya diam menerima ciuman Kevin.
"Sudah cukup !" Regina melepas pelukan itu saat mendengar ponsel Kevin berbunyi.
"Pak, semuanya sudah datang." Isi pesan Nuky. Kevin kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Ia menggandeng tangan Regina keluar kamar menuju tempat meetingnya.
"Duduk diamlah di sini dan nikmati makan malam mu. Aku akan usahakan mempersingkat meetingnya." Ucap Kevin setelah memundurkan sebuah kursi untuk Regina duduk
Sesuai janji, Kevin mengijinkan Regina tidak ikut dalam meeting tersebut dan akan menunggu di restoran. Menikmati makan malamnya sendiri. Regina tidak ingin mengganggu pekerjaan Kevin. Kevin menyetujuinya dan meminta Regina juga berjanji bahwa ia tidak akan mencoba kabur darinya. Perjanjian yang lucu.
"Iya, sudah sana pergilah." Usir Regina tanpa melihat Kevin. Ia sibuk membolak-balikkan buku menu.
__ADS_1
"Iya." Kevin mencium kening Regina singkat sebelum ia melangkah menuju private room di mana meeting di adakan.
.
.
.
.
.
Regina sudah selesai makan malam. Ia masih duduk menunggu Kevin, sudah satu jam lebih ia menunggu namun belum ada tanda-tanda Kevin ataupun Nuky keluar. Rasa bosan melanda Regina, ia ingin kembali ke kamar untuk bermanja-manja ria di atas kasur.
"Tapi nanti dia mencari ku jika aku kembali ke kamar duluan. Lagi pula aku juga sudah berjanji akan menunggunya di sini." Regina berbicara pada dirinya sendiri sembari memasukkan potongan buah ke mulutnya.
"Apa aku harus mengiriminya sebuah pesan?" Regina mengambil ponselnya yang tergeletak di meja.
"Ah tidak. Dia pasti terganggu dan bisa besar kepala jika aku mengirimkan pesan." Regina menaruh kembali ponselnya.
Nuky keluar bersama dua pria dan satu wanita dari private room. Ada obrolan dan tawa kecil mereka yang di tangkap Regina dengan kedua matanya. Namun sosok pria yang sedang ia tunggu tak kunjung muncul.
Nuky berjabat tangan dengan orang-orang itu. Selepas kepergian ketiga orang itu, Nuky menghampiri Regina.
"Ibu masih di sini?" Tanya Nuky.
"Sebentar lagi pak Kevin akan keluar. Masih ada sedikit pembicaraan dengan Nona Jenny." Jawab Nuky.
Regina merasa terkejut mendnegarbkebin masih erada di private room bersama seorang wanita, tapi sebisa mungkin ia tidak menunjukkan mimik wajah terkejut itu di depan Nuky.
"Oh..." Regina mengedarkan pandangannya namun ia justru mendapati Kevin keluar bersama seorang wanita cantik dengan balutan dress mini nan sexy.
"Jadi dia yang bernama Jenny." Lirih Regina.
"Iya Bu, dia yang bernama Nona Jenny." Ucap Nuky yang ternyata mendengar gumaman Regina.
"Eh, kau mendengar ku?" Tanya Regina.
"Iya Bu."
Kevin menjabat tangan Jenny. Setelah Jenny pergi, Kevin menghampiri Regina dengan senyum tampannya. Regina cuek lalu mengalihkan pandangannya.
"Kau sudah makan?" Tanya Kevin sembari mendudukkan tubuhnya di kursi samping Regina.
"Hmm." Sahut Regina.
"Istri anda sedang cemburu pak." Celetuk Nuky.
"Siapa yang cemburu? Aku tidak cemburu." Seru Regina seraya membulatkan matanya pada Nuky.
__ADS_1
"Saya permisi pak." Nuky kembali ke kamarnya. Kevin menatap Regina dengan senyumnya.
"Dia model yang akan menjadi brand ambassador dan bintang iklan untuk perusahaan ayah. Kami sedang memperluas brand perhiasan ke berbagai negara. Jadi kau tidak perlu cemburu dengannya." Ucap Kevin.
"Aku tidak ingin tahu dan tidak cemburu." Ujar Regina.
"Baiklah baiklah. Kau ingin kembali ke kamar atau kita pergi keluar menikmati suasana malam negara ini?"
"Aku sudah mengantuk. Aku mau tidur."
Kevin dan Regina pun kembali ke kamar. Regina segera mengganti bajunya dengan piyama lengan panjang lalu naik ke tempat tidur.
"Apa aku boleh tidur di sini?" Kevin menunjuk sisi Regina untuknya tidur.
"Tidak boleh."
"Lalu aku tidur di mana? Apa aku harus tidur di luar lagi? Ini di hotel Regina, bukan di rumah. Jika di rumah tidak masalah aku tidur di luar. Tapi di sini?" Melas Kevin. Memang sejak Regina kembali, Kevin selalu di usir keluar oleh Regina dari kamar ketika waktu tidur sudah tiba.
"Makanya pesan satu kamar lagi saja." Ucap Regina.
"Baiklah, tapi aku ingin berbicara sesuatu dengan mu dulu. Setelah itu aku akan memesan kamar lagi untuk ku."
"Hmm. Katakan apa yang ingin kau bicarakan." Regina duduk lalu menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Bersiap mendengar apa yang ingin di katakan oleh Kevin.
Kevin pun ikut naik ke tempat tidur dan duduk di samping Regina. Bersiap memulai apa yang ingin ia katakan.
"Tapi berjanjilah bahwa kau tidak akan marah padaku." Ujar Kevin.
"Memangnya apa yang ingin kau katakan? Aku tidak bisa memutuskan akan marah atau tidak jika kau saja belum mengatakan apapun."
"Aku serius..."
"Baiklah, katakan dan aku tidak akan marah." Ucap Regina.
"Apa yang kau lakukan siang itu di restoran bersama Anton?" Tanya Kevin.
.
.
.
.
.
Jangan lupa di like, di comment dan di vote.
Terima kasih ❤️
__ADS_1