Pelaminan

Pelaminan
Menguji Kesabaran


__ADS_3

Tinggalkan jejak cinta dulu buat Kevin dan Regina. Biar yang nulis semangat. Hehe. Btw anyway busway, bintangnya Kevin sama Regina kenapa turun ya? Kemarin² lima, kenapa sekarang jadi empat koma tujuh?


Hmmm ... Ya sudahlah, biarpun sedih aku tetap lanjut Kevin sama Regina kok.


Oke guys, Selamat membaca ❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kevin sangat kesal akan sikap Regina yang di nilainya sangat over. Baiklah, selama ini Kevin cukup memahami dan selalu mengalah pada Regina. Ia tahu, emosi istrinya itu sedang tidak stabil. Hormon wanita hamil memang berubah-ubah. Kevin mengerti itu.


Tapi, kali ini ia benar-benar merasa lelah dan jengah. Bagaimanapun ia mencoba mengerti dan bersabar pada perubahan sikap Regina setiap waktu, suatu saat ia pasti akan merasa lelah. Kevin sama seperti manusia biasa lainnya, sabarnya terbatas. Setiap hari Kevin selalu di uji kesabarannya saat menghadapi Regina.


Kevin masih berdiri diam bersama Aldo. Ia mengatur gejolak emosi yang masih memenuhi hatinya. Begitu dirasa hati dan pikirannya mulai tenang, Kevin memutar tubuhnya, tangannya memegang handle pintu untuk kembali masuk menemui istrinya. Berbicara dari hati ke hati, meminta maaf akan sikap kasarnya. Kevin sadar, tidak seharusnya ia membentak Regina.


“Pak,”


Kevin berbalik, ada Nuky yang memanggilnya. “Ada apa?” tanyanya.


“Syuting akan segera di mulai. Bapak, harus segera ke taman belakang. Nona Merry juga sudah di sana,”


Kevin mendesah kasar, ia harus mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan sang istri. Ia harus profesional, semua ini menyangkut nama baik perusahaan. Bukan Kevin tidak peduli terhadap Regina, tapi untuk berbicara sekarang itu sangat tidak memungkinkan. Mereka tidak berada pada tempat yang seharusnya.


Nanti saja kalau sudah di rumah aku akan berbicara dengannya.


“Aldo,”


“Iya, Kak?”


“Tolong kau jaga Regina selama aku syuting, pastikan dia tidak kekurangan satu apapun. Katakan padanya aku akan segera menemuinya begitu syuting ini selesai.” Kevin memberi pesan. Aldo mengangguk, mengerti akan perintah kakaknya. Kevin dan Nuky berlalu, menuju taman belakang.


Aldo pun kembali masuk, menemui kakak iparnya. Ia menyampaikan pesan Kevin kepada Regina.


“Kak, apa kau menginginkan sesuatu?” tanya Aldo yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Sama seperti sebelumnya.


Regina menggeleng. “Tidak, Al, aku tidak menginginkan apapun.”


“Kakak, kenapa?” tanya Aldo dengan suara terendahnya.

__ADS_1


Regina mengehla napas dengan kasar. Ia menatap kedua manik mata adik iparnya. “Aku malu, Al,” ada jeda sebentar. “Aku tidak cantik seperti dulu. Lihatlah tubuhku ini, aku sangat gendut.” Regina menunduk merasa kecewa pada dirinya sendiri.


“Kak, apa kau juga malu dengan kondisimu? Maksudku, malu dengan kehamilanmu?”


“Tidak, Al,” sanggah Regina cepat. “Aku tidak malu dengan kehamilanku, aku hanya malu berjalan beriringan bersama Kevin. Lihatlah, kakakmu itu sangat tampan, dan aku....”


Aldo melihat kekecewaan dari mata Regina. Betapa wanita itu kecewa terhadap perubahan yang ada pada dirinya sendiri.


“Aku tahu, Kevin pasti kecewa padaku, Al. Aku tidak enak di pandang mata,”


“Kalau begitu berikan pada kucing saja, Kak!” celetuk Aldo.


“Ya, sudah, berikan aku pada kucing saja. Kevin akan bersyukur untuk itu,” lesu Regina.


“Aku hanya bergurau, Kak, kau ini serius sekali.”


Untuk sesaat Aldo dan Regina saling bersenda gurau, Aldo mencoba menghibur kakak iparnya dengan celetukan-celetukan nyeleneh khas seorang Aldo Atmaja.


Sementara Kevin, ia sibuk menjalani proses syuting bersama Merry. Nuky dengan setia selalu bersama Kevin melakukan tugasnya sebagai asisten. Selama syuting pun pikiran Kevin selalu tertuju kepada Regina, ia ingin sekali berbicara, menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.


Berkali-kali sutradara berteriak marah sebab Kevin yang tidak bisa konsentrasi dan terpaksa harus mengulang adegan.


“Pak, maaf,” Nuky berbisik kepada sutradara. “Bisakah kita istirahat sebentar saja? Kita semua bisa mengambil udara segar terlebih dahulu sebelum memulainya lagi.”


Sejenak sutradara tersebut diam tampak berpikir sejenak. Ia pun setuju untuk mengambil istirahat sebentar, ia juga sudah sangat lelah.


“Terima kasih, Nuky,” Kevin menepuk bahu Nuky bangga, merasa beruntung asistennya mengerti apa yang ia inginkan. “Aku akan menemui istriku sebentar,” kata Kevin yang berjalan menuju ruang istirahatnya beriringan bersama Nuky.


“Aku memang pantas di perhitungkan, Pak. Apa anda baru menyadarinya?” cetus Nuky.


“Sudahlah, Pak, segera temui istrimu,” kata Nuky.


“Aku meragukanmu, Nuky,”


“Maksud anda?” bingung Nuky.


“Kau sepertinya sangat mengerti apa yang sedang menggangguku. Aku ragu jika kau belum menikah, aku yakin kau sudah menikah dan istrimu itu lebih dari dua!”


“Bapak! Yang benar saja. Aku masih perjaka dan masih tergesel dengan sempurna.”


Kevin terkekeh, ia berlalu meninggalkan Nuky yang menetap kesal padanya.


Kevin mengetuk pintu, tanpa menunggu sahutan, ia pun membuka pintu dan masuk untuk menemui istri dan adiknya. “Di mana mereka?” tanya Kevin pada dirinya sendiri. Ia tak menemukan siapapun di dalam kamar.


Kevin merogoh saku celananya, mengambil ponselnya lalu menghubungi nomor sang istri. “Kenapa tidak di angkat teleponku!” geram Kevin. Ia sudah berkali-kali mencoba menelpon istri dan adiknya bergantian, namun tak satupun panggilannya di terima. “Kau selalu saja menguji kesabaranku!”


.


.


.


.

__ADS_1


.


“Kak, apa kau tidak ingin pulang?” tanya Aldo. Ia sudah kelelahan mengikuti segala keinginan kakak iparnya. “Ini sudah hampir gelap, Kak. Mungkin kak Kevin sudah seles—”


“Astaga!” Seru Aldo. Ia berdiri, merogoh saku celananya, terlihat ada lima belas panggilan dari Kevin. “Kak, kita tadi belum memberitahu kak Kevin, dia pasti sedang mencari kita. Ponselku dalam mode senyap, Kak. Dia pasti sangat khawatir,” Aldo menaruh es krim conenya ke sembarang tempat. Ia mencoba menghubungi nomor Kevin, namun nomor yang di tuju selalu sibuk.


Aldo memandang Regina yang masih santai memakan es krim miliknya, duduk memandang orang yang masih berlalu lalang di area taman tersebut. “Kak, coba lihatlah ponselmu, mungkin kak Kevin juga sedang menelponmu.” Aldo berucap.


Regina mengambil ponselnya yang terdapat di dalam tas. Benar saja, ada dua puluh panggilan dari Kevin. Ponsel Regina kembali berdering, Kevin memanggil. Bukan menggeser icon panggil hijau itu, Regina justru memilih memasukkannya lagi ke dalam tas.


“Kak!” Aldo merebut ponsel Regina sebelum benar-benar di masukan ke dalam tas oleh kakak iparnya itu. “Biar aku yang menjawabnya,” kata Aldo.


“Halo, Kak,”


“Dimana kalian!” Kevin berteriak marah begitu mendengar Aldo yang menjawab panggilannya. Aldo menjauhkan sedikit ponsel tersebut dari telinganya, teriakan Kevin cukup membuat telinganya sakit.


Aldo berjalan sedikit menjauh dari Regina, ia tidak ingin kakak iparnya mendengar pembicaraannya dengan Kevin.


Tak lama, Aldo kembali lalu duduk di samping Regina. “Kak,” panggil Aldo. Regina menoleh. “Ayo kita pulang sekarang. Kak Kevin sudah di rumah, syutingnya sudah selesai,” ajak Aldo.


Regina menggeleng, dengan mata yang sedikit memerah, pertanda bahwa air matanya akan tumpah. “Aku tidak mau, Al, aku ingin pulang ke rumah mami saja,” katanya, memohon agar adik iparnya tersebut mau memenuhi keinginannya.


Kak Regina dulu sangat dewasa, tapi kenapa sekarang jadi seperti ini? Dia sangat kekanakan, bahkan melebihi diriku.


“Kakak, kenapa tidak mau pulang?” tanya Aldo.


“A-aku takut Kevin akan memarahiku. Aku juga lupa, ponselku dalam mode senyap. Dan aku pergi tanpa pamit. Dia pasti akan marah,” ucap Regina lemah.


Eh! Takut? Dia tadi saja makan es krim dengan santainya, tapi kenapa sekarang jadi takut seperti ini? Kak Kevin, istrimu ini sungguh menguji kesabaran! batin Kevin berteriak.


Sudah seharian ia di kerjai oleh kakak iparnya ini, mulai dari yang meminta makanan dan minuman aneh ... Meminta di antar ke berbagai tempat, dan disinilah mereka sekarang. Di sebuah taman yang jaraknya cukup jauh dari rumah Kevin.


“Tadi sebelum berangkat aku sudah mengatakan bukan? Kita harus memberitahu kak Kevin, tapi kakak yang ngotot tidak mau pamit,”


“Tadi aku masih kesal padanya, Al, dia sekarang pasti lebih marah lagi padaku,” nada suara Regina benar-benar terdengar ketakutan. Ia meremas jari jemarinya.


“Kak, kalau kau tidak pulang, kak Kevin pasti akan lebih marah lagi,”


“Tapi, Al—”


“Kak, aku rasa anakmu juga sudah merindukan papinya,” tukas Aldo. Regina tersenyum dengan satu tangan yang mengelus perut buncitnya begitu mendengar kata anak.


“Ayo, Kak. Kita pulang,” ajak Aldo dan Regina mengangguk. Ia berdiri lalu berjalan mendahului Aldo.


Kan, dia memang menguji kesabaran! Pantas saja kak Kevin marah-marah. Andai saja dia istriku, sudah pasti akan ku hukum dengan berbagai hukuman di ranjang. Tapi untungnya, tidak!


Aldo dengan berbagai pikiran hukuman ranjang itu menyusul kakak iparnya dari belakang. Mengantarkan wanita yang menjadi separuh jiwa kakaknya itu untuk pulang.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2