Pelaminan

Pelaminan
bab 30


__ADS_3

seusai memarahi Jessica, Regina kembali ke dapur hendak membuatkan kopi lagi untuk Aldo. sementara Aldo dan Jessica yang duduk saling berhadapan bersitatap dengan mata yang penuh amarah.


rasa benci Jessica pada Aldo semakin bertambah karena ia harus meminum kopi merica yang sengaja ia buat untuk Aldo.


Aldo pun sama, ia semakin membenci Jessica yang ia rasa selalu mencari gara-gara.


"di minum Al.." Regina menaruh kopi panas di meja tepat depan Aldo.


"terima kasih kak.." ucap Aldo di balas senyuman oleh Regina.


Jessica mulai merasakan panas di perutnya, ia meminum air putih sebanyak mungkin. berusaha menetralisir rasa panas dan entah rasa seperti apa lagi yang bisa menggambarkan sakit di perutnya.


"Regina..." ucap Jessica seraya kedua tangannya meremas perutnya.


"apa?"


"perutku Re.. sakit..panas.." keluh Jessica. keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.


"Jes... apa kau baik-baik saja?" panik Regina seraya membersihkan keringat yang mengalir di pelipis Jessica.


"perutku Re... perutku..." Jessica meringis kesakitan.


Aldo masih cuek dan tetap menikmati kopinya.


"Jessica... minum air putihnya Jes.." Regina menyodorkan segelas air putih.


"sudah Re, aku sudah banyak minum air putih.. perutku Re... bagaimana jika ususku terbakar, bagaimana ini... sakit sekali..." keluh Regina.


"kau ini masih sempat-sempatnya bicara ngawur !" seru Regina.


Jessica tak mampu menahan rasa sakitnya atau entah apa yang ia rasakan, ia pun pingsan. Regina menahan tubuh Jessica. Aldo yang semula cuek pun ikut panik begitu Jessica pingsan.


"kakak, aku akan membawanya ke kamar. kakak telpon dokter Rio sekarang kak.." pa ok Aldo, ia menggendong tubuh kecil Jessica ke kamar Regina.


Regina mengekor di belakang Aldo.


"apa kakak sudah menelpon dokter Rio?" tanya Kevin yang sudah membaringkan tubuh Jessica di tempat tidur.


"siapa dokter Rio?? aku hanya tahu dokter bar bar saja, dokter keluargamu kan.." panik Regina seraya mengusap-usap telapak tangan Jessica.


"namanya dokter Rio kak, bukan dokter bar-bar.. ya sudah biar aku telpon saja.." Aldo mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menelpon dokter Rio.


tak lama dokter Rio pun datang, Aldo membukakan pintu lalu mengantar dokter Rio menuju kamar Regina.


"permisi kakak ipar.." dokter Rio memeriksa Jessica, Regina juga menjelaskan sebab apa yang membuat Jessica pingsan.


dokter Rio memberi resep obat pada Regina, karena obat yang ia bawa ternyata tidak diperlukan oleh Jessica.


"sekarang biarkan dia istirahat kakak ipar, sebentar lagi dia juga akan bangun.." kata dokter Rio.


Aldo dan Regina lega karena tidak terjadi hal yang serius pada Jessica.


Regina menatap Jessica dengan perasaan bersalah. ia membelai ujung kepala Jessica. Regina pun ikut kebawah mengantar dokter Rio pulang.


"jadi nama dokter itu Rio??" tanya Regina saat menuruni tangga bersama Aldo dan dokter Rio.


"iya kakak ipar.. memangnya waktu kau menelpon menggunakan ponsel Kevin waktu itu tidak ada namaku??" tanya dokter Rio.


"ada, namanya dokter bar-bar.." sahut Aldo di iringi gelak tawanya, namun tidak dengan dokter Rio, ia justru terkejut sekaligus kesal dengan Kevin.


"apa itu benar kakak ipar?" dokter Rio memastikan dan di jawab anggukan oleh Regina.


dokter Rio berdecak,


"kurangajar sekali Kevin, aku akan memberi suntikan mematikan untuknya nanti." geram dokter Rio.


"Aldo, apa dia istrimu??" tanya dokter Rio.


"hah!!!" Aldo membelalakkan matanya.

__ADS_1


"jangan gila, mana mungkin dia istriku.." kesal Aldo.


"mungkin sebentar lagi dok.." sahut Regina di iringi tawanya.


"kakak kenapa ketularan dokter gila ini?? karena ini kak Kevin memberi nama dokter bar-bar untuknya. dasar menjijikkan ! kau harus segera menikah agar tidak semakin gila." kata Aldo sembari menatap tajam pada dokter bar-bar.


"kau saja dulu.. haha" sahut dokter Rio.


"baiklah, aku permisi pulang dulu kakak ipar.." kata dokter Rio. mereka kini sudah berada di teras rumah.


"jangan memanggilku kakak ipar, panggil aku Regina saja.." ucap Regina dengan senyumnya.


"baiklah, kau juga harus memanggilku Rio saja. ok??"


"iya.. Rio.." kata Regina.


"Aldo, masuklah dan jaga calon istrimu itu." pesan dokter Rio seraya menepuk-nepuk bahu Aldo dengan cengengesan.


"dasar gila ! sana pulanglah. !" jengah Aldo.


setelah mobil dokter Rio semakin jauh dari pandangan, Regina dan Aldo pun masuk.


"Aldo.. apakah kau bisa di sini sebentar? aku ingin pergi ke apotek untuk menebus obat ini." ucap Regina.


"biar aku saja kak yang membelinya, kakak di rumah saja.." kata Aldo sembari mengambil kertas resep dokter dari tangan Regina.


"benar kau tidak apa jika membelikan obat untuk Jessica?" Regina memastikan.


"ayolah kak.. aku tidak sejahat itu padanya, aku tidak akan membelikan dia racun, tenang saja kak.." ujar Aldo yang diiringi suara tawa kecil Regina.


"baiklah, terima kasih.."


Aldo keluar membelikan obat untuk Jessica, lalu Regina kembali ke kamar untuk melihat Jessica.


Regina naik ke tempat tidur dan duduk di samping Jessica. ia meraih tangan Jessica dan mengusap-usapnya.


"Jes... bangunlah..." Regina mengusap wajah lembut Jessica, ia sangat merasa bersalah sudah menyuruh untuk meminum kopi merica itu sampai habis.


Jessica menggerakkan jarinya perlahan, ia pun mengerjapkan matanya menyesuaikan matanya dengan cahaya.


"Jes.. kau sudah bangun.. Jessica..." kata Regina bersemangat.


"Re..." lemah Jessica.


"sudah tidurlah, jangan bangun.. apa kau mau minum?" tanya Regina.


Jessica menggeleng, ia mencoba duduk dan di bantu Regina.


"bersandarlah di sini.." Regina menata bantal di belakang tubuh Jessica.


"maafkan aku Jes..." ucap Regina tulus.


"kau jahat sekali Re, sudah tahu badanku ini sangat kecil dan lemah, tapi kau malah menyuruhku meminum kopi itu.." kesal Jessica yang sudah mulai bisa bicara dengan nada sedikit meninggi.


"maaf Jes, aku merasa tidak enak dengan Aldo, kau tahu kan dia adiknya tuan Kevin dan aku sedang menumpang di rumah ini. tapi kau justru sangat senang mencari gara-gara dengan Aldo." kata Regina.


"tapi kan kau bisa menghukumku dengan cara lain..."


"maafkan aku... kau tidak mau memaafkanku??" tanya Regina.


"aku memaafkanmu, kau kan sahabatku.." kata Jessica seraya melebarkan kedua tangannya agar di peluk oleh Regina. Regina pun segera memeluk Jessica.


tok tok tok


Aldo datang dan masih berdiri di tengah pintu yang terbuka itu.


Jessica dan Regina pun saling melepas pelukan.


"Aldo, masuklah..." kata Regina.

__ADS_1


"ini kak obatnya.." Aldo menyerahkan obat Jessica dikantong kresek kecil.


"obat apa itu? racun?" seru Jessica.


"iya, hanya racun tikus satu botol dan obat serangga dua botol, kau harus meminumnya secara bersamaan." kata Aldo dengan santainya.


"kau ingin membunuhku??!!"


"tidak, rasa sakit dan panas di perutmu akan hilang jika kau meminum itu."


"hentikan Jes, ini obat dari dokter dan Aldo menebus obat ini dari apotek." tukang Regina.


"Re, tidak ada yang tahu kan jika dia menukar obatku dengan racun tikus." dengus Jessica yang masih melotot ke arah Aldo.


"diam ! atau aku akan benar menyuruhmu meminum racun hah!!" kesal Regina.


"kenapa kau hanya menyuruhku meminum racun itu sendiri???" tanya Jessica.


"siapa bilang kau sendiri, aku juga akan menyuruh Aldo meminumnya agar kalian bisa bersatu di surga sana lalu membangun rumah tangga bahagia. dan aku juga akan bahagia di duniaku sendiri tanpa ada kekacauan dari kalian berdua." jengah Regina.


Aldo membulatkan matanya dengan sempurna,


"kakak serius???" tanya Aldo.


"iya !! ah sudahlah aku lelah dengan kalian berdua, lebih baik aku pergi saja." Regina keluar kamar lalu masuk ke kamar Kevin untuk menenangkan diri..


Aldo masih berdiri di samping ranjang Regina yang terdapat Jessica di atasnya.


"puas kau hah!! sahabatku marah padaku karena kau." seru Jessica.


"ini semua karena mu, coba kau tadi tidak memberikan kopi merica padaku, kak Regina tidak akan semarah ini. dan ya, kau tidak tahu terima kasih.!" kata Alfo seraya keluar kamar dan masuk ke kamar tamu di samping kamar Kevin.


.


.


.


.


.


Kevin berada di salah satu kamar hotel, ia berbohong pada Regina jika ia akan keluar kota. sebisa mungkin ia harus menghindar dari Regina, ia tidak ingin rasa yang ia miliki pada Regina semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu apalagi jika mereka tinggal satu rumah dan setiap hari bertemu.


Kevin hanya tidur di kamar hotel, mungkin ia tidak akan kembali ke rumah untuk waktu yang lama. ya, hanya sesekali jika tengah malam tiba ia akan pulang sebentar lalu pergi lagi.


sudah dua hari Kevin tidak pulang, hari ini ia memutuskan untuk pulang pukul satu dini hari.


sampai di rumah, Kevin segera naik ke lantai atas untuk melihat Regina sebentar. ia membuka pintu kamar Regina perlahan agar sang pemilik kamar tidak bangun. Kevin melangkah masuk dengan leluasa karena Regina tidak mengunci pintu, sebelumnya ia sudah melepas sepatunya diluar kamar.


ia melihat Regina tengah tertidur dengan pulas tanpa selimut yang menutupi tubuhnya, Kevin pun menarik selimut sampai ke dada Regina.


Kevin hendak keluar, namun suara Regina yang tengah mengigau membuat Kevin mengurungkan langkah kakinya lalu mendekati Regina.


ia menyentuh kening Regina,


"badannya panas sekali..." gumam Kevin. ia pun segera turun ke dapur mengambil baskom yang berisi air lalu mengambil handuk kecil di lemari kamarnya.


Kevin menempelkan handuk yang sudah basah itu ke kening Regina dengan hati-hati. Kevin tidak tidur, ia masih mengompres kening Regina.


entah karena rasa lelah atau apa, Regina tidak menyadari jika ada Kevin dan benda basah di keningnya. ia masih tidur dengan mengigau akibat suhu panas di tubuhnya.


Kevin duduk menyandarkan separuh tubuhnya di kepala tempat tidur, Kevin sudah menguap berkali-kali. pukul lima pagi Kevin tertidur karena rasa lelah sekaligus kantuknya yang sudah tidak dapat ia tahan.


--------


budayakan meninggalkan like setelah membaca,


terima kasih 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2