
“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan, Re? Semuanya sudah hancur. Kamu menyerahkan hati kamu untuk lelaki yang bodoh.” Surya menunduk pasrah. Melihat sang putri yang masih diam seribu bahasa, membuatnya semakin bingung.
“Tenang, Pi, kita—”
“Tenang bagaimana, Mi?” Surya menatap tajam pada sang istri. “Gara-gara cinta, gara-gara lelaki bodoh itu, kita harus menanggung malu! Mau ditaruh di mana muka papi, Mi?”
“Semua rekan bisnis papi sudah diundang Regina. Tanpa ijin!” Surya menekankan. “Dan, sekarang mereka semua menunggu kita. Menunggu sebuah pernikahan yang bahkan sudah hancur sebelum dimulai!”
Hadi dan Kevin masih berada di depan pintu kamar hotel. Mereka menyaksikan sesuatu yang baru kali ini mereka temui. Seorang wanita ditinggalkan begitu saja sebelum pernikahan. Mata Kevin tak pernah beralih dari Regina. Dipandanginya wajah wanita yang malang itu dengan tatapan iba. Lebih baik meluapkan amarahnya seperti Surya, mengatakan semua kemarahan di dalam hatinya. Namun, tidak dengan Regina. Wanita itu tetap diam, memandang tembok dengan tatapan kosong. Hati Kevin mengatakan sesuatu, bahwa dia harus melangkahkan kakinya untuk masuk ke kamar tersebut.
“Tuan, maaf, saya ingin bicara.”
Semua orang di kamar tersebut menoleh, kecuali Regina.
“Maaf, mungkin yang saya katakan ini terdengar sangat tidak sopan dan terkesan ikut campur. Tapi, saya merasa harus mengatakannya.” Kevin berbicara dengan sopan.
“Iya, katakan.” Surya menanggapi.
Kevin melihat jam di pergelangan tangannya. “Sekarang sudah jam 10 lebih. Para tamu masih menunggu. Dan seperti yang Anda katakan tadi, bahwa semua rekan bisnis dan keluarga sudah datang untuk menyaksikan pernikahan putri Anda.”
Surya dan Ira menatap Kevin dengan seksama, mencari-cari jawaban dari apa yang diucapkan lelaki yang berdiri tegap di hadapan mereka kini.
__ADS_1
“Maaf, saya ingin menggantikan pengantin pria di pelaminan.”
Sontak, semua orang tercengang begitu mendengar penuturan dari Kevin. Kecuali Regina. Telinganya memang mendengar, tapi dia tidak peduli dengan apapun.
Menggantikan?
Maksudnya?
Semua orang bertanya pada diri sendiri. Hadi melongo begitu mendengarnya. Pak Kevin bicara apa tadi? Apa dia serius?
“Maksud kamu?” Surya bertanya.
“Maaf, Tuan, saya memang lancang. Tapi putri Anda ...,”
“Sekali lagi saya minta maaf, Tuan. Saya bersumpah, saya tidak punya niat buruk. Saya hanya mencoba—”
“Berdirilah Regina, cepat pergi ke pelaminan dan menikah dengannya.” Surya memotong ucapan Kevin.
“Papi?” Ira menginginkan penjelasan dari suaminya. Bagaimana mungkin menyerahkan anak gadis satu-satunya untuk menikah dengan lelaki yang baru sekali mereka temui. Ditambah dengan kenyataan yang baru saja Regina terima.
Bukan tanpa alasan, bukan pula untuk menyelamatkan rasa malu saja. Surya tentu mempunyai alasan mengapa dia membiarkan Kevin menikahi putrinya. Siapa yang tidak kenal dengan Kevin Wijaya. Nama pemuda itu sudah tak diragukan lagi. Terkenal profesional dalam bekerja serta nama baik Kevin sudah cukup untuk menyerahkan sang putri kepadanya.
__ADS_1
Sementara Regina, dia tetap diam saat Surya maupun Ira bertanya kepadanya. Masa bodoh dengan pernikahan atau apapun itu.
“Jessica, tolong bantu Regina untuk bersiap.”
Jessica mengiyakan permintaan dari Surya. Dia tidak berhak ikut campur dalam hal ini. Kedua orangtuanya Regina sudah memutuskan, semuanya akan terjadi sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Bagi mereka, Anton sudah berada di halaman terakhir. Sudah tutup buku.
Surya mendekati Kevin. “Kamu serius dengan ucapan dan niat kamu?”
Kevin mengangguk pasti. Hatinya merasa iba melihat keadaan Regina. “Jujur, Tuan, saya kasihan melihat putri Anda. Dia tidak menunjukkan reaksi apapun setelah membaca surat itu. Lihatlah, dia tetap diam saja ketika saya mengajukan diri untuk menggantikan pengantin laki-laki.”
Ya, Surya tentu juga merasa kasihan. Dia takut putrinya berbuat nekat, entah apapun itu.
“Ijinkan saya membawa Regina sebagai istri, Tuan, untuk selanjutnya ... saya akan menyerahkannya kepada Regina.” Kevin berujar.
Surya mengangguk paham. “Baiklah. Tolong jaga putriku satu-satunya ini, Kevin. Aku tau, kamu tidak akan membuatnya kecewa.”
“Hadi, tolong ambilkan jasku.” Kevin memberi perintah sembari berjalan keluar kamar menuju ballroom.
Hadi mencerca berbagai pertanyaan kepada atasannya tersebut. Dan jawaban yang didapat Hadi benar-benar menunjukkan bahwa atasannya ini sedang tidak main-main.
***
__ADS_1
Selesai sudah drama pernikahan yang dilangsungkan oleh sang WO dengan pengantin wanita malang yang ditinggalkan pengantin pria. Semua undangan sudah pulang. Dan kini Kevin akan membawa Regina untuk pulang ke rumah orangtuanya. Kevin berpikir, tidak baik jika mereka menginap di hotel, apalagi di kamar pengantin. Regina akan semakin terluka dibuatnya.