Pelaminan

Pelaminan
bab 22


__ADS_3

Regina meninggalkan Kevin yang tengah menelpon adiknya, ia menaiki tangga dengan perlahan. kepalanya menunduk melihat anak tangga yang ia jajaki. pikirannya kembali kosong mengingat apa yang sudah ia dan Kevin lakukan.


"Nyonya..." panggil bi Tanti.


Regina berhenti dan menoleh.


"iya bi.."


"Nyonya belum makan, mau saya antar ke kamar?" tanya bi Tanti sopan.


"tidak usah bi, nanti saya ambil sendiri."


"tapi ini sudah siang Nyonya, Nyonya hanya minum susu tadi."


"saya tidak lapar bi, nanti kalau saya sudah lapar saya makan kok.."


Bi Tanti pun menyerah membujuk Regina, ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Regina masuk ke kamar dan mengambil ponselnya yang ia matikan semalam. ia menelpon Jessica dan memintanya untuk datang sepulang bekerja, Jessica pun mengiyakan lalu mereka sama-sama mengakhiri panggilan.


.


.


.


.


.


"halo kak??" sahut Aldo di seberang.


"pulang sekarang, kau sudah pergi terlalu lama."


"lama bagaimana? aku baru pergi liburan empat hari kak."


"kakak bilang cepat pulang, ayah dan bunda khawatir."


"benarkah? ayah pasti menyuruh aku pulang untuk kembali bekerja di kantor kan.."


Kevin terkekeh mendengar ucapan sang adik.


"itu kau sudah tahu, jadi cepat pulanglah."


"temanku sedang membutuhkanku kak, aku tidak bisa meninggalkannya.." tolak Aldo.


"lebih penting ayah atau temanmu?"


Aldo berdecak kesal.


"jangan mengajukan pertanyaan seperti itu kak, aku tidak suka."


"kalau begitu cepatlah pulang sekarang."


"iya aku pulang.." sahut Aldo pasrah.


Dari kecil Aldo sangat dekat dengan Kevin, hanya Kevin yang mampu mengatasi segala kenakalan adiknya tersebut. Aldo membantah kedua orang tuanya yang memaksa ia harus bekerja di kantor karena Kevin sudah memutuskan tidak akan membantu perusahaan keluarga.


Saat Kevin sudah bicara, Aldo selalu patuh dan tidak bisa menolak apa yang di perintahkan kakaknya tersebut. Rupa yang hampir mirip kadang membuat mereka terlihat seperti anak kembar, perbedaan usia mereka berdua pun hanya terpaut satu setengah tahun.


setelah menelpon Aldo, Kevin duduk sebentar di samping kolam ikan koi sebelum pergi mandi.


"Tuan..." bi Tanti menghampiri Kevin yang sibuk dengan ponsel membalas email dari Jerry.


"iya bi.." Kevin menoleh.


"Tuan kan belum makan dari tadi, Nyonya Regina juga belum makan. mau saya siapkan makanan di meja sekarang Tuan?"


Kevin terdiam, ia memang dia belum makan apa-apa dari tadi. Ia hanya sarapan Regina, bisa di bilang sekaligus makan siang.


"tidak usah bi, nanti biar saya bawakan makanan ke kamar Nona Regina."


"baiklah Tuan.."


Kevin segera beranjak membersihkan diri lalu mengambilkan makanan untuk Regina. Ia menaiki tangga dengan nampan yang sudah berisi piring makanan serta jus untuk Regina.


Kevin ingin meminta maaf atas apa yang sudah ia lakukan.


Tok tok tok


"masuk saja bi pintunya tidak di kunci." teriak Regina mengira bi Tanti yang datang.


Ceklek


Sontak Regina segera bangun duduk dan merapikan dress-nya saat melihat ternyata Kevin yang datang.


"Tuan..." ucap Regina lirih.


Kevin mendekat dan duduk di tepi ranjang di samping Regina setelah meletakkan nampan berisi makanan di meja nakas.


"Nona..." gugup Kevin.


"Nona saya minta maaf..." ucap Kevin lirih, ia menunduk tidak berani menatap mata Regina.


"saya juga minta maaf Tuan..." sahut Regina yang membuat Kevin mendongakkan wajahnya dan menatap wajah sendunya.


"maksud Nona?" heran Kevin.


"seharusnya saya tidak menggoda anda Tuan.." lirih Regina. percayalah, Regina sebenarnya sangat malu mengucapkan kalimat itu. Regina ingat bagaimana ia pasrah saat Kevin mulai menyetubuhinya.


"tidak Nona, bukan seperti itu.. anda tidak menggoda saya, saya saja yang....." Kevin berhenti, ia bingung kata apa yang tepat menggambarkan kelakuannya pada Regina.


"maaf Tuan..." Regina mulai menangis, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Nona saya mohon jangan menangis, saya memang bersalah.. maafkan saya..." bingung Kevin harus berbuat apa.


"tidak Tuan saya yang bersalah.." Isak Regina semakin kencang.


Kevin refleks meraih tubuh Regina membawanya ke dalam pelukannya.


Ia mengusap lembut kepala dan bahu Regina mencoba menenangkannya.


"tidak Nona, saya yang bersalah. silahkan jika anda ingin menghukum saya, saya akan terima apapun itu. tapi tolong jangan menangis, saya tidak bisa melihat anda menangis lagi.." ucap Kevin lembut membuat Regina sedikit tenang.


"saya tidak akan melakukannya lagi Nona, tidak akan.." ucap Kevin sungguh-sungguh.


tangan Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina, di hapusnya air mata yang mengalir di pipi Regina dengan ibu jarinya.


"tenanglah Nona..."


Regina sudah berhenti menangis, Kevin mengambilkan air minum dan menyodorkannya pada Regina.


"minumlah Nona.." Regina menerima gelas tersebut dan meminum air itu sampai habis tak bersisa.


"habis??" celetuk Kevin menerima gelas kosong dari Regina.


"anda haus atau lapar??..." celetuk Kevin lagi yang membuat Regina tersenyum malu dan refleks memukul bahu Kevin.


"maaf.. baiklah, sekarang anda harus makan." Kevin mengambil piring dan menyuapi Regina makan.


Regina menerima suapan dari tangan Kevin, lagi-lagi ia tidak mampu menolak itu. Entah karena lapar atau apa, Regina tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


"apa Tuan sudah makan?" tanya Regina dengan mulut yang penuh makanan.

__ADS_1


"sudah.." sahut Kevin.


Kevin kembali menyuapi Regina, tiba-tiba suara perut Kevin yang meminta di isi terdengar oleh Regina.


"Tuan berbohong kan..." ucap Regina.


"apa?"


"Tuan belum makan, kalau begitu makanlah Tuan.. saya sudah kenyang." Regina menolak suapan Kevin.


"saya tidak mau, ini bekasmu."


"oh iya, maafkan saya..." Regina menunduk lesu.


Karena Kevin tak kunjung menyuapinya lagi, Regina pun mendongakkan wajahnya dan terkejut melihat Kevin ternyata makan dari sendok dan piring yang sama dengannya.


"Tuan.. kenapa anda makan makanan itu?" tanya Regina.


"kenapa? anda tadi menyuruh saya makan."


"tapi itu kan bekas saya." sahut Regina.


"lalu??"


"buka mulutmu lagi." perintah Kevin yang sudah kembali menyuapi Regina.


Mereka berdua makan dari piring dan sendok yang sama secara bergantian.


Selesai makan, Regina mengajukan pertanyaan pada Kevin.


"Tuan, nanti sore Jessica akan datang kemari, apa boleh dia berkunjung ke sini?"


"tentu Nona, anda tidak perlu meminta ijin. Ini juga rumah anda." jawab Kevin


.


.


.


.


.


.


Pukul enam petang..


Matahari sudah turun dan hanya meninggalkan cahaya senja yang indah di pandang setiap mata.


Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah. Aldo masuk dengan membawa koper sedang di tangannya.


Ia masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung mencari ayah dan bundanya.


"Ayah....Bunda..." teriak Aldo menggema di seluruh rumah.


"Ayah....Bunda..." teriak Aldo lagi, ia kini sudah duduk di kursi ruang tamu dan menyandarkan separuh tubuhnya pada sofa.


Bunda Hana keluar dari kamarnya dan menghampiri putra keduanya tersebut.


"kebiasaan ! apa tidak bisa memanggil Ayah dan Bunda tidak berteriak seperti itu? Bunda dan Ayah tidak tuli." marah Bunda Hana.


sedangkan Aldo hanya cengengesan menatap Bundanya.


"Ayah dimana Bun?" tanya Aldo.


"Ayah bel....."


"Ayah di sini..." sahut Ayah Agung gembira melihat putra keduanya sudah pulang.


"giliran Ayah di peluk, Bunda tidak di peluk." sindir Bunda Hana.


Ayah dan anak itu tersenyum lalu menghampiri wanita yang duduk di sofa dengan wajah cemberutnya dan memeluknya bersamaan.


"Aldo rindu Bunda.." ucap Aldo.


"oh iya, Aldo bawa oleh-oleh.." Aldo melepas pelukannya dan membuka kopernya yang berada di lantai.


"ini untuk Bunda, ini untuk Ayah..." Aldo menyerahkan dua buah kotak kecil.


"wah.... apa ini?" tanya Bunda Hana.


Keduanya membuka kotak itu bersamaan, mata Bunda Hana berbinar bahagia melihat sebuah kalung emas cantik dan elegan.


"ini sangat cantik, terima kasih nak.. kau memang tau apa kesukaan Bunda." Bunda Hana memeluk dan mencium kedua pipi putranya dengan gemas.


"iya Bun, kan Aldo yang terbaik. Ayah suka tidak jamnya?" tanya Aldo.


"suka nak.. kau kan hanya pergi selama empat hari.. kau tidak perlu membawakan hadiah seperti ini.."


"itu hanya jam Yah, Aldo juga punya hadiah untuk kak Kevin.., dimana kakak? Aldo tidak melihatnya dari tadi." tanya Aldo.


"apa kakak belum pulang?" tanyanya lagi.


Aldo dan Ayah Agung melirik ke arah Bunda Hana yang menunduk lesu.


"kau pergi mandi saja dulu Al, kau pasti lelah." perintah Ayah Agung seraya memberi kode sebuah kedipan pada Aldo.


Aldo yang mengerti jika ada sesuatu dengan kakaknya, dengan segera ia beranjak bangun dan pergi ke kamarnya sesuai perintah Ayah Agung.


Tak lama setelah Aldo selesai mandi, Ayah Agung mengetuk pintu kamar Aldo.


"masuk..." teriak Aldo.


"Ayah, masuk Yah.." ucap Aldo melihat sang Ayah yang membuka pintu.


"Ayah... di mana kakak?" tanya Aldo pada Ayah Agung yang sudah duduk di tepi tempat tidur bersamanya.


"kakakmu ada di rumahnya, dia tinggal di sana sekarang.."


"tapi kenapa?"


"kakakmu sudah menikah dan.."


"apa??!!!!" teriak Aldo terkejut.


"jangan berteriak atau Ayah pukul !" Ayah Agung mengangkat tangannya.


"Aldo terkejut Yah, bagaimana kakak bisa menikah sedangkan dia tidak punya kekasih." sahut Aldo.


Ayah Agung pun menceritakan semuanya pada Aldo, termasuk siapa Regina dan alasan apa yang membuat Kevin harus menikahinya. Tak lupa Ayah Agung juga menceritakan tentang Bundanya yang marah pada Kevin dan Regina.


"tapi, Ayah berharap pernikahan kakakmu baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Regina gadis yang baik, Ayah yakin itu..." ucap Ayah Agung.


Aldo manggut-manggut lalu mengambil jaket dan kunci mobil di lacinya.


"mau kemana?" tanya Ayah Agung.


"ke rumah kakak, Aldo ingin bertemu dengan kakak ipar Aldo."


"ya sudah berhati-hatilah..." pesan Ayah Agung.


Aldo melajukan mobilnya menuju rumah Kevin.

__ADS_1


.


.


.


.


.


Di perjalanan Aldo tak henti berpikir seperti apakah kakak iparnya yang berhasil membuat Ayahnya menyukainya sebagai menantu dalam sekali pertemuan.


"mungkin dia sangat cantik, atau baik..." pikir Aldo.


begitu sampai di rumah Kevin, Aldo memarkirkan mobilnya di samping mobil Kevin.


Aldo memencet bel, tak lama bi Tanti membukakan pintu dan terkejut melihat Aldo yang datang.


"tuan Aldo..." sapa bi Tanti.


"hai bi, apa kabar?" tanya Aldo.


"baik tuan silahkan masuk.."


Aldo masuk dan duduk di kursi ruang tamu karena kata bi Tanti, Kevin sedang mandi.


Bi Tanti masuk ke dapur melanjutkan menyiapkan makan malam. Jessica sudah datang sedari tadi dan masih berada di kamar Regina. Jessica pamit pada Regina ingin pergi ke dapur mengambil minuman lagi karena minuman yang di buatkan bi Tanti sudah habis.


Jessica menuruni tangga dan berhenti melihat sosok asing di ruang tamu.


"siapa dia?" batin Jessica.


Jessica segera turun dan menghampiri Aldo dengan wajah garangnya.


"siapa kau?" mode galak Jessica keluar.


Aldo mengernyit melihat gadis di depannya dengan raut wajah seperti menantang dirinya.


"kau yang siapa?" Aldo tak mau kalah, ia juga menaikkan nada suaranya.


"cihhh aku ini sedang bertanya denganmu, kau siapa berani sekali duduk bersantai di rumah orang." seru Jessica.


Aldo memilih tak menghiraukan Jessica dan memilih kembali sibuk dengan ponselnya. Jessica merasa kesal lalu menyaut ponsel Aldo seenaknya sendiri.


"hei !!!" teriak Aldo.


"kau ini kenapa dan siapa berani sekali merebut ponselku, kembalikan !" marah Aldo.


"kau yang siapa, pergilah dari rumah ini." seru Jessica.


"apa dia istri kak Kevin?? dia sangat bar bar, kenapa Ayah menyukainya dan kenapa kakak menikahinya." batin Aldo.


"sialan !! kembalikan ponselku !" Aldo ingin mengambil ponselnya yang di sembunyikan Jessica di balik tubuhnya.


"tidak, aku tidak akan memberikan padamu." seru Jessica dengan lantang.


"berikan !!!" bentak Aldo membuat Jessica berjingkat kaget.


Aldo berdecak kesal lalu berteriak memanggil kakaknya.


"kakak !!!"


"kakak kemarilah !!" teriak Aldo.


Kevin dan Regina yang mendengar suara teriakan yang menggemparkan seluruh rumah pun keluar menuju sumber suara.


"Aldo..." Kevin mendekat.


Jessica menganga melihat Kevin dan Aldo yang berdiri sejajar yang terlihat seperti anak kembar, hanya tubuh Kevin lebih tinggi dan lebih berisi sedikit dari Aldo.


Regina mendekat, ia berdiri di samping Jessica dan tak kalah terkejut melihat Aldo yang sangat mirip dengan Kevin.


"kakak, apa dia ini istrimu? kenapa kau menikahi wanita bar bar seperti dia hah? tidak punya sopan santun." geram Aldo.


Regina dan Kevin saling melihat lalu beralih pada Jessica dan Aldo.


"tunggu, ada apa ini?" tanya Kevin.


"dia masuk tanpa permisi Tuan.." sahut Jessica.


"tanpa permisi apanya, aku tidak mungkin masuk jika bi Tanti tidak membuka pintu." seru Kevin.


"ya bisa saja kau masuk lewat jendela seperti pencuri." celetuk Jessica yang langsung mendapat pukulan di bahunya oleh Regina. Regina sudah bisa menebak jika pria itu adalah saudara Kevin dari wajahnya yang sangat mirip.


Aldo menautkan alisnya melihat Jessica yang menyebutnya sebagai pencuri.


"mana ada pencuri duduk di sofa sepertiku tadi hah !" seru Aldo.


"kau ini kenapa? apa kau tidak bisa bersikap sopan dan bertanya baik-baik dulu." sahut Regina.


"sudah, ini hanya salah paham.. Aldo, ini Nona Jessica.. dan Nona, ini Aldo adik saya.."


"apa dia istri kakak?" Aldo menunjuk wajah Jessica dengan tatapan sinis.


"bukan Aldo, ini Nona Regina istri kakak."


Regina mengulurkan tangannya pada Aldo, Aldo pun menyambutnya dan tersenyum simpul setelah tau jika Jessica bukan istri kakaknya.


"apa Ayah belum mengatakan nama istri kakak?" tanya Kevin.


"sudah, aku lupa begitu melihatnya." Aldo melihat ke arah Jessica.


"maaf Tuan Kevin, aku tidak tahu jika dia adikmu." sahut Jessica.


"kau memang bodoh, sudah jelas-jelas wajah mereka mirip." timpal Regina.


"aku tidak bodoh Re..." seru Jessica.


"kau memang bodoh." celetuk Aldo.


"Aldo..." Kevin melihat Aldo.


Aldo berdecak kesal.


"ma-maafkan saya Tuan, saya tidak tahu.." ucap Jessica.


"tidak apa Nona.." sahut Kevin.


"tidak apa apanya? sudah jelas dia menuduhku pencuri." seru Aldo.


"Aldo...." mata Kevin melihat Aldo tajam.


"iya iya, aku juga minta maaf Nona." Aldo mengerti jika Kevin menyuruhnya minta maaf.


.


.


.


.


.

__ADS_1


❤️❤️


__ADS_2