
Regina duduk di tepi tempat tidur, ia menunduk mengingat apa yang terjadi padanya kemarin. dadanya sangat sesak, tak terasa bulir bening pun kembali memaksa keluar dari ujung matanya. ia mengusap air matanya dengan kasar. segera ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Regina kini berdiri di dekat jendela, ia melihat ke bawah memang ada kolam ikan koi. Regina pun turun ke bawah karena ia sudah tidak melihat Kevin di sana. tak lupa ia juga membawa ponselnya.
"wah ikannya banyak, cantik-cantik lagi..." tanpa Regina sadari, sebuah garis melengkung di bibirnya membentuk sebuah senyuman saat melihat ikan-ikan di kolam.
"nyonya.." bi Tanti menghampiri Regina.
"bibi..." Regina menoleh dan tersenyum pada bi Tanti.
"kemarilah bi, temani saya di sini.. saya merasa nyaman di sini." imbuh Regina. bi Tanti pun mendudukkan tubuhnya di samping Regina.
"iya nyonya, disini sangat nyaman.."
"bibi kenapa melihat saya seperti itu?" tanya Regina karena sedari tadi bi Tanti melihatnya.
"nyonya maaf, apa nyonya baik-baik saja?" bi Tanti sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya terhadap Regina. sejak nyonya mudanya bangun, bi Tanti selalu melihat Regina tersenyum meskipun di matanya terlihat jelas sekali ia baru saja menangis. mata yang menyimpan kekecewaan sekaligus kemarahan.
Regina menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan bi Tanti.
"bibi tentu sudah tau cerita pernikahan saya, tidak ada wanita yang baik-baik saja bi jika calon suaminya meninggalkan ia di pelaminan. hati saya sakit bi, saya hancur. saya tidak tau harus berbuat apa. pria yang saya cintai..." Regina tidak melanjutkan kalimatnya, ia menangis. bi Tanti mengusap lembut pundak Regina berusaha menenangkannya.
"maafkan saya nyonya, saya lancang bertanya seperti itu.." ucap bi Tanti penuh rasa bersalah.
"tidak bi, terima kasih bibi sudah peduli dengan saya." Regina menghapus air matanya dan menepiskan senyumnya pada bi Tanti.
tak lama, suara dering ponsel Regina berbunyi karena ada panggilan dari Jessica. bi Tanti pun permisi kembali bekerja.
"halo.." Regina mengangkat telfon dari Jessica.
"Re... syukurlah kau mengangkat telfon ku. sejak semalam aku tidak bisa tidur, aku menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif, kau juga hanya membaca pesanku tanpa membalasnya." cerocos Jessica tanpa henti, ia sangat khawatir dengan sahabatnya tersebut.
"kau pikir aku mati apa?" seru Regina.
"ya kan bisa jadi..." ucapan Jessica menggantung.
"ah terima kasih Jes, kau mengingatkanku akan kematian. kenapa semalam aku tidak berpikir seperti itu ya..." tukas Regina.
"heiiii apa kau sudah gila !" teriak Jessica dari seberang, membuat Regina sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Regina tertawa terpingkal-pingkal mendengar teriakan Jessica. ia berusaha menghibur dirinya sendiri serta berusaha meyakinkan sahabatnya jika ia baik-baik saja.
"Regina, kau baik-baik saja kan?" Jessica memastikan, ia mengernyitkan keningnya mendengar Regina tertawa.
Regina masih melanjutkan tawanya, bahkan ia tidak menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dari balik jendela.
"kau tidak gila kan Re?" tanya Jessica lagi.
"tidak Jes, aku baik-baik saja.." jawab Regina yang masih di iringi tawa kecilnya.
"benarkah??"
"iya bodoh ! kenapa kau tidak bekerja hari ini?" Regina mencoba mengalihkan pembicaraan agar dirinya tidak mengingat kembali kesedihan hatinya.
"aku libur hari ini, semalam aku tidak bisa tidur memikirkan mu. jadi dari pada aku mengantuk di kantor kan lebih baik aku tidak masuk saja."
"aku baik-baik saja Jes..."
"baiklah, aku sudah lega bisa mendengar suaramu. tapi kau dimana sekarang?" sedikit Jessica.
"aku di rumah su.... eh maksudku aku di rumah tuan Kevin." jawab Regina seraya memutar pandangannya, ia takut jika ada yang mendengar percakapannya karena hampir saja ia menyebut kata suami.
Kevin bersembunyi dengan rapat agar Regina tidak bisa melihatnya. senyum mengembang tatkala Regina hampir mengatakan bahwa ia sedang ada di rumah suaminya, yaaa walaupun Regina tidak melanjutkan kata itu, tanpa di minta hati Kevin seakan berbunga-bunga mendengarnya.
"dimana itu?" tanya Jessica.
"aku tidak tau, apa kau mau kesini? biar ku tanyakan alamat rumah ini pada bi Tanti."
"ah tidak Re, aku tidak enak dengan tuan Kevin. besok saja aku kesana."
"baiklah.." sahut Jessica malas, sebenarnya ia sedang ingin ada yang menemaninya di saat seperti ini.
"baiklah Re, aku akhiri dulu ya panggilannya. beristirahatlah.."
__ADS_1
"iya Jes, terima kasih.."
Jessica dan Regina sama-sama mengakhiri panggilan mereka. Regina kembali meletakkan ponselnya di sebelahnya. ia melihat ikan-ikan yang berenang. suara air mancur kecil di tengah-tengah kolam menambah suasana terasa begitu nyaman. membuat Regina betah berlama-lama di sana.
sedangkan Kevin, ia masih memperhatikan Regina yang bermain air kolam dengan tangannya. gadis yang masih bisa mengembangkan senyumnya pada orang lain meskipun hatinya sangat hancur, membuat Kevin merasa sangat sesak melihat mata sembab Regina.
"tuan..." bi Tanti menghampiri Kevin yang masih berdiri di belakang jendela melihat Regina.
"oh iya bi, ada apa?"
"tuan apa saya boleh pergi keluar sebentar, ada keperluan yang ingin saya beli."
"iya, bi tolong coba tanyakan nona Regina, mungkin dia ingin sesuatu."
"baik tuan.." bi Tanti pun menghampiri Regina di tepi kolam.
"nyonya muda..."
"bibi, ada apa bi?" tanya Regina sopan.
"nyonya, saya mau pergi keluar ingin membeli keperluan saya, tuan Kevin menyuruh saya bertanya pada nyonya, mungkin nyonya ingin menitip sesuatu. nanti akan saya belikan."
"oh tidak bi, saya sedang tidak perlu apa-apa.. bibi hati-hati ya di jalan. cepat pulang juga bi, sepertinya akan turun hujan." ucap Regina seraya matanya menyorot ke langit yang terlihat sangat mendung.
"iya nyonya, kalau begitu saya permisi." bi Tanti menundukkan kepalanya pada Regina sebelum ia pergi.
Kevin mencegat bi Tanti di depan pintu utama rumah, ia ingin protes kenapa bi Tanti mengatakan jika ia yang menyuruh menanyakan itu pada Regina.
"bi, kenapa bibi mengatakan pada nona Regina jika saya yang menyuruh bibi bertanya tadi. kan saya jadi nggak enak bi..."
"hehe, maaf tuan.. saya keceplosan." kilah bi Tanti. padahal ia sengaja mengatakan itu pada Regina. supaya Regina tau jika Kevin peduli padanya.
Kevin berdecak kesal.
"ya sudahlah bi, bibi saya antar saja ya, bibi mau beli sesuatu kan. langitnya sangat gelap bi, pasti sebentar lagi turun hujan." Kevin mendongakkan wajahnya menatap langit.
"tidak usah tuan, saya akan membawa payung. saya cuma sebentar."
"baiklah bi, hati-hati..."
"dimana nona Regina?" Kevin sudah di taman, matanya menelusuri setiap sudut taman belakangnya mencari keberadaan Regina.
praakkkk
suara gelas pecah terdengar dari arah dapur. Kevin segera berlari dan mendapati Regina tengah memunguti pecahan gelas di lantai.
"nona, apa nona baik-baik saja? jangan nona, biar saya saja yang membersihkannya." wajah Kevin terlihat sangat khawatir, ia mengambil pecahan gelas tersebut dengan cepat agar Regina tidak memungutinya.
"aahh" jari telunjuk tangan kanan Kevin tertancap pecahan gelas sangat dalam, pecahan tersebut masih menancap pada jarinya.
"tuan...." Regina menyentuh tangan Kevin, kini wajahnya yang terlihat khawatir.
"tuan kenapa tidak hati-hati.. Ya Tuhan, kenapa dalam sekali." dengan berani Regina menarik pecahan gelas yang masih menancap pada jari telunjuk Kevin.
"aaawwww" Kevin memekik kesakitan. terlihat lukanya menganga dengan lebar dan dalam.
Regina menuntun Kevin ke wastafel untuk membasuh darah yang masih terus keluar dari jari Kevin.
Kevin memandang lekat wajah khawatir Regina. ia menurut saja apa yang di lakukan Regina pada lukanya.
"kenapa darahnya banyak sekali..." mata Regina mencari kain untuk menghentikan darah Kevin, karena panik tak kunjung menemukan kain, Regina mengambil pisau dan merobek dress-nya.
ia segera mengikat jari telunjuk Kevin dengan kain sobekan dress santainya agar darahnya berhenti.
"tuan, saya harus menghubungi dokter. apa tuan punya dokter keluarga?"
"oh iya nona, saya punya dokter keluarga." Kevin meringis menahan sakit di jarinya.
"mana nomor ponselnya tuan? saya akan menghubunginya."
"ada di ponselku, ponselku ada di kamar. sebentar..." Kevin hendak ke kamar mengambil ponselnya, namun Regina mencegah Kevin dengan menahan lengannya.
"biar saya ambilkan, tuan tunggu di sini saja." Regina berlari menuju kamar Kevin, ia mengambil ponsel Kevin di meja nakasnya.
__ADS_1
"namanya dokter siapa tuan?" tanya Regina mendekat pada Kevin yang sudah duduk di sofa ruang tv.
"namanya...."
"siapa tuan?"
"biar saya saja nona yang menghubunginya." Kevin hendak menyaut ponselnya yang berada di tangan Regina.
dengan cepat Regina menyembunyikan ponsel Kevin di belakang tubuhnya.
"jari anda sakit tuan, biar saya saja."
"baiklah.." ucap Kevin pasrah.
"namanya?" Regina menundukkan separuh tubuhnya pada Kevin.
"namanya....dok-ter bar-bar." ucap Kevin terbata-bata dan lirih namun masih bisa di dengar oleh Regina.
"dokter bar-bar??" ulang Regina seraya menahan tawanya.
"jadi karena ini tuan Kevin ingin menghubungi dokter itu sendiri. karena dia menamai dokter pribadinya dengan nama dokter bar-bar." batin Regina. sekuat tenaga ia menahan tawanya di hadapan Kevin.
Kevin menunduk malu dan mengusap tengkuk lehernya.
Regina melihat wajah Kevin yang memerah menahan malunya. dengan cepat ia mengetik nama dokter bar-bar di daftar kontak Kevin dan menekan logo panggil setelah menemukannya.
*t*ut tut tut....
"hei tuan Kevin Atmaja, apa kau merindukanku? sudah lama sekali kau tidak menghubungiku, bagaimana kalau kita berkencan saja." cerocos dokter bar-bar sebelum Regina bisa bicara.
Regina mengernyitkan keningnya mendengar ucapan dokter tersebut. Kevin melihat ekspresi wajah Regina yang terlihat antara geli dan jijik melihat ke arahnya.
Regina menelan salivanya dengan kasar.
"halo..." ucap Regina perlahan.
dokter bar-bar tersebut diam, ia bingung karena bukan Kevin yang menghubunginya. ia melihat nama di ponselnya yang jelas-jelas tertulis nama Kevin, tapi kenapa justru suara perempuan yang menyahut dari seberang.
"halo..." ulang Regina.
"eh iya halo, siapa ini? dimana Kevin?"
"tuan Kevin ada di rumah dok, apakah anda bisa datang ke rumahnya sekarang? tuan Kevin terluka." jelas Regina.
"terluka? di rumah mana nona?"
"di rumah..." Regina melihat Kevin meminta jawaban.
"bilang saja di rumahku sendiri nona." sahut Kevin.
"di rumah tuan Kevin sendiri dok.. " lanjut Regina.
"baiklah nona, saya akan kesana sekarang." dokter bar-bar mengakhiri panggilannya.
"dia akan segera kesini tuan." Regina meletakkan ponsel Kevin di meja.
suara geludug mulai terdengar, hujan pun turun dengan sangat deras. aroma khas tanah yang tersiram air hujan menusuk hidung Regina dan Kevin yang menunggu kedatangan dokter bar-bar dan bi Tanti yang tak kunjung pulang. Kevin tak sengaja melihat paha putih mulus Regina yang duduk di sofa seberang. bagaimana tidak, Regina tadi merobek dress-nya untuk menghentikan darah Kevin yang terus keluar tanpa henti.
Kevin menelan kasar salivanya dan berdehem sebelum berbicara dengan Regina.
"nona, maaf... sebaiknya nona ganti baju dulu sekarang, jika dokter atau bi Tanti datang dan melihat baju anda yang robek dan jari saya terluka, mereka pasti akan berpikir yang tidak-tidak." ucap Kevin perlahan, ia berharap kata-katanya tidak menyinggung perasaan Regina.
Regina melihat dress-nya yang tadi ia robek, ia meremas dress-nya yang terdapat bekas robekannya tadi. ia menunduk menyembunyikan wajah malunya.
"i-iya tuan, saya permisi dulu." Regina naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk mengganti baju.
.
.
.
.
__ADS_1
❤️❤️