Pelaminan

Pelaminan
bab 24


__ADS_3

pukul tiga pagi suara ketukan pintu membuat Regina terbangun. terdengar suara bi Tanti memanggil-manggilnya. Regina mengerjapkan matanya lalu ia menyalakan lampu kamarnya. ia berusaha menyesuaikan pandangannya yang silau.


"masih jam tiga, ada apa bibi membangunkanku sepagi ini?" batin Regina melihat jam di ponselnya.


"bibi, ada apa bi?" tanya Regina yang sudah membuka pintunya.


"nyonya maaf, saya mau ijin pulang ke kampung." jawab bi Tanti, Regina dapat melihat wajah paniknya.


"memangnya ada apa bi?", tanyanya lagi.


"anak saya sakit demam berdarah nyonya, sekarang di sedang di rawat di rumah sakit." jawab bi Tanti.


"demam berdarah... tapi bibi naik apa pulang ke kampung? ini masih jam tiga pagi."


"saya dijemput saudara saya nyonya, dia sedang menunggu di depan."


"tolong sampaikan pada tuan Kevin nyonya, tadi saya mengetuk pintu tapi tuan tidak bangun." imbuh bi Tanti.


"iya bi, bibi hati-hati ya.. semoga anak bibi cepat sembuh." ucap Regina.


bi Tanti hendak turun ke bawah, namun Regina menghentikan langkahnya.


"bibi tunggu.."


bi Tanti pun berhenti dan menoleh.


"ini uang saku untuk bibi, pasti bibi membutuhkannya." Regina menyodorkan beberapa lembar uang pada bi Tanti. namun bi Tanti hanya terdiam melihat uang tersebut.


"ambil bi.." pinta Regina.


"tidak nyonya, saya sudah di gaji tuan Kevin." tolak bi Tanti.


"ini kan bukan gaji bibi, Regina akan kecewa jika bibi menolaknya. jadi Regina mohon bibi terima ya, dan iya.. bibi harus di sana sampai anak bibi benar-benar sembuh." tutur Regina.


bi Tanti pun menerima uang tersebut, Regina mengantar bi Tanti sampai ke depan pintu. begitu bi Tanti dan saudaranya sudah pergi jauh dari pandangannya, Regina segera masuk dan mengunci pintu. ia pun kembali tidur.


.


.


.


.


.


pagi sudah kembali menyapa, Regina harus bangun dan menyiapkan sarapan. ia hanya melanjutkan tidur satu jam karena ia harus bangun lebih awal untuk memasak sarapan. sedangkan Jessica, ia masih berbalut selimut di pulau kasur.


dengan cekatan Regina memasak di dapur seorang diri. selain memasak, Regina juga mencuci baju kotor karena sudah menumpuk di keranjang. tidak mungkin ia mencucinya sepulang bekerja, tentu ia akan kelelahan.


Kevin yang baru bangun segera menuju ke dapur, ia ingin meminta bi Tanti membuatkan teh untuk teman sarapannya.


"bi..." Kevin masuk ke dapur, ia melihat ikan yang tengah di goreng namun ia tidak mendapati siapapun di sana.


"bibi kemana ? bagaimana jika ikannya gosong..bi?? bibi dimana?? ikannya sudah matang bi, Kevin tidak bisa mengangkatnya.." teriak Kevin.

__ADS_1


Regina yang tengah menjemur pakaian segera berlari mendengar suara Kevin.


"tuan...permisi tuan, saya akan mengangkatnya." Regina segera mengangkat ikan tersebut dan mematikan kompornya.


"nona, kenapa anda ada di dapur?" tanya Kevin heran.


"saya memasak tuan.. maaf saya tadi sedang menjemur pakaian." jawab Regina.


"kenapa anda menjemur pakaian?" tanyanya lagi.


"ya tentu agar pakaiannya kering." jawab Regina.


Kevin berdecak.


"maksud saya, kenapa anda yang memasak dan mencuci baju. lalu di mana bi Tanti??" tanya Kevin.


"oh.. anda kan tidak bertanya itu tadi. bi Tanti sedang pulang kampung tuan. tadi jam tiga pagi, anaknya masuk rumah sakit karena demam berdarah." jawab Regina yang masih sibuk memasukkan sayur ke dalam wajan.


"sakit? kenapa bibi tidak membangunkanku? aku kan bisa mengantarnya."


"bibi sudah membangunkan anda,tapi anda tidak bangun. jadi bibi membangunkan saya." tutur Regina.


"apa anda membutuhkan sesuatu tuan?" tanya Regina.


Kevin terdiam, ia merasa tidak enak meminta di buatkan teh m. ia melihat Regina sangat sibuk. ia pun mengatakan tidak butuh apa-apa.


Kevin hendak kembali ke kamar namun Regina menghentikannya.


"tuan, anda ingin teh atau kopi? lalu adik anda?" tanya Regina.


"nona..jangan seperti ini, lebih baik kau bersikap acuh saja padaku. aku takut tidak bisa mengendalikan perasaanku.." batin Kevin. pandangan keduanya bertemu. Kevin segera mengalihkan pandangannya.


"baiklah.." Regina kembali melanjutkan memasaknya, Kevin juga kembali ke kamarnya.


.


.


.


.


.


Regina dan Jessica sudah rapi dengan pakaian kerjanya, Jessica meminjam baju kerja Regina, tentu ia akan terlambat bekerja jika harus pulang ke apartemen terlebih dahulu untuk mengganti baju. sebelumnya Regina sudah menata sarapan di meja makan.


mereka berdua turun ke bawah, Regina dan Jessica mendudukkan tubuhnya di kursi. tidak lama Kevin dan Aldo juga keluar kamar, mereka juga sudah rapi dengan pakaian kerja. parfum maskulin keduanya menusuk hidung Regina dan Jessica.


"Re, adik sama kakak kenapa sangat berbeda sekali wataknya, padahal kan mereka dari ibu yang sama." bisik Jessica.


"kenapa kau ini sangat bodoh Jes, anak kembar saja yang wajahnya mirip juga mempunyai watak dan sifat yang berbeda." ketus Regina.


"sudah diamlah, cepat sarapan lalu antar aku ke kantor dulu."


Kevin dan Aldo pun duduk, di hadapannya sudah ada teh yang masih panas. Kevin dan Aldo menyeruput teh tersebut sebelum memakan sarapan mereka.

__ADS_1


"bi Tanti kemana kak?" tanya Aldo pada Kevin.


"bi Tanti pulang kampung tadi jam tiga pagi. anaknya sakit." jawab Kevin.


"oh.." Aldo melanjutkan makannya.


selesai sarapan, mereka berempat segera berangkat ke tujuan masing-masing. Kevin mengunci pintu dan memberikan satu kunci untuk Regina. ia takut Regina tidak bisa masuk jika ia tidak membawa kunci dan Kevin belum pulang.


Regina pun menerimanya dan memasukkannya ke dalam tas.


mereka hendak masuk ke mobil masing-masing, namun suara teriakan Aldo membuat mereka melihat ke arahnya.


"aaww sakit !!!" teriak Aldo. kakinya kesakitan, kakinya tidak sengaja terinjak oleh sepatu Jessica yang sedikit ber-hak tinggi itu.


"apa kau buta! kenapa kau menginjak kakiku hah!" protes Aldo.


Kevin dan Regina mencoba melerai keduanya yang selalu bertengkar sejak mereka bertemu. namun percuma, Aldo dan Jessica tetap saling lempar kesalahan.


"kau sengaja kan menginjak kakiku !" bentak Aldo.


"apa kau tuli?? aku sudah bilang aku tidak sengaja, salahmu sendiri kenapa berdiri di belakang ku." seru Jessica.


"sudah Aldo, dia kan tidak sengaja. sudah cepatlah berangkat bekerja." perintah Kevin.


Regina merasa malu pada Kevin, berkali-kali ia mencoba menyuruh Jessica masuk ke mobil agar perdebatan mereka tidak berlarut-larut.


"dia sengaja kak, tadi malam saja dia menyiramku dengan air." seru Aldo.


"hah??!!" Kevin dan Regina membelalakkan mata mereka.


"apa kau benar menyiramnya Jes?" tanya Regina.


Jessica mengangguk takut dan malu.


"kau ini !! dasar bodoh." umpat Regina.


Aldo dan Jessica masih berdebat. karena pusing melihat keduanya, Kevin menarik tangan Regina untuk masuk ke mobilnya.


"tuan...apa yang anda lakukan?" tanya Regina saat Kevin memasangkan self belt-nya.


"lebih baik kita berangkat saja, biarkan mereka berdebat seharian sampai puas." Kevin melajukan mobilnya menuju ke kantor Regina terlebih dahulu.


"tapi tuan.." Regina melihat ke belakang melihat keduanya yang semakin tak terlihat dari pandangannya.


Kevin hanya diam saja,terlihat jelas raut wajahnya yang menahan emosi melihat keduanya. Regina merasa tidak enak, ia pun memilih diam saja selama perjalanan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


budayakan menekan like teman-teman.


terima kasih 🤗❤️


__ADS_2