Pelaminan

Pelaminan
Menginap


__ADS_3

Aldo menyampaikan keinginannya untuk menginap di rumah Kevin. Selain memang sudah malam dan mengantuk, Aldo pasti akan di marahi oleh bunda dan ayah jika pulang larut malam. Ya, bunda Hana dan ayah Agung memang seperti itu. Mereka akan memarahi Aldo jika pulang lebih dari pukul sepuluh malam.


“Tidak boleh! Kau harus pulang. Ayah dan Bunda pasti menunggumu,” ucap Kevin lantang. “Kau selalu seperti itu, Kak. Aku ini adikmu yang paling tampan, jangan menjajahku seperti itu.”


“Iya, Vin. Biarkan saja dia menginap di sini,” timpal Regina. Kevin kembali berujar. “Tidak! Dia harus pulang. Pulanglah sekarang!” perintah Kevin.


Kak Alan ikut berbicara. “Vin, Aldo tidak akan mengganggumu. Tenang saja....”


“Kau belum menikah, Kak. Mana tau rasanya di ganggu oleh Aldo,” Kevin berujar dengan tatapan kesalnya pada Aldo. Sementara Aldo, ia terkekeh melihat kekesalan kakaknya.


Bagaimana Kevin tidak kesal? Setiap sebelum tidur, Aldo selalu meminta sesuatu pada Regina. Misal, ia akan meminta di buatkan susu juga sama seperti dirinya yang meminum susu sebelum tidur. Lalu paginya, Aldo hanya ingin memakan sarapan buatan Regina. Dan ... dengan segala macam permintaan anehnya.


Bukan karena apa, tapi Aldo memang lebih suka masakan Regina. Ia teramat sangat menyayangi kakak iparnya ini. Membuat Regina terkadang merasa bahwa ia sudah mempunyai seorang anak.


“Kau meledekku lagi, Vin?” kak Alan menyahuti ucapan Kevin. “Eh! Bukan begitu, Kak. Aku kesal saja dengan Aldo,” kata Kevin.


“Kau kesal sekali jika ada orang lain yang menginap di rumahmu. Kalau begitu, aku juga akan menginap di sini. Bukankah itu bagus, Al?” kak Alan menyunggingkan senyumnya serta menaikkan alisnya dua kali kepada Aldo. “Tos kita, Kak!” Aldo mengangkat tangannya. Aldo dan kak Alan pun bertos ria.


Kevin mengusap kasar wajahnya. Merasa frustasi bahwa bukan hanya Aldo yang menginap, namun kini kak Alan juga ikut menginap. Regina tersenyum simpul melihat Aldo dan kak Alan yang tertawa bersama, sementara Kevin ... ia mendesah kesal.


“Menginap-lah. Tapi jangan merepotkan istriku, dia sedang hamil,” ucap Kevin. Ia mengelus pipi Regina dengan punggung tangannya. Regina tersenyum.


“Kau!” kak Alan melempar satu bantal sofa ke arah Kevin. “Kak! Kenapa kau melempar bantal padaku!” Kevin tak sempat menghindar. Lemparan bantal itu tepat mengenai wajahnya. Aldo dan Regina tertawa, mereka sudah paham mengapa kak Alan melempar bantal itu.


“Kau suka sekali meledekku. Memperlihatkan kemesraan mu di depan mata polosku ini. Sungguh, Vin, kau tidak punya rasa kasihan sedikitpun padaku.”


“Mata polos dari mana? Yang ada, mata mu itu sudah terkontaminasi dengan limbah masyarakat!” celetuk Aldo, disusul suara tawa Kevin dan Regina.


Mereka bertiga masih saja asik dengan acara meledek kak Alan. Terutama Aldo dan Kevin, mereka sangat suka meledek pria tegap berkumis tipis itu. Hingga Regina menyudahi ledekan Kevin dan Aldo lalu menyuruh mereka untuk segera beristirahat. Sebab, malam sudah semakin larut.


Seperti yang Kevin katakan tadi. Aldo akan meminta di buatkan susu sebelum tidur oleh Regina. Kak Alan pun sama, ia juga meminta segelas susu hangat sebelum tidur. “Diam kau, Al! Aku ingin latihan sebelum aku benar-benar menikah,” kata kak Alan yang menerima nampan berisi dua gelas susu hangat. Regina sendiri yang mengantarnya ke kamar tamu, kamar di mana kak Alan dan Aldo menginap.


“Latihan apa? Jika kak Kevin mendengarnya, bisa-bisa dia membunuhmu!” ujar Aldo yang sudah berbaring di atas tempat tidur.


“Bercanda, Al. Kau ini serius sekali.”


“Baiklah. Selamat malam, Kak Alan, Al,” ucap Regina. Kak Alan dan Aldo membalas ucapan selamat makan dari Regina. Wanita yang tengah hamil lima bulan itupun segera kembali ke kamarnya. Tak lupa juga dengan segelas susu hangat untuk suaminya.


Kevin keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Regina menaruh gelas susu tersebut di meja nakas. Ia membuka almari untuk mengambilkan baju santai untuk Kevin. Kevin lebih suka memakai celana pendek selutut serta kaos tipis polos. Atau, Kevin terkadang memilih bertelanjang dada untuk tidur.


“Ini bajumu,” Regina menyodorkan satu stel baju. Kevin menerimanya dengan satu tangan yang memegang gelas lalu meneguk susu tersebut hingga habis tak bersisa.


Regina beranjak naik ke tempat tidur, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Sayang,” Kevin naik ke tempat tidur. Masih dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” sergah Regina yang sebenarnya sudah tahu maksud dari senyuman suaminya itu.


“Diamlah! Jangan sampai Kak Alan dan Aldo mendengarnya,” dengan sekali gerakan, tubuh Kevin sudah memeluk tubuh Regina. mencium pipinya dengan penuh maksud.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Suasana di dapur sudah berisik oleh bi Tanti dan Regina yang memasak sarapan. Sesuai permintaan Aldo, bahwa ia ingin memakan ikan salmon bumbu asam pedas manis dan Regina-lah yang harus memasak untuknya.


Aldo dan kak Alan sudah keluar kamar, lengkap dengan pakaian yang sama seperti kemarin. Regina menyuguhkan kopi kepada adik ipar dan kakak iparnya. “Kak, kau sendiri yang memasaknya, kan?” Aldo memastikan.


“Iya, Al. Ini masakanku, makanlah.”


Tak lama, Kevin keluar kamar dengan kemeja yang belum ia kancingkan. Ia menghampiri istrinya yang masih berada di meja makan, tengah melayani Aldo dan kak Alan. “Sayang,” panggil Kevin dengan wajah kesalnya.


“Iya?”


“Kau selalu seperti itu jika ada Aldo di sini. Lalu sekarang siapa yang akan mengancingkan kancing kemejaku ini, hah?” seru Kevin.


Regina mendekat pada Kevin yang berdiri di dekat meja makan, berdiri di hadapannya lalu mengaitkan kancing kemeja suaminya yang tiba-tiba manja ketika ada Aldo. Ya, ketika hanya ada Aldo.


Aldo menatap penuh harapan jika suatu saat ia menikah nanti, Jessica akan melakukan hal yang sama kepadanya. Seperti Regina dan Kevin. Sementara kak Alan, ia menatap penuh keheranan.


“Sudah selesai,” Regina menuntun Kevin untuk duduk di kursinya. “Sekarang nikmati kopi dan sarapanmu,” imbuhnya. Kevin segera menyeruput kopi buatan sang istri yang penuh cinta.


Regina mengambilkan makannya ke piring Kevin.


Kak Alan berdecak. “Aku menyesal menginap di sini. Jika tahu akan menjadi penonton hina seperti ini, aku tidak akan sudi mengantarmu pulang semalam, Vin!”


Aldo tersenyum meledek pada kak Alan, begitupun dengan Kevin. “Al, sepertinya kita harus segera mencarikan wanita untuk kak Alan. Aku takut dia akan gelap mata lalu,” Kevin menggantung ucapannya.


“Iya, Kak. Kau benar,” Aldo menimpali. “Kak Regina, apa kau tidak punya teman lagi selain Jessica? Biar kakak ku yang playboy ini tidak lagi merasa tersiksa seperti ini,” sambung Aldo.


“Aku bukan playboy, Al!” seru kak Alan.


“Ya, bukan playboy. Tapi fuckboy.”


Kak Alan berdecak kesal.


Regina duduk di samping kanan kursi Kevin. Menatap ke arah kak Alan yang tetap sibuk dengan sarapannya. “Apa kau benar-benar ingin berubah, Kak?” tanya Regina pada kak Alan. Sontak kak Alan pun mengangkat wajahnya, menatap Regina yang duduk di depannya.


“Kenapa? Kau juga ingin meledekku?”


Regina menggeleng cepat. Sangat menggemaskan ekspresi wanita hamil itu. “Aku hanya bertanya, tidak mau jawab, ya sudah!”


Kak Alan menyunggingkan senyumnya, ia tahu ... Sebentar lagi Regina akan marah. Ia dapat melihat dari sorot matanya. “Dasar! Wanita hamil,’ lirihnya.


Regina melotot pada kak Alan. “Memangnya kenapa kalau aku hamil?” seru Regina. Aldo dan Kevin yang tadinya menunduk, fokus pada sarapannya ... Kini mengangkat wajahnya, menatap pada Regina dan kak Alan bergantian.


“Bercanda, Re. Kau ini kenapa mudah marah sekali. Dulu kan kau ti—” Kak Alan menghentikan ucapannya begitu mendapat kode dari Kevin. Adiknya itu berkedip lalu menatap tajam ke arahnya.


Kevin tahu, hal seperti itu akan di perpanjang oleh istrinya. Dan siapa lagi yang menjadi korban jika bukan ia sendiri—Kevin.


“Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu? Cepat lanjutkan!” kesal Regina.


Kak Alan menggeleng cepat. “Tidak, Re. Lanjutkan sarapanmu.”

__ADS_1


Regina hendak kembali menyahuti ucapan kak Alan, namun tangan Kevin menyentuh lembut jari jemarinya. Ia pun menoleh pada Kevin. “Apa? Kau juga mau mengataiku?”


Benar saja ... Regina mulai marah. Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melirik ke arah kak Alan dengan kesalnya.


Kan, dia marah seperti ini. Akan sulit untuk membujuknya. Awas kau, Kak!


Kevin berucap penuh kelembutan. “Sayang, jangan dengarkan dia. Dia sedang tidak baik, maksudku dia sedang dalam keadaan hati yang tidak baik. Dia sangat ingin menikah, jadi maklumi saja. Jangan di ambil hati.”


“Tapi dia—”


“Sekarang nikmati sarapanmu, masakanmu ini sangat lezat. Makanlah,” Kevin menyuapi Regina.


Eh! Tumben sekali, mudah untuk membujuknya.


Aldo dan kak Alan kembali menikmati sarapan mereka dengan sesekali melirik akan kemesraan yang di tunjukkan sepasang suami istri di depan mereka.


Seusai sarapan, Regina mengantar Kevin sampai ke teras. Di ikuti kak Alan dan Aldo yang berjalan di belakang mereka. “Nanti aku akan pulang tepat waktu, hari ini aku hanya akan ke kantor WO, mengecek laporan dan melihat hasil kerja Jerry dan Sahila.”


Regina mengangguk, tersenyum simpul pada sang suami. “Berhati-hatilah,” pesan Regina setelah mendapat pelukan dan ciuman di keningnya.


Kak Alan yang sudah kesal pun menyahut. “Harusnya kata-kata itu untukku, Re. Kan aku yang mengendarai mobilnya, bukan Kevin.


“Lalu, kau yang akan memeluk dan menciumnya, begitu?” sergah Kevin dengan kesalnya.


Kak Alan terkekeh, “Lihatlah, Al. Sekarang Kevin yang sedang dalam hormon wanita hamil.”


“Diam, kau!” bentak Kevin pada Aldo yang juga menertawainya.


Aldo mengucapkan terima kasih kepada kakak iparnya yang selalu ia repotkan. “Terima kasih, Kak, aku akan sering-sering menginap di sini.”


Regina mengangguk, tersenyum kepada adik iparnya.


“Enak saja! Kau tidak boleh terlalu seiring menginap di sini.” Kevin menyahut.


Regina menepuk lembut lengan Kevin. “Kau ini bicara apa, sudah sana berangkatlah. Jangan membuat emosi ku naik turun,” usir Regina, seketika Kevin menutup mulutnya rapat-rapat.


“Terima kasih, Re. Aku sangat merepotkanmu.”


“Memang!” seru Kevin pada kak Alan.


“Kau ini berlebihan sekali, Kak!” seru Aldo. Kak Alan terkekeh melihat wajah kesal Kevin. Kak Alan tahu, Kevin bukan cemburu padanya. Namun hanya bercanda.


Kevin kembali mencium kening Regina lalu mengelus perut buncit sang istri dengan lembut. Setelah itu, Kevin dan Aldo ikut masuk ke mobil kak Alan.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2