Pelaminan

Pelaminan
bab 19


__ADS_3

hujan masih turun dengan derasnya, lampu juga masih mati. desiran suara angin masih terdengar jelas di telinga Regina.


"tuan, aku mengantuk..." ucap Regina.


seketika Kevin menundukkan pandangannya agar bisa melihat wajah Regina. meskipun gelap ia masih bisa melihat wajah cantik Regina yang bersandar di dadanya.


Regina juga mendongakkan wajahnya, mata mereka bertemu dan membuat jantung keduanya sama-sama berdebar tak karuan.


"jantung tuan Kevin seperti genderang perang... aku harap dia tidak...." batin Regina takut.


Regina sadar Kevin adalah pria dewasa normal yang pasti akan merasa tegang jika sedang berpelukan dengan seorang wanita yang memakai hotpants sexy sepertinya kini. apalagi mereka berada dalam satu ruangan yang gelap.


tapi Regina terlalu takut pada hujan angin, ia tidak mau melepas pelukannya pada Kevin. ia yakin Kevin tidak akan melakukan sesuatu yang aneh-aneh padanya.


"tidurlah nona.. tutup matamu." tanpa Kevin sadari tangannya sibuk mengusap puncak kepala Regina dengan lembut. Regina tidak menolak, ia merasakan kenyamanan saat Kevin menyentuh lembut kepalanya.


Kevin pun menggiring tubuh Regina ke tengah kasur. ia menyuruh Regina berbaring agar lebih nyaman untuk tidur.


untuk menghentikan desiran hasrat di tubuhnya, Kevin enggan untuk berbaring. ia memilih duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan tangan Regina yang masih melingkar di perutnya.


"tuan berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku.." pinta Regina.


"tidak nona, tidurlah.." Kevin mengusap puncak kepala Regina lagi.


"berjanjilah dulu..." seru Regina.


"iya aku berjanji..."


Regina mulai memejamkan matanya, rasa kantuknya tiba setelah tangan Kevin berkali-kali mengusap puncak kepalanya.


"apakah dia sudah tidur?" gumam Kevin lirih seraya melambaikan tangannya di depan wajah Regina.


"sepertinya sudah." perlahan Kevin mengendurkan tangan Regina yang melingkar di perutnya, ia sangat takut jika hal yang lebih terjadi pada mereka karena juniornya masih saja bangun.


"tuan jangan pergi!" ujar Regina yang kembali membuka matanya seraya menggenggam erat ujung kaos Kevin.


"eh tidak nona, saya tidak pergi." sahut Kevin yang kembali mengusap puncak kepala Regina.


"bohong! kau ingin pergi kan? ya sudah pergi sana saja !" usir Regina dengan ketusnya.


"ya Tuhan.. kenapa dia jadi marah. aku kan belum benar-benar pergi tadi." batin Kevin.


"tidak nona, saya hanya menggeser tubuh saya saja tadi." bohong Kevin.


"bohong!" kali ini Regina benar-benar marah, ia mendorong tubuh Kevin menjauh darinya.


"kenapa anda marah nona?"


"tidak! siapa yang marah." ketus Regina.


"itu.. jelas-jelas anda marah." Kevin menunjuk Regina.


"aku bilang tidak ya ti...."


duuaarrr


"mami !!!!" kaget Regina.

__ADS_1


ia kembali menutup kedua telinganya dengan rapat, Kevin hanya terdiam bingung, ia ingin kembali memeluk Regina tapi dia sedang marah padanya sekarang.


"tuan kenapa kau diam saja? aku takut." Regina kembali menangis.


"lalu aku harus apa nona?" tanya Kevin dengan polosnya.


"peluk aku...." suara Regina terdengar sangat manja di telinga Kevin.


"tapi kan anda sedang marah, lagipula anda tadi memanggil mami anda kan." sengaja Kevin mengatakan itu.


"iya tapi mami ku tidak ada di sini, jika ada mami dia pasti akan memelukku dan tidur bersamaku."


"terserah dia menganggapku wanita seperti apa yang meminta di peluk seorang pria, tapi aku benar-benar takut." batin Regina.


"lalu anda ingin di peluk?" tanya Kevin.


"iya..." lirih Regina.


"tapi kan anda sedang marah pada saya.." Kevin kembali sengaja mengatakannya, ia ingin tau apa yang akan Regina katakan selanjutnya.


"ya sudah jika Anda tidak mau memeluk saya, saya akan memeluk guling saja. keluarlah dari kamarku." ketus Regina. ia membelakangi Kevin.


"anda benar-benar menyuruh saya keluar?"


"kenapa anda mengajak saya berdebat tuan? saya benar-benar merasa takut." Isak Regina membuat Kevin tidak tega.


"yang mengajak berdebat kan dia, kenapa aku yang di salahkan.." Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"maaf nona, kemarilah.." tangan Kevin meraih tubuh Regina.


seketika Regina langsung memeluk tubuh Kevin dan menenggelamkan wajahnya di dadanya.


entahlah.. ucapan Kevin kali ini membuat Regina sangat tenang. ia merasa sangat nyaman bersama Kevin.


Kevin memeluk Regina dengan hangat, ia juga ikut membaringkan tubuhnya. Kevin menarik selimut, malam itu terasa sangat dingin bagi keduanya.


jantungnya kembali berdebar tak karuan, ah ya.. juniornya juga bangun lagi. tadi sempat tidur sebentar karena perdebatan sedikit antara ia dan Regina. tapi saat ia kembali memeluknya....


"tidurlah !!! aku sungguh tersiksa jika kau bangun !!" batin Kevin frustasi.


Regina bisa mendengar detak jantung Kevin yang berdegup kencang. bahkan ia juga merasakan ada sesuatu yang mengganjal di pahanya yang tidak ia mengerti barang apa yang mengganjal itu.


karena merasa tidak nyaman, tangan Regina pun berusaha menyentuh sesuatu yang mengganjal itu.


"nona !!!" teriak Kevin yang terkejut.


Regina sadar apa yang sudah ia sentuh tadi saat Kevin berteriak.


"dasar bodoh ! kenapa aku bisa tidak mengerti apa yang mengganjal pahaku tadi. aku ini juga wanita dewasa... dasar bodoh !! bodoh !!" maki Regina pada dirinya sendiri.


keduanya sangat malu, beruntung lampu masih mati sehingga tidak terlihat wajah malu mereka.


"ma-maaf tuan.. aku tidak sengaja.." ucap Regina.


Kevin diam, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan sekarang.


"tuan maaf... aku merasa tidak nyaman ada sesuatu yang mengganjal pahaku tadi. aku berniat memindahkan itu agar aku bisa nyaman untuk tidur." jelas Regina.

__ADS_1


"jadi anda ingin memindahkan juniorku??!!"


"tidak tuan, tidak seperti itu..." Regina gelagapan.


"aku pikir itu tadi bukan junior mu." Regina seketika membungkam mulutnya sendiri.


"bodoh ! aku keceplosan lagi. ah sialan !" batin Regina.


"ya sudah lebih baik saya tidur di kamar saya sendiri." Kevin beranjak pergi.


"tuan tuan tunggu jangan pergi, saya takut." Regina menarik tangan Kevin.


"jika saya tidak pergi itu lebih bahaya lagi nona."


"tidak, anda tidak boleh pergi dari sini." kata Regina.


Kevin terdiam sejenak.


"aku pasti bisa menahannya. aku pasti bisa." support Kevin pada dirinya sendiri.


"baiklah, cepatlah tidur. saya juga sangat lelah." Kevin kembali naik dan membaringkan tubuhnya.


Regina juga membaringkan tubuhnya di samping Kevin.


"tuan..."


"hemm" sahut Kevin tanpa membuka matanya.


"maafkan saya..."


"sudahlah nona, cepat tidur."


"tapi.. bisakah anda memeluk saya? saya takut..." ucap Regina lirih.


Kevin mengambil nafasnya dalam-dalam lalu ia memiringkan tubuhnya dan memeluk Regina.


cuupp


"tidurlah..." Kevin mencium puncak kepala Regina tanpa sadar.


"dia menciumku ???" batin Regina. ia sangat terkejut namun ia lebih memilih diam lalu menutup matanya.


.


.


.


.


.


selanjutnya apa yang terjadi ya antara Kevin dan Regina?????


penasaran kan???


tungguin aja ya, kasih like, comment dan votenya dong biar author semangat nulisnya....

__ADS_1


terima kasih 🤗❤️


__ADS_2