
Kevin membawa Regina ke dapur, menghindar dari keributan Aldo dan Jessica.
"Kevin, mereka sedang bertengkar. Kenapa kau justru membawaku kesini? Bagaimana jika mereka saling menyakiti?" Regina menghempaskan tangan Kevin.
"Mereka tidak akan saling menyakiti. Tenang saja." tutur Kevin lembut.
"Duduklah, aku ingin berbicara denganmu." Kevin menuntun Regina duduk di kursi meja dapur. Tiba-tiba Kevin memeluk tubuh Regina erat, semakin menenggelamkan wajah istrinya di dada bidangnya.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang menganggu hatimu?" tanya Regina. Ia membalas pelukan Kevin dengan erat.
"Maaf," Ucap Kevin. Regina mengendurkan pelukan Kevin, menatap wajah sendu sang suami.
"Ada apa? Kenapa kau meminta maaf."
"Nanti aku akan mengatakan semuanya padamu, sekarang biarkan aku memeluk mu." Kevin kembali menarik tubuh Regina ke dalam pelukannya.
Kevin menutup matanya, ia merasa bersalah tidak mengatakan ke mana ia pergi sejak awal. Jika ia mengatakan terlebih dulu, tidak mungkin ia akan mengalami hal yang sangat memalukan sekaligus menjijikkan seperti itu.
.
.
.
.
.
Brukk
Tubuh Jessica terjatuh di atas tubuh Aldo karena sebuah tarikan di pergelangan tangannya. Keduanya saling tatap, jantung mereka berdegup kencang. Tangan Kevin semakin menarik tubuh Jessica agar semakin rapat dengannya.
"Aldo !" teriak Kevin. Seketika itu Aldo mendorong tubuh Jessica dan membuat wanita itu terjatuh ke lantai dengan kerasnya. Regina mendekat, membantu Jessica bangun dan duduk di sofa.
"Apa yang kau lakukan, Al?" tanya Kevin, ia menjitak kepala sang adik dengan kerasnya.
"Aku tidak melakukan apapun, Kak. Kenapa kau menjitak kepalaku?" Aldo memegangi bagian kepalanya di mana Kevin mendaratkan jitakannya.
"Kau tidak apa, Jes?" tanya Regina, Jessica mengangguk dengan wajah yang masih meringis kesakitan.
"Tadi dia hampir terjatuh, jadi aku menarik tangannya." ujar Aldo yang ikut di setujui oleh Jessica.
Sebenarnya bukan hampir terjatuh, memang Aldo sengaja menarik pergelangan tangan Jessica. Aldo dan Jessica tidak berani saling tatap, keduanya sama-sama berpaling merasa malu atas apa yang hampir terjadi di antara mereka.
Tidak ingin terlalu lama larut dalam situasi canggung, Jessica pun berpamitan pulang. Tak berselang lama, Aldo pun juga ikut berpamitan. Regina kini duduk di tepi tempat tidur menunggu Kevin yang masih berada di dalam kamar mandi.
Ceklek
Pintu terbuka, Kevin keluar dengan kaos santai serta celana selutut. Ia pun segera duduk di samping istrinya. Kevin tau, Regina sangat terganggu dengan apa yang ia ucapkan di dapur tadi.
"Sayang," Kevin membelai lembut rambut Regina. Tatapan mata Regina semakin membuat Kevin merasa bersalah.
__ADS_1
"Berjanjilah untuk mendengar semuanya dan jangan membuka suara terlebih dulu sebelum aku mengijinkan mu." ujar Kevin.
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?" tanya Regina.
"Dengarkan aku," Kevin menggenggam erat jari jemari Regina. "Apa kau ingat? Pertama kali aku melakukan syuting iklan untuk perusahaan, Ayah." Regina mengangguk.
"Wanita itu bernama, Carlyn. Dia datang ke sini, dan maaf---" Kevin memberi jeda sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Hati Regina sudah bergemuruh mendengar penuturan Kevin. Memang belum semuanya, tapi entah kenapa ia merasa ada hal buruk yang terjadi.
"Aku tadi memenuhi permintaan dia untuk menemuinya di hotel." lanjut Kevin. Regina menelan salivanya dengan kelu. Mendengar kata hotel serta Kevin yang menemuinya, membuat ia sudah menyimpulkan sesuatu di antara wanita itu dan suaminya.
"Tunggu, sayang, dengarkan aku dulu. Jangan berpikir apapun. Aku akan menceritakan semuanya dengan jelas, aku tidak akan menutupi apapun darimu." ujar Kevin, ia dapat melihat mimik wajah istrinya yang berubah antara terkejut serta sedih.
"Kami makan malam di restoran hotel tersebut. Dia datang tadi pagi ke kantor, dia mengatakan ada yang ingin ia bicarakan secara empat mata. Jadi, ya, aku menemuinya."
"Selesai makan malam, Carlyn pamit ingin pergi ke toilet. Baru dua langkah, ia hampir terjatuh dan aku membantunya. Aku berniat membawanya ke dokter, tapi ia menolak dan meminta tolong untuk di antar ke kamarnya saja. Aku sudah membantunya duduk di sofa, tapi tiba-tiba dia menarik tanganku, dan---" Kevin menunduk, ia ingin menghentikan apa yang ingin ia katakan pada istrinya, tapi Kevin ingin ada kejujuran di dalam rumah tangga mereka. Kevin tidak ingin Regina mengetahui semuanya dari orang lain.
"Aku terjatuh di atas tubuhnya, dia meminta tolong untuk di ambilkan obat di dalam kopernya. Aku mencari obat itu di dalam kopernya, katanya, tekanan gulanya mungkin naik, jadi dia membutuhkan obat itu." Regina masih mendengarkan Kevin, sesuai perintah Kevin, bahwa ia tidak boleh berbicara terlebih dulu sebelum Kevin mengijinkannya.
Kevin menyentuh pundak Regina, melanjutkan kembali ceritanya.
"Aku tidak menemukan apapun di dalam kopernya, begitu aku berbalik, aku terkejut melihat dia sudah melepas semua ... pakaiannya."
"Apa kau tidur dengannya?" lolos juga pertanyaan itu dari bibir Regina, bersamaan dengan air mata yang sudah memaksa keluar sejak tadi.
"Sayang," Kevin menghapus air mata Regina.
"Tidak, tunggu dengarkan aku dulu. Aku terkejut, ia menarik tengkuk leherku dan---"
"Tunggu, Regina, dengarkan aku."
"Dia mencium ku dan aku----"
"Kau terpancing lalu kau menuntun wanita itu ke atas ranjang kan?" seru Regina. Tangisnya semakin pecah. Air mata itu dengan derasnya meluncur membasahi pipi lembut Regina.
"Regina," Kevin menekankan suaranya, memejamkan matanya. Sesuai apa yang ia pikirkan, tidak akan semudah itu menjelaskan pada istrinya.
"Dia mencium ku, sontak aku mendorong tubuhnya. Dan aku mengambil selimut lalu ku tutup tubuh telanjangnya dengan selimut itu. Aku bukan kucing jalanan yang akan memakan ikan sembarang, Re, aku bukan pria seperti itu." seru Kevin.
"Benarkah? Mana ada pria yang menyia-nyiakan hal nikmat seperti itu." dengus Regina.
"Aku bersumpah, Regina, aku tidak melakukan apapun. Jika kau tidak percaya, kau bisa menanyakan hal itu pada Carlyn."
"Mana ada pencuri yang mengaku." Regina masih menatap Kevin dengan sorot mata tajam meskipun air matanya mengalir tanpa henti.
"Apa kau tidak percaya pada suami mu sendiri?" tanya Kevin. Regina diam, ia ingin percaya, namun hatinya menolak untuk mempercayainya begitu saja.
"Baiklah, sekarang hitunglah. Aku keluar rumah pukul tujuh malam, dan aku kembali ke rumah tepat pukul setengah sembilan malam. Perjalanan dari rumah ke hotel tersebut memakan waktu dua puluh menit. Sampai di restoran, kami memesan shushi, dan kebetulan restoran malam itu sangat ramai, jadi butuh waktu selama dua puluh menit juga untuk menunggu. Dua puluh menit selanjutnya aku habiskan dengan makan dan sedikit membicarakan tentang iklan kita. Bagaimana? Tepat satu jam bukan?" Regina masih diam, tangisnya perlahan sudah mulai berhenti mengalir.
"Selesai makan aku mengantar, Carlyn, ke kamarnya. Lalu apa aku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk bercinta, hah!" seru Kevin.
"Lalu dua puluh menit aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Katakan padaku, apa hanya butuh waktu sepuluh menit untuk bercinta? Katakan, berapa lama jika kita sedang berkeringat bersama di atas tempat tidur? Katakan padaku, kenapa kau diam?" Kevin sudah kesal dengan apa yang di pikirkan dan di tuduhkan Regina.
__ADS_1
Cukup lama mereka saling membisu Kevin mengusap wajahnya dengan kasar, ia sungguh tidak melakukan apa yang di tuduhkan Regina. Meskipun jika ia belum memiliki Regina, ia bukan pria seperti itu, pria yang dengan mudahnya tidur dengan semua wanita.
"Benarkah dia hanya mencium mu?" tanya Regina, Kevin mengangguk tanpa menoleh pada Regina yang duduk di sampingnya.
"Apa lama?" tanya Regina lagi. Kali ini Kevin menoleh, melihat wajah sang istri yang penuh tanda tanya.
"Apa maksud mu?" Kevin menautkan kedua alisnya.
"I-iya, itu ... apa dia mencium mu sangat lama?" ulang Regina.
Kevin menunduk memandang lantai kamarnya.
"Tidak, mungkin hanya lima detik."
"Benarkah?" Regina memastikan dan di jawab anggukan kepala oleh Kevin.
Tanpa aba-aba, Regina langsung menggandeng tangan Kevin menuju kamar mandi.
"Diamlah, jangan banyak bergerak dan bertanya." Regina menyuruh Kevin berdiri di depan kaca wastafel kamar mandi, tangannya mengambil sabun cair dan langsung mengaplikasikannya ke bibir Kevin, menggosoknya dengan sangat kasar. Kevin yang terkejut pun tak bisa membela diri karena sabun yang masih memenuhi bibirnya. Matanya membulat dengan sempurna.
"Agak menunduk." perintah Regina. Kevin menurut, ia menunduk lalu Regina membasuh bibir Kevin yang penuh sabun itu dengan air sampai bersih. Regina mengambil handuk lalu ia keringkan bibir Kevin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kevin saat Regina kembali menggandengnya keluar kamar mandi dengan kasar.
"Duduk, dan minumlah ini." Kevin meneguk air putih yang di sodorkan istrinya itu hingga habis.
"Kau ini kenapa? Kenapa mencuci bibirku dengan sabun sebanyak itu?" tanya Kevin setelah mengembalikan gelas kosong tersebut pada Regina.
"Karena bibirmu itu habis di cium oleh wanita lain, aku tidak mau itu. Jadi aku mencuci bibirmu." jawab Regina dengan santainya sembari menaruh gelas di meja nakas.
"Bibir itu milik ku, aku tidak sudi membaginya dengan siapapun." imbuh Regina, ia kembali duduk di samping suaminya, Kevin tersenyum simpul melihat sang istri.
"Apa dia tidak tau bahwa kau sudah menikah?" tanya Regina.
"Tidak, tapi tadi aku sudah memberitahunya."
"Benarkah?"
"Iya, apa kau ingin melihat bagaimana aku mengatakan itu pada, Carlyn?" Regina mengangguk. Kevin memerintahkan Regina untuk berdiri dan ia akan memperagakan kejadian di hotel tadi.
"Menyingkir dariku!" teriak Kevin seraya mendorong tubuh Regina ke atas kasur seperti apa yang ia lakukan pada Carlyn. Bibir dan mata Regina membentuk huruf O secara bersamaan.
"Asal kau tau, aku sudah menikah dengan wanita yang ku cintai. Dan jika aku belum menikah, aku juga tidak sudi tidur dengan mu." seru Kevin. Regina tertawa, masih dengan posisi di mana Kevin mendorongnya tadi.
.
.
.
.
__ADS_1
.