
malam semakin larut, udara dingin mulai menusuk tulang. hujan pun kembali turun. Regina yang tadinya hanya memakai tanktop, kini ia melekatkan jaket pada tubuhnya. setelah makan malam Jessica langsung pamit pulang pada Regina dan tuan Kevin.
sama seperti malam kemarin, Regina ikut membantu bi Tanti membereskan meja makan dan mencuci piring kotor bekas mereka makan. sedangkan Kevin, ia sibuk dengan laptopnya di ruang tv.
"bibi kenapa tidak bilang kalau tadi tuan Kevin sudah pulang bi, aku kan tadi hanya memakai tanktop. aku malu bi.." ucap Regina yang sudah selesai mencuci piring.
"kan tadi nyonya tidak tanya lagi, lagipula tuan Kevin itu suami nyonya, kenapa nyonya harus malu." sengaja bi Tanti mengatakan hal itu. saat pertama kali bi Tanti melihat Regina, entah kenapa ia langsung suka dan sangat setuju jika Regina menjadi istri Kevin. bi Tanti cukup tahu bagaimana hubungan kedua majikannya ini, karena itu ia kadang suka melemparkan celoteh yang membuat pasangan itu menunduk malu.
Regina pun keluar dapur dan berhenti di jendela dekat ruang tv, ia menyibakkan sedikit tirai tersebut, di lihatnya hujan deras yang di sertai sedikit angin. Regina sangat takut jika terjadi hujan angin, ia menggigit kukunya dan masih berdiri di balik jendela melihat hujan.
melihat Regina yang masih berdiri di balik jendela membuat Kevin berdiri dan menghampirinya.
"nona.. anda melihat apa?" tanya Kevin.
"itu tuan... hujannya sangat deras dan sedikit angin." jawab Regina dengan gurat wajah ketakutan.
"apa anda takut nona?"
"dasar bodoh! sudah jelas sekali dia ketakutan, masih sempat-sempatnya bertanya takut apa tidak" Kevin memaki dirinya sendiri.
Regina mengangguk dan tetap menatap ke arah luar jendela.
"jangan takut nona, tidak akan terjadi apa-apa. kan anginnya tidak kencang." entahlah, Kevin tidak tahu lagi harus bicara apa. hanya itu yang keluar dari bibirnya.
Regina tetap diam, jika itu hanya hujan deras biasa Regina tidak akan takut. tapi ini ada sedikit angin, jelas terlihat daun-daun di ranting pohon itu kesana kemari tertiup angin, dan itu membuat hati Regina sangat takut jika angin akan lebih kencang dan menerbangkan apapun yang ia sapu.
duuaarrr
"mamiiii..." teriak Regina seraya menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"tenang nona, hanya geludug.." Kevin hendak menyentuh bahu Regina yang gemetar namun ia kembali menarik tangannya.
"mamiiii..." lampu tiba-tiba mati dan Regina refleks memeluk Kevin.
"mami Regina takut, lampu mati, hujannya sangat deras, ada angin.. Regina takut mi.." suara Regina terdengar gemetar, ia mengeratkan pelukannya pada Kevin.
Kevin yang menyadari tubuh Regina gemetar ketakutan, tanpa sadar kedua tangannya juga meraih tubuh itu dan memeluknya erat.
"nona tenanglah, ada aku.." ucap Kevin mencoba membuat Regina tenang.
__ADS_1
bi Tanti pun datang membawa senter dari kamarnya,ia mendengar teriakan Regina. tak lupa bi Tanti juga membawa lilin dan korek api di tangannya.
"tuan, nyonya.. ini saya bawa lilin." ucap bi Tanti.
"aku takut bi.. aku takut.." Regina masih memeluk Kevin, air matanya pun tak terbendung dan memaksa keluar.
"kan aku yang memelukmu, kenapa bilang takutnya pada bi Tanti sih.." batin Kevin yang masih memeluk Regina.
bi Tanti tersenyum simpul melihat kedua majikannya.
"nona mari saya antar ke kamar anda.." Kevin hendak melepas pelukannya namun Regina justru mempererat pelukannya.
"tidak tuan aku mohon jangan lepaskan, aku sangat takut." ujar Regina, ia enggan membuka matanya.
jantung Kevin berdegup kencang saat Regina semakin erat memeluknya, ia berharap Regina tidak mendengar detak jantungnya yang terus berdebar tak menentu itu.
"baiklah, tapi mari ke kamar anda nona. tidak mungkin semalaman kita berdiri disini."
Regina pun mengangguk, mereka berdua berjalan menaiki tangga dengan Regina yang masih memeluk tubuh Kevin. satu tangan Kevin memeluk Regina dan satunya membawa senter untuk menerangi jalannya ke kamar.
Kevin membawa tubuh Regina yang masih dalam pelukannya ke tempat tidur, mereka duduk di tepinya. Kevin hendak menyalakan lilin namun Regina menahan tubuhnya.
"aku takut tuan, jangan meninggalkanku sendiri.. aku takut." Regina masih menutup matanya dan menangis.
"tidak nona, saya masih disini. bukalah mata anda nona, saya di sini, tidak gelap nona, saya membawa senter.." Kevin meyakinkan Regina.
Regina pun membuka matanya perlahan dengan tubuhnya yang masih memeluk Kevin.
"tunggulah sebentar nona, saya akan menyalakan lilinnya." Kevin melepas pelukannya.
Kevin menyalakan lilin di meja nakas dengan satu tangannya karena tangan kirinya di genggam erat oleh Regina. setelah lilin menyala, Kevin pun mematikan senternya.
"tidurlah nona, saya akan duduk di sofa menunggu anda.." perintah Kevin namun Regina menggeleng dengan keras.
"tidak, bagaimana jika nanti anginnya bertambah kencang dan membuat rumah ini ikut tersapu.. aku takut." jawab Regina yang masih menangis serta masih menggenggam tangan Kevin.
"demi apapun, lucu sekali jika dia sedang ketakutan seperti ini.." batin Kevin melihat wajah Regina yang terpapar sinar lilin.
Kevin mengarahkan ibu jarinya menghapus air mata Regina.
__ADS_1
"tidak nona, anginnya tidak kencang, rumah ini tidak akan terbawa angin. kalaupun rumah ini terbawa angin, saya tidak akan membiarkan anda terbawa olehnya juga." ucap Kevin lembut.
"ya ampun.. kenapa kata-katanya membawa ketenangan di hatiku.." batin Regina.
tiba-tiba sinar lilin padam tertiup angin, Regina pun sontak kembali memeluk Kevin dan menangis.
"kenapa lilinnya mati... mami....." teriak Regina.
"nona tenanglah nona, jangan berteriak... saya ada di sini.." ucap Kevin seraya meraba kasur mencari senter yang ia letakkan tadi.
"maaf tuan, aku takut..." ujar Regina dengan tangisannya.
"sepertinya baterei senter ini habis..." Kevin menyalakan korek dan mendekatkan apinya ke lilin, namun karena angin lilin itu pun susah menyala.
"sudahlah tuan, tidak usah di nyalakan.. percuma saja." ucap Regina.
"baiklah, tapi nona jangan menangis lagi." sahut Kevin seraya membelai rambut Regina.
"iya, tapi jangan tinggalkan aku..."
"tidak nona, naiklah ke tempat tidur, aku akan tidur di sofa."
"tidak..." Regina menggeleng keras.
"aku ingin seperti ini, jangan tidur di sofa tuan,aku takut.." imbuh Regina.
"Tuhan, apa kau sedang mengujiku sekarang?? udaranya sangat dingin dan aku sedang memeluk seorang wanita yang memakai hotpants sexy seperti ini. ahhh juniorku !!! tidurlah, jangan bangun !" batin Kevin frustasi.
.
.
.
.
.
❤️❤️
__ADS_1