
Kevin masih berdiri menatap Regina yang berjalan kembali ke dapur.
"kenapa dia tidak mau menatapku?" gumam Kevin lirih.
Kevin pun melihat dadanya yang telanjang.
"apa karena aku tidak memakai baju?" gumam Kevin lagi.
"tapi dia kan sudah melihat yang lebih dari ini." lanjut Kevin. ia pun menutup pintu kamarnya.
.
.
.
.
.
pagi-pagi sekali Kevin dan Regina berangkat ke kampung bi Tanti. matahari bahkan belum muncul, udara dingin tak menyurutkan niat mereka untuk menjenguk anak bi Tanti.
"lanjutkan tidur anda nona, nanti saya akan membangunkan anda jika sudah sampai." tutur Kevin yang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"saya tidak mengantuk tuan.." ucap Regina.
tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka,Kevin fokus menatap jalan sedangkan Regina ia sibuk dengan ponselnya sembari mendengarkan musik yang ia sambungkan lewat headset bluetooth miliknya.
Regina menyandarkan kepalanya pada kursi mobil seraya menatap pemandangan di luar jendela.
Kevin melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"sudah jam delapan, pantas saja aku merasa lapar." gumam Kevin lirih.
mata kevin mengedar mencari kedai makan yang sudah buka. tapi sepertinya ia melewatkan kedai makannya, karena yang ia lihat hanyalah rumah yang sangat jauh jaraknya antara rumah satu dengan yang lainnya.
Kevin menoleh sebentar ke arah Regina, ia melihat wajah cantik yang sedikit tertutup oleh anak rambut itu tengah tertidur pulas.
"tadi dia mengatakan tidak mengantuk.." ujar Kevin seraya merapikan anak rambut Regina.
namun sentuhannnya itu justru membuat Regina terbangun, Kevin pun segera menarik tangannya dan menatap fokus ke depan.
Regina menggeliat seraya membuka matanya perlahan.
"maaf tuan, saya ketiduran.. jam berapa sekarang?" Regina mengucek matanya.
"jam delapan nona." sahut Kevin tanpa menoleh ke arah Regina.
"nona maaf, sepertinya saya melewatkan kedai makan. anda pasti sudah lapar sekarang.." lanjut Kevin.
"tidak apa tuan, saya tadi membawa roti panggang coklat..." tutur Regina. ia pun mengambil tas kotak makan yang berada di kursi belakang dan membukanya.
"anda mau tuan?" tanya Regina.
"tidak nona terima kasih.." sahut Kevin.
"aku kan sedang mengemudi, bagaimana aku bisa makan?.." batin Kevin.
tanpa di duga Kevin, Regina menyodorkan roti tersebut tepat di depan mulut Kevin.
"makanlah tuan.." ucap Regina.
"tidak nona, anda saja yang makan." tolak Kevin.
"tuan, saya tahu anda pasti lapar dan anda tidak bisa memakannya sendiri. jadi bukalah mulut anda sekarang, tangan saya sudah mulai lelah dengan posisi seperti ini." suara Regina terdengar sedikit memaksa.
Kevin pun membuka mulutnya dan menggigit roti tersebut.
__ADS_1
"terima kasih.." ucap Kevin dengan senyumnya.
Kevin sangat bahagia bisa makan dari tangan Regina, roti panggang cokelat itu memang sama rasanya dengan roti panggang pada umumnya, tapi bagi Kevin roti tersebut sangat lezat dan special. Kevin tak henti tersenyum setiap Regina menyuapi roti tersebut ke mulutnya.
Regina juga makan tanpa memperhatikan senyuman Kevin, ia asik melihat ke depan. bagi Regina, apa yang ia lakukan hanya sebagai ucapan terima kasihnya pada Kevin. ia tidak mungkin berdiam diri dan tidur enak di rumah orang, karena itu ia melakukan pekerjaan rumah ketika bi Tanti tidak ada.
"saya bisa sendiri nona.." Kevin mengambil botol air mineral dari tangan Regina. ia meminumnya dengan satu tangan yang tetap menjaga kemudinya.
"apa masih jauh tuan?" tanya Regina.
"tidak nona, kita langsung ke rumah sakitnya saja. bi Tanti sudah mengirim alamat rumah sakitnya pada saya." tutur Kevin.
"oh.." sahut Regina.
sampai di rumah sakit, Kevin memarkir mobilnya lalu turun bersama Regina. rumah sakit tersebut bukanlah rumah sakit besar, fasilitas dan alatnya pun tidak lengkap. itulah satu-satunya rumah sakit di daerah kampung bi Tanti.
Kevin dan Regina langsung menuju rumah rawat anak bi Tanti.
"bibi..." sapa Kevin yang masuk ke ruang kelas tiga rumah sakit.
"tuan.. nyonya, maaf merepotkan kalian.." ucap bi Tanti.
"bibi ini bicara apa, kami hanya menjenguk Rini, kami tidak melakukan apa-apa.." sahut Kevin.
"Rini, bagaimana keadaanmu? apa sudah lebih baik?" tanya Kevin seraya menyentuh kening gadis manis berusia lima belas tahun tersebut.
"aku sudah lebih baik kak.." jawab Rini dengan suara lemahnya.
"ini istri kak Kevin?" tanya Rini yang beralih memandang Regina.
"iya.. namanya Regina." jawab Kevin.
"hai, panggil aku kakak seperti kau memangil tuan Kevin." sapa Regina yang bergantian mendekat pada Rini dengan Kevin.
"kakak cantik.." senyum Rini mengembang dari bibir pucatnya.
Regina tersenyum menanggapi ucapan bi Tanti. bi Tanti mempersilahkan Regina untuk duduk, karena hanya ada satu kursi orang penunggu pasien. namun Regina menolaknya dan tetap menyuruh bi Tanti yang duduk.
Regina memperhatikan Kevin yang mencoba menghibur Rini, bahkan terdengar suara tawa kecil dari bibir Rini.
Regina mengedarkan pandangannya mencari sosok ayah Rini. namun yang ia dapati hanyalah bi Tanti dan saudara laki-lakinya yang baru datang bersama istrinya.
karena ruang rawat Rini berada di kelas tiga, Regina dan Kevin pamit keluar dan duduk di kursi tunggu terlebih dahulu. selain tidak boleh terlalu banyak yang menunggu, ruangan tersebut pasti tidak akan muat menampung banyak pengunjung.
Regina dan Kevin duduk berdampingan, namun mata Regina tetap mencari sosok ayah Rini yang tak kunjung datang.
"anda mencari siapa nona?" tanya Kevin heran.
"eemmm, tuan maaf kenapa saya dari tadi tidak melihat ayah Rini? apa dia sedang bekerja?" tanya Regina penasaran.
Kevin diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Regina.
"ayah Rini mengalami kecelakaan saat Rini masih berusia dua tahun nona, sebenarnya dulu suami bi Tanti juga bekerja sebagai sopir di rumah. tapi mereka tidak pernah tinggal di rumah dan lebih memilih mengontrak rumah serta menitipkan Rini pada seorang pengasuh."
Kevin memberi jeda sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Regina mendengarkan dengan seksama penuturan Kevin.
"ayah dan bunda sudah memaksa agar mereka semua tinggal di rumah, tapi bi Tanti dan suaminya tetap tidak mau. dan setelah ayah Rini kecelakaan, Rini tinggal di rumah dengan paksaan saya dan Aldo. kami sudah menganggap Rini seperti adik kami sendiri, dan saat usia Rini sepuluh tahun, bi Tanti membawanya pulang untuk tinggal bersama kakak dan kakak ipar bi Tanti. sebenarnya kami melarangnya, tapi bi Tanti lebih berhak mengatur hidup Rini. jadi kami hanya bisa diam." tutur Kevin panjang lebar sembari menatap pintu masuk ruang rawat Rini.
Regina tertegun dengan penuturan Kevin tentang keluarga bi Tanti. pantas saja bi Tanti dan Kevin juga sangat dekat.
"tuan, jika tuan dan nyonya lelah, beristirahatlah di rumah saya. tapi rumah saya jelek tuan,nyonya.." ucap bi Tanti yang keluar ruangan dan menghampiri Kevin beserta Regina.
"tidak bi, nanti sore saya dan Regina akan pulang. besok pagi saya ada pekerjaan.." tutur Kevin.
"oh, tuan dan nyonya ingin teh atau kopi? biar saya belikan di kantin.." tanya bi Tanti.
"tidak usah bi, bibi di dalam saja temani Rini." sahut Regina.
__ADS_1
bi Tanti pun menyerah menawari minuman pada keduanya dan kembali masuk ke dalam ruang rawat.
.
.
.
.
.
pukul empat sore Regina dan Kevin berpamitan pada bi Tanti dan Rini. Kevin memeluk Rini dengan hangat lalu bergantian dengan Regina.
"cepat sembuh sayang.." ucap Regina.
sebelum Kevin dan Regina pulang, Kevin memberi amplop yang berisi uang pada bi Tanti untuk biaya perawatan Rini.
"tidak tuan, kemarin waktu pulang saya sudah bisa beri uang oleh nyonya, jangan membuat saya malu dengan harus menerima uang ini tuan.." tolak bi Tanti.
"itu kan dari Regina bi, ini dari saya.. jika bibi tidak menerimanya, bibi tidak perlu lagi bekerja di rumah." ancam Kevin.
"kenapa tuan selalu mengatakan hal itu..." protes bi Tanti. karena setiap kali Kevin memberinya uang di luar gaji dan bi Tanti berusaha menolaknya, itulah ancaman yang selalu di ucapkan Kevin.
bukan masalah pekerjaan, bi Tanti tidak bisa jika harus keluar dan mencari pekerjaan baru, tapi karena semua keluarga Kevin selalu menganggapnya seperti keluarganya sendiri. bi Tanti selalu merasa berhutang budi pada keluarga Kevin karena kebaikan yang selalu di berikan keluarga itu padanya.
bi Tanti terpaksa menerima uang itu, ia pun mengantar Regina dan Kevin sampai di depan pintu ruang rawat Rini.
Kevin segera melajukan mobilnya untuk kembali pulang. sepanjang perjalanan Regina kembali tertidur. dan begitu mobil sudah sampai kota, Kevin segera membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. ia sudah merasa lapar karena hanya makan roti panggang tadi pagi dan buah selama di dalam mobil yang sempat ia beli di penjual sekitar rumah sakit tadi.
"nona..." Kevin membangunkan Regina.
"nona bangunlah, kita sudah sampai di restoran. apa anda tidak lapar?" Kevin menggoyang-goyangkan bahu Regina.
Regina mengerjapkan matanya perlahan menyesuaikan pandangannya.
"apa kita sudah sampai di rumah tuan?" tanya Regina.
"belum nona, mari kita turun untuk makan." Kevin membuka self belt-nya dan keluar mobil, Regina juga turun.
mereka berjalan memasuki restoran makanan Jepang. Regina permisi ke toilet terlebih dahulu pada Kevin. sementara Kevin mencari meja untuk mereka.
Kevin menunggu Regina sebelum memesan makanan, ia takut jika salah memesan.
setelah keluar toilet, Regina menghampiri Kevin dan duduk di kursi depan Kevin.
mereka berdua segera memesan makanan, karena di luar tiba-tiba hujan. mereka memutuskan untuk memesan ramen agar tubuh mereka sedikit hangat jika sudah memakan makanan berkuah tersebut.
"selamat menikmati tuan, nyonya.." waiters tersebut menundukkan separuh tubuhnya setelah menaruh dua mangkuk ramen di meja Kevin dan Regina.
setelah beberapa menit, mereka sudah selesai makan, Kevin dan Regina masih menunggu waiters membawa kembali kartu kredit Kevin yang ia gunakan untuk membayar makanan tersebut.
Regina terkejut melihat seorang pria yang baru masuk ke restoran tersebut, pria tersebut tak kalah terkejutnya begitu matanya saling bersitatap dengan Regina dari kejauhan.
pria tersebut mengurungkan niatnya untuk makan di restoran tersebut dan memilih kembali keluar. Regina pun beranjak mengejar pria tersebut.
.
.
.
.
.
budayakan meninggalkan like dan komentar setelah membaca.
__ADS_1
terima kasih 🤗❤️