Pelaminan

Pelaminan
bab 23


__ADS_3

Aldo masih menatap Jessica dengan kesal. sedangkan Jessica ia hanya menunduk merasa malu sekaligus takut.


bi Tanti datang dan mengatakan jika makan malam sudah siap, Kevin dan Aldo mendahului kedua perempuan yang masih mematung di tempatnya.


"Re, aku sangat malu.." ucap Jessica.


"lagipula siapa yang menyuruhmu seperti itu, bukannya bertanya baik-baik tapi justru langsung melabrak." ujar Regina.


"aku pulang saja Re, aku tidak mau menginap di sini." melas Jessica.


"berani kau pulang, aku cincang dagingmu lalu akan ku berikan pada ******!!" seru Regina.


"jahat sekali kau ini." melas Jessica.


"sudah ayo makan." Regina menarik lengan Jessica menuju meja makan.


Kevin duduk di kursi utama meja makan, sedangkan Regina duduk di samping kanannya dan Aldo di samping kirinya.


Jessica menelan salivanya dengan kasar saat matanya bertemu dengan mata Aldo. cepat-cepat ia menunduk, mata Aldo seakan ingin memakannya mentah-mentah.


Aldo makan tanpa melihat piringnya, matanya sibuk mengawasi Jessica karena ia masih merasa kesal.


"aaawww" pekik Aldo saat bibirnya tak sengaja tergigit olehnya.


"kau kenapa?" tanya Kevin seraya menyodorkan air minum pada Aldo.


"bibirku tergigit kak." Aldo mendesis.


"kalau makan di lihat piringnya, jangan menatap yang lain." ledek Kevin yang tahu jika Aldo terus saja mengawasi Jessica.


Aldo berdecak kesal, ia melanjutkan makannya dengan hati-hati.


Jessica yang duduk di samping Regina melirik Aldo dengan senyum kemenangannya.


"rasakan !! akan menyenangkan jika bibirnya tadi tergigit sampai sobek." batin Jessica.


"sialan !! sepertinya dia sangat senang melihatku kesakitan tadi. awas saja kau!" batin Kevin tak terima melihat senyum sinis Jessica.


mereka berempat selesai makan, Kevin dan Aldo pergi ke ruang tv. sedangkan Regina dan Jessica membantu bi Tanti membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


"Re aku pulang saja ya..." melas Jessica lagi.


Regina tak menggubris Jessica dan tetap sibuk dengan piring kotornya.


"Re... kau mendengarku atau tidak !" Regina menaikkan nada suaranya.


Regina menghentikan aktivitasnya, ia menghadap Jessica yang berdiri di sampingnya.


"baiklah, tidak usah menginap di sini dan tidak usah menemuiku lagi." ucap Regina penuh penekanan.


Jessica menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"kau selalu mengancam ku seperti itu, menyebalkan sekali." gerutu Jessica.


"siapa yang mengancammu??"


"kau lah, siapa lagi yang suka mengancamku jika bukan kau."


Regina selesai mencuci piring, ia melihat bi Tanti akan membawakan kopi untuk Kevin dan Aldo.


"bi biar saya saja yang mengantarnya.."


"iya nyonya.." bi Tanti memberikan nampannya pada Regina.


sebelum pergi Regina melirik Jessica yang tengah melipat kedua tangannya di atas perut dengan wajah kesalnya.


"tetaplah di sini, aku akan meminta ijin pada tuan Kevin kalau kau akan menginap di sini. bi, jika dia kabur siram saja dengan air panas." Regina melihat bi Tanti lalu beralih ke panci kecil di atas kompor yang masih terdapat sisa air panas di dalamnya.


"sana pergilah temui suami mu, banyak bicara sekali kau ini." gerutu Jessica.


bi Tanti hanya tersenyum melihat sikap kedua sahabat itu.


Kevin dan Aldo terlihat mengobrol, terdengar pula tawa kecil dari kedua saudara tersebut.


Regina berjalan lalu meletakkan dua cangkir kopi di hadapan Kevin dan Aldo.


"kakak di mana bi Tanti, kenapa kakak yang mengantarnya?" tanya Aldo. Aldo memang orang yang mudah akrab dengan siapapun, apalagi sekarang di hadapannya adalah kakak iparnya. Aldo tidak peduli dengan cerita pernikahan mereka, yang ia tahu Regina kini adalah kakak iparnya.


"bibi masih sibuk. silahkan di minum." jawab Regina dengan senyumnya.


Regina beralih menatap Kevin yang sedari tadi melihatnya.


"tuan, apa boleh Jessica menginap di sini malam ini?" tanya Regina yang sebenarnya sudah tahu Kevin pasti mengijinkannya, tapi ia tetap meminta ijin karena ia merasa menumpang di rumah itu.


"tentu nona.." sahut Kevin.


Aldo melongo melihat kakak dan kakak iparnya, sepasang suami istri di depannya ini tetap memanggil dengan panggilan formal. iya Aldo tahu fakta seperti apa pernikahan Kevin, tapi setidaknya mereka bisa memanggil dengan nama, bukan panggilan formal seperti itu.


Aldo menatap punggung Regina yang hilang di balik tembok dapur.

__ADS_1


"kakak!" Kevin menyenggol lengan Kevin yang tengah menyeruput kopinya.


"kau tidak bisa melihat kakak sedang meminum kopi?! bagaimana jika kopi ini menyiram wajah kakak." seru Kevin kesal.


"maaf kak.." ucap Aldo.


"kakak kenapa memanggilnya dengan sebutan nona?" tanya Aldo.


"lalu aku harus memanggilnya seperti apa?" Kevin meletakkan cangkirnya kembali ke meja.


"kau kan tahu pernikahan seperti apa ini." lanjut Kevin.


"iya aku tahu, tapi kalian kan bisa memanggil nama saja. tidak harus tuan dan nona seperti tadi. aku merasa geli mendengarnya, sepasang suami istri memanggil dengan sebutan tuan dan nona." Aldo bergidik.


"kakak tidak bisa memanggilnya dengan nama saja, dia kan tidak mencintai kakak."


Aldo melihat wajah lesu dari kakaknya, ia pun langsung menangkap jika Kevin punya perasaan pada Regina.


"tapi kakak mencintainya kan?" celetuk Aldo.


"tidak !! " sangkal Kevin.


"tapi jika aku tidak mencintainya, lalu dorongan apa yang membuat aku melakukannya tadi siang?" batin Kevin lagi.


"kakak mencintainya kan?" tanya Aldo lagi.


"tidak Aldo." kilah Kevin.


Aldo tidak melanjutkan pertanyaannya, terlihat jelas di mata Kevin jika memang ada perasaan untuk Regina, entah sejak kapan perasaan itu ada, Kevin tak tahu pasti. ia hanya merasakan jantungnya berdebar kencang saat dekat dengan Regina.


Aldo dan Kevin kembali berbincang mengenai perkembangan perusahaan ayah mereka dan perkembangan wedding organizer milik Kevin.


Regina dan Jessica berjalan menaiki tangga setelah selesai dengan pekerjaan dapur. Jessica melirik Aldo yang tengah menatap tajam padanya. secepat mungkin ia mengalihkan pandangannya, mata Aldo benar-benar menyeramkan bagi Jessica.


"kakak."


"apa?" sahut Kevin.


"aku kira istri kakak gadis itu." Kevin mengikuti arah pandangan Aldo yang menatap Jessica yang tengah berjalan naik ke lantai dua.


"kenapa memangnya?" tanya Kevin.


"gadis itu menyebalkan, jika dia menjadi istri kakak, aku akan menyuruh mu cepat-cepat menceraikannya." ketus Aldo.


"tapi untungnya istri kakak bukan dia." imbuh Aldo.


"tidak !! hanya orang gila yang mau memperistri dia." kesal Kevin.


Kevin dan Aldo asik berbincang sehingga membuat mereka lupa waktu, bahkan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"menginaplah di sini, ini sudah malam." perintah Kevin.


"tidak kak, besok aku harus sudah bekerja. baju ku kan ada di rumah."


"kau pikir di sini tidak ada baju kerja, kau bisa memakai bajuku besok."


"tidak, badan ku kan tidak sebesar kakak, bajunya tidak akan cocok dengan tubuhku."


"kenapa? kau takut ototmu tidak terlibat jika memakai bajuku?" ledek Kevin.


"itu juga alasanku." Aldo tertawa.


"menginaplah di sini, ini sudah malam." perintah Kevin lagi.


"tapi kak..."


"iya aku menginap di sini, kau ini suka sekali semena-mena denganku !" Aldo menyerah saat melihat mata tajam Kevin yang jelas tidak suka jika ucapannya di lawan.


Aldo masuk ke kamar Kevin, sementara Kevin masih mengunci dan mematikan lampu karena bi Tanti sudah tidur duluan.


Regina dan Jessica juga belum tidur. Jessica sibuk memilih baju tidur Regina untuk ia kenakan. sedangkan Regina sibuk dengan ponselnya. setelah cocok dengan setelan piyama yang ia pilih, Jessica masuk ke kamar mandi dan mengganti bajunya.


ia menghampiri Regina dan membaringkan tubuhnya di samping Regina yang menyandarkan separuh tubuhnya.


"Re..." panggil Jessica.


"hemmm" sahut Regina.


"boleh aku tanya sesuatu?" tanya Jessica.


"apa? jika pertanyaanmu tentang kejadian tadi siang, aku akan menyumpal mulutmu dengan kertas koran sampai kau tidak bisa bernafas." ucap Regina santai.


Jessica menelan salivanya merasa takut. memang Regina hanya bercanda, tapi penekanan di setiap kata serta raut wajah Regina seakan membenarkan ucapannya tersebut.


saat Jessica datang tadi sore, Regina sudah menceritakan apa yang terjadi di antara dia dan Kevin, serta ketakutannya jika ia hamil. Regina menangis menceritakan itu semua pada Jessica. Regina masih sangat berharap dan menanti kabar dari Anton, ia masih mencintainya. lalu jika ia hamil anak Kevin, tentu Regina tidak bisa kembali bersama Anton.


Jessica memutar bola matanya merasa jengah dengan Regina yang masih saja memikirkan dan berharap pada pria brengsek seperti Anton. Jessica bahkan bersyukur Regina tidak menikah dengan Anton. terlebih kini Regina menikah dengan Kevin yang sangat baik, Jessica bertambah bahagia dan bersyukur dengan itu semua.


"semoga kau cepat hamil anak tuan Kevin." gumam Jessica lirih. tapi sialnya Regina masih bisa mendengar itu. sontak ia menoyor kepala Jessica seraya mengumpatnya.

__ADS_1


"dasar bodoh!! doa mu sangat tidak masuk akal."


"kau ini seperti siluman Re, di depan orang kau sangat sopan dan manis, tapi denganku kau selalu menjajahku." gerutu Jessica kesal.


"kenapa tidak masuk akal?? kau dan tuan Kevin sudah melakukan hubungan suami istri, lalu apa lagi?? kau pasti akan hamil nantinya." seru Jessica.


Regina terdiam memikirkan ucapan Jessica, ia sadar jika tadi siang ia dan Kevin sama-sama tidak menggunakan pengaman. kemungkinan besar ia memang akan hamil anak Kevin.


"Re." panggil Jessica yang membuyarkan lamunan Regina.


"apa?" Regina kembali sibuk dengan ponselnya.


"rasanya bagaimana Re?" tanya Jessica.


"apanya?" tanya balik Regina.


"malam pertamamu dengan tuan Kevin." seru Jessica bersemangat.


"bodoh! tadi itu siang,bukan malam."


"ya sudah, berarti bagaimana siang pertamamu dengan tuan Kevin. sakit atau enak?" tanya Jessica lagi, kali ini ia mendapat pukulan di keningnya dari Regina.


"sakit Re!!" seru Jessica yang mengusap-usap keningnya.


"kalau begitu jangan bertanya pertanyaan gila seperti itu." seru Regina tak mau kalah.


"gila apanya? aku kan hanya bertanya sakit atau enak, jadi nanti jika aku sudah menikah aku sudah tau bagaimana mengatasi suamiku nanti."


"sudah diamlah, aku mau tidur." Regina menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Jessica mendengus kesal. tenggorokan Jessica terasa sangat kering. botol minum di meja nakas Regina ternyata kosong, ia pun meminta Regina untuk mengambilkannya, namun dengan galaknya Regina menolaknya dari balik selimut.


Jessica menuruni anak tangga dengan kesal. langkahnya berhenti saat ia melihat lampu sudah padam dan hanya lampu dapur yang menyala.


"gelap sekali.." Jessica kembali menuruni anak tangga dengan hati-hati. sesampainya di dapur Jessica mengisi botolnya denggan air putih, Jessica kemudian menuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya. saat ia berbalik, Jessica terkejut sudah ada Aldo di hadapannya. refleks ia menyiram Aldo dengan air yang baru ia minum beberapa teguk.


"apa yang kau lakukan????" teriak Aldo geram.


Jessica menganga melihat kaos Aldo yang basah terkena air yang ia siram.


"maaf aku tidak sengaja." tangan Jessica menyentuh kaos Aldo yang basah.


"singkirkan tanganmu bodoh!!" teriak Aldo lagi.


"jangan berteriak, atau semua orang di rumah ini akan bangun." ucap Jessica lirih.


Aldo menghela nafas mengatur emosinya.


"kau sengaja menyiramku kan?!" Aldo kini tidak berteriak, tapi nada bicaranya masih terdengar sangat geram pada Jessica.


"aku tidak sengaja tadi. salah sendiri kau mengejutkanku." ketua Jessica.


"kau ini sudah salah bukannya meminta maaf tapi justru menyalahkan aku."


"aku sudah meminta maaf tadi."


"katakan lagi, cepat !!" perintah Aldo.


"tidak mau! aku sudah meminta maaf tadi. apa kau tuli ?!" Jessica tak mau kalah, kedua tangannya sudah berkacak pinggang seraya melotot pada Aldo yang berdiri tepat di depannya.


"gadis gila !!" umpat Aldo.


"apa yang kau katakan!!" Jessica melotot.


"gadis gila! kau gadis gila!! senang??" Aldo tertawa puas.


Jessica mengeratkan giginya geram pada Aldo, dengan cepat ia mengambil teko yang penuh air lalu menyiramnya tepat di wajah Aldo.


"rasakan ini!!" puas Jessica.


"sialan!!!" Aldo mengepalkan tangannya melihat Jessica yang sudah berlari kembali ke kamar meninggalkan ia yang basah kuyup.


dengan emosi yang memuncak di kepalanya, Aldo kembali ke kamar. ia membuka lemari perlahan untuk mengambil baju ganti milik kakaknya. ia tidak ingin kakaknya terbangun dan melihatnya yang basah kuyup akibat diguyur oleh Jessica. bukannya simpati, Aldo yakin kakaknya tetap akan menyuruhnya meminta maaf pada Jessica. Aldo tahu kakaknya itu sangat menghormati wanita.


di kamar, Jessica tertawa puas sudah menyiram Aldo dengan satu teko penuh air. Jessica menutup mulutnya rapat-rapat begitu melihat Jessica yang sudah tertidur lelap. ia pun melanjutkan tawanya tanpa menimbulkan suara.


.


.


.


.


.


@ummy_wachida_


❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2