
Kevin bersiap pergi, ia tidak bisa berlama-lama di rumah. terlebih setelah apa yang terjadi antar dia dan Regina yang di karenakan ulah dokter Rio tadi. malu, itu yang ia rasakan sekarang.
Kevin keluar kamar dengan jaket yang melekat sempurna di tubuhnya. begitu ia ingin membuka pintu, suara Regina menghentikan langkahnya.
"tuan..." panggil Regina.
"apa harus berbalik? bagaimana bisa aku berbalik setelah apa yang ku katakan tadi." batin Kevin.
"tuan.." suara Regina terdengar semakin mendekat.
"tuan maafkan saya..." ucap Regina yang sudah berdiri di belakang tubuh Kevin.
Kevin pun memutar tubuhnya dan menghadap Regina begitu mendengar ucapan maaf dari bibirnya.
"maaf untuk apa nona?" tanya Kevin pada Regina yang kini tengah menunduk seraya meremas jari jemarinya.
"maaf, saya sudah berteriak pada anda dan menarik kerah anda tadi..." lirih Regina.
"saya begitu emosi.." imbuhnya.
"tidak apa nona, saya juga minta maaf atas apa yang terjadi. Rio orangnya memang seperti itu, kadang cara bercandanya terlalu berlebih." tutur Kevin.
"permisi nona.."Kevin kembali memutar tubuhnya dan membuka pintu, ia pun melangkah keluar rumah.
"tuan jangan pergi..." Regina menahan lengan Kevin dengan kedua tangannya.
"anda tidak pernah pulang, saya sendirian di rumah. bi Tanti juga belum kembali, anaknya belum sembuh betul. jangan pergi tuan, pernikahan kita hanya tinggal empat belas hari lagi. saya mohon jangan pergi.." ucap Regina.
"apa maksud dari yang ia katakan? dia mengingatkan ku tentang perceraian ??" batin Kevin.
Kevin masih tak bergeming, ia tidak memutar tubuhnya ataupun sekedar melirik Regina yang berdiri di sampingnya.
"nona, dua Minggu itu tidak lama, saya tidak bisa jika harus di rumah. saya harus pergi." kata Kevin.
"baiklah pergilah sana ! dan jangan kembali." ketus Regina, ia menghempaskan lengan Kevin dengan kasar
"heh?? ini kan rumahnya, kenapa aku menyuruhnya jangan kembali, ah biar saja namanya juga sedang emosi." batin Regina.
tanpa berkata lagi, Kevin pun melangkah pergi dan masuk ke mobilnya. ia melakukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya, ia sangat merindukan mereka karena sudah dua hari ia tinggal di hotel.
Regina menutup pintu dengan keras, ia kesal dengan sikap Kevin yang dingin dan tidak memperdulikannya. padahal dulu waktu baru menikah, meskipun tidak akrab, Kevin tidak pernah sedingin itu pada Regina.
Regina meminum obat dari dokter Rio lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
.
.
.
.
.
"Vin..." sapa ayah Agung yang melihat Kevin masuk rumah setelah bi Siti membukakan pintu.
"ayah, bunda dimana yah?" tanya Kevin. ia mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"bunda sedang ke rumah om mu, tadi pagi bunda baru berangkat."
Kevin menyandarkan kepalanya di sofa, ia memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.
ayah Agung memperhatikan wajah putranya,
"ada apa Vin? apa ada masalah dengan WO mu?" tanya ayah Agung.
"tidak yah, semuanya berjalan dengan baik." jawab Kevin.
"ada masalah dengan nona Regina?"
__ADS_1
sontak Kevin membuka matanya namun tak mengubah posisinya.
"Kevin sebentar lagi akan berpisah dengannya yah, dua Minggu lagi.." sahut Kevin.
"apa kau mencintainya? kau tidak ingin berpisah dengannya?" tanya Ayah Agung.
"Kevin tidak tahu yah, Kevin bingung."
"ayah tahu kau mencintainya Vin, kau tidak harus berpisah dengannya."
"tapi nona Regina tidak mencintai Kevin yah.." lesu Kevin yang teringat saat dimana Regina bertemu dengan Anton, Kevin dapat melihat cinta Regina untuk Anton dari sorot matanya.
"dia pasti akan mencintaimu Vin, bersabarlah.. wajar jika Regina belum bisa melupakan mantannya, tugasmu hanya bersabar dan buat dia jatuh cinta padamu." tutur ayah Agung.
"ayah sangat paham dan mengerti mengenai cinta.." sahut Kevin yang membuat ayah Agung terkekeh.
"tentu Vin, jika ayah tidak mengerti cinta, mana mungkin ayah bisa punya dua anak..."
"sekarang pulanglah dan temani istrimu di rumah. ayah sangat mendukungmu.." ayah Agung menepuk-nepuk bahu Kevin.
Kevin pun berpamitan pulang pada ayahnya, ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. kata-kata ayah Agung masih terngiang jelas di telinga Kevin, memang benar ia harus bersabar sampai Regina jatuh cinta padanya.
.
.
.
.
Kevin memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya, ia segera masuk ke kamarnya. ia hendak tidur, namun suara cacing di perutnya sedang bernyanyi dan meminta di isi. Kevin baru ingat jika ia belum makan sejak semalam.
Kevin mengambil ponselnya di meja nakas lalu memesan makanan lewat aplikasi. sambil menunggu pesanannya, Kevin menelpon Jerry tentang pekerjaan.
tiga puluh menit kemudian pesanan Kevin tiba, ia segera membuka pintu dan membayarnya. Kevin berjalan ke dapur lalu mengambil piring dan garpu, ia makan sendirian di meja dapur.
Regina terbangun, ia merasa lapar. ia pun turun dengan membawa mangkuk bubur yang di belikan Kevin tadi pagi.
"tuan..." panggil Regina.
"nona, apa anda lapar? ini makanlah saya tadi membeli dua porsi." kata Kevin sembari menggeser satu kotak makanan ke sisi meja lain.
"kapan anda datang tuan?" tanya Regina yang mendekat lalu duduk di kursi depan Kevin.
"baru saja." jawab Kevin datar.
"tadi anda mengatakan akan pergi."
Kevin pun menaruh sendok dan garpunya.
"baiklah saya akan pergi.." Kevin hendak beranjak berdiri, namun Regina menahan tangan Kevin.
"jangan tuan jangan pergi.. silahkan lanjutkan nakan anda." tutur Regina sembari menyunggingkan senyumnya.
"apa saya boleh memakan ini?" tanya Regina yang hanya di jawab anggukan oleh Kevin.
"tuan, obat yang diberikan Rio sangat cocok untuk saya, perut saya sudah tidak mual lagi, kepala saya juga sudah lebih baik, tidak terlalu pusing." kata Regina.
"apa anda masih hamil sekarang?" tanya Kevin yang membuat Regina terbatuk-batuk.
"silahkan di minum." Kevin menyodorkan segelas air putih miliknya.
"anda sedang menyindir saya...." kata Regina setelah meminum air tersebut.
"tidak juga, tapi jika anda merasa ya silahkan saja." sahut Kevin datar dan tetap memakan makanannya dengan santai.
Regina dan Kevin pun diam, tak ada obrolan lagi di antara mereka sampai makanan habis dan mereka kembali ke kamar masing-masing.
.
__ADS_1
.
.
.
.
malam tiba, Kevin keluar kamar dengan baju santai serta rambut yang sedikit basah. wangi parfum maskulin menyeruak masuk ke indera penciuman Regina yang tengah menonton tv.
"ternyata dia juga tampan.' batin Regina.
Kevin berlalu melewati Regina, ia menuju ke dapur hendak membuat kopi. Kevin juga membuatkan Regina segelas susu coklat.
selesai, Kevin keluar dapur dengan nampan yang terdapat secangkir kopinya dan segelas susu.
"silahkan di minum nona." Kevin meletakkan nampan di meja. Regina yang tengah menyandarkan separuh tubuhnya ke sofa pun terkejut saat Kevin datang, ia merapikan sedikit rambutnya yang berantakan itu.
"terima kasih tuan.." kata Regina.
Kevin masuk ke kamarnya lalu kembali keluar dengan laptop di tangannya. ia duduk di sofa panjang yang sama dimana Regina duduk, namun ia duduk di ujung sofa yang agak jauh dari Regina.
Kevin memangku laptopnya, sebelum melanjutkan pekerjaannya, Kevin terlebih dulu menyeruput kopinya. sesekali ia melirik ke arah Regina lalu beralih ke tv.
"kenapa dia menonton drama keluarga yang terlalu banyak adegan menangisnya seperti ini." batin Kevin.
Kevin kembali beralih ke laptopnya,
"apa dia tidak bisa mengecilkan volume tv-nya?" kesal Kevin.
tak lama, Kevin semakin terganggu dengan tayangan drama keluarga itu. ia pun mematikan laptopnya lalu beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya.
tangan Kevin baru memegang handle pintu, namun suara tangisan tayangan drama itu justru lebih keras. ia pun kembali hendak menegur Regina agar mengecilkan volumenya.
"no....." panggil Kevin, ia berhenti begitu mendapati Regina yang tengah menangis.
"nona.." Kevin meletakkan laptopnya di meja.
Regina semakin keras menangis,
"nona anda kenapa?" panik Kevin.
Kevin berjongkok di samping Regina dan menggenggam tangannya, Regina pun beralih memandang Kevin.
"nona kenapa anda menangis? apa perut anda sakit lagi?" tanya Kevin dengan suara terendahnya.
Regina semakin terisak, Kevin semakin panik dibuatnya.
"nona jangan menangis, katakan jika anda sakit?" itu lagi yang di katakan Kevin.
"tuan..." Regina sesenggukan. Kevin yang tak tega pun memilih memeluknya sembari membelai lembut rambut Regina yang tergerai.
"kenapa dia meninggal tuan, dia belum meminta maaf..." kata Regina yang membuat Kevin panik.
"hah? siapa yang meninggal nona?" tanya Kevin.
"dia..." Regina menunjuk tv.
"apa!!! tv???.... karena tv dia menangis seperti ini???" batin Kevin. ia menautkan kedua alisnya melihat tayangan itu. ia segera mengambil remote yang di pangku Regina lalu mematikannya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa di like,
terima kasih ❤️🤗