
Merasakan kehangatan serta wangi aroma tubuh Kevin, tak butuh waktu lama untuk Regina tertidur di pelukan suaminya itu. Usapan lembut Kevin di ujung kepalanya mampu membuat ia cepat menuju mimpi indahnya. Doa atas kebaikan rumah tangganya tak henti ia panjatkan dalam hati, rasa syukurnya tak pernah habis karena memiliki suami seperti Kevin yang sudah bersabar menunggunya selama ini.
"Kau sudah bangun?" Tanya Kevin yang di jawab deheman oleh Regina. Wanita itu masih menggeliat merenggangkan otot-ototnya.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Regina sembari mengucek matanya.
"Jam sembilan." Regina segera mendudukkan tubuhnya, mencari ponselnya dan memang benar sudah jam sembilan pagi. Tidur Regina sangat nyenyak berada di pelukan Kevin.
"Kau sudah rapi, apa kau akan pergi sekarang?" Regina menatap Kevin yang tengah memakai jam tangan.
"Iya." Jawab Kevin.
"Sarapan mu ada di meja. Pergilah mandi dan segera sarapan, aku tidak akan lama." Lanjut Kevin. Regina beranjak turun dari tempat tidur, mengambilkan jas dan memakaikan itu pada Kevin.
"Aku akan menunggumu." Ucap Regina. Sudah rapi, Kevin pun mencium kening Regina lama. Baru kali ini mereka tidak berdebat. Kini Kevin sudah semakin yakin jika Regina sudah kembali membuka hati. Namun itu bukan berarti ia bisa berhenti meminta maaf dan berusaha mendapatkan kepercayaan Regina kembali. Ia akan tetap berusaha untuk itu.
Regina mengantar Kevin sampai ke depan pintu. Kevin kembali berpesan agar istrinya itu segera sarapan, dan yang terpenting jangan mencoba kabur meninggalkannya lagi.
"Iya. Aku tidak akan pergi kemanapun asal---"
"Asal apa?" Tanya Kevin.
"Asal kau tidak bermesraan dengan Jenny itu." Seru Regina. Kevin tersenyum lalu menyentuh lembut pipi Regina.
"Tidak, aku hanya akan bermesraan dengan mu." Kevin berujar. Kevin memeluk tubuh Regina lalu kembali mencium kening sang istri lama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hari sudah semakin gelap namun Kevin belum kembali juga. Regina tidak berani menelpon ataupun sekedar mengirim pesan. Ia takut menganggu. Berkali-kali ia berjalan ke arah pintu dan ingin menyusul suaminya itu, namun ia mengurungkan niatnya dan kembali dengan perasaan yang tak dapat di artikan.
Regina duduk menyandar pada ujung kepala tempat tidur. Sebuah notifikasi pesan terdengar, membuat Regina segera mengambil ponselnya yang terletak sembarangan ditempat tidur.
"Bersiaplah, Nuky akan menjemput mu. Kita ada jamuan makan malam." Isi pesan Kevin.
"Jamuan makan malam?" Regina mengerutkan keningnya, ia membalas pesan Kevin, bertanya "Ada jamuan makan malam di mana? Kenapa bukan kau sendiri yang menjemputku?"
Tidak ada balasan, bahkan di baca pun tidak. Suara bel pintu terdengar, Regina berjalan ke arah pintu.
"Ibu belum siap? Pak Kevin menunggu." Ucap Nuky sopan. Regina ingin menolak karena ia belum mendapatkan kejelasan jamuan makan malam apa, dimana dan dengan siapa. Tidak ingin berdebat, ia mengiyakan dan segera bersiap. Biarlah membuat Nuky menunggu agak lama.
"Kita akan pergi ke jamuan makan malam di mana Nuky?" Tanya Regina yang berjalan menuju lobby hotel.
"Nanti anda akan tahu sendiri, Bu."
"Apa Gaun ku ini sudah cocok ?" Tanya Regina. Ia memakai gaun warna selutut tanpa lengan berwarna maroon. Gaun itu sebenarnya akan ia pakai di acara launching tadi pagi, tapi lagi-lagi rasa cemburu mengurungkan niat Regina untuk menghadiri acara tersebut. Ia tidak ingin terbawa emosi jika melihat Kevin dan Jenny bersama.
"Katakan?" Tanya Regina lagi pada Nuky yang tengah membukakan pintu mobil untuknya.
"Apa aku terlihat cantik?" Regina belum masuk ke mobil, ia ingin mendengar jawaban dari Nuky.
"Bu, saya anak baru yang bergabung di perusahaan. Jangan membuat saya di pecat dengan pertanyaan seperti itu." Ujar Nuky.
"Kenapa? Itu kan hanya pertanyaan biasa."
"Bu, pak Kevin bisa memecat saya atau bahkan membunuh saya jika saya memuji anda. Jadi saya mohon kerja samanya Bu."
"Silahkan masuk." Tak memberi kesempatan Regina membalas ucapannya, Nuky segera menyuruh Regina masuk. Dengan sedikit kesal Regina pun masuk dan duduk di kursi belakang.
Mobil segera menuju tempat jamuan makan malam yang di ucapkan Kevin. Sampai di tempat, Regina turun dan berjalan menuju ke tempat jamuan seperti yang di arahkan Nuky. Regina sempat heran melihat tempat tersebut. Tempat itu sangat sepi, bahkan tidak ada satu orang pun yang lewat.
Kaki Regina berjalan menapaki karpet merah yang membawanya semakin mendekat pada seorang pria yang tengah berdiri tegap dengan bunga di tangannya.
"Kevin.." Lirih Regina. Ia terkesiap melihat Kevin berdiri di depan sebuah pelaminan outdoor lengkap dengan bunga yang menghiasi tepat di belakang Kevin. Kakinya seakan terpaku begitu melihat semua itu, ia tak bergerak sedikit pun. Matanya masih menelusuri semua hiasan yang tertata rapi di tempat tersebut.
__ADS_1
Di sebuah taman yang Kevin sulap menjadi sebuah pelaminan outdoor lengkap dengan segala hiasan dan lampu yang membuat malam itu terasa sangat romantis. Sebuah tulisan I LOVE YOU REGINA yang bertengger tepat di belakang, di atas kepala Kevin membuat ia semakin takjub di buatnya.
"Kau yang menyiapkan ini semua?" Tanya Regina.
Kevin tersenyum, ia memberikan bunga tersebut pada Regina lalu menuntun istrinya itu berjalan menuju pelaminan tanpa kursi itu.
"Regina..."
"Aku tahu, aku sudah sangat menyakiti mu. Apa aku boleh meminta kesempatan kedua darimu? Aku berjanji, aku tidak mengulangi kesalahan ku lagi. Aku akan membicarakan segala hal padamu. Tidak akan ada lagi kesalah pahaman di antara kita." Tutur Kevin sembari menggenggam jari jemari Regina.
"Aku aku boleh meminta kesempatan?" Tanya Kevin, cukup lama dan akhirnya Regina mengangguk.
Kevin berjongkok.
"Aku tidak tahu, ini sudah cukup romantis atau belum. Tapi percayalah, aku sedang berusaha untukmu." Ujar Kevin.
"Regina, pernikahan kita memang di luar dugaan. Kita menikah dengan tanpa adanya niat dan rasa cinta di antara kita. Tapi saat aku pertama kali melihatmu, aku merasakan jantung ku kembali hidup. Ada debaran di sana. Dan kini, aku ingin bertanya padamu." Kevin mengeluarkan kotak cincin dari saku jasnya.
"Maukah kau menjadi ibu dari anak-anak ku? Maukah kau menua, menghabiskan sisa umur bersama ku?" Tanya Kevin dengan wajah yang penuh harap. Regina tak kuasa menahan rasa harunya, air mata itu meluncur bersamaan dengan senyum dan anggukan kepala Regina.
"Iya aku mau." Jawab Regina. Kevin segera memasangkan cincin tersebut ke jari manis Regina. Ia berdiri dan segera memeluk tubuh istrinya itu dengan hangat. Regina pun membalas pelukan itu. Bahagia sudah di dapatkannya, ia tahu dulu Kevin menikahinya hanya karena untuk menyelamatkan nama baik keluarganya. Namun pernikahan tanpa impian itu kini benar-benar menyatukan dua insan Tuhan dengan penuh cinta. Rasa yang berhasil membuat mereka nyaman dan saling membutuhkan, rasa takut kehilangan sama-sama terpancar dari mata mereka.
Sebuah ciuman hangat di daratkan Kevin dibibir manis Regina.
"Terima kasih.." Ucap Kevin lalu kembali mencium bibir sang istri penuh cinta. Lama, sampai keduanya tersadar jika mereka masih berada di taman setelah hujan mengguyur tubuh mereka berdua.
.
.
.
.
.
__ADS_1