Pelaminan

Pelaminan
bab 29


__ADS_3

pukul tujuh malam Kevin masih berada di kantornya, ia menyandarkan tubuhnya di sofa double di ruang kerjanya. Jerry yang hendak pulang mengurungkan niatnya, ia pun masuk ke ruang kerja Kevin.


"bapak tidak pulang?" tanya Jerry, ia duduk di sofa tunggal sebelah Kevin.


Kevin membuka matanya sebentar lalu kembali menutupnya,


"tidak, aku akan tidur di sini malam ini." jawab Kevin datar.


"lalu istri bapak? apa bapak sedang bertengkar dengan nona Regina?" tanya Jerry.


"tidak.." sahut Kevin malas.


"biasanya kalau mama dan papa saya bertengkar, papa saya selalu tidur di tempat kerja seperti bapak ini." ujar Jerry.


"lalu..." sahut Kevin yang masih memejamkan matanya.


"lalu mama saya menelponnya berkali-kali, tapi papa saya tetap tidak menjawabnya. papa saya bisa sampai tiga hari tidur di tempat kerjanya pak, dan papa akan pulang di hari ke empat karena uangnya habis." ucap Jerry.


"karena kartu ATM dan kartu kredit semuanya di pegang mama saya, papa saya pasti akan membawa bunga untuk merayu mama saya, dan apa bapak tahu? bunga itu papa memetik di halaman tempat kerjanya pak.." imbuh Jerry yang di iringi suara tawanya.


"apa kau sedang mendongeng tentang keluargamu?" sahut Kevin. seketika Jerry menutup mulutnya rapat-rapat.


"maaf pak..." ucap Jerry.


"tapi bapak lebih baik membawakan nona Regina bunga agar nona tidak marah lagi. wanita mana yang tidak suka bunga, apalagi bunga bank..haha" kekeh Jerry.


"dasar bodoh ! pergi kau dari sini. kau terlalu banyak bicara !" usir Kevin.


Jerry pun pergi merasa takut melihat ekspresi wajah Kevin. Kevin menatap langit-langit ruang kerjanya dengan tatapan kosong.


"kau tidak tahu Jer, aku dan nona Regina tidak sedang bertengkar, aku menghindar darinya. karena sebulan itu sebentar, dan rasa yang ku miliki untuknya juga terlalu cepat." gumam Kevin.


.


.


.


.


.


bias sinar matahari masuk ke celah-celah rumah menyambut Regina yang tertidur di sofa ruang tamu. Regina mengerjapkan matanya menyesuaikan pandangannya, ia merenggangkan tubuhnya yang terasa sakit akibat tidak tidur pada tempatnya.


"jam enam..." Regina melihat jam dinding, ia pun teringat akan Kevin.


ia beranjak melangkahkan kakinya menuju kamar Kevin, ia langsung membuka pintu kamar dan masih tidak mendapati Kevin di sana.


"kenapa tuan Kevin tidak pulang??.." batin Regina.


seminggu sudah Regina dan Kevin tidak bertemu, Kevin akan pulang ke rumah lewat tengah malam hanya untuk mengecek kondisi rumah dan Regina, setelah itu ia pergi lagi, ke kantor ataupun ke rumah kedua orang tuanya. Kevin berusaha keras menghindari Regina.


Regina melakukan aktivitasnya seperti biasa, setiap bangun pagi Regina selalu ke kamar Kevin, melihat Kevin sudah pulang atau belum. namun sayangnya tetap sama, kamar itu kosong dan rapi.


Jumat malam, Regina sengaja meninggalkan mobilnya di kantor, ia pulang mengendarai taksi, entah mengapa ia bertekad harus bisa bertemu dengan Kevin. sekedar bertanya kenapa ia tidak pulang.


malam itu Regina sengaja tidak tidur, ia ingin melihat jam berapa Kevin pulang. Regina mematikan lampu utama dan lampu kamarnya agar Kevin mengira bahwa ia sudah tidur.


pukul satu malam terdengar suara deru mobil, Regina mengintip dari balik tirai jendela dan mendapati Kevin tengah memarkir mobilnya halaman.


"kenapa mobilnya tidak di masukkan garasi??" batin Regina.


Regina pun keluar kamar sebelum Kevin masuk, ia bersembunyi di balik sofa panjang. di lihatnya Kevin masuk yang masih lengkap dengan pakaian kerjanya, saat Kevin sudah masuk ke kamar, Regina mendekat ia mendekatkan telinganya ke pintu Kevin, berusaha mendengar apa yang sedang dilakukan Kevin. setelah beberapa saat,


ceklek.....


"ah sial !!" umpat Regina.


ia hampir terjatuh saat Kevin membuka pintu,


"nona? apa yang nona lakukan di sini? kenapa anda tidak tidur?.." tanya Kevin yang tak kalah terkejut.


"eemm itu tuan.. itu saya sedang....." gugup Regina. ia menunjuk ke sembarang arah. Kevin melihatnya dengan tatapan bingung.


"apa nona?" tanya Kevin.


"saya pikir tadi ada pencuri." seru Regina.


Kevin menautkan kedua alisnya, ia tidak ingin memperpanjang perbincangan malam itu. Kevin mengambil kunci mobil yang ia letakkan di meja nakas lalu keluar dengan jaket yang melekat di tubuhnya.


"anda mau pergi kemana tuan? kenapa anda tidak pernah pulang?.." Regina mengekor di belakang Kevin yang berjalan ke pintu utama.


"saya mau pergi ke luar kota nona." jawab Kevin.

__ADS_1


"tapi kenapa??" tanya Regina.


bruukkk


Regina menabrak tubuh Kevin yang berhenti mendadak.


"karena saya ada pekerjaan nona." bohong Kevin, ia menjawab tanpa berbalik melihat wajah Regina.


"permisi nona, pintu kuncinya dan jaga diri anda." pesan Kevin.


mobil Kevin melaju semakin menjauh dari pandangan Regina.


"kenapa dia dingin sekali...." gumam Regina bingung.


pagi harinya Jessica datang berkunjung ke rumah tuan Kevin tanpa mengabari Regina terlebih dahulu.


Jessica memencet bel rumah berkali-kali, karena sekali dua kali tetap tidak ada yang membukakan pintu untuknya.


Regina berjalan menuruni tangga dengan muka bantalnya, selain masih mengantuk, ia ingin bermalas-malasan karena ini adalah hari libur.


"kenapa kau datang sepagi ini ! apa kau mencari sarapan hah !" kesal Regina begitu ia tahu bahwa Jessica yang berkunjung.


"itu salah satu alasanku, haha." ucap Jessica.


Regina kembali membaringkan tubuhnya di sofa panjang ruang tamu. sedangkan Jessica, ia masih berdiri seraya mengedarkan pandangannya mencari Kevin.


"Re, dimana tuan Kevin? apa dia masih tidur.." tanya Jessica.


"dia keluar kota.." jawab Regina. ia pun beranjak berdiri dan kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.


suara bel rumah kembali berbunyi, Jessica menuju ke pintu utama karena Regina belum selesai mandi.


"KAU !!!" teriak Jessica dan Aldo bersamaan.


"kenapa kau disini?" sungut Jessica.


"harusnya aku yang bertanya, kenapa kau di rumah kakakku??" seru Kevin tak mau kalah.


"minggir !!" Aldo mendorong tubuh Jessica.


"dasar Mr menyebalkan !!" gerutu Jessica.


Aldo mengedarkan pandangannya, terlihat sangat sepi, Aldo ke kamar Kevin, ia sudah memegang gagang pintu hendak membukanya.


Aldo menoleh dan mendekat ke arah Regina.


"kakak, di mana kak Kevin?" tanya Aldo.


"tuan Kevin sedang keluar kota Al.. apa kau mau kopi?"


"boleh kak.." jawab Aldo. ia duduk di ruang tamu, sedangkan Jessica ia ikut Regina ke dapur.


Regina mulai memasak air panas di panci kecil sembari memanggang roti untuk sarapannya.


ketika Regina di sibukkan dengan roti panggangnya, tangan usil Jessica dengan cepat menuang satu sendok merica bubuk dan garam, lalu cepat-cepat ia menuang air yang sudah mendidih ke cangkir kopi Aldo lalu mengaduknya.


"Aldo.. kemarilah.." panggil Regina.


Aldo pun menuju meja makan, ia melihat roti panggang yang belum di olesi selai di piring.


"mungkin kau sudah sarapan karena ini sudah lewat jam sarapan, tapi aku memintamu untuk menemaniku sarapan." ucap Regina.


"meskipun aku sudah kenyang, selalu ada tempat di perutku untuk makanan buatan kakak iparku ini." tutur Aldo seraya mendudukkan tubuhnya di kursi.


"dasar rakus!!" celetuk Jessica.


Aldo melihat Jessica dengan tajam sembari menggigit roti selai yang di siapkan Regina. Jessica membalas dengan melotot ke arah Aldo.


Jessica menunduk menyembunyikan senyumnya saat Aldo meraih cangkir kopinya.


"satu...."


"dua....."


"tiga...."


cuuihhh cuihhh


Aldo memuntahkan kopi yang baru ia minum seteguk itu.


"Aldo kau kenapa?" panik Regina saat melihat wajah Kevin memerah.


"kakak, siapa yang membuat kopi ini?" tunjuk Aldo dengan sorot matanya pada cangkir yang masih ia pegang.

__ADS_1


"kakak sendiri yang membuatnya. ada apa? apa rasanya tidak enak?" tanya Regina.


Aldo meminum air putih di depannya.


"sepertinya ada yang ingin meracuni ku kak.." Aldo menatap tajam Jessica yang masih menunduk menyembunyikan senyum kemenangannya.


Regina mengikuti kemana sorot mata Aldo.


"apa yang kau masukkan di dalamnya?" tanya Regina.


"tidak ada.." kilah Jessica.


"katakan apa yang kau masukkan !!" bentak Regina.


"singanya mulai keluar." gumam Jessica.


"apa yang kau katakan Jes !"


"tidak..." Jessica menggeleng dengan keras.


"cepat katakan apa yang kau masukkan di dalam kopi Aldo." seru Regina.


"aku hanya memasukkan satu sendok merica bubuk dan garam saja."


plaakkk


sebuah pukulan mendarat di lengan Jessica.


"sakit Re ! kau suka sekali memukulku, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga." ujar Jessica seraya meringis kesakitan menyentuh lengannya.


sekarang giliran Aldo yang tersenyum puas melihat Jessica dipukul oleh kakak iparnya.


"kenapa kau tersenyum meledek ku seperti itu ! akan ku sumpal mulutmu itu dengan roti panggang selai cabe sampai kau tersedak!" seru Jessica pada Aldo.


"heh !! kau yang salah tapi kenapa kau yang marah-marah pada Aldo. sekarang habiskan kopi buatanmu ini." Regina mengambil cangkir kopi Aldo lalu menaruhnya tepat di depan Jessica.


bahu Jessica melemas seketika,


"kau serius Re? tega sekali padaku.." melas Jessica.


"kau juga begitu pada Aldo, cepat minumlah." perintah Regina.


"Re....." Jessica memasang wajah termelasnya.


"sudahlah kak, biarkan saja. nanti dia bisa sakit jika meminum itu." tutur Aldo.


"minum sekarang ! atau aku tidak ingin bertemu denganmu lagi !" ancam Regina.


"Re...." melas Jessica lagi.


"sudahlah kak, lupakan saja, dia mungkin tidak sengaja menaruh bubuk merica dan garam ke dalam gelas kopiku." sengaja Aldo mengatakan itu.


"tidak sengaja apanya, jelas-jelas dia memasukkan satu sendok. mana mungkin itu bisa di katakan tidak sengaja." batin Aldo.


"tapi dia sudah keterlaluan Aldo, tempo hari dia menyiram mu dengan air, lalu menginjak kakimu. sekarang dia justru memasukkan bubuk merica dan garam pada kopimu." ujar Regina.


"soal menginjak kaki waktu itu aku tidak sengaja Re, tapi tentang menyiram air itu iya aku akui memang sengaja, aku sangat geram dengannya." tutur Jessica.


"cepat minumlah !!"


"iya aku akan meminumnya..." Jessica terpaksa meminum kopi tersebut, ia tidak ingin Regina menjauhinya. ia memejamkan matanya seraya menghabiskan kopi tersebut.


wekkkkk


Jessica menjulurkan lidahnya lalu cepat-cepat ia meminum air putih di depannya.


Aldo tersenyum puas, ingin rasanya ia tertawa namun ia menahannya di hadapan kakak iparnya.


"rasanya tidak enak.." seru Jessica.


"sudah tahu rasanya tidak enak tapi kau malah memberikan pada orang lain." ujar Regina.


"sialan ! aku ingin membuatnya sakit perut tapi justru aku yang kena. aku akan membalasmu lebih parah dari ini." batin Jessica kesal.


.


.


.


.


budayakan meninggalkan like setelah membaca,

__ADS_1


terima kasih 🤗❤️


__ADS_2