
Kevin berpamitan kepada mami Ira yang baru saja mengakhiri panggilannya pada papi Surya.
"Tante.."
"Mami, Vin." Tukas mami Ira.
"Eemm, iya mami. Mi begini, Kevin siang ini ada meeting, kemungkinan malam Kevin akan kembali ke sini. Apa mami bisa menemani Regina sampai Kevin kembali?" Tanya Kevin.
"Iya Vin, tenang saja. Mami akan di sini."
"Terima kasih mi, Kevin pergi ke kantor." Kevin melangkahkan kakinya, namun mami Regina menghentikan Kevin.
"Vin, tunggu." Kevin kembali berbalik.
"Iya mi?"
"Vin, terima kasih kamu selalu menjaga putri Mami, mami sangat bersyukur Regina mendapat suami seperti mu."
Degg
Hati Kevin merasa terluka mendengar ucapan terima kasih dari mami Ira, sedangkan ia sudah mempunyai rencana akan berpisah dengan Regina. Hati Kevin berontak tentang sebuah perpisahan. Tapi lagi, ingatannya pada Regina dan Anton membuat hatinya tidak bekerja sama sekali. Ia akan tetap berpisah.
"Baiklah Vin, hati-hati.." Ucap mami Ira.
Kevin melajukan mobilnya, ia pulang ke hotel terlebih dahulu untuk menyegarkan tubuhnya. Mengambil semua barangnya lalu check out.
Sebelumnya Kevin sudah mengabari Jerry bahwa ia belum bisa datang ke kantor WO karena ada pekerjaan penting di kantor ayah Agung.
Kevin turun dari mobil, ia memberikan kunci mobilnya pada security kantor untuk memarkirkannya. Semua pegawai menyapa dan menunduk hormat.
Kevin masuk ke ruang kerjanya, Liana menyusul lalu memberikan materi meeting siang ini pada Kevin.
"Perusahaan ini menawarkan diri untuk bergabung dengan perusahaan kita pak, selain karena mereka mempunyai barang penjualan yang sama dengan perusahaan kita, perusahaan mereka sedang dalam kondisi buruk. Karena itu mereka mengajukan untuk bekerja sama." Tutur Liana.
"Baiklah, Aldo sudah datang?"
"Sudah sejak pagi pak."
"Liana, apa benar besok aku haus pergi ke negara XX ? atau jika tidak biarkan Aldo saja yang pergi." Ucap Kevin. Ia masih berat meninggalkan Regina yang tengah terbaring di rumah sakit.
"Maaf tidak bisa pak, bapak yang harus pergi."
Kevin membuang nafasnya dengan kasar, menyuruh Liana keluar dari ruangannya.
.
.
.
.
.
Meeting telah usai, jam kerja pun juga sudah habis. Kevin melajukan mobilnya menuju rumah sakit bersama Aldo yang mengikuti Kevin dari belakang mengendarai mobilnya sendiri.
"Kak, kakak tidak makan dulu?" Tanya Aldo, mereka berjalan memasuki area rumah sakit.
"Tidak Al, kakak tidak lapar. Jika kau lapar, pergilah cari makan dulu. Nanti kakak menyusul." Jawab Kevin.
"Ya sudah nanti saja kita makan bersama." Aldo dan Kevin berjalan di lorong rumah sakit. Kedua kakak beradik tampan itu berjalan dengan gaya coolnya, di manapun mereka berada, mereka selalu menjadi pusat perhatian. Sama seperti seorang pria yang memanggil Aldo dari kejauhan.
"Aldo.." Panggilnya.
Aldo dan Kevin sama-sama menoleh. Aldo menepiskan senyumnya melihat siapa yang memanggilnya. Sedangkan Kevin, ia terkejut, tubuhnya terpaku melihat seorang pria yang mendekat pada mereka.
"Al, bagaimana kabarmu?" Tanya Anton. Iya, Anton. Pria yang meninggalkan Regina di pelaminan.
"Aku baik Anton, sedang apa kau di sini?" Tanya Aldo.
"Aku sedang menjenguk.."
"Apa kau mengenalnya Al?" Tukas Kevin.
"Tentu aku mengenalnya kak, dia teman ku. Aku berlibur dengannya saat kakak menikah waktu itu." Ujar Aldo.
__ADS_1
Kevin semakin terkejut mendengarnya, itu berarti Aldo juga tahu tentang Anton yang meninggalkan Regina.
"Anton, kenalkan ini kakak ku, Kevin."
"Anton." Anton mengulurkan tangannya. Kevin menyambut uluran tangan itu dengan terpaksa.
"Kau sedang apa disini Al?" Tanya Anton.
"Istri kakak ku sakit, dan siapa yang kau jenguk di sini?" Tanya balik Aldo. Kevin hanya diam, matanya tak henti mengamati Aldo dan Anton yang sangat akrab.
"Aku menjenguk teman ku, ruangannya ada di sana." Anton menunjuk ruangan di mana Regina di rawat. Kevin membulatkan matanya dengan sempurna.
"Itu berarti dia menemui Regina. Lalu, untuk apa aku ada di sini." Batin Kevin.
"Baiklah Al, aku permisi pulang. Aku sudah selesai menjenguknya. Mari kak Kevin." Pamit Anton. Aldo tersenyum namun tidak dengan Kevin, ia bersikap dingin pada Anton. Matanya mengikuti Anton yang berjalan semakin jauh dari pandangan matanya.
"Ayo kak." Aldo kembali melanjutkan langkahnya ke ruang rawat Regina.
"Kak !" Tepukan Aldo di bahu Kevin membuatnya terkejut dan tersadar dari lamunannya.
"Ada apa kak?"
"Tidak. Kakak mau pulang." Kevin berbalik arah, namun tangan Aldo meraih lengan Kevin lalu menariknya.
"Kenapa kakak pulang, apa kakak tidak mau menemui istri kakak?" Tanya Aldo.
"Cepat, kak Regina pasti sudah menunggu." Ucap Aldo. Kevin pun terpaksa mengikuti ucapan Aldo, yang sesungguhnya ia sudah tidak ingin menemui Regina lagi. Ia yakin jika Anton sudah menemani Regina sejak tadi.
"Aldo, jika Anton itu temanmu, berarti kau juga mengenal calon istrinya kan?" Tanya Kevin.
"Tidak kak, Anton tidak pernah mengenalkan pacarnya itu pada ku atau pun pada temannya yang lain."
"Namanya?" Tanya Kevin lagi.
"Tidak kak, setiap kami teman-temannya bertanya, dia tidak pernah mau mengatakannya. Ada apa kak? kenapa jadi membahas Anton?" Tanya balik Aldo.
"Tidak." Kevin dan Aldo sudah sampai di depan pintu rumah rawat Regina. Aldo segera membuka pintu itu. Regina menoleh, di lihatnya Aldo lalu di ikuti Kevin dari belakang.
"Kak, bagaimana keadaan kakak?" Tanya Aldo. Ia berdiri di samping Regina. Kevin tidak melihat ke arah Regina, ia mengabaikannya dan duduk di sofa.
"Tidak boleh ! kau belum sehat betul." Tukas Dokter Rio yang baru datang.
Kevin menunduk diam, pikirannya masih berada pada Anton dan Aldo yang saling mengenal, bahkan pertemanan mereka bisa di bilang akrab.
"Aku sudah sehat." Ucap Regina.
"Kau tetap tidak mau makan sejak tadi siang. Bagaimana kau bisa di bilang sehat." Ujar Dokter Rio. Kevin mendongakkan wajahnya menatap pada Regina begitu ia mendengar wanita di depannya ini belum makan lagi sejak ia menyuapinya sarapan pagi tadi.
"Aku tidak berselera, Rio." Ujar Regina.
"Iya, karena Kevin tidak menyuapi mu kan ?" Dokter Rio terkekeh dengan ucapannya sendiri, begitu juga dengan Aldo.
"Kau mengada-ada Rio." Ketus Regina. Ia menyilangkan kedua tangannya di atas perut.
"Itu memang benar, lihatlah ini. Makan malam mu masih utuh kan?" Dokter Rio menunjuk makanan di meja samping tempat tidur.
"Rio, bukankah jam kerja mu sudah habis, kenapa kau masih ada di sini?" Kevin bersuara.
"Kau sedang mengusirku? baiklah, ayo Al kita keluar. Aku lapar, tinggalkan mereka berdua di sini." Ujar Dokter Rio. Aldo mengiyakan ajakan Rio. Ketika membuka pintu, Aldo bertemu dengan Jessica yang akan masuk menemui Regina. Ia segera menarik tangan Jessica dengan paksa.
"Lepaskan aku !" Seru Jessica, ia menghempaskan tangan Aldo dengan kasar
"Diamlah atau ku cekik lehermu !" Aldo mengangkat tangannya hendak mencekik leher Jessica, membuat wanita itu mundur ketakutan.
"Al, kau suka sekali menggoda gadis itu." Ucap Dokter Rio.
"Siapa yang menggodanya, aku suka jika di suruh membunuhnya !" Ujar Aldo yang masih menatap tajam pada Jessica.
"Membunuh dengan cinta." Seru Dokter Rio di iringi tawanya. Membuat Aldo melirik tajam ke arahnya.
"Baiklah baiklah, maaf. Apa kita jadi pergi sekarang?"
"Jadi, ayo cepat !" Aldo kembali menarik tangan Jessica.
"Kau mengajakku kemana ? lepaskan tangan ku !" Jessica berceloteh dengan geramnya, namun Aldo tetap saja menarik tangan gadis itu sampai di parkiran. Dokter Rio menggelengkan kepalanya melihat Aldo dan Jessica yang tidak pernah akur.
__ADS_1
"Masuk !" Aldo membuka pintu belakang mobilnya.
"Tidak mau ! katakan kau membawaku kemana? apa kau ingin menculik ku?" Jessica melotot serta berkacak pinggang. Dokter Rio sudah masuk terlebih dahulu di kursi samping kemudi.
"Menculik mu? kau tidak akan laku di jual, jadi untuk apa aku menculikmu." Aldo menyunggingkan senyum liciknya.
"Kita akan pergi mencari makan malam nona, biarkan Kevin dan Regina memiliki waktu berdua, hubungan mereka kan sedang tidak baik." Ujar Dokter Rio. Jessica menurunkan tangannya dari pinggang rampingnya, ia mengingat memang benar hubungan Regina dan Kevin sedang tidak membaik. Ia pun bersedia ikut bersama Aldo dan Dokter Rio untuk makan malam.
"Baiklah, kebetulan aku juga belum makan." Jessica masuk lalu menutup pintu mobil dengan keras.
"Sialan !" Maki Aldo melihat Jessica yang menjulurkan lidah meledeknya.
.
.
.
.
.
Kevin masih duduk di sofa, Regina membaringkan tubuhnya lalu menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut sampai ke kepalanya. Hanya terlihat ujung rambut Regina di sana.
Kevin baru menyadari jika mami Ira tidak ada, ia pun bertanya pada Regina.
"Di mana mami?"
"Pulang." Singkat Regina tanpa membuka selimutnya.
"Sejak kapan?"
"Sore tadi."
"Aku sudah mengatakan pada mami bahwa aku akan kembali ke sini saat malam. Lalu kenapa mami pulang sebelum aku datang ?"
"Papi menjemputnya, ada undangan pernikahan dari rekan bisnis papi."
"Pantas saja." Gumam Kevin lirih namun telinga Regina masih bisa mendengar itu.
"Aku ingin bertanya sesuatu." Ucap Kevin.
"Kau sudah bertanya sejak tadi." Sungut Regina.
"Tapi ini soal lain." Ucap Kevin.
"Apa?" Regina masih belum membuka selimutnya.
"Kau di temani siapa setelah mami pulang?" Tanya Kevin.
"Tidak ada, aku sendiri." Jawab Regina.
"Bohong !" Seru Kevin.
"Tidak !"
"Kau di temani Anton kan?" Akhirnya keluar juga pertanyaan itu, pikiran yang menganggu Kevin sejak bertemu dengan Anton tadi.
"Apa !" Seru Regina, ia menyingkap selimutnya. Ia duduk seraya menatap tajam pada Kevin yang masih duduk santai di sofa.
"Apa maksud mu?" Tanya Regina.
"Kau di temani Anton kan?" Ulang Kevin.
"Tidak ! kenapa kau membahas pria itu lagi." Sungut Regina.
"Kenapa? kau suka kan membahasnya."
"Jika kau datang ke sini hanya untuk mengajakku ribut, lebih baik kau pergi ! aku tidak butuh di temani siapapun !" Seru Regina.
.
.
.
__ADS_1
.