Pelaminan

Pelaminan
Jangan Marah


__ADS_3

Budayakan like sebelum membaca. Terima kasih 🤗


Mobil sudah berhenti tepat di halaman rumah Kevin. Aldo melepas self belt-nya. Tapi tidak dengan Regina. Wanita itu tetap duduk, memandang takut pada pintu rumah yang masih tertutup itu. Hatinya bergemuruh, takut akan amarah sang suami.


Kevin, jangan marah. Aku minta maaf....


“Kak? Ayo turun, kita sudah sampai.”


“Aku juga tahu, Al, kita sudah sampai.”


“Kalau begitu ayo kita turun, kak Kevin pasti sudah menunggu.”


Regina tak bergeming, tatapan matanya tetap lurus mengarah ke pintu utama rumah. Aldo pun turun seorang diri, ia berjalan ke samping mobil lalu membukakan pintu untuk Regina. “Kak, ayo turun,” ajaknya lagi.


Regina tak bergerak sedikitpun, sampai akhirnya ... Matanya terbelalak mendapati pintu rumah terbuka dan Kevin keluar dengan tatapan tajamnya. Regina menelan kasar salivanya. Pria yang mengenakan kaos putih polos serta celana santai berwarna mocca itu berjalan mendekat ke arah mobil. Aldo mundur, ia juga merasa takut akan sorot mata kakaknya.


“Turun!” perintah Kevin pada Regina.


Perlahan Regina melepas self belt-nya. Ia turun dari mobil, berdiri tepat di depan tubuh sang suami. Regina menunduk takut. ”Masuk!” perintahnya lagi dan Regina menurut. Ia berjalan masuk ke rumah.


“Kak, jangan memarahinya, dia sangat ketakutan.” Aldo membuka suara.


“Diam! Kau juga sama saja. Kau bawa kemana saja istriku?” Marah Kevin.


“Aku melakukan apa yang kau perintahkan, Kak. Aku memastikan kak Regina tidak kekurangan satu apapun. Dia menginginkan ini dan itu, pergi kesana dan kemari. Kau kira aku tidak lelah menuruti keinginan ibu hamil, huh! Kau yang menghamili tapi justru aku yang di repotkan!” seru Aldo. Kekesalan dan rasa lelahnya bercampur menjadi satu.


“Kau baru sehari, aku sudah berbulan-bulan dan itu masih akan berlangsung selama empat bulan ke depan. Anggap saja kau sedang training menjadi seorang suami siaga.”


Cih!


Aldo sangat muak mendengarnya. “Aku masih berbaik hati mengantarkan istrimu pulang. Jika aku tidak ingat bahwa dia kakak ipar yang paling ku sayangi, sudah pasti aku akan melemparnya ke sungai tadi.”


“Berani kau melempar istriku ke sungai!” Kevin maju selangkah.


“Aku pulang!” Aldo melangkah cepat, masuk ke mobil lalu menyalakan mesinnya. “Bisa-bisa kak Kevin akan menjitak kepalaku lagi.”


Kevin menatap mobil Aldo yang semakin menjauh dari jangkauan matanya. Ia tertawa geli melihat ekspresi Aldo yang ketakutan. Kevin tak sepenuhnya marah pada Aldo, ia justru bersyukur ... Adiknya itu sangat bisa di andalkan. Bersedia di kerjai oleh istrinya dengan berbagai keinginan yang menurutnya tak masuk akal.


Kevin menutup pintu kamar, menatap Regina yang duduk di sofa double. Kevin duduk di samping Regina, tangan kanannya terangkat naik. Sontak Regina berhambur ke pelukan Kevin, memeluk erat tubuh sang suami.


“Jangan marah, jangan memukulku! Maafkan aku, Kevin, maaf,” ucap Regina dengan mata terpejam serta kedua tangan yang melingkar sempurna di tubuh suaminya.


“Maafkan aku, lain kali aku akan berpamitan terlebih dulu padamu. Maaf,” air mata Regina tumpah. Ia merasa sangat ketakutan. Regina menyadari kesalahannya, sejak kemarin ia sudah sangat menjengkelkan dan hari ini ... Ia kembali berbuat kesalahan—ia pergi tanpa berpamitan pada sang suami.


Kevin mengulum bibirnya, merasa lucu melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan. “Lepaskan aku!” nada suara Kevin terdengar datar. Regina menangkap bahwa Kevin masih marah padanya. Regina semakin mengeratkan pelukannya.


“Tidak! Maafkan aku dulu,” Regina memohon.


“Iya, aku sudah memaafkanmu.”


“Bohong!” seru Regina. “Kalau kau sudah memafkanku, kenapa kau tidak membalas pelukanku?” tanyanya dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


“Lihat aku!” kata Kevin, ia menangkup kedua sisi wajah Regina. “Lihat aku!” perintahnya lagi sebab Regina masih saja tidak mau melihat wajahnya dan masih memeluk erat tubuhnya.


“Sayang,” ucap Kevin dengan nada terendahnya. Ia membalas pelukan sang istri, mencium puncak kepalanya berkali-kali. “Aku tidak marah. Aku hanya khawatir saja,” sambungnya.


Regina merenggangkan sedikit pelukannya, mendongakkan wajah agar pandangannya bisa menjangkau wajah sang suami. “Benarkah? Kau tidak marah?” Regina memastikan.


Kevin tersenyum, menyentuh lembut pipi Regina. “Aku tidak marah, mana mungkin aku bisa marah kepada istriku yang sangat menggemaskan ini.”


“Maafkan aku, lain kali aku akan berpamitan dan tidak akan mengabaikan panggilan darimu,” ucap Regina tulus. “Sejak kemarin aku selalu saja marah padamu. Sejak pagi aku juga mendiamkanmu. Maafkan aku.”


“Sayang, aku yang seharusnya meminta maaf. Aku sudah membentakmu. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Maafkan aku.” Kevin kembali merengkuh tubuh sang istri. Lebih memasukkannya ke dalam pelukan.


Nyaman ... Regina merasakan kenyamanan ketika pelukan hangat itu semakin erat mendekapnya. Aroma tubuh sang suami menyeruak masuk ke indera penciumannya. Sehari tidak bertemu, terlebih mereka dalam perselisihan ... Membuat Regina sangat merindukan sang suami.


“Maafkan aku, aku berjanji, lain kali aku tidak akan memaksakan kehendakku lagi,” satu tangan Kevin menyelipkan sebagian rambut Regina ke belakang telinga. “Sekarang yang terpenting adalah kenyamananmu dan anak kita ini,” Kevin memberi usapan lembut pada perut buncit sang istri. “Aku sangat merindukannya, sehari ini aku tidak berbicara dengannya samasekali.”


“Karena kau menyebalkan!” cetus Regina.


“Aku?” Kevin menunjuk dirinya sendiri. “Bukankah kau yang sangat menyebalkan?” tanya Kevin pada Regina. Lebih tepatnya bukan pertanyaan, namun sindiran.


“Iya. Aku yang menyebalkan!” seru Regina yang sudah berhenti menangis.


Kevin terkekeh, ia mencubit kedua pipi Regina lalu menciumnya dengan gemas. “Istriku ini sungguh sangat-sangat menggemaskan.” Kevin pun menggigit pipi Regina, membuat istrinya itu mengaduh kesakitan.


“Kevin!” protes Regina.

__ADS_1


Hari Sabtu....


Kevin masih tidur. Ia sangat malas untuk bangun, tubuhnya sangat lelah. Berkali-kali Regina mencoba membangunkannya, namun Kevin hanya menggeliat lalu kembali menarik selimutnya.


“Sayang,” Kevin menarik tangan Regina. “Kemarilah, temani aku tidur lagi.” Regina duduk di tepi tempat tidur.


“Ini sudah siang. Bangun, mandi lalu sarapan-lah.”


Kevin tak bergeming, ia tetap menutup matanya. Satu tangan Regina bergerak menyentuh wajah sang suami.


“Aku tampan bukan?” tanya Kevin tanpa membuka matanya.


Seketika Regina menarik tangannya. “Kata siapa?” tanya balik Regina.


“Kataku. Jika aku tidak tampan, kau tidak akan mencintaiku.”


“Bukan karena ketampananmu aku jatuh cinta. Tapi karena hatimu.”


Satu telapak tangan Regina menyentuh dada sang suami lalu mencium keningnya lama.


Pukul sebelas siang, Kevin keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Seusai berpakaian, ia menyusul sang istri yang berada di dapur bersama bi Tanti.


“Kau mau makan sekarang?” tanya Regina begitu Kevin mendekat dan berdiri di sampingnya.


Kevin menggeleng. “Nanti saja. Tolong buatkan aku kopi,” pintanya. Regina mengangguk dan segera menuang bubuk kopi dan gula ke dalam sebuah cangkir. Regina tidak menuang air panas dari mesin pemanas air, sebab Kevin lebih menyukai kopi dari air yang langsung di rebus dari panci. Perutnya akan bermasalah jika meminum kopi bukan dari air panas rebusan.


“Bi, Regina sudah makan berapa piring hari ini?” tanya Kevin pada bi Tanti yang sibuk memotong wortel.


“Nyonya hanya makan sekali, Tuan. Lalu memakan lima cup kecil eskrim.”


Regina yang sedang mengaduk kopi itu mengangkat wajahnya, menatap Kevin tidak suka. “Kau mau memarahiku?!” serunya.


“Tidak, Sayang, kau ini kenapa jadi marah. Sudah, ayo ke depan. Aku ingin duduk bersamamu. Kevin menuntun Regina, berjalan keluar dapur menuju ruang tengah dengan cangkir kopi yang berada di tangan kirinya.


Sudah mulai menguji kesabaran lagi!


Kevin bertanya kepada Regina, apa saja yang ia lakukan seharian penuh bersama Aldo. Dengan antusias, Regina menceritakan saat dirinya meminta Aldo menghabiskan dua mangkok salad buah yang ditaburi parutan keju dan coklat yang berlimpah.


Flashback on


“Aku akan memakan satu, dan satu lagi kau makan,” Aldo mendekatkan atau mangkok salad buah kepada Regina.


“Tidak, Al. Kau harus memakan semuanya. Aku ingin melihatnya!” seru Regina.


“Tap—”


“Aldo, aku mohon. Keponakanmu ini ingin kau yang memakan salad buah ini.” Regina mengiba.


Tak punya pilihan lain, Aldo pun menuruti kemauan kakak iparnya. Memakan dua mangkok salad buah. Berkali-kali Aldo menghela napas berat, perutnya merasa sudah tak mampu menampung salad buah dan merasa mual ketika keju dan coklat itu bercampur menjadi satu di mulutnya.


Keju dan coklat ini sangat banyak, rasanya sangat tidak enak. Tidak sesuai porsi. Kak Kevin! Aku tidak sanggup lagi!


Aldo berteriak dalam hatinya. Menuruti segala keinginan dari kakak iparnya ini sungguh sangat menyiksa.


“Awas saja! Jika Jessica hamil nanti aku akan menyuruhnya untuk menyiksa kak Kevin.” gumam Aldo.


“Kau mengatakan sesuatu, Al?” rupanya Regina mendengar gumaman Aldo.


“Hah?” terkejut Aldo. “Tidak, Kak. Aku tidak mengatakan apapun.” Aldo menggeleng keras.


Seusai memakan salad buah, Regina kembali mengajak Aldo pergi. Kali ini Regina mengajak Aldo untuk pergi ke sebuah mall. Seperti tidak sedang hamil, Regina berjalan mengelilingi mall tanpa rasa lelah. Justru Aldo yang merasa kelelahan.


Regina mengajak Aldo masuk ke salah satu toko pakaian ibu hamil, ia memilah dan memilih ... Memakan waktu hingga dua jam lamanya di toko tersebut.


“Bagaimana jika yang ini saja, Al? Menurutmu, Kevin akan menyukainya atau tidak?” Regina meminta saran. Ia menunjukkan dua dress ibu hamil rumahan dengan warna berbeda.


Aldo yang baru saja mengirim pesan kepada Jessica bahwa ia sedang sibuk dengan Regina, seketika Aldo menatap bingung memberi jawaban apa.


Eh! Aku harus menjawab apa ini? Dia pasti sedang menjebakku.


“Al?”


“I-iya, Kak?”


“Katakan. Aku harus membeli yang mana?”


“Beli dua-duanya saja, Kak, semuanya juga bagus.”

__ADS_1


Regina mengerucutkan bibirnya, merasa tidak puas akan jawaban yang di berikan Aldo.


Kan, aku salah lagi.


Aldo kembali di buat bingung. Kakak iparnya kembali menguji kesabarannya. “Kak, bagaimana?” tanya Aldo.


“Aku tidak jadi membeli keduanya!”


Ya Tuhan. Kak Regina! Kau ini sungguh menyebalkan!


Aldo mengusap kasar wajahnya. Ingin rasanya ia berteriak, lelah sebab kakak iparnya selalu menguji kesabarannya.


Regina keluar dari toko, hatinya kacau oleh saran yang Aldo ucapkan. “Beli saja keduanya. Aku hanya meminta ia memilih satu baju, tapi kenapa dia mengatakan untuk membeli keduanya. Aldo sama saja seperti Kevin. Menyebalkan!” dengus Regina.


“Kak, tunggu aku,” Aldo mengejar Regina yang berjalan sangat cepat. “Kak, kau ini sedang hamil. Berjalan pelan-pelan saja, jangan seperti itu,” kata Aldo begitu ia berhasil meraih lengan kakak iparnya itu agar berhenti.


Regina memalingkan wajahnya, ia sangat enggan menatap wajah adik iparnya yang menjengkelkan, menurutnya.


“Kak, kau kan belum makan siang. Bagaimana kalau kita makan saja. Kakak ingin makan apa?” Aldo mencoba merayu.


“Iya. Aku juga mulai lapar,”


Berhasil.... Lega Aldo.


“Aku ingin memakan ayam panggang saja,” kata Regina.


Aldo pun mengajak Regina ke salah satu restoran yang berada di mall tersebut. Sesuai keinginan Regina, Aldo memesan satu porsi ayam panggang sedang. Sementara ia sendiri hanya memesan kopi. Aldo masih merasa kenyang setelah memakan dua mangkok salad buah tadi.


Regina mulai memakan ayam panggangnya. “Makanlah, Al,” Regina menggeser piring ayam panggangnya kepada Aldo.


“Eh! Kenapa, Kak? Kau baru memakan sedikit. Apa rasanya tidak enak?” tanya Aldo.


Regina menggeleng. “Rasanya sangat lezat, Al. Tapi aku sudah kenyang. Kau makan saja.”


“Kalau begitu kita bungkus saja, Kak. Kau bisa memakannya di rumah.” Aldo hendak memanggil waiters, namun Regina menghentikannya.


“Jangan, Al. Kau makan saja,” kata Regina.


“Tapi aku masih kenyang, Kak.”


“Jadi kau tidak mau memakannya untukku?” Regina melotot. Wajahnya sudah mulai marah.


“Mau, Kak. Aku mau memakannya, lihatlah!” Aldo memakan ayam panggang tersebut dengan lahap. Ia sungguh kesal kepada kakak iparnya, selalu memaksakan kehendak. Jika tidak di turuti, pasti akan marah. Jika Jessica nanti hamil anakku, aku tidak akan memberinya kesempatan untuk menjajah dan menyiksaku seperti ini.


Regina tersenyum puas melihat Aldo makan dengan lahapnya. Ia meminum jus jeruk miliknya dengan mata yang tetap tertuju kepada Aldo.


Aldo dan Regina keluar dari mall. Aldo sudah berusaha mengajak Regina untuk kembali pulang, namun Regina tetap saja menolak dengan berbagai alasan.


Hingga menjelang sore, Regina meminta Aldo untuk menghentikan mobilnya begitu ia melihat sebuah taman yang cukup luas. Tak lupa, ia juga meminta Aldo untuk membeli es krim lalu memaksa Aldo untuk memakannya juga.


Semoga saja setelah ini aku tidak sakit perut!


Flashback off


Sepanjang Regina bercerita, Kevin tak henti menertawakan Aldo. Ia ikut membayangkan wajah adiknya yang stres harus menghadapi dan menuruti segala keinginan istrinya.


“Kevin, aku lapar. Ini sudah siang, kau juga belum makan apapun sejak pagi.”


Kevin menegakkan duduknya, menyentuh pipi sang istri dengan lembut. “Baiklah, ayo kita makan.” Kevin berdiri, ia mengulurkan satu tangannya, membantu istrinya itu untuk berdiri.


“Kau ingin makan apa?” tanya Kevin.


“Apa saja yang di masak bi Tanti, aku sedang tidak ingin makan yang lain.”


Kevin menghela napas lega. Bersyukur istrinya kali ini tidak meminta makanan yang aneh-aneh. Keduanya pun duduk di kursi meja makan. Regina mengambilkan makanan untuk Kevin terlebih dulu.


“Sudah cukup. Jangan terlalu banyak,” Kevin menghentikan tangan Regina yang kembali ingin menuang sayur di piringnya.


“Sejak pagi kau tidak makan apapun, jadi sudah pasti kau sangat lapar. Habiskan, ya?” Regina duduk, ia mengambil sedikit makanan di piringnya.


“Sayang, ini terlalu banyak. Jika aku merasa belum kenyang, aku bisa mengambilnya lagi.”


Regina meletakkan sendok dengan begitu kerasnya. Bunyi dentingan itu sangat tidak di sukai Kevin.


“Kau mau marah?” kata Kevin dengan nada dingin. Sorot tajam matanya membuat Regina kembali takut. Dengan cepat ia kembali mengambil kembali sendoknya lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Sudah. Jangan menatapku seperti itu,” Regina menunduk. “Jika tidak habis, tidak masalah. Yang penting jangan marah padaku.” Regina berucap lirih.

__ADS_1


Kevin tersenyum melihat istrinya, satu tangannya menyentuh lembut kepala sang istri. “Aku mencintaimu,” ucap Kevin tulus.


Regina mengangkat wajahnya, menatap Kevin sembari menepiskan senyumnya. “Aku juga mencintaimu.”


__ADS_2