
Mata Kevin memandang nisan yang bertuliskan nama wanita yang ia cintai. Ia tersenyum melihat bunga Lily yang mengelilingi gundukan tanah itu.
"Kau pergi?" senyuman penuh luka itu ia tepiskan. Mengambil setangkai bunga Lily, menaruhnya tepat di atas nisan itu.
"Kenapa kau pergi? Kenapa? Kenapa kau meninggalkan aku sendiri?" Kevin masih tersenyum getir, namun kini buliran bening itu keluar sudah dari matanya.
"Maafkan, aku. Aku terlalu sibuk dengan ponselku dan melupakan kehadiranmu. Maafkan, aku." Kevin menunduk, air matanya semakin deras membasahi matanya. Biarlah ia menjadi pria cengeng untuk saat ini.
Menyentuh nisan itu, meraba nama Sabila di sana. "Aku mencintai mu. Kau tau itu, kan? Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tau, Sabila. Aku tidak tau." Kevin menghapus air matanya, kembali tersenyum memandang nisan itu.
"Sabila, aku akan selalu mencintaimu, selalu ... selamanya akan mencintaimu." Kevin masih duduk di sisi makam Sabila, dengan senyuman dan air mata yang tak henti mengalir. Kevin mengambil cincin di saku celananya, cincin yang ia pakaikan di jari manis Sabila kemarin malam sebelum kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya itu. Kevin memandanginya dengan tatapan nanar. Semuanya sudah berhenti sekarang, impian rumah tangga yang akan ia bangun bersama Sabila kini sudah hilang dan lenyap, terkubur bersama gundukan tanah itu.
Hari sudah semakin sore, Kevin pun memutuskan untuk pulang. Ia tau keluarganya pasti sangat khawatir padanya.
"Baiklah, aku pulang sekarang. Jangan khawatir, aku akan tetap mencintaimu ... selamanya aku akan tetap mencintaimu. Setiap tanggal ini aku akan selalu menemuimu dan aku akan membawakan bunga Lily untukmu, tunggu aku. Selamat ulang tahun, sayang." Kevin kembali menaruh satu tangkai bunga Lily di atas nisan Sabila.
"Sampai jumpa." Kevin beranjak, tersenyum getir lalu melangkahkan kakinya untuk kembali pulang.
Regina menatap wajah sang suami dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya. Ia pikir, apa yang Anton lakukan padanya itu adalah rasa sakit yang teramat sangat. Namun begitu ia tau apa yang di alami Kevin, rasa sakit di hati Kevin saat di pisahkan oleh maut tepat di hari ulang tahun dan tepat dimana ia baru saja melamar Sabila ... ia sadar rasa sakitnya bukanlah apa-apa dan tidak sebanding dengan apa yang Kevin rasakan.
"Maaf," ucap Regina. Kevin menoleh dan menyeka air mata Regina dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Maafkan, aku. Di awal pernikahan kita, aku sangat menyakitimu. Aku sama sekali tidak menganggapmu. Aku sudah sangat egois, aku pikir ... apa yang aku rasakan itu adalah satu-satunya rasa sakit, tapi ternyata kau---" Regina berhambur ke dalam pelukan Kevin. Tangisnya semakin pecah, bayangan hari di saat Kevin kehilangan Sabila ikut terlintas di matanya.
Kevin mengusap kepala Regina, menenangkan istrinya yang menangis tersedu-sedu. "Kenapa kau yang menangis, aku sudah lebih baik sekarang. Karena datangnya dirimu, aku kembali bisa hidup. Aku bisa kembali merasakan cinta yang ikut pergi bersama, Sabila." tutur Kevin.
Regina melepas pelukannya, "Apa benar sekarang kau sudah baik-baik saja?" tanya Regina yang di jawab anggukan kepala serta senyuman oleh Kevin.
"Aku baik, sangat baik. Ya ... selama tiga tahun ini aku memang susah payah untuk kembali hidup, semua yang aku dambakan sudah berakhir. Tuhan lebih menyayangi Sabila. Aku hanya bisa mencoba ikhlas meskipun hatiku sangat sakit jika aku teringat malam itu." tutur Kevin.
"Sekarang," Kevin menangkup kedua sisi wajah Regina. "Kau sudah tau semuanya. Apa aku masih boleh datang ke makam Sabila di setiap tanggal itu di setiap tahunnya? Aku akan berada di sana seharian. Apa boleh jika aku tetap mencintainya? Karena jujur, aku memang tetap mencintainya. Bukan berarti aku membagi rasa cintaku, aku mencintaimu ... tapi cintaku padamu dan Sabila itu berbeda." tanya Kevin.
"Boleh, kau tidak perlu bertanya tentang hal itu. Kau boleh datang ke makam Sabila, di sana seharian. Mencintainya ... aku tau cintamu untuknya selalu ada disini." satu tangan Regina menyentuh dada Kevin. "Aku tidak keberatan sama sekali, cintai dia. Dia juga sangat mencintaimu." tutur Regina dengan air mata yang tetap mengalir, membasahi wajah cantik itu namun kini ia juga menepiskan sebuah senyuman untuk Kevin.
Kevin memeluk Regina, "Terima kasih, terima kasih untuk bisa menerima kehadiran Sabila di hatiku. Terima kasih untuk tetap berada di sisiku." ucap Kevin. Matanya mulai berkaca-kaca. Ingatan dan rasa rindunya pada Sabila kembali datang. Rindu ... Kevin sangat merindukan Sabila.
Ada perasaan lega di hati Kevin setelah menceritakan tentang Sabila pada istrinya. Regina juga tidak keberatan jika di dalam dompet Kevin terdapat foto dirinya dan juga Sabila. Cincin Sabila masih ada di lemari Kevin, di dalam sebuah kotak yang juga terdapat foto-fotonya bersama Sabila. Regina melihat itu semua, ia dapat merasakan rasa sakit di hati suaminya begitu ia melihat foto itu. Senyum bahagia sepasang kekasih itu sangat menenangkan.
"Hai, Sabila. Aku Regina ... aku berjanji, aku tidak akan menyakiti Kevin dan akan selalu membuatnya tersenyum. Tidak akan ku biarkan senyum di wajahnya itu terganti oleh tangisan." ucap Regina pada foto Sabila.
"Siapa yang datang sepagi ini?" gerutu Regina, ia mendengar suara bel pintu yang terus-terusan berbunyi sejak tadi. "Ada apa, sayang?" Kevin mengerjap, menyesuaikan akan bias cahaya yang masuk ke matanya.
"Ada tamu. Akan ku bukakan pintunya." Regina beranjak, mengikat rambutnya asal lalu keluar kamar.
__ADS_1
"Kalian !!" seru Regina begitu membuka pintu. Rupanya Aldo dan Jessica yang bertamu ke rumah mereka sepagi ini.
"Ada apa kalian kemari pagi-pagi begini?" tanya Regina, ia berkacak pinggang ke arah adik ipar dan sahabatnya tersebut.
"Aku masuk, Kak." Aldo nyelonong masuk. Meninggalkan Jessica yang menatapnya dengan geram. "Re, ini sudah jam sepuluh. Kau bilang ini masih pagi?" tanya Jessica. Regina berjalan masuk, Jessica pun mengekor di belakangnya setelah ia menutup pintu.
"Hari ini libur, jadi menurutku ini masih pagi." kata Regina yang berjalan menuju ke arah dapur. Regina pun membuatkan kopi untuk Kevin dan Aldo. Sementara Jessica sibuk mencari cemilan di lemari pendingin yang terdapat di dapur tersebut.
"Apa kak Kevin masih tidur, kak?" tanya Aldo pada Regina yang menaruh dua cangkir kopi di meja makan di mana Aldo duduk di sana. "Dia sudah bangun, mungkin dia masih mandi. Apa kau sudah makan, Al?" tanya Regina.
"Sudah ! Dia sudah memakan hati manusia tadi." teriak Jessica dari arah dapur. "Diam kau !" saut Aldo tak mau kalah. Regina menggelengkan kepalanya, ia pun berjalan masuk ke kamarnya.
"Siapa?" tanya Kevin yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. "Jessica dan Aldo." jawab Regina sembari mengambilkan baju ganti untuk Kevin.
"Mereka datang berdua?" tanya Kevin lagi, Regina mengangguk. Ia menyerahkan kaos santai dan celana pendek selutut pada Kevin. "Benar kan apa kataku." ucap Kevin. "Apa?" tanya Regina yang memang tidak mengerti dengan maksud Kevin.
Kevin memakai kaosnya, "Mereka jatuh cinta, sayang. Apa kau tidak melihat itu?" Regina mengedipkan matanya berkali-kali, rasanya sulit di percaya jika mereka akan jauh cinta. Mengingat mereka tidak pernah bisa berdamai, selalu ada saja bahan yang membuat mereka saling adu argumen.
Cuppp
Kevin mencium pipi Regina karena istrinya itu justru melamun setelah mendengar apa yang ia ucapkan.
__ADS_1
"Eh, iya?"
"Kau melamun tentang apa? Sudah pergilah mandi sana, aku akan menemui mereka berdua." ucap Kevin, Regina mengangguk.