Pelaminan

Pelaminan
bab 43


__ADS_3

Kevin melipat kedua tangannya di bawah kepalanya. Pikiran dan Bayangan Regina masih terus berputar di memori otaknya dengan sempurna. Kevin sudah berada di hotel, ia memejamkan matanya merasakan kepedihannya.


"Aku lelah, aku tidak ingin selalu seperti ini dari dulu. Aku lelah.. Lelah.." Kevin berbicara pada dirinya sendiri. Ada senyum getir yang membalut luka di hatinya.


.


.


.


.


.


Pagi hari saat Regina bangun, ia kebingungan masih tidak mendapati Kevin di sampingnya. Terlebih ia tidak melihat ada mobil Kevin di garasi. Ia mencoba menelpon nomer Kevin, tapi ponsel Kevin mati. Dengan kesal dan penuh tanda tanya, akhirnya Regina pun memilih untuk segera membersihkan dirinya lalu pergi ke kantor.


Kevin, rasanya ia sangat enggan untuk bangun. Kembali menelan kekecewaan membuat ia sangat hancur, terlebih saat mengingat dimana Regina duduk berdua bersama Anton.


Ingin marah? Kevin sangat ingin marah, namun bayangan perjanjian pernikahan mereka yang akan berpisah setelah satu bulan pernikahan membuat Kevin terdiam. Meskipun bukan perjanjian hitam di atas putih, Kevin mencoba tetap menghormati Regina dan kepercayaannya.


Selesai bersiap, Kevin segera menuju ke kantor Ayah Agung. Sebelumnya Kevin sudah mengabari Jerry bahwa ia akan lebih sibuk di kantor ayahnya. Kevin juga meminta Liana menyiapkan baju kerja untuknya. Tepatnya membelikannya. Liana yang bingung mendapat telpon dari Kevin untuk membelikan kemeja beserta celana kerja membuat ia mengerutkan keningnya. Selain bingung harus membeli dimana sepagi itu, Liana juga heran kenapa Kevin meminta baju kerja sedangkan ia sendiri juga tahu bahwa putra pertama dari seorang Agung Atmaja ini sudah menikah.


Liana yang awalnya bingung membeli dimana, akhirnya bisa bernafas lega ketika ia ingat salah satu temannya bekerja di butik. Ia pun meminta bantuan agar membuka butik lebih awal untuk membeli baju kerja untuk bosnya.


"Jangan katakan pada Aldo jika aku menyuruhmu membeli pakaian ini. Simpan baju yang lain padamu dulu, nanti sebelum pulang aku akan mengambilnya." Titah Kevin pada Liana, Liana pun mengangguk tanda mengerti. Setelah itu ia pun segera masuk ke ruangannya lalu mengganti baju.


Kevin sudah duduk di kursi kerjanya, ia baru membuka pesan dari Regina. Sama seperti kemarin, Regina mempertanyakan keberadaannya dan kenapa ia tidak pulang.


"Aku keluar kota bersama Jerry, ada hal yang mendesak." Isi pesan singkat Kevin.


Kevin meletakkan ponselnya di atas meja, ia memulai pekerjaan barunya membantu Aldo dan ayah Agung di kantor.


Regina berkali-kali membaca isi pesan Kevin. Rasanaya sangat aneh saat Kevin tidak menyelipkan kata sayang padanya.


Tidak membalas, Regina justru menelpon Kevin.


Tuutt tuutt tuutt


Cukup lama Kevin hanya memandangi layar ponselnya, enggan sekali menerima panggilan Regina. Tapi entah mengapa, ibu jarinya menggeser icon panggil hijau itu dengan sendirinya.


"Halo.. Kevin?"


"eemmm i-iya, ada apa?" Tanya Kevin.


"Kenapa semalam kau tidak pulang, aku menunggumu." Ucap Regina.

__ADS_1


Menunggu?? hati Kevin merasa senang ada yang menunggunya untuk pulang. Kembali, bayangan Regina dan Anton bersama membuat Kevin sadar tentang posisinya saat ini di hati Regina.


"Kevin?" Panggil Regina lagi.


"Aku keluar kota, aku ingin mengabari mu tapi kau pasti sudah tidur, jadi aku tidak menelpon mu." Jawab Kevin sembari menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Ia memejamkan matanya dan memijat keningnya yang terasa sangat pusing. Bukan pusing sakit, pusing harus bersikap seperti apa pada Regina.


"Baiklah, lalu kapan kau akan pulang?" Tanya Regina, suaranya terdengar tak bersemangat.


"Aku belum tahu." Lagi, Kevin tidak menyelipkan kata sayang di antara mereka. Membuat Regina semakin bingung.


"Kevin...."


"Iya?"


"Aku merindukanmu.." Imbuh Regina. Yang entah bagaimana kata itu keluar saja dari mulutnya.


Kevin diam, ia tidak membalas ungkapan rindu Regina. Kevin mengusap kasar wajahnya, apa yang sudah terjadi ini sama sekali tidak Kevin mengerti.


Rindu ??


Menunggu ??


Kapan pulang ??


Kata itu membuat Kevin sejenak melupakan perjanjian pernikahan mereka. Namun lagi-lagi bayangan Anton dan Regina bersama membuat pikiran Kevin buyar.


Ingin sekali Kevin berteriak saat itu juga.


"Aku masih sibuk, nanti aku akan menghubungimu lagi" Ucap Kevin. Tanpa mendengar ucapan balasan dari Regina, Kevin segera memutus sambungan telepon tersebut. Ia meletakkan ponselnya ke meja dengan kasar.


Regina menatap layar ponsel di mana Kevin mematikannya secara sepihak. Membuat Regina hanyut dalam kebingungannya.


"Ya sudah, mungkin dia memang sangat sibuk." Gumam Regina.


Sore hari Regina sudah pulang, sebelum itu ia mampir ke apartemen Jessica sekedar melepas rindu dan melupakan rasa penatnya.


Kevin sendiri melajukan mobilnya menuju tempat pernikahan. Iya, di salah satu hotel. Kevin dan Jerry sibuk kesana kemari mengecek persiapan untuk pernikahan esok hari.


"Ingat, jangan ada yang salah untuk besok. Semuanya harus sempurna." Perintah Kevin pada seluruh pegawainya.


"Pak, sampai kapan bapak akan sibuk di kantor Ayah anda?" Tanya Jerry seraya menyodorkan sebotol air mineral untuk Kevin.


"Aku tidak tahu, mungkin tidak lama atau bahkan selamanya." Jawab Kevin. Ia pun meneguk air mineral tersebut.


"Jangan khawatir, aku tetap bisa memantau semua hal ini. Aku tidak hanya fokus pada kantor ayahku, aku juga tahu tanggung jawabku di WO ini Jer." Imbuh Kevin. Jerry pun mengangguk, merasa lega bahwa ia tahu jika bosnya itu tetap akan bersama SABILA WEDDING AND EVENT ORGANIZER.

__ADS_1


Pukul sembilan malam, Kevin menuju ke hotel di mana ia tinggal untuk sementara waktu. Semua persiapan sudah selesai, besok ia tidak bisa datang dan menyerahkan semuanya pada Jerry dan Sahila.


Kevin memesan segelas susu panas untuknya lewat sambungan telepon hotel. Kebiasaan Kevin yang akan meminum susu sebelum tidur.


Tepat saat ia keluar kamar mandi, suara bel pintu berbunyi nyaring. Ia segera membuka pintu dan menerima segelas susu panas yang ia pesan.


Kevin duduk di tepi tempat tidur, ia menyeruput susu panasnya perlahan, satu tangannya mengambil ponselnya. Ada dua panggilan tak terjawab dari Regina.


"Kenapa dia masih menghubungi ku? bukankah ia sudah bersama Anton sekarang." Gumam Kevin. Ia kembali meletakkan ponselnya dan tetap menyalakan mode silent.


Tidak tahu kah Kevin? Regina sangat kesal di kamarnya. Ia sudah kembali dari apartemen Jessica. Namun lagi-lagi suaminya itu tidak pulang ataupun sekedar mengabarinya lewat sebuah pesan singkat.


Mata Regina sudah tidak bisa di ajak kompromi menunggu pesan atau telpon dari Kevin, ia berjalan ke arah lemari. Di ambilnya kaos santai Kevin lalu memakainya. Regina membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Kevin lalu menutupi separuh tubuhnya dengan selimut.


"Jika begini, aku merasa seakan di peluk olehmu." Regina mencium aroma kaos Kevin. Meskipun sudah di cuci, bagi Regina tetap ada aroma khas tubuh Kevin di kaos tersebut.


"Selamat malam.." Regina memejamkan matanya sembari memegang ujung kaos Kevin yang tengah ia pakai.


.


.


.


.


.




.


.


.


.


Ngga ada yangg mau nyumbang poin lagi gitu ke cerita ini????


Hehe...


Btw, terima kasih guys...

__ADS_1


❤️🤗


__ADS_2