
Nuky membukakan pintu mobil untuk Regina dan Kevin. Syuting kali ini tidak di lakukan di kantor management, melainkan bertempat di pantai terindah di negara tersebut. Wardrobe kali ini menyesuaikan dengan tempat. Kevin memakai celana kain putih selutut dengan kemeja bermotif daun kelapa, perpaduan warna hijau serta biru. Sementara Jenny, ia memakai celana pendek sepaha dengan atasan tanpa lengan yang menunjukkan belahan dadanya.
"Kipasi aku Nuky, kipasi aku." Geram Regina yang merasa kepanasan melihat busana yang di gunakan Jenny. Syuting belum di laksanakan, namun Regina sudah seperti cacing kepanasan. Nuky dengan setia mengipasi Regina yang duduk di teras sebuah penginapan yang di sewa untuk tempat beristirahat jika break syuting.
Sebelum syuting di mulai, Kevin menghampiri Regina terlebih dahulu. Nuky memberikan sebotol minuman dingin pada Kevin. Kevin pun segera membuka botol tersebut dan meminumnya.
"Nuky, katakan pada bos mu. Jangan tebar pesona. Ingat dia sudah punya istri."
Uhukk uhukk
Kevin tersedak, sementara Nuky masih mengipasi Regina sembari menahan tawanya.
"Apa maksud mu aku tebar pesona?" Tanya Kevin sembari membersihkan sekitaran bibirnya yang basah. Kevin menarik kursi lalu memposisikan kursi tersebut tepat di depan Regina untuk ia duduki.
"Katakan, apa maksud mu aku tebar pesona?" Tanya Kevin lagi.
"Kau tidak sadar jika kau sedang tebar pesona?" Sungut Regina. Kevin mengerutkan keningnya, merasa heran dengan apa yang di maksud istrinya ini. Kevin beralih menatap Nuky yang berdiri di belakang Regina.
"Cemburu pak." Nuky berucap tanpa bersuara. Kevin pun tersenyum dan kembali menatap Regina.
"Aku tebar pesona bagaimana? Katakan yang jelas?"
"Ini." Regina menyentuh kancing kemeja yang di pakai Kevin dengan kasar.
"Apa? Katakan yang jelas, aku bingung dengan ucapan mu."
"Ini kenapa kau tidak mengancingkannya, kenapa kau menyisakan tiga kancing? Kau sengaja kan supaya Jenny itu bisa melihat dada mu." Seru Regina seraya melotot pada Kevin.
"Iya aku sengaja." Ujar Kevin.
"Kau !" Regina mengepalkan tangannya di depan wajah Kevin. Ia mengeratkan barisan giginya, seakan ingin sekali menggigit suaminya ini.
"Maaf Tuan, kita akan segera memulai syutingnya. Silahkan menuju ke tepi pantai." Ucap salah satu team management. Kevin berdiri, meninggalkan Regina yang masih menatapnya dengan tajam.
"Hentikan ! Kenapa kau mengipasi ku dari tadi? Kau ingin membuatku masuk angin !" Sungut Regina pada Nuky.
"Maaf Bu." Ucap Nuky.
__ADS_1
"Sudah seperti banc* salon saja kau ini." Ujar Regina.
"Heh Bu ! Tadi kan kau sendiri yang minta di kipasi. Suami dan istri sama saja." Umpat Nuky.
Regina beranjak, ia berjalan mendekat ke bibir pantai di mana Kevin tengah di arahkan bagaimana ia harus berakting. Regina melipat kedua tangannya di atas perut sembari mengawasi Kevin dari bawah pohon kelapa.
"Ibu tidak ingin minum untuk mendinginkan hati?" Tanya Nuky yang berdiri di belakang Regina.
"Kau pikir hatiku terbakar hah ! Di dinginkan, kepala mu itu yang perlu di dinginkan. Masukan ke lemari es saja sana." Seru Regina.
"Sudah jelas-jelas hatinya terbakar, masih mau berkilah dia." Gumam Nuky.
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak Bu, ini cuacanya sangat panas."
Adegan di mulai, Kevin dan Jenny bergandengan tangan dan berjalan di tepi pantai. Regina semakin mendekat, berdiri di belakang sutradara. Nuky sudah berusaha mencegah namun ia kalah dengan kemauan istri bosnya yang sedang cemburu ini.
Berawal dari bergandengan tangan, lalu satu tangan Kevin melingkar di pinggang sexy Jenny. Regina meremas ujung kaosnya dengan geram. Matanya tak sedetikpun melewatkan setiap pergerakan Kevin.
"Aku minta waktu lima menit. Setelah itu kita lanjutkan lagi." Kevin berujar. Sutradara dan semuanya setuju. Mereka pikir mungkin Kevin masih grogi berhadapan dengan wanita cantik dan sexy seperti Jenny sehingga membutuhkan konsentrasi yang lebih lagi.
Kevin berjalan mendekat pada Regina, ia mengajak istrinya itu untuk sedikit menjauh dari kerumunan team. Kevin merasa risih di pandangi Regina sejak tadi. Ia mengerti jika Regina cemburu melihatnya beradegan mesra dengan Jenny. Sebelum kecemburuan Regina di luar kendali, ia pun berinisiatif menghentikan syuting dan berbicara dengan Regina.
"Lepaskan aku, kenapa kau mengajak ku kemari. Lanjutkan syutingnya." Ketus Regina.
"Sayang.." Kevin menyibakkan rambut Regina yang berterbangan terkena angin pantai.
"Jangan seperti itu." Hidung Regina memerah, menandakan air matanya akan segera membasahi pipinya.
"Maafkan aku, tapi aku harus melakukan ini. Aku sudah berusaha menolak jika harus menyentuh pinggangnya.Tapi ini memang harus di lakukan untuk kepentingan iklan. Aku mohon kau bisa mengerti." Jatuh sudah bulir bening itu dari mata Regina. Penuturan Kevin tetap tidak bisa mengurangi rasa cemburu dalam hatinya.
"Sayang.." Kevin memeluk tubuh Regina. Membelai lembut rambut wanita itu yang tergerai.
"Baiklah, aku akan membatalkan kontrak iklan ini." Ucap Kevin.
"Jangan, Ayah akan bersedih jika iklan ini di batalkan hanya karena diriku. Lanjutkan saja syutingnya." Ujar Regina masih di dalam pelukan Kevin. Tangisnya sudah sedikit mereda begitu mendapat sentuhan nyaman dari suaminya.
__ADS_1
"Tapi benar, kau tidak masalah jika aku menyentuh pinggangnya?" Kevin sudah melepas pelukannya, menghapus sisa air mata Regina dengan ibu jarinya.
Regina mengangguk perlahan.
"Tapi jangan yang lebih. Cukup pinggang saja." Ucap Regina dengan mimik wajah yang menggemaskan bagi Kevin.
"Iya, memang hanya itu adegannya. Selanjutnya aku akan memasangkan cincin di jarinya. Tidak masalah kan?" Kevin memastikan. Regina pun mengangguk menyetujuinya.
"Apa sekarang kau ingin kembali ke hotel? Biar Nuky yang mengantarmu."
"Tidak." Seru Regina.
"Jika aku tidak ada di sini kau bisa melakukan yang lebih dengan Jenny itu." Lanjut Regina dengan wajah cemberutnya.
"Astaga, tidak sayang. Ya sudah kau di sini saja, tapi jangan tiba-tiba melabrak Jenny jika kau tidak bisa mengendalikan kecemburuan mu itu." Kevin tersenyum usil.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya." Regina menggeleng keras. Kevin kembali memeluk Regina, di ciumnya puncak kepala istrinya itu sangat lama.
Seorang wanita akan sangat ahli menyembunyikan rasa cintanya selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidupnya. Tapi seorang wanita tidak akan bisa menutupi kecemburuannya barang sedetik pun.
"Kau duduk di teras saja, jangan di dekat sutradara." Regina mengangguk.
"Anak pintar." Kevin mencium pipi, mata, hidung, kening serta tak lupa bibir istrinya itu sebelum ia kembali memulai syuting.
Kevin mengantar Regina ke teras, ia berpesan pada Nuky agar bisa lebih menjaganya istrinya jika tidak bisa mengontrol kecemburuannya, ia takut Regina benar-benar akan melabrak Jenny.
Selama syuting, Regina ingin sekali mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak menatap Kevin yang beradegan mesra dengan Jenny. Namun lagi-lagi matanya terus saja meminta melihat pada Kevin dan Jenny. Regina akan memejamkan matanya begitu rasa cemburu itu semakin memanas di hatinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1