Pelaminan

Pelaminan
Bab 66


__ADS_3

Kevin segera melepas jasnya dan memakaikannya pada tubuh Regina. Kemudian ia pun menuntun Regina untuk segera ke mobil yang terparkir sedikit jauh dari mereka. Sesuai perintah Kevin yang tidak ingin ada yang melihat mereka, termasuk Nuky sekalipun. Kevin sangat paham, ia tidak ingin membuat jiwa kesendirian Nuky tercabik-cabik.


"Kita pulang sekarang, Pak?" Tanya Nuky setelah Kevin dan Regina masuk.


"Tidak. Kita pergi ke mall dulu." Dengus Kevin. Regina hanya tersenyum melihat bos dan asistennya ini.


"Tapi kan bapak dan ibu sedang basah kuyup seperti ini."


"Astaga Nuky ! Kau mau aku mencari asisten baru?" Geram Kevin atas kebodohan Nuky. Nuky menelan salivanya merasa takut.


"Kita kembali ke hotel, Nuky." Timpal Regina.


Kevin dan Regina segera masuk ke kamar, hawa dingin sangat menusuk ke tulang Regina yang hanya memakai gaun selutut tanpa lengan itu.


Kevin sudah mengunci pintu. Setelah itu ia pun menghampiri Regina yang berdiri di samping tempat tidur.


"Apa kau kedinginan?" Tanya Kevin.


"Aku kepanasan." Seru Regina. Kevin tersenyum geli mendengarnya.


"Apa aku boleh memeluk mu?" Kevin meminta ijin. Mereka berdua sangat paham apa yang akan segera terjadi di antara mereka sebentar lagi.


Regina mengangguk, sejurus kemudian Kevin pun mengambil jas yang masih melekat di tubuh Regina lalu segera memeluk tubuh istrinya yang kedinginan itu.


Kehangatan ciuman yang selama ini mereka rindukan serta sentuhan itu tidak bisa mereka tunda lagi. Semakin dalam dan dalam ciuman keduanya. Sejenak Kevin melepas ciumannya, menatap mata Regina untuk meminta ijin. Setelah Regina mengangguk, Kevin pun melanjutkan ciumannya.


Tangannya yang gatal sedari tadi pun kini sudah bergerilya menyusuri setiap lekuk tubuh Regina dengan lembut.


Saling memberi dan menyesapi setiap cinta yang mereka suguhkan pada pasangan, malam panjang itu pun sudah tak dapat di tahan lagi. Pada akhirnya, mereka meringkuk bersama dengan peluh di tubuh mereka dan saling mengungkapkan cinta di sela-sela permainan.


"Mana ikat rambut mu?" Tanya Kevin sesat sebelum mereka turun untuk sarapan.


"Untuk apa?"


"Untuk mengingat rambut mu, mana mungkin untuk menguncir bibir Nuky." Dengus Kevin. Ia sangat tidak suka jika Regina menggerai rambut indahnya.


"Ikat rambut mu saja, jangan seperti itu." Perintah Kevin. Regina berdecak kesal, namun tangannya segera mengikat rambut indahnya itu.


Setelah sarapan, mereka segera check out untuk segera kembali ke negaranya. Sudah di bandara, dering ponsel Kevin memaksa pria tampan itu untuk menggeser icon panggil hijau di layar ponselnya.


"Halo, siapa ini?" Tanya Kevin.

__ADS_1


"Hai Kevin. Ini aku Carlyn."


"Carlyn ?" Lirih Kevin. Regina yang duduk di sampingnya kini melirik ke arah suaminya itu ketika mendengar nama Carlyn di sebut.


"Kau tahu dari mana nomor ku?" Tanya Kevin dan di jawab oleh Carlyn jika Aldo lah yang memberikan nomor ponselnya.


"Adik sialan !" Geram Kevin.


"Ada apa kau menelpon ku? Apa ada masalah terkait kontrak kita?" Tanya Kevin.


"Tidak ada. Aku hanya ingin bertanya kabar mu."


"Aku baik, dan maaf aku berada di bandara sekarang. Sampai jumpa." Tanpa mendengar apapun, Kevin segera mematikan sambungan telponnya. Kevin kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya.


"Mari pak.." Nuky mempersilahkan Kevin dan Regina untuk segera naik ke pesawat. Diam, Regina diam dan bahkan tidak melihat Kevin sedikitpun.


"Kau kenapa?" Tanya Kevin setelah mendudukkan tubuhnya di samping Regina. Tetap tidak menjawab, Regina justru memasang headset di telinganya.


Kevin mengambil headset tersebut dan menyerahkannya pada Nuky yang duduk di belakangnya.


"Kembalikan." Seru Regina.


"Katakan dulu ada apa? Kenapa kau mendiamkanku sejak tadi."


"Aku lelah. Aku ingin tidur." Ujar Regina.


"Apa kita harus bertengkar sekarang?"


"Kemarilah." Kevin memeluk Regina dari samping lalu mencium pipinya.


"Apa kau cemburu lagi?" Tanya Kevin yang masih memeluk Regina.


"Sedikit." Lirih Regina. Kevin menghela napas, ia sangat kebingungan mengatasi kecemburuan istrinya ini.


"Sudah, jangan cemburu. Aku hanya milikmu." Ucap Kevin.


"Bagaimana bisa seorang wanita menutupi kecemburuannya. Cemburu tetaplah cemburu, dan wanita yang cemburu itu selalu benar. Jangan pernah marah pada wanita yang cemburu. Semakin kalian para pria marah, semakin besar rasa curiga dan cemburu itu." ~Ummy Wachida~


Sesampainya di negara tercinta, Kevin dan Regina memutuskan untuk mampir ke kantor Ayah Agung terlebih dulu untuk membahas hasil kontrak dan iklan mereka dengan Jenny.


"Itu kenapa kak?" Tanya Aldo pada Regina sembari menunjuknya.

__ADS_1


"Apa?" Tanya Regina balik.


"Itu, pasti di gigit harimau kan kak?" Aldo sudah paham apa yang menyebabkan leher kakak iparnya itu merah-merah. Aldo hanya ingin menggodanya saja.


"Diam kau anak kecil." Sentak Kevin. Regina hanya bisa menunduk malu lalu melepas ikatan rambutnya agar bisa menutupi lehernya. Ia akan bertambah malu jika Ayah Agung yang melihat itu.


Kevin dan Aldo berpamitan pada Regina untuk menemui Ayah Agung di ruangannya. Regina duduk menunggu di ruang kerja Kevin. Cukup lama sehingga membuat Regina bosan.


"Setelah ini aku tidak mau membintangi iklan lagi, Yah. Jika Ayah masih memaksa, aku akan keluar dari perusahaan ini." Ancam Kevin.


"Memangnya kenapa, kak?" Tanya Aldo.


"Aku tidak suka harus bersentuhan dengan wanita lain. Dan kau juga, kenapa kau memberi nomor ponselku pada Carlyn?" Seru Kevin, Ayah Agung hanya diam mengamati kedua putranya.


"Dia memaksa, katanya kalau aku tidak mengirimnya dia akan datang ke sini."


"Tapi kan kau bisa memberi nomor ponsel Nuky, jangan nomor pribadiku."


"Memangnya kenapa, Vin? Kan hanya nomor ponsel." Tukas Ayah Agung.


"Regina tidak suka, Yah. Ayah tahu sendiri aku sedang berusaha mengembalikan kepercayaan Regina. Aku tidak mau ini akan menjadi masalah baru kami." Tutur Kevin.


"Kakak kan sudah mendapatkannya lagi." Dengan senyum jenakanya, Aldo kembali menggoda Kevin.


"Diam kau, Al." Seru Kevin.


"Baiklah, akan Ayah usahakan. Tapi jika mereka yang meminta dan itu demi perusahaan kan tidak ada salahnya, Vin. Ayah yakin Regina pasti mengerti."


Kevin menyandarkan tubuhnya di kursi, ia berharap Regina memang bisa mengerti. Tapi melihat kecemburuan istrinya itu, ia tidak yakin Regina bisa mengerti. Ia takut akan menimbulkan kesalahpahaman lagi.


Kevin dan Regina berpamitan pada Ayah Agung untuk kembali pulang ke rumah. Besok Kevin akan mulai kembali bekerja, hari ini ia ingin menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah.


"Kau mau makan apa?" Tanya Regina yang baru membuka pintu rumahnya.


"Aku akan memasak." Imbuh Regina. Kevin tak menjawab, ia menarik tangan istrinya itu untuk masuk ke kamar.


"Tidak usah memasak, nanti biar aku saja yang memasak untukmu. Atau tidak kita bisa membeli makanan nanti." Ucap Kevin sembari mengunci pintu kamarnya.


"Sekarang...." Kevin mendekat dengan senyum nakalnya. Regina sudah mengerti, ia menepiskan senyumnya pada sang suami yang sudah semakin dekat dan melepas kancing kemejanya itu.


Bahagia kan lihat mereka udah baikan?

__ADS_1


Oh iya, bentar lagi udah masuk bulan puasa nih. Karena kita semua LDRan, jadi kita berjabat tangan online di sini aja ya.


Mohon maaf lahir batin semuanya 🙏😊


__ADS_2