
Rasa cinta semakin dalam antara Kevin dan Regina. Keduanya berjanji tidak akan menyembunyikan sesuatu dan akan selalu mendengar atau bertanya terlebih dulu sebelum emosi mengendalikan mereka.
"Sudah siap?" Kevin mengambil kunci mobilnya. Mereka akan berangkat ke pesta ulang tahun Sofia, adik Kak Alan. Regina sudah membeli kado untuk gadis berusia dua puluh tahun itu siang tadi. Sesuai yang di katakan Kevin bahwa Sofia adalah gadis yang sangat aktif di sosial media, maka dari itu ia dan Kevin sepakat membelikan ponsel keluaran terbaru untuk gadis itu.
"Sudah. Nanti kau jangan jauh dariku, ya?" tanya Regina sembari menyambut uluran tangan Kevin.
"Pasti. Aku tidak akan membiarkan istri ku yang cantik ini di lirik orang. Mereka harus tau bahwa kau adalah istri dari seorang Kevin." tutur Kevin, ia mendaratkan ciuman lembut di kening wanita cantik yang memakai gaun hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Gaun yang sedikit terbuka di bagian punggung itu membuat pesona Regina terpancar. Serta dengan sedikit rambut yang di tarik ke belakang di kedua sisi atas telinganya hingga membentuk sebuah kepangan kecil dan rapi itu membuat Regina terlihat semakin cantik.
Kevin menggandeng tangan Regina memasuki ballroom hotel di mana tempat pesta di selenggarakan.
"Kevin, Om Danu sangat senang kau akhirnya datang di pesta ulang tahun, Sofia." Om Danu menjabat dan memeluk Kevin. Di susul Tante Mila yang juga memeluk Kevin.
"Iya maaf, Om." ucap Kevin.
"Sofia pasti sangat bahagia bisa melihatmu." timpal Tante Mila.
"Ini istri mu? Cantik sekali." Tante Mila memeluk Regina.
"Terima kasih, Tante juga cantik." ucap Regina dengan senyumnya.
"Bisa saja kau ini. Ayo masuk, Sofia pasti sudah menunggu." Tante Mila berjalan beriringan dengan Regina, di susul Kevin dan Om Danu di belakang mereka.
Mereka menghampiri Sofia yang tengah menyambut teman-temannya. Mata bening itu menangkap kedatang Kevin, sontak Sofia berlari ke arah Kevin. Tak peduli dengan sepatu high heels yang ia pakai, tujuannya adalah memeluk Kevin untuk melepas rindu.
"Kak Kevin," Kevin berjalan cepat, menghampiri Sofia lalu memasukkan gadis itu ke dalam pelukannya.
"Kau sedang memakai high heels, Sofia. Bagaimana jika tadi kau jatuh?" ujar Kevin yang masih memeluk Sofia.
"Aku merindukan mu, kak. Akhirnya tahun ini kakak datang di pesta ulang tahun ku." mata Sofia mulai berkaca-kaca.
"Maafkan, kakak. Jangan menangis, seorang Sofia tidak mungkin akan mengambil foto dengan riasan yang hancur kan?" ledek Kevin, ia melepas pelukannya, menangkup wajah Sofia lalu mencium kening gadis itu.
"Ini istri, kakak?" tanya Sofia begitu ia melihat Regina yang berdiri di samping Kevin.
"Iya, namanya Regina."
"Cantik kan, dia?" bisik Kevin di telinga Sofia. Sofia menganggukkan kepalanya, tersenyum lebar pada Regina yang juga tersenyum padanya.
"Kak Regina, apa aku boleh memelukmu?" tanya Sofia.
"Tentu." Sofia pun segera memeluk Regina. Tante Mila dan Om Danu tersenyum simpul melihat kebahagian putrinya yang bisa melihat Kevin lagi setelah peristiwa tiga tahun lalu. Sejak tiga tahun lalu, Kevin tidak pernah lagi datang ke pesta ulang tahun. Siapapun itu, termasuk Sofia. Dan hal itu membuat Sofia dan seluruh keluarga Kevin ikut bersedih melihatnya.
Regina memberikan kado untuk Sofia. Karena rasa bahagianya, Sofia langsung membuka kado tersebut dan kembali memeluk Regina dan Kevin bersamaan.
__ADS_1
"Terima kasih, aku sangat bahagia sekali. Terima kasih, Kak Regina. Karena kau, kakak ku yang tampan ini bersedia datang ke pesta ulang tahun ku lagi." ujar Sofia.
Tak lama, keluarga Kevin juga datang. Ayah Agung, Bunda Hana serta Aldo. Aldo memeluk dan memberi selamat pada Sofia.
"Dimana, Kak Alan?" tanya Kevin.
"Seperti itulah Kakak mu yang satu itu, selalu datang terlambat di pesta ulang tahun adiknya. Sebentar lagi mungkin dia akan datang." jawab Tante Mila.
Kevin mengobrol dengan Om Danu, Aldo dan tentu Ayahnya. Sementara Regina, ia diminta menemani Sofia. Tak butuh waktu lama bagi Sofia untuk akrab dengan Regina, begitupun dengan Regina yang merasa bersyukur bisa di terima di keluarga Kevin.
Sofia permisi ke toilet sebentar pada Regina. Regina pergi hendak mengambil minuman. Namun sebelum ia mengambil gelas, ada tangan yang menyentuh pinggangnya, sontak Regina menoleh dan terkejut mendapati pria yang sama di mana ia bertemu dengannya di supermarket kemarin.
Regina bergeser, membuat lingkaran tangan pria itu terlepas dari pinggangnya. Ingin sekali ia berteriak memanggil suaminya, namun ia urungkan itu karena tidak ingin membuat malu dan merusak pesta Sofia.
"Pergilah." ucap Regina lirih. Namun pria itu justru menyentuh bibir Regina sembari menepiskan senyum nakalnya.
"Jangan melewati batas mu, Tuan. Aku tidak ingin merusak pesta seseorang." Regina menepis tangan pria itu, ia hendak pergi namun pria itu meraih tangannya dan mendekatkan tubuh Regina padanya.
"Kita bertemu lagi disini, aku yakin Tuhan sudah merencanakan ini dengan baik." ujar pria itu dengan senyum penuh maksud.
"Lepaskan aku! Aku akan memanggil sua--"
"Kak Alan !" Kevin mendekat. Menarik tangan Regina, memeluk tubuh istrinya yang ketakutan.
"Kak, aku mohon jangan istriku! Jika kau masih berbuat hal yang tidak menyenangkan pada istriku, aku bisa saja melupakan bahwa kau adalah kakakku." seru Kevin.
Alan merasa bersalah, jika dari awal ia tau bahwa wanita yang menjadi incarannya adalah istri saudaranya, tentu ia akan menjaga sikapnya.
"Maaf, Vin. Sungguh aku tidak tau jika dia adalah istrimu." ucap Alan yang merasa sangat bersalah.
"Nona, tolong maafkan aku. Aku memang sangat kurangajar, tapi jika aku tau semuanya, aku pasti tidak akan melakukan hal itu padamu. Maafkan, aku." imbuh Alan.
Kevin mulai melepas pelukannya pada Regina. Di belainya pipi sang istri dengan lembut.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kevin yang di jawab anggukan kepala oleh Regina.
"Maafkan aku, Vin. Ayolah, kau tau dan sangat mengenalku. Aku tidak berbuat hal gila dengan saudara ku sendiri. Aku sadar aku punya adik perempuan." ucap Alan lagi. Rasa bersalahnya pada Kevin masih membuatnya tidak nyaman, apalagi tatapan Kevin seakan ingin membunuhnya membuat ia semakin menciut.
"Justru itu, Kak. Kau punya adik perempuan, tolong hentikan kelakuan gilamu itu. Apa kau tidak kasihan pada, Sofia?"
Regina memeluk lengan Kevin, mendengarkan percakapan kedua pria itu dan ia mengetahui bahwa Sofia adalah adik dari Alan.
Ya, begitulah Alan. Ia suka bergonta-ganti pasangan, semenjak di khianati oleh kekasihnya ia mulai menjadi pria nakal. Tapi, ia tetap menghormati ibu dan adiknya beserta keluarga wanita yang lain. Seperti saat ini, ia sangat menyesal sudah berbuat hal yang tidak menyenangkan pada Regina, istri adik sepupunya.
__ADS_1
Bagaimanapun pembelaan Alan, tetap saja perbuatannya tidak akan pernah bisa di benarkan. Bermain dengan semua wanita sesuka hatinya.
"Berhentilah, Kak. Jangan menyakiti hatimu sendiri. Lupakan semuanya dan lanjutkan hidupmu." tutur Kevin. Meskipun ia marah pada Alan atas apa yang pria itu lakukan pada istrinya, tetap saja Kevin tidak bisa melupakan sebab apa yang membuat Alan seperti sekarang ini. Ia mengerti bagaimana perasaan Alan.
"Terima kasih, Vin. Tapi aku belum tau kapan semuanya akan berhenti. Aku turut bahagia atas pernikahanmu, aku bahagia kau bisa melupakan Sabila dan memulai hidup barumu." ujar Alan.
"Siapa, Sabila?" Regina bertanya. Ia seperti tidak asing dengan nama itu. Ya ... Sabila adalah nama Wedding Organizer milik Kevin. Beribu-ribu pertanyaan pun muncul di kepala Regina.
"Aku tidak melupakan Sabila, Kak." ucap Kevin lirih, wajahnya berubah sendu. Regina menoleh dengan tatapan penuh tanya pada suaminya.
"Sekali lagi maafkan aku, Vin. Maafkan aku, Nona." ucap Alan tulus.
Sepeninggal Alan yang menghampiri Sofia, Regina dan Kevin masih saling bertatap.
"Kau tidak apa-apa kan? Maafkan, Kak Alan, dia memang seperti itu. Tapi percayalah, dia tidak akan menyakiti saudaranya. Setelah ini aku yakin dia akan menghormatimu." tutur Kevin sembari merapikan rambut Regina. Kevin tau ada pertanyaan dari sorot mata Regina.
"Tentang, Sabila?" tanya Kevin, Regina mengangguk perlahan.
"Aku akan menceritakan padamu jika kita sudah pulang nanti, sekarang tersenyumlah." Regina percaya, ia pun tersenyum simpul pada Kevin.
"Jangan menggodaku disini, aku bisa khilaf nanti." ujar Kevin yang langsung mendapat cubitan di perutnya dari Regina.
"Memangnya siapa yang menggoda mu! Kau saja yang selalu berpikiran mesum." ujar Regina pada Kevin yang masih meringis kesakitan.
"Ayo kita ke Sofia, dia mencari mu dari tadi." ajak Kevin.
"Kau benar tidak apa? Kalau, kau tidak nyaman, kita bisa pulang sekarang." tanya Kevin.
"Tidak. Aku tidak ingin membuat, Sofia kecewa. Aku sedikit percaya pada, Kak Alan."
"Sedikit?" ulang Kevin.
"Iya, sedikit." Kevin memeluk Regina dengan erat, membuat Regina semakin tenang.
.
.
.
.
.
__ADS_1