Pelaminan

Pelaminan
Bab 47


__ADS_3

Kevin duduk di sofa, menatap Regina yang memunggunginya. Hening, ke empat orang yang berada di ruangan tersebut diam seribu bahasa.


Sejak Kevin masuk, kedua matanya bersitatap dengan mata Regina. Tak lama Regina membuang wajahnya, tak menghiraukan Kevin yang datang mendekat dan bertanya padanya.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Kevin yang memang mengkhawatirkan Regina begitu ia melihat wajah pucat istrinya itu. Ia masih berdiri di samping tempat tidur.


"Baik." Singkat Regina tanpa melihat pada Kevin.


"Jessica.." Panggil Regina, Jessica yang awalnya duduk bersama Aldo pun beranjak berdiri.


"Tolong kemasi semua barang-barang ku yang ada di rumah tuan Kevin." Perintah Regina yang membuat Aldo serta Jessica membulatkan mata dan bibirnya membentuk huruf O.


Kevin hanya menunduk diam, ia sudah mengira jika Regina akan melakukan hal itu. Pergi dari rumahnya.


"Tapi kenapa Re?" Tanya Jessica.


"Iya tapi kenapa kak?" Aldo ikut bertanya. Regina diam, masih memalingkan wajahnya.


"Kak, kenapa kakak diam saja ? kak Regina akan pergi dari rumah." Aldo menggoyang-goyangkan bahu Kevin. Aldo seakan tak percaya melihat Kevin yang hanya diam saja mendengar Regina akan pergi dari rumah.


Diamnya Kevin membuat Regina semakin sakit hati, air matanya keluar tanpa permisi. Ia segera menghapusnya,tak ingin memperlihatkan kelemahannya pada Kevin. Kevin yang melihat Regina menangis mulai berpikir.


"Apa dia sesakit itu karena aku akan menceraikannya? tapi kenapa dia harus menangis? dia tidak akan kehilangan aku, tapi aku yang akan kehilangannya." Pikir Kevin.


"Aldo, kau mau membantu Regina mengemas barang-barang ku lalu membawanya ke apartemen Jessica kan?" Aldo diam menatap Regina yang berbicara padanya.


"Jika kalian berdua tidak mau, tidak masalah. Aku akan mengemasnya sendiri setelah aku keluar dari sini." Ucap Regina.


"Tapi kenapa Re? ada apa?" Tanya Jessica.


"Jangan pergi dari rumah sebelum surat perpisahan kita keluar." Tukas Kevin.


Degg


Hati Regina semakin sakit, hancur untuk yang kedua kalinya oleh pria yang ia cintai. Namun kali ini rasanya lebih sakit dari pada saat Anton meninggalkannya di pelaminan. Kali ini suaminya lah yang mengatakan hal itu, kata perpisahan sangat menyakitkan di telinga Regina. Hatinya pilu, air matanya kembali menetes.


"Kak ! kau ini bicara apa?" Seru Aldo. Jessica menggenggam tangan Regina. Ia pun ikut terkejut mendengar penuturan Kevin.


Setelah itu, tidak ada yang bicara lagi. Semua diam. Tetap pada pikirannya masing-masing. Aldo yang heran melihat sikap serta mendengar ucapan Kevin bahwa ia akan menceraikan Regina hanya bisa diam dan hanyut dalam pikirannya sendiri, sedangkan ia tahu sendiri bahwa Kevin tengah memperjuangkan cintanya pada Regina. Berusaha membuat wanita itu jatuh cinta padanya. Aldo tidak menyangka Kevin akan menyerah secepat ini.


"Ehemm" Also berdehem.


"Kak, sebelum makanannya dingin, lebih baik kakak segera makan lalu minum obat." Ucap Aldo pada Regina.


"Iya Re, aku akan menyuapi mu." Jessica mengambil makanan Regina di meja nakas.

__ADS_1


"Tidak Jes." Regina menahan tangan Jessica.


"Aku tidak lapar, aku ingin tidur saja." Ucap Regina.


"Tapi Re."


"Aku bilang aku tidak lapar !" Tukas Regina. Jessica pun meletakkan kembali makanan itu ke tempat asalnya.


"Kalian semua pulanglah, ini sudah malam. Aku ingin tidur." Regina memunggungi semua orang, menutup selimutnya sampai ke dada. Memejamkan matanya dengan paksa.


"Kalian pulang saja, aku yang akan menemani Regina di sini." Jessica.


"Kau juga pulang Jes !" Seru Regina.


"Tapi Re..."


"Pulanglah ! aku tidak ingin di ganggu siapapun."


Mereka bertiga pulang, Aldo yang memaksa agar Kevin tetap tinggal pun memilih ikut pulang. Entah apa yang ada di pikiran Kevin, membuat Aldo dan Jessica saling pandang dengan kebingungan.


Kevin pulang ke rumahnya. Langkah kakinya membawa Kevin menaiki tangga menuju kamar Regina. Kamar itu berantakan, alat make up dan segala kebutuhan perempuan yang awalnya tertata rapi di meja rias itu kini berserakan di lantai kamar. Selimut dan bantal yang terlempar kemana-mana. Hati Kevin masih bertanya-tanya, Regina menangis dan kecewa karena dirinya atau justru karena Anton.


Sebuah panggilan dari Aldo menyadarkan Kevin yang terduduk dengan pikirannya sendiri sembari memegang botol parfum milik Regina yang berada di lantai.


"Kak, kau di mana?" Tanya Aldo.


"Tidak, aku hanya bertanya. Aku pikir kakak kembali ke hotel." Ucap Aldo.


"Tidak. Aldo, apa kau yang menemukan Regina pingsan di kamar mandi?" Tanya Kevin.


"Iya, siapa lagi? apa kak Kevin ada di sana saat kak Regina pingsan?" Sindir Aldo.


"Saat kau masuk ke kamar Regina, apa kamarnya sudah berantakan?" Tanya Kevin.


Aldo diam sejenak, ia mengingat-ingat hal itu.


"Aku tidak tahu pasti kak, saat aku membuka pintu kamar, aku hanya fokus pada suara air di kamar mandi yang tidak tertutup itu. Tapi sepertinya memang sudah berantakan." Jawab Aldo.


"Baiklah, terima kasih." Kevin menutup panggilannya secara sepihak. Aldo menatap ponselnya sembari memaki Kevin.


Kevin memunguti barang yang berantakan itu, mengembalikannya pada tempat semula yang entah betul atau tidak ia menatanya.


Kevin duduk di tepi tempat tidur Regina yang sudah ia rapikan, pandangannya memutar melihat sekeliling kamar itu. Ada fotonya yang memakai jas dengan gaya cool di meja nakas Regina.


"Kenapa ada fotoku di sini?" Tanya Kevin pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Pikiran Kevin kembali teringat pada Regina yang belum makan dan minum obat. Ia berusaha mengusir Regina dari hati dan pikirannya, namun bayangan Regina bersama Anton kembali datang. Membuat keraguan di hatinya kembali hadir.


"Ah sial ! kenapa aku terus saja memikirkan dia !" Kevin meremas rambutnya merasa frustasi. Ia mengambil kunci mobil lalu melaju menuju rumah sakit.


Ia membuka pintu ruang rawat Regina perlahan. Ia mendekat pada Regina yang tidur, tangannya mengarah merapikan anak rambut Regina. Ada sisa air mata di wajah Regina, Kevin mendekatkan wajahnya pada Regina. Kevin kembali menarik dirinya untuk berdiri tegap begitu ia menyadari akan mencium kening wanita itu.


Kevin melihat meja nakas, Regina tidak menyentuh ataupun meminum obatnya. Semuanya masih utuh.


Kevin duduk di kursi samping tempat tidur Regina. Setelah cukup lama memandangi wajah Regina, ia menyandarkan kepalanya di samping tangan Regina lalu menutup matanya karena rasa kantuknya tidak bisa di tahannya lagi.


.


.


.


.


.


Silaunya sinar matahari masuk ke celah-celah ruang rawat itu, Regina membuka matanya karena tangannya terasa berat seperti ada yang menggenggamnya. Ia membulatkan matanya begitu melihat Kevin lah yang sedang tidur di kursi, menyandarkan kepalanya di samping lengannya.


Regina menarik tangannya yang di genggam Kevin, membuat pria itu membuka matanya. Kevin masih menyesuaikan pandangannya yang silau.


Kevin sudah duduk dengan tegap. Matanya bertemu dengan mata Regina, keduanya saling pandang dalam diam. Entah mengisyaratkan seperti apa isi di dalam pandangan mereka.


.


.


.




.


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian, di share dan juga di vote jika kalian sangat mencintai Kevin dan Regina. Beri dukungan pada hubungan mereka ya...

__ADS_1


Terima kasih ❤️


__ADS_2