
Hari sudah semakin sore, sunset pun sudah terlihat. Dan di waktu ini, Kevin dan Jenny akan mengambil sesi pemotretan dengan latar belakang keindahan sunset di pantai tersebut. Kali ini Kevin memakai setelan jas celana pendek dan Jenny memakai gaun berwarna putih yang menjuntai panjang di bagian belakangnya.
Regina diam, ia menahan sesak di dadanya. Ingin sekali rasanya menangis dan memukul dada serta tangan Kevin yang suaminya itu gunakan menyentuh tubuh Jenny.
"Tenang Regina, ini hanya iklan. Jangan membuat malu Kevin dan Ayah. Tenang, kau bisa mengatasi ini." Regina mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Begitulah Regina jika hatinya semakin panas dan panas.
Berulang kali Nuky mengatakan agar ia makan terlebih dahulu, Namun dengan galaknya Regina selalu menolak. Bahkan Regina tak segan membentak asisten kedua suaminya itu.
"Memang susah jika menghadapi kecemburuan seorang wanita." Gumam Nuky.
"Apa yang kau katakan?" Rupanya Regina mendengar gumaman Nuky.
"Tidak. Tidak ada Bu." Kilah Nuky.
"Kau pikir aku tidak mendengarnya? Memangnya siapa yang cemburu? Aku?" Regina menunjuk dirinya sendiri sembari berkacak pinggang pada Nuky.
"Aku tidak sedang cemburu." Lanjut Regina.
"Iya Ibu tidak cemburu. Tapi saya." Mengalah sudah Nuky.
Sebelum pemotretan di langsungkan, Kevin menghampiri Regina terlebih dahulu. Karena memang ia melihat istrinya itu memarahi Nuky dari kejauhan.
"Sayang.." Kevin melingkarkan satu tangannya ke pinggang Regina.
"Jangan menyentuhku. Tangan mu tadi habis menyentuh Jenny kan?" Tuding Regina, ia menghempaskan tangan Kevin yang melingkar di pinggangnya.
"Iya, lalu?"
"Jangan menyentuhku sebelum kau membersihkan tubuh dan tangan mu itu." Sungut Regina.
"Ya Tuhan...." Kevin sudah mulai jengah dengan sikap Regina. Rasa lelahnya semakin menjadi tatkala melihat sikap istrinya itu.
"Nuky, antar dia ke hotel saja. Mungkin satu atau dua jam lagi ini akan selesai." Perintah Kevin.
"Ba..."
"Tidak. Aku tidak mau kembali ke hotel." Tukas Regina. Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Mengatasi kecemburuan wanita memang serba salah. Kevin masuk ke penginapan, mengganti kemeja yang ia gunakan untuk syuting tadi dengan setelan jas untuk sesi pemotretan.
Regina mendudukkan tubuhnya dengan kasar. Wajahnya cemberut melihat Kevin yang sepertinya mengabaikannya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Pukul delapan malam, Regina dan Kevin baru sampai di hotel. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja. Nuky pun tidak berani berbicara, takut jika istri bosnya itu akan kembali mengomel. Cukup damai bagi Nuky, ia sudah lelah terus di marahi sejak tadi.
"Masuklah dulu, aku ingin berbicara dengan Nuky." Tak menjawab, Regina berlalu masuk ke kamarnya. Sementara Kevin ikut masuk ke kamar Nuky.
"Silahkan duduk pak."
"Bagaimana ?" Tanya Kevin sembari duduk bersandar di ujung kepala tempat tidur Nuky.
"Sangat memusingkan Pak." Ucap Nuky. Kevin tersenyum, ia masih membayangkan bagaimana Regina yang cemburu padanya tadi.
Setalah beberapa saat mengobrol dan memberi perintah pada Nuky untuk hari esok. Kevin segera kembali ke kamar. Regina membuka pintu setelah mendengar suara bel kamarnya berkali-kali. Awalnya ia enggan membukanya, ia tahu itu adalah Kevin. Namun mengingat Kevin yang sudah lelah dan butuh menyegarkan diri, ia pun membukakannya.
Regina sudah selesai mandi, rambutnya masih di gulung dengan handuk kecil. Tanpa berkata apapun, Kevin segera masuk ke kamar mandi. Ia butuh menyegarkan tubuhnya yang sudah lengket. Ia juga ingat ucapan Regina yang tidak ingin di sentuh sebelum ia membersihkan dirinya yang sudah di pegang-pegang oleh wanita lain.
Kevin keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Regina pura-pura tak melihat. Ia sibuk dengan dirinya sendiri. Suara bel pintu kembali berbunyi. Kevin menatap Regina yang tak kunjung beranjak.
"Regina, tolong bukakan pintunya. Itu pasti makan malam kita."
"Kau buka saja sendiri, kau tidak melihat aku masih sibuk dengan ponsel ku." Ujar Regina tanpa melihat pada Kevin.
"Baiklah, aku akan membukanya sendiri." Kevin melangkah ke arah pintu.
"Biar aku saja." Regina segera mendahului Kevin.
"Kau kesana lah. Pakai bajumu, apa masih kurang kau tebar pesona di pantai tadi." Imbuh Regina. Kevin tersenyum sembari menggeleng melihat kecemburuan Regina yang ternyata masih berlanjut.
Kevin sudah selesai memakai baju. Ia duduk di kursi tunggal hendak memakan malamnya.
"Kemarilah, makan malam. Aku tahu kau belum makan apapun sejak siang tadi." Kevin berucap, namun Regina tak menggubrisnya. Regina justru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Kevin mendekat, ia membawa satu piring yang berisi makanan itu lalu meletakkannya di meja nakas.
"Sayang, aku tahu kau sedang marah padaku. Tapi jangan menghukum dirimu sendiri. Makanlah, setelah itu kau boleh melanjutkan marah mu padaku." Ucap Kevin. Regina membuka selimutnya, duduk dan memasang wajah melas di depan Kevin. Air matanya sudah kembali ingin meluncur membasahi pipinya.
"Dengarkan aku.." Kevin menyentuh lembut pipi Regina.
"Maafkan aku jika sudah membuatmu marah dan cemburu seperti ini. Tapi percayalah, aku tidak merasakan apapun ketika berdekatan ataupun bersentuhan dengan Jenny. Hanya kau yang ada di hati ku." Tutur Kevin lembut. Ia meraih tubuh Regina ke dalam pelukannya. Membelai lembut rambut wangi istrinya itu sembari menghujani keningnya dengan ciuman lembut. Membuat air mata Regina benar-benar meluncur dengan derasnya, membasahi kaos Kevin dengan sendirinya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi. Aku berjanji, ini terakhir kalinya aku ikut menjadi bintang iklan seperti ini. Selanjutnya aku akan menolak itu. Ayah akan mengerti, aku akan menjelaskan padanya jika istriku ini sangat cemburu melihatku dengan wanita lain." Regina mencubit perut Kevin, membuat Kevin mengaduh namun ia dapat melihat senyuman kecil dari bibir istrinya itu.
"Sekarang kau harus makan, aku akan menyuapi mu." Kevin melepas pelukannya, mengambil piring dan menyuapi istrinya itu dengan telaten.
"Besok aku ada acara jumpa pers dan launching iklan hari ini. Apa kau mau ikut?" Tanya Kevin di sela-sela ia menyuapi Regina.
"Di mana?" Tanya Regina.
"Di hotel ini."
"Ada Jenny juga?" Tanya Regina lagi.
"Tentu, sayang. Dia kan model iklan ini."
"Aku tidak mau ikut. Aku di kamar saja." Ucap Regina.
"Apa kau yakin?" Kevin bertanya dan di jawab anggukan oleh Regina.
Pukul Sebelas malam, Regina membaringkan tubuhnya setelah selesai menelpon kedua orang tuanya. sementara Kevin masih sibuk dengan laptopnya.
Kevin memandangi tubuh Regina yang miring kesana kemari. Ia tahu istrinya itu tidak bisa tidur, ia pun mematikan laptopnya dan beranjak naik ke tempat tidur. Ia sudah duduk di samping tubuh Regina.
"Ada apa?" Tanya Kevin lembut.
"Aku tidak bisa tidur."
"Apa kau masih lapar?" Regina menggeleng.
"Apa kau mau aku peluk?" Tanya Kevin. Regina tersenyum dan mengangguk. Memang itu yang ia mau sejak tadi, namun ia terlalu malu untuk mengatakannya terlebih dulu.
Kevin mencium kening Regina lama lalu ia pun ikut berbaring dan memeluk Regina dari belakang.
.
.
.
.
.
Hai, apa kabar hatimu saat ini?
__ADS_1
Hampa nggak sih kayak hati ku ini. Hehe.
Saya bingung, gimana kalau cerita ini di tamatin aja. Gimana menurut kalian?