Pelaminan

Pelaminan
bab 44


__ADS_3

Kevin dan Regina melakukan aktivitasnya seperti biasa, sudah tiga hari ini Kevin tidak pulang dan masih mengatakan jika ia sedang keluar kota.


"Aku belum tahu, aku masih sibuk di sini." Balas Kevin pada Regina. Saat di telpon pun Kevin juga mengatakan hal yang sama.


Ada sesuatu yang mengganjal hati Regina, tidak adanya sebutan sayang dari Kevin membuat ia merasa gelisah. Pikiran aneh-aneh muncul di benak Regina.


Apa Kevin bosan padaku?


Atau Kevin punya kekasih baru?


Atau Kevin hanya memainkan perasaanku?


Pikiran itu yang selalu berlarian di pikiran Regina.


Siang itu Regina keluar kantor hendak mencari makan siang. Regina duduk di salah satu restoran sembari menunggu pesanannya datang. Regina menyipitkan matanya saat menangkap seseorang yang ia kenal duduk di meja yang sedikit jauh darinya.


"Jerry? bukankah itu Jerry?" Ujar Regina. Ia beranjak berdiri lalu berjalan mendekati meja Jerry.


"Jerry?"


"Ibu Regina. Silahkan duduk Bu." Jerry menoleh sembari menepiskan senyumnya.


"Kapan kau pulang?" Tanya Regina.


"Pulang?" Jerry mengernyitkan keningnya.


"Pulang dari mana maksud ibu?" Tanya Jerry.


Deeggg


Regina sadar bahwa ia sedang di bohongi oleh Kevin, suaminya.


"Eemmm, tidak. Apa sekarang Kevin ada di kantor?" Tanya Regina. Ia tidak ingin orang lain tahu permasalahan rumah tangganya.


"Iya Bu, tapi pak Kevin sudah tiga hari ini tidak datang ke kantor." Tutur Jerry yang mendapat tatapan bingung dari Regina.


"Maksud saya, pak Kevin bekerja di kantor Ayahnya sejak tiga hari yang lalu Bu." Lanjut Jerry.


"Oh.. Baiklah, lanjutkan makan siang mu. Aku pergi dulu." Pamit Regina pada Jerry, sebelum pergi ia membayar makanan yang sudah ia pesan namun sama sekali tidak di sentuhnya itu.


Regina duduk di mobil, ia belum melajukan mobilnya. Ia mencari kontak Kevin lalu memanggilnya. Berkali-kali Regina menelpon Kevin namun sama sekali tidak di jawab.


"Aldo !" Regina mencari nama kontak Aldo di ponselnya. Namun ia baru ingat bahwa ia belum mempunyai nomer ponsel Aldo. Tanpa pikir panjang lagi, Regina melajukan mobilnya menuju kantor Ayah Agung.


Sesampainya di kantor, Regina segera masuk. Kebetulan Aldo juga baru keluar dari kantin kantor.


"Aldo !" Panggil Regina.


Aldo menoleh, matanya menyipit begitu ia tahu ada kakak iparnya yang datang ke kantor.


"Kakak, ada apa kakak ke sini?" Tanya Aldo pada Regina yang sudah berdiri di depannya.


"Aku mencari Kevin, dia sudah tiga hari tidak pulang. Apa aku bisa bertemu dengannya? aku menelponnya tapi dia tidak menerimanya." Ujar Regina.


Kevin membulatkan matanya mendengar Kevin sudah tiga hari tidak pulang.


"Kakak, lebih baik kita ke ruanganku saja. Kita berbicara di sana." Ajak Aldo. Mereka berdua masuk ke dalam lift menuju lantai enam dimana ruangan Aldo berada.


Aldo mempersilahkan Regina duduk di sofa tamu di ruangannya.


"Jadi kak Kevin sudah tiga hari tidak pulang?" Tanya Aldo.


"Iya Al, Kevin bilang dia pergi ke luar kota bersama Jerry. Tapi aku baru saja bertemu dengan Jerry, Jerry bilang bahwa Kevin sudah tiga hari ini bekerja di kantor Ayah. Aku terkejut kenapa Kevin berbohong padaku." Kata Regina.


Aldo menyimak penjelasan Regina. Ia memang merasa ada yang kembali berubah dari Kevin. Kevin kembali menjadi pendiam dan gila kerja. Namun saat Aldo bertanya, Kevin selalu menjawab bahwa ia baik-baik saja.


"Lalu sekarang Kevin dimana, Al?" Tanya Regina.


"Kak Kevin..." Aldo menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Berusaha mencari kebohongan tentang keberadaan Kevin saat ini. Bukan bersekongkol dengan Kevin yang tidak pulang selama tiga hari ini, Aldo sudah di minta berjanji pada Kevin bahwa ia tidak akan memberitahu Regina di mana keberadaannya hari ini.


"Aldo, di mana Kevin?" Tanya Regina lagi.


"Kakak, Aldo tidak tahu jika kak Kevin tidak pulang ke rumah selama tiga hari ini. Aldo juga tidak tahu di mana kak Kevin tidur, tapi untuk kali ini Aldo tidak bisa memberitahu kakak tentang keberadaan kak Kevin saat ini. Kak Kevin tidak pernah ingin di ganggu setiap tanggal ini. Dia ingin sendiri." Tutur Aldo. Regina kembali bingung dengan penjelasan Aldo.


"Tapi Al..."


"Nanti aku akan bertanya pada kak Kevin dimana ia tinggal selama tiga hari ini. Lebih baik kakak sekarang kembali ke kantor." Tukas Aldo.


"Tapi Al..."


"Kak aku mohon, kak Kevin ingin sendiri di tanggal ini. Nanti aku akan bertanya pada kak Kevin. Sekarang kakak catat nomer ponsel kakak, nanti aku akan menelpon kakak." Aldo menyodorkan ponselnya pada Regina.


"Aldo, apa tanggal ini adalah hari penting untuk Kevin?" Tanya Regina yang sangat penasaran karena Aldo terus saja mengatakan bahwa Kevin tidak ingin di ganggu di tanggal ini.


"Aku tidak bisa memberitahu kakak, kak Kevin yang akan menjelaskan pada kakak." Ucap Aldo


"Baiklah, tapi tolong tanyakan pada Kevin di mana ia selama tiga hari ini." Pesan Regina yang di jawab anggukan kepala oleh Aldo. Regina pamit kembali ke kantornya.


.


.

__ADS_1


.


.


.


Hari sudah semakin gelap, Kevin segera beranjak untuk pulang.


"Aku pulang. Jangan bersedih, aku sudah lebih baik sekarang. Dan ingatlah, aku masih mencintaimu. Selalu mencintaimu." Ucap Kevin sebelum pulang. Setiap tahun, di tanggal dan bulan yang sama Kevin akan selalu mengatakan hal itu di pusara seorang gadis.


Kevin sampai di hotel, ia melepas kemeja hendak membersihkan dirinya. Sebuah panggilan dari Aldo membuat Kevin menghentikan langkahnya yang akan masuk ke kamar mandi.


"Iya Al? kau tahu kakak sudah pulang?" Tanya Kevin.


"Tentu kak, aku sudah memasang alarm jam pulang kakak di ponselku setiap tanggal dan bulan ini." Jawab Aldo.


Kevin tertawa kecil,


"Ada apa kau menelponku?" Tanya Kevin.


"Apa kakak sudah pulang?"


"Iya, kenapa?"


"Apa aku bisa berbicara dengan kak Regina? aku merindukannya." Sengaja Aldo mengatakan hal itu.


Kevin terdiam, bingung akan menjawab apa.


"Kak ?"


"Eh iya Al.. Regina masih di kamar mandi, nanti kau telpon lagi saja. Aku akan mengirim nomer Regina padamu." Kilah Kevin.


"Kak, jangan berbohong padaku."


"Berbohong apa?"


"Kakak tidak di rumah kan? kakak sudah tiga hari ini tidak pulang kan?" Cerca Aldo.


"Kata siapa? kau mendapat kabar itu dari mana? jelas-jelas aku ada di rumah sekarang." Kevin masih berusaha berkilah. Ia heran darimana Aldo tahu jika ia sudah tidak pulang selama tiga hari.


"Benarkah? kakak pulang ke rumah siapa?"


"Tentu rumah kakak sendiri Al, kau ini kenapa menginterogasi ku seperti itu. Sudah seperti istriku saja." Seru Kevin.


"Istrimu tadi ke kantor kak, dia mencarimu."


"Apa ??!!!" Teriak Kevin, Aldo menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Apa yang dia katakan? lalu kau mengatakan apa? kau mengatakan dimana aku hari ini?" Panik Kevin, ia meremas rambutnya merasa kesal pada dirinya sendiri..


"Jangan bodoh Aldo ! aku tidak sedang berselingkuh."


"Iya iya aku tahu. Kak Regina tadi siang bertemu Jerry, Jerry bilang bahwa kakak tidak keluar kota. Lalu kak Regina datang ke kantor mencari kakak. Aku tidak bilang di mana kakak hari ini. Tenanglah.." Tutur Aldo.


Kevin menghela nafas sembari mengelus dadanya merasa lega.


"Kak, sebenarnya kenapa kakak tidak pulang. Ada masalah apa?" Tanya Aldo.


"Tidak ada masalah apa-apa. Kakak hanya ingin sendiri untuk saat ini."


"Lalu di mana kakak sekarang? kenapa tidak pulang kemari saja."


Kevin ingin memberitahu bahwa ia sedang berada di salah satu hotel. Tapi ia yakin Aldo akan memberitahukannya pada Regina, sementara ia sedang berusaha menghindar dari istrinya itu. Ia takut rasa cintanya semakin tumbuh dan merekah saat ia bersama Regina. Kevin tidak ingin semakin jatuh cinta yang justru kembali membuat ia harus menekan pil pahit kekecewaan untuk kedua kalinya.


"Besok kakak akan pulang. Sekarang tutup telponnya, kakak ingin membersihkan diri."


"Baiklah kak, aku tahu kau tidak akan memberitahuku. Tapi aku ini Aldo. Aku punya seribu cara untuk menemukan keberadaan mu." Batin Aldo.


Aldo dan Kevin saling mengakhiri panggilan. Kevin memesan makanan dan minuman hangat pada pihak hotel, setelah itu ia pun masuk ke kamar mandi. Sedangkan Aldo, ia menghubungi Liana. Sekertarisnya.


.


.


.


.


.


Kevin keluar kamar mandi masih dengan handuk yang melilit pinggangnya. Suara bel pintu kamar hotelnya yang berbunyi berkali-kali membuat ia merasa kesal dan membukanya, ia yakin bahwa itu adalah makanan yang ia pesan.


"Apa kau tidak bisa menunggu se...." Seru Kevin yang terpotong, ia terkejut melihat bahwa Regina lah yang berada di depannya saat ini.


"Kevin......" Regina berhambur masuk ke pelukan Kevin. Rindunya selama tiga hari ini ingin ia habiskan hanya di dalam pelukan Kevin semalaman.


Rindu..


Regina sangat merindukan Kevin, perhatiannya, candaannya, dan sebutan sayang dari bibir Kevin.


Rindu...

__ADS_1


Kevin juga sangat merindukan Regina. Senyum serta sikap manjanya dan....tunggu dulu, apa ini? Kevin baru sadar ia masih belum memakai baju, hanya handuk yang melilit di pinggangnya.


Ah sial !!


Junior Kevin tiba-tiba bangun, sentuhan Regina membuat ia mengerang stres.


Bahaya, ini sangat bahaya bagi Kevin.


"Tunggulah di sini, aku akan memakai baju." Kevin mendorong pelan bahu Regina, ia segera berbalik mengambil kaos dan celana yang sudah ia siapkan di atas tempat tidur lalu berjalan masuk ke kamar mandi dengan cepat.


Saat Regina hendak menutup kembali pintu kamar, rupanya makanan dan minuman pesanan Kevin tiba. Ia segera menutup pintu begitu pegawai hotel pergi setelah menaruh makanan pesanan Kevin di meja.


Regina duduk di sofa, ia melempar senyumnya saat Kevin keluar kamar mandi dengan memakai kaos putih polos serta celana pendek warna mocca.


Bukannya duduk di sofa di samping Regina, Kevin justru mengambil kursi tunggal yang berada di meja kecil sebelah jendela untuk ia duduki.


Regina menatap Kevin penuh tanda tanya. Senyum yang ia tepiskan seketika sirna begitu melihat Kevin tidak ingin duduk di sampingnya. Regina ingat saat ia memeluk Kevin tadi, Kevin juga tak membalas pelukannya.


"Kevin..." Lirih Regina.


"Ada apa? darimana Nona tahu saya ada di sini?" Tanya Kevin.


Lagi, Regina kembali di buat heran atas ucapan Kevin.


"Apa ini? Nona?" Batin Regina.


"Aku tahu dari Aldo." Ucap Regina.


"Sudah ku duga." Gumam Kevin.


"Saya lelah Nona, jika tidak ada hal yang penting tolong anda segera pulang. Saya ingin beristirahat." Tutur Kevin.


Regina semakin di buat bingung serta terkejut Kevin kembali mengunakan bahasa formal padanya.


"Kenapa kau tidak pulang?" Seru Regina. Kevin diam, ia mengalihkan pandangannya. Tak tahan rasanya melihat mata Regina.


"Jawab aku ! kenapa kau tidak pulang? kenapa kau berbohong padaku? kenapa ?? ada apa ini??"


Marah, kali ini Regina marah karena Kevin tetap saja diam. Ia mencengkeram kuat ujung sofa. Emosinya meluap karena Kevin masih saja diam, diam dan diam.


"Saya rasa sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan Nona. Dan ya, maaf sudah membuat anda menunggu lebih dari satu bulan ini." Ucap Kevin. Ia memberanikan diri bersitatap dengan Regina.


"Apa maksud mu?" Tanya Regina.


"Kita sudah melanggar perjanjian, ini sudah satu bulan lewat dua hari. Yang artinya sebenarnya kita sudah harus berpisah sejak dua hari lalu. Tapi karena saya terlalu sibuk, saya lupa akan tanggal itu." Jawab Kevin. Ada rasa pedih di sudut hatinya saat mengatakan itu semua.


Regina masih diam, menahan air mata yang mencoba menerobos memaksa keluar.


"Apa kau benar-benar ingin berpisah denganku?" Tanya Regina.


"Iya, bukankah itu memang sudah perjanjian kita? Saya akan segera mengurus perpisahan kita. Anda duduk dan tunggu saja di rumah. Semuanya akan segera selesai." Ucap Kevin dengan entengnya bagi Regina. Tapi percayalah, leher Kevin seperti tercekik mengatakan semua itu.


"Tidak ! kita tidak bisa berpisah. Kenapa alasanmu ingin kita berpisah?" Tanya Regina.


"Karena kita hanya menikah selama satu bulan kan? seperti yang anda inginkan dan rencanakan sejak awal."


"Bagaimana jika suatu saat aku hamil?" Tanya Regina.


"Anda tidak akan hamil Nona."


"Kenapa kau begitu yakin? aku tahu kau melepasnya di dalam." Ujar Regina.


cihhh


Bibir Regina sangat tidak sopan mengatakan hal itu. Pelepasan ?? Terserah, Regina mengatakan hal yang benar. Ia sangat tahu Kevin melepasnya di dalam tubuhnya, bukan seperti saat pertama kali mereka melakukan itu setelah kejadian angin kencang dan lampu mati malam itu.


"Karena Anda mengonsumsi pil kontrasepsi." Ujar Kevin. Regina membulatkam matanya, ia sadar bahwa ia tidak pernah membeli ataupun mengonsumsi pil semacam itu.


"Tidak, aku tidak....."


"Anda meminumnya setiap malam. Anda ingat? vitamin yang aku berikan pada anda setiap malam? itu sebenarnya adalah pil kontrasepsi. Bukan vitamin." Tukas Kevin.


Air mata Regina kini benar-benar memaksa keluar. Mengalir deras membasahi pipinya. Harga dirinya seakan terinjak-injak saat mendengar penuturan Kevin. Bagaimana bisa ia tidak tahu jika ia mengonsumsi pil kontrasepsi. Regina merasa dirinya hanya sebagai alat pelampiasan Kevin semata.


Kevin merasa sangat jahat, ia akui memang menyuruh Regina meminum pil kontrasepsi tersebut. Bukan karena menganggap Regina sebagai alat pelampiasan, Kevin benar-benar belum yakin akan perasaan Regina padanya. Hal itu di perkuat saat ia mendapati Regina yang tengah duduk bersama Anton menikmati makan siang kala itu.


"Terima kasih sudah mengingatkan ku bertapa hinanya diriku ini. Sekali lagi ku ucapkan terima kasih tuan." Ucap Regina, ia menghapus air matanya lalu keluar meninggalkan Kevin.


.


.


.




.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa di like, comment and share ya, terima kasih 🤗❤️


__ADS_2