
Mata Kevin tak henti memandang wajah Regina, dan ya... juniornya kembali bangun.
"astagaaaa.... kenapa bangun lagi." batin Kevin.
Jantung Regina juga berdegup kencang, matanya menatap lekat ke dalam manik mata Kevin yang bersahaja.
Mata Kevin turun melihat bibir Regina, mungil namun sexy baginya. tanpa sadar jari jemari Kevin menyentuh pipi Regina, menjelajahi setiap lekuk wajah dan lehernya. Dan entah mengapa Regina tak menolak sentuhan lembut Kevin.
Kevin menelan kasar salivanya, wajahnya semakin ia dekatkan pada Regina.
Dan.....
Cuuuppp
Kevin mencium lembut bibir mungil Regina. tentu Regina terkejut, namun entah mengapa lagi-lagi ia tidak bisa menolak itu.
Regina merasakan nikmat dan membalas ciuman Kevin dengan lembut. tangannya meraih tengkuk leher Kevin dan semakin memperdalam ciumannya.
Tangan Kevin mulai bergerilya menelusuri setiap jengkal tubuh Regina. selimut yang awalnya menutupi tubuh mereka kini sudah jatuh ke bawah tak beraturan akibat di tendang oleh Kevin.
Kevin melepas jaket yang masih melekat sempurna di tubuh Regina, ia juga melepas kaosnya dan melemparnya ke sembarang arah. tangan Kevin masuk di balik tanktop Regina, menyentuh kulit perut wanita itu dan berhenti pada dua buah da** Regina.
Nafas panas keduanya semakin memburu dan tak beraturan, desiran panas di dalam tubuh keduanya semakin menjadi dan tak bisa di atur.
Regina merasakan nikmat saat kedua buah da**nya di remas oleh Kevin, tak lupa Kevin meninggalkan kissmark di leher dan da** Regina.
Seperti lupa hubungan seperti apa yang di miliki mereka, Kevin dan Regina semakin tak terkendali dan mencoba meraih dan memberi kenikmatan satu sama lain.
Tak masalah jika keduanya melakukan hubungan suami istri, toh mereka juga sudah sah. namun apa yang terjadi siang itu tidak seperti yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, bahwa mereka hanya berteman dan akan bercerai setelah satu bulan pernikahan.
Regina memang sudah lama menjalin hubungan dengan Anton, namun ia bukan tipe perempuan yang akan dengan mudah memberikan mahkotanya pada pria yang bukan suaminya. Ini adalah yang pertama bagi Regina, begitu juga dengan Kevin.
kenikmatan yang mereka rengkuh membuat lupa hubungan apa yang mereka miliki.
Tubuh keduanya kini tak terbalut oleh sehelai benang apapun, Regina mulai tak terkendali saat jari Kevin masuk ke pusat intinya.
Suara desahan Regina membuat Kevin membungkamnya dengan ciuman agar suara itu tidak sampai keluar kamar.
Setelah mencapai puncaknya, tubuh Kevin tersungkur lemas di atas tubuh Regina. tangan Regina memeluk tubuh Kevin yang penuh peluh kenikmatan tersebut.
Kevin turun dan menindih separuh tubuh Regina, ia mencium kening, pipi lalu mencium singkat bibir Regina sebelum ia menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Regina.
Setelah beberapa saat beristirahat untuk mengatur nafas dan tenaganya, Kevin bangun untuk mengambil selimut agar menutupi tubuh Regina sebelum ia pergi ke kamar mandi.
Kevin terhenyak, matanya melebar sempurna begitu ia melihat bercak darah di sprei.
Segera ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh Regina, dan ia juga segera mamakai bajunya.
Ia mendekati Regina yang masih terbaring lemas. di sibakkannya anak rambut yang menutupi wajah Regina.
"Nona..." panggil Kevin lembut.
Regina membuka matanya perlahan, dilihatnya wajah Kevin tepat di hadapannya dengan wajah panik.
"Nona, apa Nona terluka?.." tanya Kevin panik.
"apa maksud Tuan?" tanya balik Regina kebingungan.
"itu ada darah..." sahut Kevin tetap dengan wajah paniknya.
"mari saya antar ke Dokter Nona.." imbuh Kevin.
Regina sontak membelalakkan matanya dan mencoba duduk dan menahan sakit di pusat intinya.
"jangan bangun Nona, tidurlah..." Kevin mencoba mencegah Regina.
Regina memaksa duduk, ia meringis kesakitan seraya kedua tangannya memegangi selimut di dadanya yang menutupi tubuhnya.
"Tuan..dengarkan.. saya tidak sakit, saya tidak perlu periksa ke Dokter." jelas Regina yang berusaha memberi pemahaman pada Kevin. Meskipun ini yang pertama untuknya, Regina cukup tau jika akan terjadi pendarahan saat hubungan **** pertama ya meskipun tidak semua wanita mengalaminya. Dan bukan berarti wanita yang tidak mengalami pendarahan pada **** pertama itu tidak perawan. setiap wanita itu berbeda-beda.
"tapi Nona, ada darah..." wajah Kevin tetap panik.
Regina menghela nafas merasa kesal, ia bingung bagaimana menjelaskan itu pada Kevin. tapi dari sini Regina tau jika ini adalah yang pertama juga untuk Kevin.
"Tuan.. ini biasa terjadi pada hubungan **** pertama." ucap Regina tanpa sadar, ia pun membelalakkan matanya setelah menyelesaikan kata ****, dan kata pertama.
Regina beranjak bangun dan berjalan ke arah kamar mandi dengan susah payah karena selimut yang melilit tubuhnya dan pangkal pahanya juga sakit untuk berjalan.
"Nona..." Kevin mengikuti Regina.
__ADS_1
Regina menutup pintunya dengan kasar. Kevin terdiam di depan pintu melihat reaksi Regina. Ia kini sadar jika ia sudah berbuat kesalahan dengan menyentuh Regina.
Kevin berjalan keluar kamar,wajahnya tampak sangat frustasi memikirkan apa yang sudah ia lakukan. Kevin merasa bersalah, ia mengingkari apa yang sudah ia dan Regina bicarakan tentang pertemanan dan perceraian.
"sialan !!! kenapa aku bisa lupa diri!! kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri!! sekarang bagaimana aku harus menghadapinya." batin Kevin kesal dengan dirinya sendiri.
Kevin menuruni tangga dengan cepat, di lihatnya bi Tanti sedang membersihkan lemari kaca transparan yang berisi foto-foto Kevin.
"bi..." apa Kevin.
Bi Tanti pun menoleh dan mendekat ke arah Kevin.
"bi tolong buatkan saya kopi dan buatkan susu untuk Nona Regina bi, antarkan ke kamar kami masing-masing." perintah Kevin.
"iya Tuan.." bi Tanti segera ke dapur membuatkan apa yang di inginkan Kevin. bi Tanti melihat wajah frustasi Kevin, namun ia tidak berani bertanya karena itu memang bukan urusannya.
Bi Tanti segera mengantar kopi ke kamar Kevin lalu segera naik ke lantai dua untuk mengantar susu pada Regina.
T**ok tok tok
"nyonya..." panggil bi Tanti.
Mendengar suara bi Tanti, Regina segera membuka pintu kamarnya.
"iya bi.."
"nyonya, tuan Kevin menyuruh saya membawakan susu untuk nyonya." bi Tanti menyodorkan nampan berisi segelas susu hangat.
Regina mengambil gelas tersebut lalu berterima kasih pada bi Tanti.
Bi Tanti kembali turun dengan pikiran yang terus bertanya-tanya kenapa mata Regina terlihat habis menangis, dan tadi ia juga melihat wajah Kevin yang frustasi.
.
.
.
.
.
Kevin beranjak duduk di sofa untuk menikmati kopinya. baru se-sruput, ponsel Kevin berdering dan tertera nama tuan Surya di layarnya.
"Tuan Surya meneleponku?? bagaimana ini... apa aku harus mengangkatnya?" Kevin menatap nanar layar ponsel yang sudah ia genggam.
Butuh waktu lama Kevin untuk menerima panggilan itu. Baru saja ia ingin menggeser logo panggil hijau, panggilan itu sudah mati terlebih dahulu.
"selamat....." Kevin mengusap dadanya merasa lega.
Kevin kembali meletakkan ponselnya di meja namun Tuan Surya kembali menelponnya.
Merasa tidak enak Kevin pun akhirnya menerima panggilan itu.
"iya Tuan?" tanya Kevin gugup.
"Kevin, ini Mami Regina.." sahut suara di seberang.
"oh iya maaf Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kevin lagi.
"Kevin, ponsel Regina mati.. Aku sangat khawatir padanya, semalam hujan angin, Regina sangat takut jika terjadi hujan angin, biasanya dia akan memelukku jika terjadi hujan angin. apa semalam dia baik-baik saja?" Suara mami Ira terdengar sangat khawatir.
"Nona Regina baik-baik saja Nyonya, semalam saya menemani dia tidur. dia baru bangun, apa anda ingin berbicara dengannya?"
"iya Kevin, apa boleh?" tanya mami Ira.
"tentu Nyonya, sebentar saya akan memberikan ponselnya pada Nona Regina." Kevin pun keluar kamar hendak memanggil bi Tanti dan menyuruhnya untuk memberikan ponselnya pada Regina.
Kevin mendengar suara air dari kamar mandi dekat dapur, ia tidak mungkin mengetuk pintunya dan menyuruh bi Tanti. Akhirnya ia sendiri pergi ke lantai atas menuju kamar Regina.
Kevin gugup, tangannya maju mundur hendak mengetuk pintu kamar Regina.
"Kevin?.. apa Regina masih tidur?" Suara Mami Ira yang sudah tidak sabar menunggu lagi.
"tidak Nyonya, sebentar.."
Kevin pun mengetuk pintu kamar Regina tiga kali, Regina membuka pintu dan terkejut melihat bahwa Kevin yang berdiri di depannya saat ini.
"Nona maaf, ini Mami anda menelpon..."
__ADS_1
Kevin menyodorkan ponselnya dengan suara dan tangan yang gemetar. Regina bisa melihat tangan Kevin yang gemetar, dengan cepat ia pun mengambil ponsel itu agar tidak bertatap muka dengan Kevin lebih lama lagi.
"terima kasih.." ucap Regina lalu ia pun menutup pintunya dari dalam.
Kevin pun kembali turun ke lantai satu.
"Tuhan.... aku tidak sanggup bertatap muka dengannya jika seperti ini..." Kevin mengusap kasar wajahnya.
Ia memilih masuk ke ruang gym untuk menyegarkan diri dan berusaha melupakan apa yang sudah terjadi.
Setelah Regina selesai bertukar kabar dengan Maminya, ia pun berniat mengembalikan ponsel Kevin. baru saja Regina menyentuh gagang pintu, ponsel Kevin berdering dan tertera nama Ayah di ponselnya.
Regina segera turun mencari Kevin, ia melihat kamar Kevin terbuka dan memanggilnya. Regina pun pergi karena tidak ada sahutan dari sang pemilik kamar.
"bi... Tuan Kevin dimana?" tanya Regina yang melihat bi Tanti keluar dari kamar mandi.
"jika Tuan tidak ada di kamar, biasanya dia ada diruang gym Nyonya, ruangan di sebelah taman belakang." jawab bi Tanti.
Regina ingat ia pernah melihat ruangan yang terbuat dari kaca. Regina segera menuju ruang gym.
Regina langsung membuka pintu dan menghampiri Kevin yang bertelanjang dada serta terlihat keringat yang menetes dari tubuhnya.
Kevin berdiri gelagapan saat melihat Regina sudah di depannya.
"Tuan maaf, ini Ayah anda menelpon.." Regina menyodorkan ponsel Kevin.
"oh iya terima kasih."
Kevin Segera menerima panggilan dari Ayahnya.
"halo Yah..."
"kau dari mana saja Vin, lama sekali mengangkat telpon dari Ayah."
"maaf Yah, Kevin sedang di ruang gym.."
"apa kau tidak bekerja hari ini?"
"tidak Yah. ada apa Ayah menelpon Kevin?"
"Ayah ingin bertanya, apa kau sudah menelpon adikmu dan menyuruhnya pulang?"
"astaga... Kevin lupa Yah." Kevin memukul jidatnya dengan telapak tangan.
"kau ini bagaimana Vin, dari kemarin Ayah menyuruhmu menelponnya. memangnya apa yang kau lakukan dari kemarin sehingga lupa menelpon adikmu." marah Ayah Agung.
"iya maaf Yah, Kevin lupa.. Kevin tidak ingat."
"dari dulu yang namanya lupa itu pasti tidak ingat ! ya sudah telpon adikmu sekarang." perintah Ayah Agung.
"iya Yah..."
Ayah Agung mengakhiri panggilannya agar Kevin bisa segera menelpon adiknya.
"Tuan...." suara Regina menyadarkan Kevin bahwa masih ada Regina di belakangnya.
"iya Nona.." Kevin tidak ingin bertatap muka, namun entah kenapa matanya tidak bisa beralih menatap wanita di depannya ini.
"Terima kasih, dan maaf karena Mami saya menelepon dari ponsel Anda.." ucap Regina menunduk. ia meremas ujung kaosnya merasa kikuk sekaligus takut melihat mata Kevin.
"tidak Nona, itu hanya telpon. jangan sungkan seperti itu." sahut Kevin yang tak kalah kikuk.
Regina permisi keluar dan meninggalkan Kevin yang terus menatapnya sampai punggung wanita itu hilang di balik pintu.
Kevin segera mencari kontak nama adiknya, ia menekan logo panggil hijau pada kontak yang bernama Aldo.
.
.
.
.
.
@ummy_wachida_
❤️❤️
__ADS_1