
Mulai hari ini, Kevin akan mengantar dan menjemput Regina bekerja. Dengan senang hati, Regina mengiyakan ucapan suaminya tersebut. Masih di mobil dalam perjalanan menuju kantor Papi Surya, Kevin sempat di buat kesal dengan deringan ponselnya.
"Untuk apa dia meneleponku sepagi ini !"
"Siapa?" Regina menoleh. Tidak menjawab, Kevin memilih mematikan ponselnya dan kembali fokus dengan kemudinya. Mobil Kevin pun berhenti tepat di depan lobby kantor Papi Surya.
"Hanya begitu saja?" Kevin menahan pergelangan tangan Regina. "Lalu?" Tanya Regina.
"Begini." Kevin meraih tengkuk leher Regina, menariknya lebih dekat lalu mencium bibir manis sang istri. Regina tersenyum malu setelah Kevin selesai menciumnya.
"Setiap berangkat dan pulang, kau harus mencium ku seperti itu." Perintah Kevin. Iya, begitulah nada suara Kevin. Bukan lembut dan romantis, namun suaranya terdengar seperti sebuah perintah bagi Regina.
"Kau tidak mau?" Tanya Kevin karena Regina tetap diam.
"Aku mau." Ucap Regina.
"Kau sangat menginginkannya?" Tanya Kevin lagi.
Cihh, Regina berdecak kesal melihat ekspresi wajah Kevin. Sudah jelas jika ia yang sangat menginginkan itu, tapi suaminya itu justru terkesan melempar batu sembunyi tangan.
"Iya iya, baiklah, aku yang menginginkannya. Puas kau ?" Mengalah sudah. Mereka sudah terlalu lama di dalam mobil, sampai security memandang penuh selidik pada mobil mereka. Kevin terkekeh mendengarnya ucapan Regina.. Sebelum Regina benar-benar keluar, ia kembali mencium Regina lama, kali ini ia menciumnya di kening. Sangat hangat dan nyaman.
Kevin melajukan mobilnya setelah Regina masuk ke gedung tempat di mana ia bekerja membantu sang Papi dalam mengelola perusahaan mereka.
Kevin berniat mampir ke kantor WO-nya terlebih dahulu, mengecek hasil kerja dan para karyawannya yang sudah setia bekerja padanya selama ini. Belum sampai masuk ke kantornya, Jerry segera menghampiri Kevin yang baru keluar dari mobilnya.
"Pak," Jerry mendekat.
"Ada apa?"
"Bapak harus kembali ke kantor, Ayah anda sekarang, Adik anda baru saja menelpon saya." tutur Jerry. Kevin baru ingat jika ia mematikan ponselnya tadi.
"Seingatku tidak ada meeting hari ini, lalu kenapa Aldo menyuruh ku segera ke kantor, Ayah. Kan aku sudah bilang jika aku akan kesini terlebih dahulu."
"Saya tidak tau pak, tapi tadi nada suara adik anda seperti sedang panik." Ucap Jerry. Kevin pun segera melajukan mobilnya menuju kantor Ayah Agung.
"Selamat pagi, Pak." Ucap security sembari menerima kunci mobil Kevin. Kevin menjawab singkat sapaan security tersebut lalu ia mempercepat langkahnya memasuki lift untuk menuju ruangan Aldo.
"Ada apa Al----" Kevin mematung dan masih memegang handle pintu, ia berhenti melangkah begitu melihat ada Carlyn yang duduk di sofa ruangan kerja Aldo.
"Hai, Vin." Sapa Carlyn dengan senyumnya. Aldo beranjak berdiri menghampiri Kevin yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Sebentar, Nona Carlyn, saya ingin berbicara sebentar dengan kakak saya." Carlyn mengiyakan. Segera Aldo menarik tangan kakaknya untuk keluar, menutup pintu perlahan tanpa menimbulkan suara.
"Kenapa dia ada di sini?" Tanya Kevin geram.
"Dia mencari mu, kak." Kevin berdecak kesal, kedua tangannya berada di pinggangnya.
"Katanya, dia sudah menelpon mu tadi. Tapi, kakak justru mematikannya." Lanjut Aldo.
"Jelas aku mematikannya, untuk apa di menelpon ku? Aku masih di mobil bersama Regina, tadi." Geram Kevin.
"Sudahlah, temui dia saja dulu. Kasihan dia sudah jauh-jauh datang kemari." Kevin diam, ia masuk ke ruangannya. Aldo kembali masuk ke ruang kerjanya, ia pun menyuruh Carlyn untuk menyusul Kevin di ruangannya.
Setelah mengetuk pintu, Carlyn segera melangkah masuk begitu Kevin mempersilahkannya. Carlyn duduk di sofa double, dan Kevin duduk di sofa tunggal di sebelah Carlyn.
"Ada yang bisa ku bantu, Carlyn?" Basa-basi Kevin.
"Iya. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Baiklah, katakan." Sebelum Carlyn mengatakan maksudnya menemui Kevin, Liana masuk membawa kopi untuk Kevin dan teh untuk Carlyn.
"Katakan." Ucap Kevin setelah Liana keluar.
"Aku tidak bisa mengatakannya di sini, apa kita bisa berbicara di luar saja?"
"Kenapa? Di sini tidak ada siapa-siapa. Hanya kau dan aku." Ujar Kevin. Ia sangat ingin menyuruh Carlyn segera pergi, namun benar kata Aldo, kasihan Carlyn sudah jauh-jauh datang menemuinya.
"Aku tau, tapi aku tidak nyaman mengatakan hal itu di sini. Begini saja, nanti malam temui aku di hotel di mana aku menginap. Kita mengobrol di cafe saja, apa bisa?"
Kevin diam sejenak, ia menimbang penawaran Carlyn. Walau sejujurnya ia ingin menolak karena ingin menghabiskan waktu bersama Regina. Tapi lagi-lagi karena rasa sungkan, akhirnya Kevin pun mengiyakan ajakan Carlyn.
"Sayang, tunggu sebentar. Aku baru keluar kantor."
"Iya aku menunggu mu. Berhati-hatilah." Kevin dan Regina sama-sama mengakhiri panggilan mereka. Regina duduk di sofa lobby kantor menunggu suaminya. Sementara Papi Surya sudah pulang terlebih dulu, ia sempat menawari putrinya itu untuk ia antar pulang. Namun Regina menolak dan tetap memilih menunggu suaminya datang menjemputnya.
Kevin turun, berjalan masuk ke lobby kantor menghampiri sang istri yang tengah sibuk menatap layar ponsel.
"Sayang." Kevin menyentuh lembut ujung kepala Regina lalu ikut mendudukkan tubuhnya di samping Regina.
"Kau mengejutkan ku saja."
"Tidak. Kau saja yang sibuk dengan ponselmu. Memangnya kau sedang mengirim pesan pada siapa?" Tanya Kevin.
__ADS_1
Regina memiringkan duduknya, menghadap Kevin yang sibuk bermain dengan ujung rambutnya.
"Jessica, dia ingin berkunjung ke rumah malam ini. Apa boleh?"
"Boleh. Malam ini aku juga ada acara di luar. Tidak apa kan jika kau di rumah bersama Jessica?" Tanya Kevin balik. Tanpa bertanya acara apa yang maksud Kevin, Regina pun mengangguk sembari menepiskan senyumnya.
Kevin maju, mendekatkan wajahnya pada wajah Regina.
"Apa yang kau lakukan?" Seru Regina, ia menahan dada Kevin dengan kedua tangannya.
"Tck. Kau lupa ?" Kedua alis Kevin menyatu.
"Aku tidak lupa, tapi ini masih di kantor. Ada security dan beberapa karyawan yang belum pulang. Ada cctv juga." Regina menunjuk cctv yang berada di pojokan atas.
"Ya sudah, ayo." Kevin menarik tangan Regina, membukakan pintu mobil untuk Regina, lalu ia pun memutari mobil untuk duduk di kursi belakang kemudi.
Cuupp
Kevin sudah tak bisa menahannya lagi. Cukup lama, lalu ia pun melepas ciumannya setelah Regina memberi sedikit gigitan di bibirnya karena tangan Kevin mulai kemana-mana. Meski mengaduh kesakitan, namun Kevin sangat puas dan bahagia dengan rutinitas barunya ketika mengantar dan menjemput istrinya tersebut.
"Kita belum di rumah !" Seru Regina. Kevin tersenyum simpul. Ia menyentuh lembut pipi Regina lalu mulai melakukan mobilnya.
"Hai, Re !! Aku sangat merindukanmu." Jessica berhambur ke pelukan Regina.
"Kau lupa padaku." Wajah Jessica sedih, tangannya masih memeluk erat sahabatnya itu.
"Kau ini bicara apa? Mana mungkin aku lupa pada gadis galak ini." Regina mengendurkan pelukannya, menatap wajah sedih Jessica.
"Ayo masuk." Ajak Regina. Kevin yang selesai bersiap pun menghampiri sang istri yang berada di dapur bersama Jessica.
"Kau tidak makan malam dulu?" Tanya Regina.
Kevin menyentuh lembut pipi Regina.
"Aku sudah terlambat. Tidak apa kan? Kau makan saja bersama Jessica." Regina mengangguk. Kevin mendekat hendak mencium Regina, namun seruan Jessica seketika menghentikan Kevin.
"Oh Tuhan, jangan biarkan aku merana melihat sepasang suami istri ini !" Jessica mendongakkan wajahnya dengan kedua tangan yang menengadah ke atas layaknya orang berdoa.
"Oh Tuhan, mana ada pria yang mau menikah dengan gadis galak ini." Regina ikut berseru. Membuat Jessica merengut kesal, ia pun memilih keluar dapur demi menghormati hati dan perasaannya sendiri.
"Baiklah, aku berangkat." Kevin mencium puncak kepala Regina.
__ADS_1