Pelaminan

Pelaminan
Bab 57


__ADS_3

Ayah Agung dan bunda Hana semakin mendekat. Kevin berdiri, sontak Regina juga mengikuti pergerakan suaminya itu.


"Bagus !" Ayah Agung mengacungkan jempol pada Kevin. Di ikuti senyuman tulus dari bunda Hana.


"Eh ! Apanya yang bagus? Dan itu kenapa bunda tersenyum padaku?" Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepala Regina.


Kembali duduk. Menyeruput teh yang di suguhkan bi Tanti. Regina meremas jari jemarinya, menunduk takut karena sejak tadi bunda Hana terus saja memandanginya.


"Sayang.." Panggil Kevin.


"Eh iya !" Regina menoleh.


"Aku akan berbicara sebentar dengan ayah, tunggulah di sini."


"Tapi..." Suara Regina melemas, ia ingin protes. Atau kalau bisa ia akan lari secepat mungkin pergi meninggalkan rumah itu.


Aldo turun, senyumnya mengembang bisa melihat kakak iparnya lagi.


"Kak." Sapa Aldo.


"Apa?"


"Aku memanggil kak Regina, bukan memanggil mu !" Aldo masih sedikit marah pada Kevin. Mengingat hal bodoh dan menjijikkan yang di lakukan Kevin pada Regina.


Kevin menghela nafas dengan kasar. Adiknya ini memang akan seperti itu jika sedang marah dengannya.


"Apa kabar kak?" Tanya Aldo.


"Baik Al." Senyum Regina.


"Tunggulah di sini. Aku, ayah dan Aldo akan bicara sebentar." Kevin menepuk kepala Regina lembut.


"Ayo Al." Kevin berdiri, mengajak Aldo.


"Duluan saja." Ketus Aldo.


"Astaga Al... Aku sudah membawa kembali istriku dan mengakui segala kesalahanku, tapi kau masih saja seperti itu padaku." Ujar Kevin. Aldo melengos.


"Karena kau memang brengs** !! Harusnya kak Regina menghukum mu. Tapi rupanya kak Regina sangat mencintai mu, maka dari itu dengan mudah dia memaafkan mu."


"Kata siapa aku memaafkannya?" Sahut Regina.


Eh ! Regina seketika menutup mulutnya rapat-rapat begitu ia ingat ada bunda Hana di depanya.


Aldo tertawa mendengar ucapan dari kakak iparnya.


"Rasakan ! Malam ini kau akan tidur di luar. Tos dulu kita kak." Aldo beranjak mendekat pada Regina. Ia mengangkat tangannya untuk bertos ria dengan Regina. Dengan ragu dan sedikit takut, Regina menyambut tangan Aldo bertos ria.


"Adik sialan !" Umpat Kevin.


"Kau ! Bukan aku. Siapa juga yang menyuruh mu menjadi suami yang brengs** !" Sungut Aldo. Ia berjalan melewati Kevin menyusul ayahnya yang sudah lebih dulu masuk ke ruang kerja.


"Kau semakin lama semakin mirip dengan Jessica." Ucap Kevin. Mengekor di belakang Aldo.


"Siapa Jessica?" Sahut bunda Hana.


"Calon menantu bunda." Ucap Kevin sambil terkekeh geli sendiri dengan ucapannya.


Aldo berbalik. Menatap tajam pada Kevin.


"Kakak jangan sembarangan bicara, aku membencinya. Dia wanita bar bar !" Seru Aldo.


"Benci itu cinta Al." Kevin mendahului Aldo yang sibuk dengan kegeramannya sendiri.


Kevin dan Aldo sudah duduk di kursi depan meja kerja ayah Agung.


"Sudah bertengkarnya ?" Tanya ayah Agung yang sudah sangat hafal pertengkaran kedua putra kebanggaannya ini.

__ADS_1


"Sudah Yah." Jawab Aldo dan Kevin kompak.


Kevin memulai pembicaraan mengenai kontrak iklan terbaru untuk brand perhiasan mereka di negara A.


"Kevin memang mau masuk di perusahaan, tapi bukan berarti Kevin mau ikut terjun di iklan itu Yah. Sudah cukup iklan dengan Carlyn kemarin. Itu sudah sangat menggangguku." Kevin melayangkan protes.


"Tapi Vin, wajah mu itu bisa menjual jika membintangi iklan. Ini kan juga iklan brand kita, jadi apa salahnya?" Tanya ayah Agung.


"Wajah Aldo juga bisa menjual Yah."


"Iya, aku juga tampan. Tapi sayangnya mereka tetap tertarik padamu." Sahut Aldo.


"Tapi sepertinya bukan dari management yang tertarik, tapi dari model itu sendiri. Sama seperti Carlyn kemarin." Imbuh Aldo.


"Kau benar." Lesu Kevin.


"Ingat, kau sudah punya istri !" Seru Aldo.


"Sudah sudah ! Ini kenapa jadi membahas masalah pribadi di sini. Kalian seperti anak kecil saja." Sungut ayah Agung.


"Dan kau Aldo. Jika kau masih ingin mengumpat dan menyindir kakak mu ini, nanti saja setelah pembahasan ini selesai." Lanjut ayah Agung.


"Maaf Yah..." Ucap Aldo.


"Kevin tetap tidak mau Yah. Kalau ayah tetap memaksa Kevin, Kevin akan keluar dari perusahaan dan kembali dengan WO milik Kevin sendiri." Ujar Kevin tegas.


"Tapi Vin..."


"Jangan bilang ayah sudah menandatangi kontrak itu dan setuju kalau kak Kevin yang menjadi modelnya." Sahut Aldo. Kevin menoleh pada Aldo lalu beralih melihat ayahnya yang sedang tersenyum sembari menyentuh pelipisnya itu.


"Ayah !" Protes Kevin.


"Untuk kali ini saja Vin, ini yang terakhir. Semoga saja tidak ada lagi yang tertarik dengan wajah mu itu." Ucap ayah Agung. Kevin menyandarkan punggungnya pada kursi, menghela nafasnya dengan kasar.


"Aku justru takut kalau lama kelamaan banyak produser yang akan menawari kontrak film untuk kakak." Ucap Aldo, entah kenapa ia ingin selalu menggoda Kevin. Menyindir atau mengumpatnya. Apalagi jika itu sudah menyangkut kesalahan kakaknya ini pada kakak iparnya.


"Tiga hari lagi kau akan berangkat ke negara A."


"Hemm" Sahut Kevin.


.


.


.


.


.


Sejak ketiga pria itu menghilang di balik pintu ruang kerja, Regina menunduk takut. Ia berjengkit kaget begitu ada tangan yang menyentuh pundaknya.


"Regina." Bunda Hana duduk di samping Regina. Ia tahu menantunya ini sangat ketakutan melihatnya.


Regina diam, ia melirik sebentar lalu kembali menunduk. Menghindari bertatap mata dengan ibu mertuanya.


"Maafkan Kevin." Ucap bunda Hana tulus. Regina masih menunduk, mencoba memahami apa maksud sesungguhnya yang ingin di sampaikan bunda Hana.


"Anak bunda sudah sangat keterlaluan, kesalahannya itu ikut membuat hati bunda seperti teriris. Harusnya dia mengatakan sejak awal apa yang ada di hatinya padamu, bukan berkutat dengan pikirannya sendiri." Ucap bunda Hana lembut. Bertolak belakang dengan sikap bunda Hana pada Regina saat pertama kali mereka bertemu. Regina masih menunduk, diam seribu bahasa.


"Bunda terlambat menyadari kehadiran mu di hati dan hidup Kevin. Kamu bisa membuat Kevin hidup lagi. Setelah apa yang ia alami sejak kema...." Air mata bunda Hana menetes, Regina mendongakkan wajahnya begitu ia melihat tetesan air mata yang jatuh di pangkuan bunda Hana.


Bunda Hana segera menghapus air mata atau, tersenyum menatap wajah menantunya yang juga sudah menatapnya.


"Maafkan Kevin, bunda harap kau memberi kesempatan padanya untuk membuktikan betapa dia sangat mencintaimu. Juga maafkan bunda yang sudah memberi kesan buruk padamu saat pertama kali kau menginjakkan kaki di rumah ini." Regina masih menatap wajah sendu ibu mertuanya.


"Maukah kau memaafkan bunda dan Kevin ?" Bunda Hana menyibakkan rambut Regina ke belakang telinga.

__ADS_1


"Eemmm, bun...da.." Ucap Regina terbata-bata.


"Iya nak, tolong maafkan bunda." Bunda Hana menyatukan kedua tangannya di dada.


"Bunda jangan seperti ini." Regina menurunkan tangan bunda Hana.


"Harusnya Regina yang meminta maaf, Regina datang di keluarga ini dengan cara yang tidak baik. Regina terlalu larut dengan kesedihan sampai lupa jika ada orang yang harus Regina hormati saat Kevin dengan sukarela menjemput Regina di pelaminan. Maafkan Regina.." Ucap Regina yang masih menggenggam tangan ibu mertua yang kini sudah bisa menerimanya.


"Tidak nak, harusnya bunda mengerti keadaan mu. Bunda hanya terkejut dengan keputusan Kevin."


"Sekarang, bunda harap kau bisa memaafkan Kevin meskipun itu sulit. Bunda tahu bagaimana perasaan mu. Putra bunda memang sudah sangat keterlaluan." Imbuhnya. Regina hanya diam, tidak tahu harus mengatakan apa.


Maaf ? Nyatanya Regina belum bisa memaafkan Kevin. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa melupakan semua itu dengan mudah. Bahkan bertahun-tahun pun wanita tidak akan pernah bisa melupakan kesalahan suaminya.


Tapi ketika pikirannya ingin melangkah pergi meninggalkan Kevin, hatinya berontak dan kakinya tidak bisa di ajak kompromi mengenai hal itu. Kakinya berat untuk melangkah begitu Kevin melontarkan kata maaf padanya.


.


.


.


.


.


Ayah Agung, Aldo dan Kevin keluar dari ruang kerja. Kevin akhirnya mengalah dan harus siap membintangi iklan lagi. Meskipun ia sangat tidak menyukainya, ia harus tetap melakukannya demi perusahaan keluarganya. Demi dan demikian...


"Regina ?" Kevin tak mendapati Regina di ruang tamu. Ia panik, takut jika Regina pergi meninggalkannya lagi.


"Bunda ?" Aldo dan Ayah Agung ikut panik. Melihat bunda Hana juga tidak ada membuat ketiga pria itu berpikiran macam-macam.


"Kak, apa bunda....." Ucap Aldo menggantung.


"Tidak mungkin, jelas-jelas kemarin bunda juga menyuruh untuk mencari Regina. Itu berarti bunda sudah bisa menerima Regina." Kevin berusaha mengusir pikiran itu dari kepalanya.


Kevin berteriak memanggil nama istrinya, ia berlari keluar rumah mencari istrinya.


"Regina... Kau di mana? Jangan pergi, jangan meninggalkan ku." Teriak Kevin. Ia sangat takut jika hal itu benar terjadi.


"Bunda...." Kevin kembali masuk ke rumah mencari bundanya, meminta penjelasan dan menanyakan keberadaan istrinya.


.


.


.


.


.


Holla.....


Up lagi saya 😊


Mau curhat dikit boleh kan? Boleh lah ya..boleh..hehe.


Kalian semua pasti udah baca peraturan baru di NT/MT kan?


Jujur, saya down banget setelah membaca itu. Rasanya jari-jari ini lemes banget buat ngetik naskah lagi. Pengen stop aja, huhuhu. Penulis amatiran kayak saya ini hanya bisa gigit jari.


Tapi ya sudah lah, itu sudah jadi ketentuan dari pihak NT/MT. masalah rejeki itu sudah ada yang atur.


Saya akan tetap menyelesaikan cerita Regina dan Kevin. Ada untungnya apa enggak ya itu terserah Allah saja, gimana ngaturnya. 😊


Saya akan tetap mencoba memberi kepuasan untuk kalian yang sangat mencintai Kevin dan Regina.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah bersedia memberi like, meninggalkan komentar dan juga vote untuk cerita receh saya ini. 😊


__ADS_2