Pelaminan

Pelaminan
bab 15


__ADS_3

"dasar bodoh ! bodoh ! bagaimana aku bisa lupa jika aku tadi merobek bajuku dan duduk santai di depannya tanpa rasa malu" Regina merutuki kebodohannya seraya memukul jidatnya berkali-kali.


"loh bajuku ?" Regina membuka koper tapi justru bajunya tidak ada semua. ia melihat sekeliling kamar mencari bajunya, matanya tertuju pada almari yang tertutup rapi. Regina pun membukanya dan terkejut karena bajunya sudah tertata rapi di dalamnya.


"apa bi Tanti yang menata bajuku?" pikir Regina. ia pun segera mengambil baju ganti.


selesai mengganti baju Regina pun kembali turun. rasa malunya belum hilang tapi ia tetap harus turun untuk menunggu dokter datang dan mengobati luka Kevin.


Ting tong


"biar saya saja tuan.." Regina mendahului Kevin yang ingin membukakan pintu.


"siapa kau?" tanya dokter bar-bar saat Regina membukakan pintu.


"saya.... lalu anda siapa?" tanya Regina balik.


"aku dokter yang di panggil kesini. apa kau yang menelfonku tadi?"


"iya dok..." Regina pun mempersilahkan dokter bar-bar untuk masuk.


"hai Vin, apa yang terjadi?" dokter bar-bar duduk di sebelah Kevin.


"sudah diamlah jangan banyak bertanya, obati saja lukaku." tukas Kevin seraya menunjukkan lukanya.


Regina berdiri di sebelah Kevin melihat dokter mengobati luka di jari Kevin.


"mereka akrab sekali, sepertinya mereka adalah teman." gumam Regina dalam hati.


"ini terluka karena apa?" tanya dokter.


"pecahan gelas dok, tadi saya lihat lukanya sangat dalam." sahut Regina.


"oh iya nona, ini sangat dalam. sepertinya jari ini harus di amputasi." goda dokter bar-bar.


seketika Kevin menarik tangannya yang belum selesai di obati.


"jangan gila ya ! tanganku ini cuma kena pecahan kaca, tidak perlu di amputasi." sungut Kevin.


dokter bar-bar terkekeh melihat reaksi Kevin. sedangkan Regina, ia mencoba menahan tawanya.


"aku bercanda Vin, tenanglah... kemarikan tanganmu." dokter meraih tangan Kevin.


"Vin, apa kau tidak ingin mengenalkan dia padaku?" tanya dokter seraya pandangannya beralih pada Regina.


"oh di-dia... dia nona Regina.." Kevin menatap Regina dengan gugup.


"oh hai nona Regina.." sapa dokter bar-bar dengan senyum sumringah.


"iya..." Regina juga tersenyum.


"dia siapa mu Vin? setahu ku kau hanya tinggal sendiri di sini." dokter bar-bar semakin penasaran.


"dia istriku."


"hah???" dokter bar-bar membulatkan matanya dengan sempurna.


"apa kau serius??" tanya dokter lagi.


"apanya?" tanya Kevin yang belum menyadari ucapannya.


"dia benar istrimu? tapi sejak kapan kalian menikah? kenapa kau tidak mengundangku?" cerocos dokter bar-bar.


"Ya Tuhan.... apa yang ku katakan tadi?? bagaimana bisa aku mengenalkan dia sebagi istriku. sedangkan hubunganku ini kan tidak jelas. bagaimana jika dokter sialan ini menyebarkan berita pernikahanku." batin Kevin. ia merasa frustasi pada ucapannya sendiri.


"Vin??" dokter bar-bar membuyarkan lamunan Kevin.


"jawab Vin..."


"i-itu... itu.. aku menikah kemarin." jawab Kevin gelagapan.


Regina mendadak menjadi kikuk. ia pun permisi ke dapur untuk membuatkan minuman.


"kau serius Vin? setahuku kau tidak punya pacar, apa kau di jodohkan?" selidik dokter bar-bar penasaran.

__ADS_1


"aku memang menikah kemarin. dan diamlah, jangan memberitahu siapapun jika aku sudah menikah." ucap Kevin penuh penekanan.


"tapi kenapa? lalu apa yang kau lakukan semalam dengan istrimu? kenapa matanya sembab seperti itu."


"kau ini banyak bicara sekali. sudah sana pergilah !" usir Kevin.


"tidak. kakak ipar sudah membuatkan minum untukku, aku harus meminumnya dulu." ia melihat Regina membawa nampan dengan dua cangkir teh di dalamnya.


"silahkan di minum dok." ucap Regina seraya meletakkan teh di meja depan dokter.


"terima kasih kakak ipar.."


"diamlah ! cepat habiskan dan pergilah. aku ingin muntah jika lama-lama melihatmu." usir Kevin lagi.


"iya iya, pengantin baru tidak ingin ada yang mengganggu." dokter bar-bar pun beranjak dan berpamitan untuk pulang setelah meminum beberapa teguk teh yang di suguhkan Regina.


Regina mengantar dokter sampai di pintu. setelah itu ia pun kembali masuk dan pandangannya beradu dengan Kevin.


"nona maaf, aku tadi tidak sadar mengenalkan anda sebagai...." Kevin tidak melanjutkan kalimatnya saat Regina mendekatinya. jantungnya berdegup tak beraturan. ia merasa gugup dan salah tingkah saat Regina duduk di sebelahnya.


"tidak apa-apa tuan, kemarikan tangan anda, saya ingin melihat jari anda." Regina meraih tangan Kevin dan melihat luka yang sudah di perban oleh dokter tadi.


"maaf tuan, karena saya anda jadi terluka seperti ini..." ucap Regina merasa bersalah.


"ini tuan silahkan di minum..." Reguna menyodorkan secangkir teh yang belum di minum Kevin.


"i-iya terima kasih.." Kevin menerima cangkir itu, tangannya sedikit bergetar karena merasa tegang.


bel pintu berbunyi dan Regina kembali membukakan pintu. bi Tanti datang setelah hujan sedikit reda.


"nyonya maaf saya lama, tadi hujannya sangat deras nyonya, sedikit angin. jadi saya meneduh dulu tadi."bi Tanti memberi penjelasan.


"iya bi, bibi bajunya basah. lebih baik bibi ganti baju dulu bi..." perintah Regina.


bi Tanti pun masuk dan melihat Kevin duduk dengan jari yang di perban. bi Tanti pun mendekat karena khawatir pada tuan mudanya ini.


"tuan... tuan kenapa?" wajah bi Tanti terlihat sangat khawatir. maklumlah, bi Tanti sudah bekerja dari Kevin masih duduk di bangku SMP. tidak heran jika bi Tanti sangat menyayangi Kevin, begitu pula dengan Kevin.


"tidak kenapa-kenapa kok bi, hanya terluka sedikit." ucap Kevin lembut berusaha memberi ketenangan pada bi Tanti.


"tidak nona, itu bukan salah anda, itu karena saya kurang hati-hati." tukas Kevin.


"maaf tuan, nyonya... harusnya saya tidak pergi tadi." timpal bi Tanti.


"sudah sudah, ini kenapa jadi saling meminta maaf, semuanya tidak salah." sahut Kevin membuat Regina dan bi Tanti tersenyum.


"bibi ganti baju sana, nanti sakit.." perintah Kevin.


"iya, permisi tuan, nyonya.."


.


.


.


.


waktu makan malam pun tiba, bi Tanti sudah selesai memasak dan menyiapkan semuanya di meja makan. bi Tanti terlebih dulu memanggil Kevin, setelah itu ia naik ke lantai atas untuk memanggil Regina.


setelah mengetuk pintu tiga kali, Regina baru membuka pintu.


"nyonya, makan malam sudah siap. silahkan turun nyonya, tuan Kevin sudah menunggu di meja makan."


"hah? menunggu bi?" tanya Regina.


"iya nyonya..."


Regina terdiam, ia ingin menolak dan makan nanti saja setelah Kevin masuk kamar. tapi lagi-lagi karena merasa tidak enak, Regina pun akhirnya memutuskan untuk makan malam bersama Kevin.


"ya sudah bi, sebentar lagi saya turun. saya cuci muka dulu."


"tidak usah nyonya, nyonya selalu cantik di mata tuan Kevin." goda bi Tanti.

__ADS_1


"ah bibi bisa saja..." wajah Regina memerah menahan malunya.


Regina menuruni tangga perlahan, di lihatnya Kevin sudah duduk di kursi meja makan menunggunya.


"maaf tuan membuat anda menunggu lama." ucap Regina seraya mendudukkan tubuhnya di kursi samping Kevin.


"tidak apa-apa nona.." sahut Kevin.


"ini bi Tanti sengaja ya piringku di taruh di kursi sebelah Kevin seperti ini, aku tidak mungkin kan mengambil piring ini dan duduk di kursi yang paling jauh dari Kevin..." gumam Regina dalam hati.


Kevin dan Regina makam malam bersama dengan canggung. tidak bisa di bohongi jika hati Kevin merasa bahagia bisa makan bersama Regina. sesekali Kevin mencuri pandang pada Regina, ia mencari jawaban keadaan Regina dari raut wajahnya.


mata sembabnya memang sudah sedikit berkurang. wajahnya juga terlihat biasa saja. tapi hati orang siapa yang tahu jika bukan dirinya sendiri. sehancur apa dan sesedih apa hatinya kini, hanya Regina yang tahu.


selesai makan malam, Regina membantu bi Tanti membereskan meja makan. penolakan dari bi Tanti tidak membuat Regina berdiam diri, ia tetap membantu bi Tanti.


"ini kopi untuk tuan Kevin bi?" tanya Regina yang melihat bi Tanti merebus air dan menuang bubuk kopi ke dalam cangkir.


"iya nyonya, tuan Kevin minta di buatkan kopi. katanya ada pekerjaan yang harus dia selesaikan. biasanya tuan Kevin tidak pernah minum kopi di malam hari. tuan Kevin terbiasa minum susu sebelum tidur nyonya." bi Tanti memberi penjelasan agar Regina tahu kebiasaan Kevin.


"oh, kalau begitu biar saya antar saja ya bi..." pinta Regina, ia juga sekalian ingin membicarakan sesuatu dengan Kevin.


"baik nyonya."


Regina pun berjalan ke kamar Kevin membawa nampan yang berisi secangkir kopi. begitu sampai di depan pintu kamar Kevin, Regina menghela nafasnya dengan panjang sebelum mengetuk pintu.


tok tok tok


"masuk saja bi..." teriak Kevin dari dalam kamar.


"tuan.." Regina membuka pintu perlahan.


"nona? kenapa anda yang mengantar kopi. dimana bi Tanti?" Kevin berdiri gelagapan melihat Regina.


"untung saja aku masih memakai baju yang lengkap." gumam Kevin dalam hati. memang kebiasaan Kevin jika ia akan melepas kaosnya jika di dalam kamar.


"bi Tanti masih sibuk, jadi saya yang mengantarnya. saya juga sekalian ingin membicarakan sesuatu dengan anda." Regina meletakkan nampan berisi secangkir kopi itu di meja sofa kamar Kevin.


"silahkan duduk nona.." Kevin mendudukkan tubuhnya di sofa.


"apa yang ingin anda bicarakan nona?" tanya Kevin.


"begini tuan, sebelumnya saya ingin berterima kasih tuan sudah menyelamatkan kehormatan keluarga saya dengan menikahi saya. saya juga meminta maaf jika sikap saya dari kemarin tidak sopan pada anda. terlebih sikap saya pada orang tua anda kemarin. tolong sampaikan permintaan maaf saya pada orang tua anda tuan." ucap Regina.


"tidak nona, jangan membuat saya sungkan dengan berterima kasih ataupun meminta maaf pada saya. saya tidak melakukan apapun." jawab Kevin. kini suara dan hatinya sudah mulai tenang berbicara dengan Regina.


"tuan, anda bisa menceraikan saya setelah satu bulan."


uhukkk uhukkk


Kevin terbatuk seketika mendengar ucapan Regina.


"tuan..." Regina berdiri dan mengambil air putih di meja nakas Kevin.


"silahkan di minum tuan, apa anda baik-baik saja?" Regina menyodorkan segelas air putih pada Kevin seraya menepuk-nepuk punggung Kevin perlahan.


"maaf tuan.. maafkan saya." Regina menghentikan tepukannya di bahu Kevin setelah menyadari apa yang ia lakukan.


"tidak nona, silahkan duduk lagi."


"iya nona saya tahu apa yang anda maksud dan yang anda inginkan. jangan khawatir, saya akan melakukan seperti yang anda inginkan." ucap Kevin berusaha santai. namun di hatinya ia merasa sesak mendengar ucapan cerai dari Regina.


"baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu.."


"iya nona..."


.


.


.


.

__ADS_1


❤️❤️


__ADS_2