
"Jika kau datang ke sini hanya untuk mengajakku ribut, lebih baik kau pergi ! aku tidak butuh di temani siapapun !" Seru Regina. Ia membulatkan matanya pada Kevin.
Kevin beranjak pergi keluar. Tangannya mengepal geram, rasanya ia ingin sekali memukul seseorang. Memukul Anton lebih tepatnya.
Satu langkah.
Kevin hendak pulang, tapi ia ingat tidak ada yang menemani Regina. Mami Ira dan Papi Surya tidak ada, ia teringat ucapan mami Ira yang berterima kasih padanya pagi tadi. Ia mengurungkan niatnya untuk pulang dan memilih duduk di kursi panjang lorong rumah sakit.
Regina memejamkan matanya, mengambil nafas lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia cukup merindukan pira itu sejak tadi pagi. Ketika ia baru bisa bertemu dengan Kevin malam hari, justru Kevin mengajaknya berdebat, lebih-lebih Kevin menyelipkan nama Anton di perdebatan mereka.
"Ingin ku remas-remas bibirnya jika masih menyebut nama Anton !" Regina meremas selimutnya mengingat wajah Kevin.
Dua jam setelah perdebatan, Kevin masih duduk di kursi panjang lorong rumah sakit. Menunggu Aldo dan yang lainnya kembali. Kevin melihat jam yang melingkar sempurna di tangannya.
"Astaga ! sudah jam sepuluh. Kenapa Aldo belum kembali? apa yang mereka makan dua jam lamanya ?" Gumam Kevin. Ia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Aldo. Panggilan dari Kevin baru di terima oleh Aldo setelah dua kali kakaknya itu menelponnya.
"Iya kak?" Sahut Aldo dengan suara seraknya.
"Kenapa suaramu? kau sakit?" Tanya Kevin.
"Aku sedang tidur kak, ada apa kau menelponku?" Jawab Aldo yang tidur tengkurap tanpa membuka matanya.
"Kau tidur !" Seru Kevin. Ia menutup rapat mulutnya ketika seorang suster berjalan di depannya dan melihat ke arahnya.
"Aku sudah berlumut menunggu mu di sini dan kau justru enak-enak tidur ! adik lucknut kau !" Umpat Kevin. Aldo menyunggingkan senyum nakalnya, masih dengan menutup matanya.
"Siapa yang menyuruh kakak menunggu ku, kakak di sana kan dengan istri kakak. Jadi untuk apa aku kembali ke sana." Ujar Aldo tanpa dosa membiarkan kakaknya menunggu serta kelaparan.
"Sialan kau Al !" Umpat Kevin, ia memutus panggilannya. Meninggalkan Aldo yang menertawakannya sembari melempar ponselnya ke sembarang arah lalu kembali melanjutkan tidurnya.
Perut Kevin terasa lapar, namun rasa malasnya sudah terlebih dulu menghampirinya. Menghilangkan selera makannya. Tentu semuanya karena Anton yang tanpa di sadari oleh Kevin telah berhasil membuatnya cemburu.
Ia membuka pintu ruang rawat Regina tanpa menimbulkan suara. Ia melangkah masuk, ia melihat Regina yang memejamkan matanya. Pandangannya beralih pada nampan yang berisi makan malam Regina yang masih utuh, tak tersentuh sedikitpun oleh Regina.
Kevin duduk di kursi tunggal samping tempat tidur Regina, ia mengarahkan tangannya merapikan anak rambut yang menutupi wajah Regina, memberi sentuhan lembut pada pipi wanita itu.
"Cepatlah sembuh." Ucap Kevin. Tangannya masih berada di ujung kepala Regina, membelainya dengan lembut.
Regina mengerjapkan matanya perlahan, Kevin segera menarik tangannya dari kepala Regina. Wajah Kevin gugup seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
Regina sudah membuka matanya dengan sempurna, ia melihat Kevin lalu membuang wajahnya ke arah jendela. Kevin beranjak, ia berbaring di sofa lalu memejamkan matanya.
Regina duduk, ia mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampai habis. Regina kembali membaringkan tubuhnya, miring ke kanan, miring ke kiri, namun Regina tak bisa kembali tidur. Cukup lama Regina sibuk dengan dirinya sendiri, ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Suara decitan ranjang rumah sakit yang bergesek dengan lantai pun juga terdengar.
"Kenapa kau tidak tidur?" Sahut Kevin yang membuat Regina segera duduk dan menatapnya, Kevin pun berjalan menghampiri Regina.
"Ada apa?" Tanya Kevin dengan suara terendahnya.
__ADS_1
Regina masih menatapnya dalam diam, mengerjapkan matanya berkali-kali pada Kevin.
"Kau menginginkan sesuatu?" Tanya Kevin.
Regina menggigit bibir bawahnya, bibirnya terasa kelu ingin mengatakannya. Kevin menyentuh dagu Regina, di dongakkannya wajah wanita yang masih menjadi istrinya itu. Membuat pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus.
"Katakan, kau ingin apa?" Tanya Kevin lagi.
"Aku lapar.." Lirih Regina dengan wajah malu serta kelaparan tentunya, membuat Kevin mengulum bibirnya menahan tawa melihat ekspresi Regina.
"Kenapa kau tertawa?" Sungut Regina. Kevin menarik nafas panjang, segera ia mengkondisikan bibir dan wajahnya dengan normal. Namun tawanya justru membludak. Regina merasa kesal, ia memukul dada Kevin berkali-kali. Namun Kevin tak kunjung menghentikan tawanya, ia menghentikan kedua tangan Regina.
"Baiklah, aku akan berhenti tertawa." Ucap Kevin yang berusaha keras menghentikan tawanya.
"Ok, jadi kau lapar?" Kevin masih mencengkeram kedua pergelangan tangan Regina.
Regina mengangguk dengan imut, membuat Kevin gemas lalu mencubit pipi wanita itu. Regina mengaduh, ia mengelus pipinya yang sedikit memerah akibat cubitan Kevin.
"Makan malam mu.."
"Aku tidak mau makan itu, rasanya tidak enak." Tukas Regina.
"Siapa yang menyuruhmu memakan makanan itu, aku hanya akan mengatakan makanan itu sudah dingin." Ujar Kevin.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Kevin.
"Aku akan keluar mencari makanan sebentar." Ucap Kevin.
"Mencari? mana ada orang membuang makanan malam-malam begini." Sahut Regina dengan ketus sembari mengerucutkan bibirnya. Kevin mengacak-acak rambut Regina dengan gemasnya, membuat wanita itu semakin cemberut di buatnya.
Suasana hangat tercipta, seakan mereka melupakan perdebatan yang terjadi di antara mereka. Saling meledek dan menyahuti perkataan dengan asal membuat mereka tersenyum dengan gemasnya.
"Sudah sudah, aku akan membeli makanan dulu." Kevin melangkahkan kakinya menuju pintu, di pegangnya handel pintu tersebut.
"Tunggu !" Ucap Regina, Kevin menoleh.
"Aku ingin makan pizza, kentang goreng dan ayam kentucky." Ujar Regina sembari menepiskan senyumnya yang memohon pada Kevin.
"Tapi kau belum boleh memakan itu, kau masih sakit." Kevin mendekat kembali ada Regina.
"Ya sudah, aku tidak akan makan. Kau pikir aku bisa cepat sehat jika memakan makanan hambar seperti itu." Seru Regina, matanya melihat nampan makan malamnya.
"Baiklah, akan ku belikan." Ucap Kevin, Regina tersenyum simpul lalu berterima kasih pada Kevin.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Kevin sudah kembali dengan ayam kentucky dan kentang goreng di tangannya. Kevin membatalkan niatnya membeli pizza karena takut jika suster melihat kotak pizza yang besar itu. Ia masuk, Regina menyambut Kevin dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya. Seolah menyambut suami yang baru pulang bekerja dan membawa pesanan yang ia inginkan.
"Aku tidak bisa membawa pizza, kotaknya terlalu besar." Ucap Kevin sembari menyodorkan ayam kentucky serta kentang goreng pada Regina yang duduk manis di atas ranjangnya.
"Berapa hari kau tidak makan?" Tanya Kevin yang melihat Regina memakan ayam dan kentang goreng dengan lahapnya.
"Baru tadi siang, salah sendiri kau tidak menyuapiku." Ucap Regina tanpa sadar. Bibir Kevin membentuk sebuah lengkungan dengan manisnya.
"Jadi kau ingin di suapi." Sahut Kevin, Regina tersadar akan ucapannya. Segera ia menghentikan aktifitas makannya, ia memalingkan wajahnya ke sisi kirinya sembari menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya merasa malu akan ucapannya.
"Baiklah, sini aku akan menyuapi mu." Kevin mengambil satu piring ayam yang masih di pegang oleh Regina. Regina kembali melihat Kevin, wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Regina membuka mulutnya menerima suapan dari Kevin. Meski malu, Regina dapat merasakan ayam itu semakin lezat jika Kevin yang menyuapinya.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Regina dengan mulut yang masih penuh.
"Sudah."
"Kapan ?" Tanya Regina lagi.
"Tadi siang." Sahut Kevin masih menyuapi Regina.
"Astaga !" Regina mengambil satu potong ayam, ia menyuapi Kevin dengan paksa. Berkali-kali Kevin menolak, namun Regina masih terus memaksanya sampai Kevin benar-benar membuka mulutnya dan menerima suapan darinya. Mereka berdua makan dengan saling menyuapi selayaknya suami istri.
.
.
.
.
.
Holla 😊
Harap meninggalkan like, comment, share dan juga di vote yahhh. Dukungan kalian sangat berpengaruh besar untuk para author yang selalu berusaha memberikan kalian cerita-cerita yang menarik.
Aplikasi Noveltoon dan Mangatoon ini hanya akan menghabiskan kuota kalian, bukan pulsa. Nggak seperti aplikasi lain yang mengharuskan pembaca untuk top up pulsa atau membayarnya lewat google pay.
Di setiap novel yang kalian baca di aplikasi ini, mohon untuk meninggalkan like, comment, share ke sosial media kalian dan di vote juga untuk penyemangat author. Jadi, pembaca puas penulis juga puas 😊
Sekali lagi terima kasih ❤️
__ADS_1