
Jerry menurut akan perintah Kevin untuk kembali ke kantor, walaupun di benaknya juga banyak pertanyaan. Pertanyaan atas apa yang ia lihat dan pertanyaan pada sikap Kevin yang tiba-tiba diam dan dingin.
Setibanya di kantor, Kevin segera masuk ke ruangannya.
"Aku tidak ingin di ganggu saat ini." Ujar Kevin pada Jerry sebelum benar-benar masuk ke ruangannya.
"Iya pak." Sahut Jerry.
Kevin merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruangannya. Pandangannya menatap langit-langit ruangan, namun justru bayangan Regina dan Anton yang terlihat di sana.
"Shit !!!" Maki Kevin.
Hati dan pikirannya kacau, mengingat seminggu ini Regina bersikap mesra dan penuh cinta padanya. Walaupun awalnya ia ragu, tapi ia tetap berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Regina juga mencintainya.
Cukup lama Kevin termenung akan pikirannya sendiri. Sebuah panggilan pun masuk ke ponselnya dari Aldo. Kevin mengusap wajahnya sebelum menerima panggilan tersebut.
"Halo Al.."
"Kakak ini sudah sore, cepatlah kemari. Ayah menunggu." Ucap Aldo di seberang. Kevin pun melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sudah lama rupanya ia termenung dan membayangkan Regina yang bersama Anton tadi siang.
"Iya, kakak akan segera kesana." Titah Kevin. Setelah mengakhiri panggilan, Kevin segera keluar kantor lalu menuju kantor Ayah Agung.
Kevin berusaha melupakan apa yang sudah ia lihat. Semakin ia berusaha, semakin jelas pula bayangan Regina dan Anton. Kevin berpikir, memang ia terlalu cepat menyimpulkan perasaan Regina padanya. Kevin pikir, apa yang sudah ia lakukan selama ini sudah berhasil membuat Regina jatuh ke pelukannya. Namun nyatanya tidak, Regina tetap akan kembali pada cintanya, Anton.
.
.
.
.
.
"Ayah.. Kevin sudah datang." Kevin membuka pintu kaca ruang kerja Ayah Agung. Di sana juga ada Aldo beserta Liana, sekertaris Aldo.
kantor Kevin menuju kantor Ayah Agung memakan waktu satu jam. Beruntung hari ini tidak macet, jika tidak Kevin mungkin akan sampai pukul lima sore di mana semua karyawan sudah bersiap akan pulang.
"Kemarilah Vin, ada yang mau Ayah bicarakan." Tutur kata Ayah Agung terdengar sangat serius di tambah mimik wajahnya.
"Ada apa ini? kenapa wajah kalian sangat tegang." Kata Kevin. Ia duduk di sofa tunggal seberang Ayahnya.
"Vin, Ayah tahu kamu tidak mau meneruskan perusahaan Ayah, tapi Ayah mohon kali ini bantu Aldo, Vin. Dia kewalahan mengurus ini semua."
"Maksud Ayah?" Tanya Kevin.
"Iya kak, perusahaan kita hampir koleps. Ini semua salah Aldo yang tidak bisa teliti karena terlalu banyak yang harus Aldo lakukan. Aldo minta kakak ikut turun tangan di perusahaan ini, Aldo kehilangan satu tender besar yang membuat perusahaan kita rugi..." Timpal Aldo meyakinkan Kevin.
Kevin diam sejenak, ia menimbang ucapan Ayahnya dan Aldo. Mungkin ini juga bisa menjadi alasan kesibukan Kevin agar tak kembali larut dalam kesedihan. Sudah cukup tiga tahun lalu ia berada dalam lubang kesedihan karena cinta. Susah payah ia kembali bangun saat melihat Regina, perempuan yang kini berstatus istrinya. Iya, istrinya. Tapi mungkin Regina tidak pernah menganggapnya suami.
"Baiklah Yah, Kevin akan masuk ke perusahaan. Mulai besok Kevin akan ikut mengurus perusahaan." Ucap Kevin yang membuat Ayah Agung, Aldo dan Liana tersenyum lega.
"Terima kasih nak, jangan biarkan perusahaan yang Ayah bangun dari nol ini hancur. Ayah sangat percaya pada kalian berdua." Tutur Ayah Agung.
Liana dan Aldo memberi penjelasan tentang perusahaan dan bagaimana bisa mereka kehilangan tender besar. Liana kini harus menjabat sebagai sekertaris dua orang sekaligus. Repot memang, tapi ia juga tidak bisa membiarkan perusahaan itu bangkrut dan hancur. Liana sudah sangat lama bekerja di perusahaan tersebut, Liana juga tidak mau perusahaan yang menghidupinya dan keluarganya itu hancur begitu saja.
__ADS_1
"Liana, kita lanjutkan besok saja. Ini sudah jam tujuh, keluargamu pasti menunggumu. Besok datanglah tepat waktu supaya kita bisa segera memperbaiki kesalahan dan kekalahan perusahaan ini." Titah Aldo pada Liana. Sedangkan Ayah Agung sudah pulang lebih awal karena Bunda Hana terus saja menelponnya.
"Baik pak, saya permisi." Ucap Liana. Ia pun keluar ruangan setelah membereskan berkas-berkas lalu meninggalkan Kevin dan Aldo di ruangan tersebut.
"Kakak, kau tidak pulang?" Tanya Aldo pada Kevin yang justru membaringkan tubuhnya di sofa panjang.
"Pulang." Sahut Kevin malas sembari melepas dasi dan membuka dua kancing atas kemejanya.
"Kak.." Ucap Aldo takut-takut.
"Apa?" Sahut Kevin tanpa membuka matanya.
"Tiga hari lagi kan adalah hari..." Ucap Aldo menggantung.
"Kenapa?" Tukas Kevin yang sudah mengerti apa lanjutan dari ucapan Aldo.
"Apa kakak akan tetap pergi ke sana dan berdiam diri di sana seharian?" Tanya Aldo perlahan.
"Iya, itu janji kakak." Jawab Kevin.
Aldo pun tak melanjutkan ucapan ataupun pertanyaan lagi pada Kevin. Ia tidak ingin mengorek duka hati kakaknya lagi.
Kevin meraih ponselnya yang tergeletak di meja, Ia baru ingat bahwa ia mematikan ponselnya saat masuk ke lobby kantor Ayah Agung tadi.
Kevin tersenyum getir melihat pesan dari Regina. Aldo hanya diam mengamati sang kakak yang ia rasa memang ada yang aneh dari Kevin datang tadi. Tiba-tiba pembawaan Kevin kembali dingin dan serius seperti dulu, tidak ada raut wajah semangat dan senyum tulus dari bibirnya.
"Aku masih sibuk, tidurlah dulu." Balas Kevin, sudah ada lima belas pesan dari Regina.
"*Kevin, apa kau masih di kantor Ayah?" ----
"Kevin, kenapa kau mematikan ponselmu?" ----
"Kevin..." ----
"Kevin*..." ----
Dan masih banyak lagi sini pesan Regina. Setelah membalas pesan Regina, Kevin beranjak bangun dan duduk.
"Kakak pulang Al." Ucap Kevin.
"Apa kakak baik-baik saja?" Tanya Aldo.
"heemm" Sahut Kevin.
"Heemm?? kata itu, kata yang di benci wanita itu." Batin Kevin getir.
Kevin berdiri dan berjalan keluar di ikuti Aldo di belakangnya. Kevin dan Aldo mengendarai mobil mereka masing-masing, jika Aldo akan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya, Kevin justru melajukan mobilnya ke sebuah hotel. Ia kembali akan menginap di hotel dari pada harus bertemu dengan Regina di rumah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Apa ini? dia hanya membalas aku masih sibuk, tidurlah dulu. Mana kata sayangnya?" Gumam Regina setelah membaca pesan balasan dari Kevin.
Regina hendak menelpon Kevin, namun ia mengurungkan niatnya karena tidak ingin menganggu. Ia pun menaruh ponselnya kembali di meja nakas samping tempat tidur Kevin. Semenjak hubungan suami istri di antara mereka membaik, Regina memutuskan untuk tidur di kamar bawah bersama Kevin. Ia akan naik ke lantai atas hanya untuk mengambil baju atau keperluannya, karena memang belum sempat untuk memindahkannya ke kamar bawah ataupun memindahkan barang-barang Kevin ke kamar atas.
Sudah pukul sepuluh malam namun belum ada tanda-tanda Kevin pulang. Regina sudah cukup lama berperang melawan rasa kantuknya, ia pun ketiduran ke sembarang arah setelah menguap beberapa kali.
Kevin melipat kedua tangannya di bawah kepalanya. Pikiran dan Bayangan Regina masih terus berputar di memori otaknya dengan sempurna. Kevin sudah berada di hotel, ia memejamkan matanya merasakan kepedihannya.
"Aku lelah, aku tidak ingin selalu seperti ini dari dulu. Aku lelah.. Lelah.." Kevin berbicara pada dirinya sendiri. Ada senyum getir yang membalut luka di hatinya.
.
.
.
.
.
•
•
.
.
.
.
.
Holla guys......
Maaf lama up nya, lagi sibuk 🤭
Buat kemarin yang nanya visual Kevin dan Regina, sekarang saya kasih ya.. sebenarnya bingung mau kasih foto siapa, saya takut kalo di suruh nyomot foto orang, apalagi kalau nggak sesuai sama bayangan kalian. Jadi ya udah saya ambil foto artis saja, semoga kalian juga suka.
KEVIN
REGINA
Jangan lupa di like, comment, share and di vote ya..
terima kasih atas dukungan kalian untuk cerita ini, saya harap kalian tidak bosan dan tetap support cerita ini dan cerita saya lain juga.
Sekali lagi terima kasih 🤗❤️
__ADS_1