Pelaminan

Pelaminan
bab 11


__ADS_3

Regina masih diam tidak menunjukkan reaksi apapun, ia juga tidak menyentuh pipinya yang di tampar oleh mertuanya.


"Kevin, kemarilah.." Agung berjalan sedikit menjauh dari Regina lalu di ikuti Kevin di belakangnya.


"Vin, ayah tidak tega melihat Regina seperti itu. ayah sangat mengerti dengan perasaannya, hatinya saat ini tengah hancur Vin. di tambah bundamu belum bisa menerima Regina sebagai menantu di rumah ini." ucap Agung yang masih memandang Regina yang duduk di sofa.


"yah, Kevin akan membawa Regina ke rumah Kevin saja. itu lebih baik untuk dia. bukan maksud Kevin menjauhi bunda yah, hanya saja...." Kevin tidak melanjutkan ucapannya.


"ayah tau Vin, memang lebih baik seperti itu. ajaklah bi Tanti sekalian untuk membantu di sana."


"yah..tapi bagaimana dengan bunda,bunda sangat marah pada Kevin." ucap Kevin dengan pandangan yang mengarah ke kamar bundanya.


"bunda tidak marah padamu Vin, biarkan bundamu sendiri dulu. ayah yakin bundamu pasti bisa menerima pernikahan ini." ucap Agung memberi semangat pada putranya.


"baiklah yah, Kevin akan membawa Regina sekarang."


"nona, mari ikut saya ke rumah saya, kita akan tinggal di sana." ajak Kevin sopan dan Regina segera berdiri tanpa melihat ke arah Kevin.


"bi Tanti...." panggil Agung.


"iya tuan,"


"ambilkan koper nona Regina tadi bi, dan besok bibi ikut ke rumah Kevin saja ya bi, bibi bantu-bantu disana. biar bi Siti yang di sini." perintah Agung.


"iya tuan.." bi Tanti menurut pada perintah majikannya.


setelah bi Tanti turun membawa koper Regina, ia pun segera memasukkannya ke bagasi mobil Kevin.


"Kevin dan nona Regina pamit ya yah.. sampaikan permintaan maaf Kevin pada bunda." pamit Kevin seraya mencium punggung tangan ayahnya.


"iya Vin, jaga istrimu dengan baik." pesan Agung.


Kevin pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah miliknya yang jarang ia tempati, ia lebih sering tidur di rumah orang tuanya karena merasa kesepian jika di rumahnya sendiri.

__ADS_1


waktu sudah menunjukkan pukul 2 malam, jalanan kota juga lengang oleh kendaraan. hanya satu, dua kendaraan yang terlihat melintas. Kevin melirik ke arah Regina yang masih diam dan terus menatap ke arah depan.


"apa yang sedang di pikirkan gadis ini? kenapa dia masih diam saja, minimalkan dia bisa menguap jika ia mengantuk. tapi ini tidak, ekspresi wajahnya sangat datar. apa jangan-jangan ia ingin mengakhiri hidupnya???? ah aku tidak boleh lengah, aku harus tetap mengawasinya." Kevin terus berpikir dan menebak-nebak apa yang akan di lakukan Regina.


Kevin turun untuk membuka pintu gerbang rumahnya, setelah itu ia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.


nampak sebuah rumah berlantai dua dengan cat berwarna cream yang terlihat cukup besar dan mewah.


"silahkan turun nona," Kevin membukakan pintu mobil.


"mari nona, saya akan menunjukkan kamar anda." Kevin naik ke lantai atas setelah mengunci pintu rumahnya. Regina mengikuti langkah Kevin tanpa bertanya apapun.


"ini nona kamarnya, silahkan anda tidur di kasur dan saya akan tidur di sofa." Kevin menunjuk sofa pendek yang terdapat di kamar tersebut. Kevin tidak bisa meninggalkan Regina sendiri, ia takut Regina akan melakukan sesuatu di luar kendali. seperti memotong urat nadinya, meminum racun, atau bahkan ia akan melompat dari lantai dua. bayangan jika Regina akan melakukan semua itu membuat Kevin merinding dan tidak bisa meninggalkan Regina sendiri.


"bisakah saya tidur sendiri di kamar ini, saya mohon.. saya ingin sendiri untuk saat ini." ucap Regina tanpa melihat ke arah Kevin yang berdiri di belakangnya.


"tapi nona.." ucapan Kevin terpotong saat Regina membalikkan tubuhnya dan melihat Kevin dengan mata sendunya.


"tenang saja, saya tidak akan melakukan sesuatu di luar kendali. saya hanya ingin sendiri untuk saat ini." Regina kembali memohon dengan wajah dan tatapan yang sendu.


"baiklah nona, panggil saya jika kau membutuhkan sesuatu, saya ada di kamar bawah." ucap Kevin.


"iya terima kasih." sahut Regina yang berjalan dan duduk di tepi kasur. Kevin pun segera keluar dan menutup pintu kamar perlahan.


.


.


.


.


di rumah orang tua Kevin.

__ADS_1


"bunda, kenapa bunda bersikap seperti itu pada Regina? dia sekarang menantu pertama kita bun, istri Kevin putra kita." Agung duduk di sebelah Hana, istrinya.


"apa ayah tidak sadar? putra kita hanya di jadikan alat agar keluarga mereka tidak malu karena mempelai pria meninggalkan putri mereka. Kevin terlalu baik yah untuk semua itu.." jelas Hana.


"putra kita memang baik bun, ayah tidak masalah dengan hal itu. coba bunda bayangkan, jika kita punya seorang putri lalu hal yang sama menimpa putri kita, apa masih sempat-sempatnya bunda berpikir mencari seorang pria yang mau di bodohi untuk menikahi putri kita?" tanya Agung dan Hana hanya diam saja.


"tidak kan bun, coba mengerti bagaimana perasaan Regina dan kedua orang tuanya saat itu. mereka pasti hancur bun, apalagi Regina adalah putri mereka satu-satunya. Kevin bukan sok pahlawan, apa yang dia lakukan itu benar bun, seharusnya kita bangga mempunyai seorang putra seperti Kevin." lanjut Agung namun Hana tetap pada pendiriannya.


"bunda tidak akan menerima dia sebagai menantu yah. TITIK !!" Hana tidur membelakangi suaminya.


Agung pun keluar kamar, ia lelah dengan sikap istrinya yang sangat keras kepala.


.


.


.


.


di rumah Kevin..


Kevin yang merasa sangat lelah, sudah terlelap di kamarnya setelah membersihkan diri. udara dingin pun semakin membuat ia cepat tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.


di kamar Regina..


Regina duduk di atas kasur dengan memeluk kedua lututnya. ia menunduk, ia menangis mengeluarkan segala luka di hatinya. rasa marah, kecewa, dan sakit hati membuat ia menangis tanpa henti.


"Anton.. kenapa kau tega sekali padaku, apa salahku padamu? katakan Anton... katakan jika aku punya salah, jangan lakukan hal ini padaku. kita sudah lama bersama, tapi kenapa kau meninggalkanku di saat seperti ini? di menit-menit pernikahan kita.. apakah kau tidak tau? hatiku sangat hancur Anton. hancur..." ucap Regina lirih dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.


pria yang ia cintai dan ia percaya kini sangat tega melakukan hal itu, pergi di saat pernikahan sudah di depan mata. alasan Anton belum siap menikah itu sangat tidak masuk akal untuk Regina.


Regina meringkuk di atas kasur, pukul 4 pagi ia pun tertidur karena lelah terus menangis sedari tadi, sisa air mata masih terlihat jelas di pipinya. entah seperti apa hari esok menyapa Regina. masihkah sama seperti hari ini atau ada harapan baru untuk hidupnya. hanya Tuhan yang tau.

__ADS_1


__ADS_2