
pagi-pagi buta bi Tanti sudah datang, setelah Kevin membukakan pintu ia pun kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
"apa nona Regina belum bangun? apa dia??????" ucap Kevin menggantung. ia menuju lantai atas ingin melihat keadaan Regina. namun saat ia sudah di depan pintu kamar Regina, ia urungkan niatnya untuk mengetuk pintunya.
ia kembali ke bawah menemui bi Tanti.
"bi, bisa minta tolong?" ucap Kevin sopan.
"iya tuan.."
"bi tolong bangunkan nona Regina, aku khawatir dengan dia bi."
"oh iya tuan, saya akan segera ke kamar nyonya." bi Tanti pun berjalan ke lantai atas setelah Kevin memberi tau bahwa Regina tidur di kamar atas.
tok tok tok
"maaf nyonya, apa nyonya masih tidur?" setelah menunggu beberapa saat namun tetap tidak ada sahutan dari Regina, bi Tanti memutuskan untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci. ia juga merasa khawatir pada nyonya barunya tersebut.
"nyonya.." bi Tanti berjalan perlahan mendekati Regina, di lihatnya Regina yang sedang tidur tak berarah. terlihat jelas wajahnya yang pucat dan lesu karena semalam menangis.
"syukurlah.. ternyata nyonya masih bernafas.." bi Tanti mengelus dadanya setelah mengecek hembusan nafas dengan satu jarinya yang ia dekatkan ke hidung Regina.
bi Tanti pun kembali turun ke bawah ingin memberitahu Kevin jika Regina masih tidur. karena Kevin masih mandi, bi Tanti kembali ke dapur untuk memasak sarapan sambil menunggu Kevin keluar kamar.
"bi..." Kevin ke dapur menemui bi Tanti ingin menanyakan Regina.
"tuan, nyonya masih tidur tuan. saya tidak tega membangunkannya.." bi Tanti menghentikan aktifitasnya memasak.
"bibi tadi lihat dia masih tidur?" tanya Kevin.
"iya tuan, pintu kamar nyonya tidak di kunci jadi saya masuk saja tadi."
"apa bibi yakin dia benar-benar tidur?" tanya Kevin lagi.
"iya tuan, saya mengecek nafasnya tadi. saya juga khawatir jika nyonya kenapa-kenapa. jadi saya cek nafasnya."
__ADS_1
"oh yasudah bi, dia pasti sangat lelah."
"iya tuan.."
Kevin ke kamar atas ingin melihat dan memastikan keadaan Regina dengan mata kepalanya sendiri. perlahan ia membuka pintu agar tidak menganggu tidur Regina.
"ah dia benar-benar tidur, syukurlah kalau begitu..." ucap Kevin lirih setelah mengecek nafas Regina seperti yang di lakukan bi Tanti tadi.
setelah memperhatikan wajah Regina untuk beberapa saat, Kevin pun keluar kamar karena tidak sanggup terlalu lama memandang wajah gadis yang tengah di rundung kesedihan dan kekecewaan yang amat sangat dalam. ada desiran aneh di dalam tubuhnya jika memandang wajah Regina terlalu lama, entah rasa kasihan atau apa.. Kevin tidak mengerti.
Kevin pun kembali ke kamarnya dan menunggu Regina bangun tidur. Kevin melipat kedua tangannya di bawah kepalanya, ia menatap langit-langit kamar memikirkan Regina.
"apa dia sungguh baik-baik saja? sampai sekarang aku belum tahu apa alasan calon suaminya pergi meninggalkan dia. jika di pikirkan, nona Regina ini dari keluarga baik-baik, tidak pernah ada kabar buruk mengenai keluarganya, semua orang pasti sudah tahu nama pengusaha sukses, Surya Wijaya. kemarin sebelum akad, wajah nona Regina sangat berseri, terlihat jelas kebahagian di wajahnya yang selalu tersenyum manis dengan lesung pipit di kedua pipinya yang membuat dia terlihat semakin imut. tapi sekarang, senyum itu hilang. entah bagaimana aku harus berusaha agar ia kembali tersenyum karena aku adalah suaminya. eitss tunggu dulu ! apa tadi yang ku ucapkan?? suami?? aku suaminya???" Kevin berbicara pada dirinya sendiri, awalnya wajahnya terlihat serius, namun saat kata suami, tanpa sadar kata itu membuat sebuah garis melengkung di bibirnya.
tok tok tok
ketukan pintu membuat Kevin tersadar dari kesibukannya memikirkan Regina.
"iya bi, ada apa?" tanya Kevin membuka pintu kamarnya.
"oh iya bi, apa nona Regina belum bangun bi?" tanya Kevin setelah menutup pintu lalu berjalan ke arah meja makan yang di ikuti bi Tanti di belakangnya.
"belum tuan, saya baru dari kamar atas tadi.."
"oh.. ya sudah. mari temani saya sarapan bi.." ucap Kevin yang sudah duduk di kursi meja makan seraya mengambil nasi beserta lauk pauknya ke piring.
"iya terima kasih tuan, saya sarapan nanti saja kalo nyonya sudah bangun." tolak bi Tanti halus lalu kembali ke dapur.
Kevin memang selalu bersikap baik pada pembantunya, selain karena ia menghormati orang yang lebih tua, contoh perlakuan yang di tujukan ayah dan bundanya pada semua perkerja di rumahnya membuat Kevin ikut bersikap baik dan ramah serta tidak memandang rendah seorang pembantu.
selesai sarapan, Kevin mendapat sebuah panggilan dari nomor yang tidak ia kenal.
"halo.."
"Kevin?" tanya orang di seberang telefon.
__ADS_1
"iya saya Kevin, maaf ini siapa?"
"ini papinya Regina Vin, saya meminta nomor ponselmu dari Jerry kemarin."
"oh iya tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Kevin dengan sopan.
"tidak Vin, saya hanya ingin menanyakan keadaan Regina karena ponselnya tidak bisa di hubungi."
"nona Regina baik-baik saja tuan, dia masih tidur. saya tidak enak membangunkannya, dia pasti sangat lelah. nanti jika nona Regina sudah bangun saya akan menyampaikan jika tuan menelfon."
"iya terima kasih Vin."
"sama-sama tuan." Kevin dan Surya saling mengakhiri panggilan mereka.
.
.
.
.
pukul 11 siang..
Regina mengerjapkan matanya perlahan, ia menggeliat merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Regina mendudukkan tubuhnya dan melihat sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. ia mengingat kejadian kemarin yang membuat ia hancur dan menangis tanpa henti. Regina menghela nafas, berusaha ikhlas dan menerima takdir yang sudah di tulis Tuhan untuknya.
Regina membuka kopernya yang terletak di sebelah tempat tidur,ia mengambil handuk dan perlengkapan mandinya lalu beranjak masuk ke kamar mandi.
Regina keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya dan handuk kecil yang menutupi rambut basahnya. ia pun memakai mini dress santai berwarna biru dan menggerai rambutnya yang sebelumnya sudah ia keringkan dengan hair dryer.
Regina mengambil nafas panjang sebelum membuka pintu kamar untuk keluar, entah dari mana ia memulai semuanya sekarang. Regina sadar jika ia sudah menikah dengan Kevin hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarganya dari rasa malu.
perlahan Regina menuruni anak tangga seraya matanya kesana kemari mencari sosok pria yang sudah menikahinya namun berharap tidak bertemu dengannya untuk saat ini.
saat Regina sudah di lantai bawah, kebetulan Kevin juga baru saja keluar dari kamarnya. pandangan keduanya saling bertemu, untuk beberapa saat mereka hanya saling diam. canggung dan bingung menjadi satu di pikiran Regina dan Anton.
__ADS_1