
"siapa Jes ?" tanya Regina.
"pelayan Restoran, ada surat untukmu Re.. tapi tidak ada nama pengirimnya." jawab Jessica yang berjalan ke arah regina sembari membolak-balikkan surat.
"surat?" Regina mengernyitkan dahinya menerima surat tersebut dari tangan Jessica.
perlahan Regina membuka surat tanpa nama tersebut,
"dear Regina..
Re, maaf aku tidak bisa datang. aku tidak siap untuk menikah denganmu. bukan berarti aku tidak mencintaimu Re, aku sangat mencintaimu.. tetapi untuk menikah, jujur aku belum siap Re. aku masih ingin bebas, aku tidak ingin di sibukkan dengan mengurus istri dan anak. maaf Re, bukan maksudku membuat keluargamu malu dengan menyakitimu seperti ini, tapi sungguh aku tidak bisa menikah denganmu. sekali lagi maafkan ku Re.. maaf.. (Anton)"
isi surat tersebut membuat tubuh Regina lemas seketika. untuk beberapa saat dia terdiam, hatinya menolak menerima keputusan Anton yang meninggalkannya di saat pernikahan yang tinggal menghitung menit ini.
Regina meraih ponselnya yang berada di atas meja rias. dia mencoba menelfon Anton namun ternyata Anton sudah memblokir nomor Regina. berkali-kali Regina tetap mencoba menelfon Anton, Jessica berjalan mendekati Regina yang terlihat bingung.
"Re..ada apa? surat dari siapa itu? isinya apa?" tanya Jessica yang masih terus berusaha menelfon Anton.
Jessica merebut surat yang masih di tangan Regina, matanya terbelalak membaca isi surat tersebut.
"dasar pria sialan !! bisa-bisanya dia bertingkah seperti anak kecil !" Jessica meremas surat tersebut lalu melemparnya ke sembarang arah.
"Regina hentikan ! jangan menelfon dia lagi." Jessica merebut ponsel Regina.
tok tok tok
"Regina.. mami masuk ya nak." Ira membuka pintu kamar perlahan.
di lihatnya Regina yang duduk di tepi tempat tidur yang sibuk membaca surat yang sudah di remas-remas oleh Jessica tadi.
"Regina, Anton mana nak? sebentar lagi kalian sudah harus menikah. tapi kenapa Anton dan keluarganya belum kelihatan nak?" tanya Ira yang sudah duduk di samping putrinya.
"Anton tidak akan datang Tante." sahut Jessica yang duduk di sofa.
"apa maksudmu Jes? kenapa Anton tidak akan datang?" tanya Ira yang kebingungan.
Jessica diam saja, matanya melihat ke arah surat yang sedang di baca Regina. dengan cepat Ira mengambil surat tersebut. di bacanya surat Anton, "Anton.... kenapa kau melakukan hal ini?" bulir bening jatuh di pipi Ira setelah membaca surat tersebut.
"mi...cepat bawa Regina keluar, para tamu sudah datang mi.." ucap Surya yang tengah membuka pintu kamar.
__ADS_1
"mi..kenapa mami menangis, ada apa mi? Jessica ada apa ini? Regina?" tanya Surya yang bergiliran melihat ke arah ketiga wanita itu.
"pi.. Anton pergi pi, dia tidak akan datang.." ucap Ira yang masih sesenggukan. air mata Jessica pun ikut tumpah melihat sahabatnya yang diam saja, tatapan matanya kosong. entah kenapa Regina tidak menangis akan semua ini. Jessica takut terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan.. berkali-kali ia menggoyang-goyangkan tubuh Regina, namun Regina tak bergeming sedikitpun.
" apa !!!!" teriak Surya yang terkejut.
"papi sudah bilang sejak awal. dia adalah pria yang tidak baik untukmu, tapi kau tetap saja mencintai pria itu. lihatlah sekarang ! dia pergi meninggalkanmu di saat pernikahan yang tinggal menghitung menit ini." Surya menunjuk Regina dengan tatapan tajam mengeluarkan segala amarahnya.
"papi..jangan bicara seperti itu pi, kasihan Regina." ucap Ira.
"tapi kenyataannya seperti itu mi. dasar pria kurangajar. kedua orang tuanya juga tidak ada kabar sampai sekarang. mereka sengaja ingin mempermalukan keluarga kita. lalu bagaimana sekarang?! semua rekan bisnis papi sudah datang, mau di taruh di mana muka papi Re !! mau di taruh mana!!!" teriak Surya yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya lagi.
"papi ! masih sempat-sempatnya papi memikirkan masalah rekan bisnis papi. lihat anak kita pi, kasihan Regina."
"seharusnya dia sudah bisa membaca semuanya dari awal mi, yang dia tau hanya cinta, cinta, dan cinta, dia dibutakan cinta sampai tidak bisa melihat sisi buruk pria itu." Surya menunjuk Regina yang masih diam dengan tatapan kosong.
"Re, katakan sesuatu.. jangan seperti ini Re..aku bingung melihatmu seperti ini." Jessica berjongkok di hadapan Regina seraya menyentuh tangan sahabatnya yang dingin.
tok tok tok
"tuan maaf, saya mau bertanya.. mempelai pria tidak bisa saya hubungi, saya berusaha menelfonnya tapi nomornya tidak aktif tuan, penghulunya sudah menunggu dari tadi tuan." ucap Jerry perlahan yang sebenarnya ia sudah mendengar semuanya.
"tidak akan ada pernikahan ! suruh semua orang pulang" bentak Ira.
baru setengah jalan, Jerry di susul oleh bosnya.
"Jerry ! kenapa kau lama sekali memanggil pengantin wanitanya? lalu kenapa kau kembali sendiri, kenapa tidak kau bawa sekalian pengantinnya." ucap sang bos dengan nada marah.
"memangnya pengantin wanita itu kantong belanjaan apa pake di bawa-bawa." gumam lirih Jerry.
"kau bicara apa hah?!"
"tidak pak.." kilah Jerry.
"jawab pertanyaanku, dimana pengantinnya?"
"itu pak, pengantinnya... itu.."
"itu apa?"
__ADS_1
"itu pak..." Jerry bingung bagaimana menyampaikan pada bosnya jika mempelai pria tidak akan datang.
"itu apa, cepat katakan, kenapa kau gugup seperti itu? ini bukan pernikahanmu Jer, jangan gugup seperti calon mempelai."
"itu pak.. mempelai prianya tidak akan datang." jelas Jerry perlahan.
"maksudnya?" ia mengernyitkan dahinya.
"iya pak, mempelai prianya tidak akan datang, nyonya Ira menyuruh saya untuk mengatakan pada semua tamu jika pernikahan di batalkan."
"apa??!!! jangan bercanda kau Jer.."
"tidak pak, saya serius. mempelai pria tidak akan datang, dan pernikahan ini di batalkan, tuan Surya sedang marah-marah di dalam, tapi mempelai wanitanya..." Jerry menghentikan ucapannya.
"ada apa dengan mempelai wanitanya?"
"dia hanya diam saja pak, saya heran.. kenapa dia tidak menangis atau marah di saat calon suaminya meninggalkan dia di saat seperti ini." bos Jerry terdiam mendengar penjelasan Jerry, apakah benar jika mempelai wanita itu tidak menangis.
"permisi pak, saya ingin mengatakan pada semua orang jika pernikahan di batalkan." Jerry melangkah ke arah ballroom.
"tunggu !" ucap sang bos yang seketika menghentikan langkah Jerry.
"jangan beritahu siapapun dulu, aku akan melihat ke kamar mempelai wanita."
"untuk apa bapak ke sana?"
"diam, jangan banyak bertanya."
Jerry hanya diam melihat bosnya yang berjalan ke arah kamar mempelai wanita.
cukup lama pemilik SABILA WEDDING AND EVENT ORGANIZER itu berdiri di depan pintu kamar hotel dan mendengar perdebatan antara Surya dan Ira, tidak ada suara dari mempelai wanita tersebut.
tok tok tok
pria itu tidak bisa menahan rasa penasarannya. Surya pun membukakan pintu tersebut.
"tuan maaf, apa benar pernikahan ini di batalkan?" pria itu bertanya dengan perlahan agar tak menyinggung Surya dan keluarganya.
"iya,pernikahan ini batal." sahut Ira saat Surya tak kunjung menjawab pertanyaan tersebut.
__ADS_1
"tapi nyonya.." Ira memotong ucapan pria tersebut.
"tenang saja, kami tetap akan membayar semuanya. kau tidak akan rugi." ucap Ira penuh penekanan.