
"Wina." Panggil Regina pada asistennya yang berdiri sembari memandang ke arah ruang kerja papi Surya.
"Eh iya Bu, maaf." Ucap Wina yang terkejut melihat bosnya itu sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau melihat ruangan papi seperti itu?" Tanya Regina lagi.
"Itu Bu, ada pria tampan yang masuk ruangan pak Surya." Ucap Wina polos. Matanya kembali melihat ke arah pintu ruang kerja papi Surya.
"Semua pria di kantor ini juga tampan di matamu." Ujar Regina.
"Tapi dia berbeda Bu, dia sangat tampan dan sangat indah bila terus di pandang." Ucap Wina penuh penekanan.
"Sudahlah, belikan aku makan siang. Aku malas keluar." Perintah Regina.
"Baik Bu.." Wina begitu malas harus keluar, ia ingin menunggu pria tampan yang masuk ke ruangan papi Surya. Namun perintah tetaplah perintah. Ia melangkah menuju lift namun langkahnya terhenti begitu ia melihat pintu terbuka dan keluarlah Kevin dari ruangan papi Surya.
"Regina." Panggil Kevin pada Regina yang hendak masuk kembali ke ruangannya.
"Suara itu...." Regina sangat hafal siapa pemilik suara tersebut. Ia berbalik, melihat Kevin dan papi Surya yang mendekat padanya.
"Ada apa kau di sini?" Tanya Regina.
"Mengajakmu makan siang." Ucap Kevin.
"Tidak perlu, aku sudah menyuruh asisten ku membelikan makanan untukku."
"Wina, kemarilah." Panggil papi Surya. Wina mendekat dengan kebingungannya.
"Wina, tidak usah membelikan makanan untuk Regina. Dia akan pergi makan siang bersama suaminya. Ambilkan tas dan pinsle Regina di dalam." Perintah papi Surya.
"Apa !!! Suami ???" Batin Wina.
"Iya pak." Wina masuk ke ruangan Regina.
Wina keluar, menyerahkan tas Regina.
"Wina, pria ini yang kau maksud tadi?" Tanya Regina, tangannya menerima tasnya dari Wina.
"Eemm, i-iya Bu. Maaf." Ucap Wina takut-takut setelah tahu pria itu adalah suami Regina.
"Ayo, kami permisi Pi." Kevin menggandeng tangan Regina. Ingin rasanya Regina menghempaskan gandengan itu, tapi ia pasrah menerima tangannya di genggam oleh Kevin karena mereka masih di depan papi Surya.
"Iya, hati-hati Vin." Ucap papi Surya.
Kevin dan Regina sudah di dalam lift, perdebatan kembali terjadi. Regina tidak ingin tangannya di genggam, namun Kevin tetap saja menggenggam tangan Regina sampai mereka keluar lift menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk kantor.
"Selamat siang Bu." Sapa Nuky, ia membukakan pintu mobil untuk bosnya itu. Regina tersenyum lalu masuk ke mobil.
Merasa perjalanan mereka tidak kunjung sampai di tempat tujuan, Regina pun bertanya pada Kevin.
"Sebenarnya kita akan makan siang di mana? Kenapa dari tadi belum sampai juga." Tanyanya pada Kevin.
"Makan siang di pesawat saja." Jawab Kevin.
"Apa maksud mu?" Regina mengerutkan keningnya.
Tidak ada jawaban apapun dari Kevin, ia diam sampai mobil berhenti di area bandara. Regina yang terus saja melontarkan pertanyaan tak di gubris sama sekali oleh Kevin. Ia pun menarik lengan Nuky untuk meminta penjelasan.
"Kau, kau asistennya Kevin di kantor kan?"
"Iya Bu."
"Kita ini mau kemana? Kenapa kita ke bandara?" Tanya Regina.
__ADS_1
"Kita mau ke negara A Bu, ada syuting iklan di sana."
"Lalu kenapa mengajak aku ?" Tanya Regina lagi.
"Kan anda istrinya."
"Kau ini ! Tidak ada gunanya bertanya padamu." Regina melangkah pergi. Berhubung Kevin masih di toilet, ia berencana untuk pergi.
"Bu, anda mau kemana?" Nuky mengejar.
"Pulang." Ketus Regina.
"Tapi Bu, pak Kevin bisa marah nanti."
"Aku tidak peduli." Regina menpercepat langkahnya. Nuky ingin menarik tangan Regina namun ia tidak mempunyai keberanian untuk menyentuh istri bosnya itu.
Lengan Regina di tarik oleh Kevin dan kembali mengajaknya masuk ke ruang tunggu karena jam penerbangan mereka sudah semakin dekat.
"Kau suka sekali memaksaku, aku ingin pulang. Aku tidak mau ikut denganmu." Seru Regina.
Kevin berhenti, menyentuh lembut pipi istrinya yang tengah merajuk ini. Nuky pun pergi, kembali ke tempat di mana koper mereka berada lalu membawanya masuk ke ruang tunggu.
"Sayang, aku tidak mau kau salah paham lagi jika melihat fotoku bersama wanita lain. Jadi kau ikut saja untuk melihat prosesnya."
"Salah paham apa? Proses apa?"
"Kau mau berkilah? Aku tahu kau menangisiku saat melihat fotoku bersama Carlyn di media sosial." Kevin tersenyum meledek Regina.
"Tidak. Aku tidak menangis." Seru Regina.
"Jangan bohong, Jessica sudah menceritakan semuanya padaku."
"Kapan? Menceritakan apa?"
"Bajuku? Pasport ku?" Tanya Regina.
"Baju mu sudah ku masukkan ke koper, pasport mu juga sudah di siapkan Nuky."
"Tuan pemaksa !" Kesal Regina. Kevin menyentuh lembut kepala Regina.
"Jelaskan padaku? Apa yang Jessica katakan padamu?" Tanya Regina, mereka sudah duduk nyaman di dalam pesawat.
"Katanya kau sangat mencintaiku."
"Aku serius !" Seru Regina.
"Aku juga serius sayang."
"Jangan memanggilku sayang."
"Iya Nona."
"Jangan memanggilku Nona !"
"Astaga...Aku salah lagi. Lalu kau mau di panggil apa? Sayang tidak boleh, Nona juga tidak boleh." Geram Kevin.
"Katakan padaku dulu, apa yang Jessica katakan padamu?"
"Nanti akan ku katakan setelah sampai di hotel." Ucap Kevin.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Nuky mengambil kunci kamar hotel dari resepsionis. Ia pun mengantar Regina dan Kevin ke kamar yang bersebalahan dengannya.
"Kenapa kita satu kamar?" Tanya Regina begitu ia masuk.
"Kau kan istriku." Jawab Kevin. Sejak tadi Nuky di buat bingung oleh sikap Kevin dan Regina.
"Eehhemm" Nuky berdehem.
"Pak, nanti malam kita meeting dengan pihak management Nona Jenny di restoran hotel ini. Saya sudah mereservasi private room di sana."
"Sekalian makan malam dengan mereka pak." Imbuh Nuky.
"Iya." Singkat Kevin. Nuky pun keluar kamar, menutup pintu itu tanpa menimbulkan suara.
"Pesankan satu kamar lagi." Regina berkacak pinggang.
"Untuk apa?"
"Untuk mu, atau bisa juga untuk ku."
"Regina, aku sangat lelah. Jangan mengajak ku berdebat untuk sekarang ini." Ujar Kevin, ia melepas jas dan sepatunya lalu masuk ke kamar mandi.
Regina melihat tubuh Kevin yang hilang di balik pintu, ada rasa bersalah dalam hatinya. Wajah Kevin memang terlihat sangat lelah, dan ia sebagai istri justru mengajaknya berdebat sejak tadi. Regina membuka koper, ia mengambilkan baju ganti untuk Kevin. Senyumnya mengembang begitu melihat baju dan segala keperluannya juga ada di dalam koper tersebut.
Suara pintu kamar mandi terbuka. Kevin keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Tetesan air di ujung rambut yang masih acak-acakkan itu membuat ia terlihat semakin tampan dengan wajah segarnya.
"Minumlah." Regina memberikan segelas teh panas untuk Kevin.
"Terima kasih." Kevin menerima teh tersebut lalu menyeruputnya tanpa melihat wajah Regina. Regina semakin merasa bersalah di buatnya.
"Maaf..." Ucap Regina, ia menunduk.
"Maaf untuk apa?" Tanya Kevin, ia menaruh cangkir teh di meja lalu mendekati Regina.
"Maaf sudah membuat mu lelah dengan berdebat denganku." Regina masih menunduk. Bukan karena malu melihat tubuh Kevin, ia sudah terbiasa melihat Kevin bertelanjang dada seperti itu. Ia tidak cukup berani menatap mata Kevin.
Kevin meraih dagu Regina, membuat matanya dan mata Regina berada dalam satu garis lurus.
"Tidak masalah, aku sudah terbiasa dengan hal itu. Asal kau tidak pergi dariku, aku siap berdebat sepanjang hari dengan mu." Ucap Kevin.
Regina mengerucutkan bibirnya, membuat Kevin sangat gemas dan ingin mencium bibir itu.
"Jangan memasang wajah menggemaskan seperti itu, aku hanya memakai handuk saja sekarang. Apa kau ingin ku terkam?" Senyum nakal Kevin muncul.
"Jangan macam-macam kau !" Seru Regina.
"Hanya satu macam, apa kau tidak kasihan melihat suami mu ini?" Melas Kevin.
Regina berdecak, ia pun mengambil baju ganti Kevin dan memberikannya. Ia juga mengambil baju gantinya lalu masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
__ADS_1
.