
"tuan, kata anda besok Jerry menikah. bagaimana kalau kita mencarikan kado untuknya?" tanya Regina.
"anda ini bagaimana? tadi tidak mau bekerja karena mata anda masih sembab, sekarang anda malah mengajak saya belanja kado untuk Jerry. lalu bagaimana dengan mata anda?!"
"maksudku kita mencari kado nanti sore saja tuan ! nanti sore mataku ini pasti sudah tidak sembab seperti ini." kata Regina.
"iya jika anda tidak menangis lagi !" gumam Kevin lirih.
"apa tuan?"
"nasi goreng anda tidak enak !" seru Kevin lalu beranjak berdiri dan keluar dari dapur.
Regina membulatkan bibir dan matanya bersamaan seraya mengepalkan tangannya merasa geram pada Kevin.
"tidak enak katanya ?!! bahkan piring ini tak bersisa satu butir nasi pun, bisa-bisanya mengatakan tidak enak !"
.
.
.
.
.
sore hari Kevin dan Regina tengah bersiap-siap di kamarnya masing-masing. sesuai ajakan Regina bahwa mereka akan mencari kado untuk pernikahan Jerry.
"kenapa dia lama sekali !" gerutu Kevin yang gusar menunggu Regina yang tak kunjung keluar kamar.
Kevin hendak berdiri memanggil Regina, sebelum ia naik tangga Regina sudah terlebih dulu turun.
"tumben sekali dia memakai celana, biasanya dia akan memakai dress selutut." batin Kevin.
"tapi apapun yang anda pakai, anda tetap terlihat cantik nona." imbuh Kevin.
Regina sudah berdiri di depan Kevin. berkali-kali ia mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Kevin, namun Kevin masih tak bergeming, ia terlalu terpesona pada Regina.
"tuan !!" Regina menepuk pundak Kevin.
"eh i-iya nona." kaget Kevin.
"ada apa tuan?"
"tidak, hanya aneh saja melihat anda memakai celana jeans, biasanya kan anda memakai dress selutut." keluar juga kalimat itu dari mulut Kevin, entah ia sadar atau tidak, yang jelas kalimat itu membuat Regina menunduk lesu.
"maaf nona jika perkataan saya menyinggung anda." ucap Kevin.
"tidak tuan, saya hanya ingin terlihat berbeda saja. apa saya tidak cocok memakai celana jeans dan kaos ini?" tanya Regina dengan wajah murungnya.
"cocok nona, anda terlihat semakin cantik, eehh !!"
"tapi jangan anda ikat rambut anda, biarkan tergerai saja nona. anda lebih cantik jika rambut anda tidak di ikat" imbuh Kevin.
Kevin menggigit bibir bawahnya setelah sadar apa yang sudah ia katakan.
"benarkah??" Regina mendongakkan wajahnya menatap Kevin dengan binar bahagia di matanya.
"iya nona.." sahut Kevin masih dengan wajah malunya.
Regina pun melepas ikatan rambutnya dan merapikan rambutnya.
"tapi bajuku?? ah lebih baik aku mengganti bajuku dengan dress saja !" Regina berbalik.
"nona tidak usah, anda cantik dan sangat cocok memakai celana jeans dan kaos ini." Kevin menarik lengan Regina.
"benarkah??" Regina kembali memastikan.
"iya nona.. mari kita berangkat sekarang." kata Kevin.
"baiklah.. mari.." sahut Regina dengan senyumnya.
bruukkk
Regina dan Kevin saling bertabrakan, kedua tangan Kevin menahan tubuh Regina yang hampir jatuh.
dug dug dug dug
jantung Kevin dan Regina sama-sama berdebar tak karuan tatkala mata mereka saling bertemu. desiran panas dari tubuh mereka mengalir memenuhi aliran darah. untuk beberapa saat mereka masih bersitatap, tubuh mereka pun menyatu tidak ada jarak sedikitpun.
dering ponsel Kevin membuat mereka tersadar dan cepat-cepat saling melepas tubuh yang berpelukan tersebut.
Kevin segera berjalan masuk ke kamar mengambil kunci mobil miliknya sembari menerima panggilan yang ternyata dari Aldo.
Regina segera berlalu keluar dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting goreng, eh goreng apa rebus ya?? sepertinya lebih lezat kepiting saos tiram. hahaha.
"mari nona.." Kevin mengunci pintu rumah lalu masuk ke mobil yang di ikuti Regina.
suasana canggung mulai tercipta kembali di antara mereka, diam dan hanya sesekali saling melirik. sampai Regina berteriak meminta menghentikan mobilnya.
"tuan berhenti tuan, berhenti !!"
"ada apa nona?" Kevin sudah meminggirkan mobilnya.
"ada penjual balon gelembung tuan..." ucap Regina bersemangat.
"balon gelembung??" Kevin mengernyitkan keningnya.
"itu tuan... air sabun yang bisa menjadi gelembung. aku ingin membelinya." Regina keluar mobil dan di ikuti Kevin.
Regina dan Kevin masuk ke sebuah area taman di mana banyak penjual mainan dan anak-anak yang bermain bersama orang tuanya.
"anda ingin membeli ini??" tanya Kevin.
"iya tuan.."
__ADS_1
"pak saya beli satu.. yang botol besar ya pak."
sang pedagang tersebut pun memberikan botol gelembung sabun yang besar untuk Regina. Kevin pun membayarnya sebelum Regina mengambil uang dari tas selempangnya.
"anda membayarnya?" tanya Regina.
"iya."
"kenapa? saya punya uang untuk membelinya." kata Regina.
"apa kita harus berdebat hanya karena masalah gelembung sabun ini." ujar Kevin sembari menunjuk botol sabun di tangan Regina.
"tidak, kalau begitu terima kasih tuan." ucap Regina.
"hanya air sabun saja harganya mahal sekali." gumam Kevin.
"anda tidak ikhlas membelikan ini untuk saya?" seru Regina yang ternyata mendengar gumaman Kevin.
"astaga....."
"tidak nona, wajar saja kan harganya mahal, botolnya saja cantik." kilah Kevin.
"kalau anda tidak ikhlas, ini ambil lah. saya akan membeli sendiri." Regina memberikan botol tersebut dengan kasar di dada Kevin.
"nona tunggu nona.." Kevin mengejar Regina sembari membawa botol sabun di tangannya.
"kenapa dia marah-marah terus padaku? padahal dia tidak pernah seperti ini." batin Kevin.
bruukkk
Kevin kembali menabrak tubuh Regina yang berhenti mendadak, beruntung mereka tidak sampai jatuh.
"kemarikan !!" Regina berbalik dan mengambil kembali botol sabun dari tangan Kevin.
"hehhh !! kenapa lagi dengannya??"
"oh... ternyata pedagangnya sudah pergi." Kevin tersenyum dan mengikuti Regina yang berjalan ke tengah taman.
Kevin berhenti dan tidak mendekat pada Regina,ia memperhatikan Regina yang bermain dengan gelembung-gelembung itu. senyum Regina membuat Kevin ikut tersenyum melihatnya. Regina meloncat-loncat kecil memainkan gelembung itu kesana kemari.
"sebentar marah, sebentar tersenyum, sebentar tertawa, ada apa sebenarnya dengan dia? oh iya, dia juga menangis.. jangan membuat senyum dan tawa bahagianya lenyap Tuhan, hatiku begitu hancur ketika ia menangis." batin Kevin.
"tuan kemarilah..." Regina melambaikan tangannya memanggil Kevin.
"ehh ada apa lagi ini ! apa dia akan memarahiku lagi?" Kevin masih terdiam di tempatnya.
karena Kevin tak bergerak, Regina pun menghampirinya.
"tuan kenapa anda diam saja? ayo ikutlah denganku bermain ini."
"tidak nona, saya di sini saja. nanti anda marah-marah lagi."
"kapan saya memarahi anda??" tanya Regina.
"heh !! pertanyaan jebakan ya ini?" Kevin.
"tuh kan... salah lagi aku."
"saya akan bermain nona, kemarikan botol sabun itu." Kevin mengejar Regina.
"tidak usah. sana pergilah !" seru Regina.
"tapi nona.."
"sekarang saja anda tidak mau di ajak bermain, lalu bagaimana jika anda nanti punya anak?! apa anda juga tidak akan mau menemaninya bermain ?!" seru Regina.
"tentu saya mau nona, mana ada ayah yang tidak mau di ajak anaknya bermain." tutur Kevin.
"eh tunggu, kenapa jadi membahas anak ?" tanya Kevin.
"duhh kenapa aku bisa mengatakan hal itu ! sangat memalukan !!" Regina.
"tidak..." Regina menggelengkan kepala.
"itu hanya perumpamaan saja. jadi anda mau bermain apa tidak ?!" tanya Regina lagi.
"mau.. kemarikan botolnya." Kevin menengadahkan tangannya.
Regina tersenyum simpul seraya memberikan botol sabun tersebut pada Kevin.
"benarkah aku harus bermain gelembung sabun ini?? ah ya sudahlah, dari pada nona Regina marah lagi." batin Kevin yang sebenarnya sangat ingin melempar botol sabun tersebut.
ia merasa malu dengan dirinya sendiri, seorang pria tampan dengan pakaian casual sedang bermain gelembung sabun di taman, entah seperti apa kata orang-orang.
Kevin pun bermain gelembung tersebut, dan Regina berlarian berusaha menangkap gelembung yang semakin membumbung tinggi itu.
"lagi tuan..lagi.. yang banyak." teriak Regina dengan senangnya. Kevin yang tadinya malu itu pun kini bisa menikmati bermain gelembung sabun karena melihat Regina yang sangat bahagia.
"lagi tuan.. lagi.." teriak Regina lagi.
"sudah habis nona.." kata Kevin sembari membuang botol yang sudah kosong itu ke tempat sampah.
"habis??..." ucap Regina lesu. Kevin pun mendekat dan menyentuh kepala Regina.
"kita bisa membuatnya di rumah nona.. sekarang mari kita pergi mencari kado untuk Jerry."
"hhmm, baiklah.." tanpa sadar Kevin meraih tangan Regina dan menggandengnya. Regina pun terdiam menatap sela-sela jari jemarinya yang penuh dengan jari-jari Kevin.
"Anton tidak pernah menggandeng tangan ku seperti ini." batin Regina.
Kevin segera melajukan mobilnya menuju ke sebuah mall. setelah beberapa menit, mereka pun sudah sampai di mall.
"tuan aku haus.." kata Regina.
"sebentar nona, saya akan membeli minum."
__ADS_1
Regina berdiri di sebelah eskalator menunggu Kevin, tak lama Kevin datang dengan satu botol air lemon untuk Regina.
"terima kasih tuan..." Regina meminum air lemon tersebut hingga habis setengah.
"anda tidak membeli minum?" tanya Regina.
"tidak.."
"ini minumlah tuan.." Regina menyerahkan botol air lemon tersebut pada Kevin.
"tidak nona, minumlah.. saya tidak haus." tolak Kevin halus.
"minumlah tuan ! tenang saja, saya tidak penyakitan." seru Regina.
"nada suaranya mulai naik. sepertinya dia akan marah lagi." batin Kevin.
Kevin mengambil botol tersebut dan langsung meminumnya sampai habis. ia tidak ingin mendengar omelan dari Regina. Kevin pun membuang botol yang sudah kosong itu ke tempat sampah.
"tadi katanya tidak haus, tapi habis juga minumannya." kata Regina.
"heh !! kan tadi dia yang menyuruhku meminumnya. aneh sekali dia ini." batin Kevin sembari mengernyitkan keningnya.
Kevin yang sudah lelah dengan sikap Regina yang berubah-ubah itu pun segera menarik tangan Regina dan naik eskalator menuju lantai berikutnya.
"tuan, calon istri Jerry itu orangnya seperti apa?" tanya Regina yang tangannya masih di genggam oleh Kevin.
"tidak tahu.."
"mana mungkin anda tidak tahu tuan.. kan dia asisten anda."
"saya belum pernah bertemu dengan calon istrinya nona, yang saya tahu calon istrinya itu sahabatnya dari kecil." tutur Kevin. mereka masih berjalan mengelilingi lantai mall tersebut.
"sahabatnya dari kecil? kalau begitu kita belikan ini saja." Regina menarik tangan Kevin masuk ke sebuah toko pakaian dalam lengkap.
wajah Kevin memerah menahan malunya karena para pengunjung dan karyawan toko tersebut memandang Kevin dengan senyum serta pandangan aneh pada Kevin.
Kevin menunduk dan hanya diam saja ketika Regina memilah-milih lingerie di hadapannya.
"bagaimana jika yang ini saja tuan?" Regina menunjukkan sebuah lingerie sexy berwarna merah maroon.
"kita belikan kado lain saja nona, jangan yang ini." protes Kevin.
"ini kado yang sesuai tuan, kan calon istri Jerry itu sahabatnya sendiri, jadi mereka pasti sangat akrab dan sudah saling mengenal satu sama lain. ini kado yang bagus tuan.." tutur Regina.
"bersemangat sekali dia, seperti dia saja yang akan memakainya." gumam Kevin.
"apa??? anda menyuruh saya memakai ini??" seru Regina. Kevin pun segera membungkan mulut Regina dengan telapak tangannya.
"jangan keras-keras nona, semua orang melihat kita. lagipula siapa yang menyuruh anda memakai itu." bisik Kevin ditelinga Regina.
"lepas tuan..lepas.." suara Regina tertahan. Kevin pun melepas bungkamannya.
"mungkin mereka pengantin baru.." bisik salah satu karyawan toko tersebut pada temannya.
"jadi anda memilih yang merah maroon ini atau yang hitam ini??" Regina memberi pilihan pada Kevin.
"terserah anda saja." ketus Kevin.
Regina berdecak kesal, ia pun berjalan ke arah kasir dan meminta untuk di bungkus sekalian dua pasang memberi tersebut. Kevin mengekor di belakang Regina.
"kenapa di bungkus kado nona? bukankah anda akan segera memakainya begitu sampai di rumah." kata petugas kasir tersebut dengan santainya.
Kevin yang malu itu pun segera menyodorkan debit card miliknya pada petugas kasir tanpa melihatnya.
"ini kado pernikahan nona." Regina meluruskan.
"oh..." petugas kasir itu manggut-manggut.
"terima kasih sudah berbelanja di toko kami." petugas kasir tersebut menundukkan kepalanya sembari menyerahkan tas yang berisi kado tersebut pada Regina.
Regina dan Kevin keluar toko tersebut, sebelum pulang Regina permisi ke toilet sebentar.
Regina sudah di dalam toilet selama sepuluh menit, Kevin mondar-mandir di depan pintu masuk toilet tersebut dengan gusar.
"kenapa dia lama sekali, apa dia terjatuh di dalam?" tanya Kevin pada dirinya sendiri.
tak lama sebuah panggilan masuk di ponsel Kevin dari Regina.
"nona anda kenapa lama sekali, apa anda baik-baik saja?" tanya Kevin yang khawatir
"saya baik tuan.. tapi..." suara Regina terdengar gugup.
"tapi apa nona?"
"bisakah anda membantu saya?" tanya Regina, ia menggigit ujung jarinya di dalam sana.
"apa nona, katakan saja."
"bisakah anda membelikan saya celana dalam dan pembalut yang ada sayapnya ??" tanya Regina dengan suara yang terdengar gemetar.
"apa??!!" seru Kevin.
"saya datang bulan tuan, saya lupa tidak membawa celana dalam ganti dan pembalut. biasanya saya selalu membawanya kemanapun, tapi entah kenapa hari ini saya lupa." ucap Regina lirih.
"tapi nona..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa likenya,
terima kasih ❤️🤗