
Kevin berteriak memanggil bunda dan istrinya. Ia menuju kamar bundanya, bersiap mengetuk pintu.
Ceklek
Bunda Hana keluar.
"Bunda, dimana Regina?" Panik Kevin. Ayah Agung dan Aldo sudah berdiri di belakang Kevin.
"Kau ini kenapa sangat panik seperti itu?" Tanya balik bunda Hana.
"Bunda, Kevin serius. Dimana Regina?"
"Regina ??" Ulang bunda Hana, Kevin mengangguk.
"Mana bunda tahu. Tadi dia duduk di sofa." Ucap bunda Hana.
Kevin lemas, sesuai tebakannya bahwa istrinya sudah pergi lagi. Meninggalkan dia seorang diri.
"Kenapa bunda tinggalkan dia sendiri, dia pasti pergi dari Kevin." Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Membuat bunda Hana mengulum bibirnya menahan tawa. Aldo dan ayah Agung melihat itu, mereka yakin jika Regina masih berada di rumah itu.
Kevin mengambil kunci mobilnya di meja, ia berlari keluar. Kembali mencari istrinya dan membawanya pulang bagaimanapun caranya.
"Kevin !" Panggil bunda Hana.
"Tidak sekarang bunda, Kevin harus mencari Regina." Kevin membuka pintu mobil.
"Regina ada di kamar mu Vin." Ucap bunda Hana yang sudah berdiri di teras, menghentikan putranya yang panik.
"Bunda !" Kevin menutup keras pintu mobil. Ia menghampiri bundanya yang tengah menertawakannya.
"Kau panik sekali. Tenanglah, dia ada di kamarmu. Dia bosan menunggumu." Ujar bunda Hana.
"Ini tidak lucu bunda." Kevin berjalan menaiki tangga, melirik adik dan ayahnya yang juga menertawakannya di sofa ruang tamu.
"Sayang..." Kevin membuka pintu kamarnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok wanita penghuni relung hatinya. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah Regina dari sana.
"Aku mencarimu." Kevin berhambur memeluk Regina. Semakin erat ia memeluk tubuh itu sampai Regina harus memukul-mukul punggung pria itu agar melepas pelukannya.
"Aku tidak bisa bernafas !" Seru Regina setelah Kevin melepas pelukannya.
"Maaf sayang, aku khawatir. Aku pikir kau pergi meninggalkan ku lagi." Ujar Kevin.
"Aku masih merencanakannya." Ucap Regina.
"Sayang !"
Regina tak mempedulikan Kevin, ia berjalan keluar. Menuruni tangga lalu berpamitan pada keluarga Kevin untuk pulang. Di mobil, tangan Kevin terus mencoba meraih tangan Regina.
"Sudah, fokus saja mengemudi." Ujar Regina sembari menepis tangan Kevin.
"Tapi kau jangan pergi." Ucap Kevin, suaranya mengiba seperti anak kecil yang takut di tinggal ibunya.
"Ini masih di mobil, aku tidak mau mati konyol dengan keluar di saat mobil ini masih berjalan."
"Sayang, aku mohon jangan mengatakan tentang kematian." Ucap Kevin, kini nada suaranya terdengar tegas.
"Jangan memanggilku sayang !"
"Baiklah, Regina."
Mereka sampai di rumah saat matahari mulai tenggelam, sinarnya di ganti oleh indahnya bulan. Karena merasa sangat lelah, Regina tertidur setelah selesai mandi. Yang awalnya hanya ingin menselonjorkan kaki, lama kelamaan kantuk itu pun menyerang Regina.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Pukul sebelas malam, Regina terbangun karena merasa lapar. Ia tak melihat Kevin di sampingnya ataupun di sofa kamar. Ia beranjak keluar kamar namun tetap tak mendapati Kevin. Ia pun berjalan menuju ke dapur. Saat ia melihat ke lantai atas, ia melihat kamarnya sedikit terbuka dengan lampu yang masih menyala. Ia urungkan niatnya pergi ke dapur, ia pun melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia mengintip, ada Kevin di dalam yang tengah duduk di atas tempat tidur sembari sibuk dengan laptop dan beberapa berkas. Terlihat guratan lelah di kening Kevin.
"Kenapa kau belum tidur? Ini sudah malam." Regina masuk, mendekati Kevin.
"Kau bangun?" Tanya balik Kevin yang di jawab anggukan oleh Regina.
"Tidurlah lagi, nanti aku menyusul." Ucap kevin.
"Tidak, aku sudah tidak mengantuk." Regina duduk di tepi tempat tidur.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Regina.
"Belum, kau mau makan sesuatu? Biar ku masakkan." Kevin beranjak berdiri namun di tahan oleh Regina. Ia menyentuh pergelangan tangan Kevin, menariknya untuk duduk kembali.
"Biar aku saja yang memasak. Tunggulah di sini, hanya lima belas menit." Regina berjalan keluar kamar. Meninggalkan Kevin yang tersenyum melihatnya.
Kevin bersyukur Regina tidak berniat untuk pergi lagi darinya. Tugasnya sekarang adalah meyakinkan Regina bahwa ia benar-benar sangat mencintainya dan ia akan menebus semua kesalahannya yang lalu.
Tak mudah memang jika berurusan dengan permintaan maaf pada seorang wanita, tapi Kevin bertekad akan terus melakukan segalanya agar Regina memaafkannya dan tidak berpikir sedikit pun untuk meninggalkannya.
Lima belas menit berlalu, Regina memanggil Kevin dan mengajaknya makan malam. Eh maksudnya makan tengah malam.
Kevin dan Regina sudah duduk di kursi meja makan, menikmati mie kuah lengkap dengan sayur, ayam dan sosis.
"Ini bukan mie instan kan?" Tanya Kevin setelah mencicipi mie kuah tersebut.
"Kenapa? Rasanya tidak enak?"
"Aku sedang bertanya, kenapa kau bertanya balik." Kata Kevin.
"Ini bukan mie instan, aku membuatnya sendiri."
"Pantas saja, rasanya enak." Ucap Kevin sembari terus menyantap mie kuah tersebut dengan lahapnya. Regina tersenyum simpul melihat Kevin sangat menyukai masakannya, istri mana yang tak bahagia melihat suaminya menyantap hasil masakannya dengan lahap. Eh, suami? Iya suami.
"Tidak. Aku tidak mau ikut." Ujar Regina.
"Aku tidak mau tahu, kau harus ikut." Seru Kevin.
"Aku harus bekerja, Papi kerepotan sendiri di kantor. Aku sudah terlalu banyak libur." Seru Regina tak mau kalah.
"Nanti aku yang akan berbicara dengan Papi."
"Tidak. Pokoknya aku tidak mau ikut." Regina beranjak mengambil mangkuk Kevin lalu ke dapur.
Selesai mencuci peralatan bekas makan, Regina kembali ke kamar. Kevin yang baru saja selesai membereskan pekerjaannya ikut masuk ke kamar. Begitu ia membuka pintu, ia mendapat lemparan bantal dari Regina dan membuatnya gelagapan begitu banyak itu mendarat di wajahnya.
"Tidur di luar !" Seru Regina yang berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
"Tapi..."
"Aku bilang tidur di luar !"
"Baiklah, iya aku tidur di luar." Kevin mengambil bantal yang tergeletak di lantai lalu kembali keluar. Menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Kevin pun tidur di sofa ruang tv.
.
.
.
.
.
Hari di mana Kevin harus berangkat ke negara A sudah tiba. Ia menyiapkan baju dan segala keperluannya sendiri sejak semalam. Seperti yang di sampaikan Nuky, penerbangan mereka pukul tiga sore. Sebelumnya. Siang itu ia tidak ke kantor ayah Agung, ia pergi ke kantor WO miliknya.
__ADS_1
"Bapak datang.." Ucap Jerry.
"Iya, kenapa? Kau tidak suka melihat ku datang?"
"Saya kan hanya bertanya pak."
"Bagaimana? Lancar kan semuanya?" Kevin berjalan masuk ke ruangannya, di ikuti Jerry di belakangnya.
"Lancar pak. Besok ada meeting dengan bapak menteri yang akan menikahkan anaknya. Apa besok bapak akan ikut meeting?" Tanya Jerry.
"Tidak Jer, nanti sore aku akan ke luar negeri. Mungkin sekitar dua atau tiga hari saja. Kau dan Sahila yang mengurusnya, aku percaya pada kalian." Kevin menepuk bahu Jerry bangga. Kevin mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya. Membuka laporan keuangan dan beberapa kontrak pernikahan ataupun event yang sudah mereka sepakati.
"Baik pak."
"Di mana Sahila?" Tanya Kevin.
"Saya di sini pak. Maaf saya baru datang, saya baru saja menemui para vendor kita." Sahila masuk lalu duduk di kursi depan meja kerja Kevin, di samping Jerry.
"Pak, boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Jerry.
"Apa?" Kevin masih sibuk membaca buku laporan.
"Bapak ke luar negeri dengan siapa? Dengan istri bapak?" Tanya Jerry. Sahila menoleh, mengerutkan keningnya merasa heran akan pertanyaan temannya ini.
"Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu." Batin Sahila.
"Iya." Jawab Kevin masih sibuk dengan laporannya.
"Berarti bapak akan pergi bulan madu?" Tanya Jerry, membuat Kevin mendongakkan wajahnya menatap Jerry.
"Dasar gila !" Umpat Sahila. Kevin tersenyum mendengar umpatan Sahila pada Jerry.
"Kenapa? Kau juga ingin minta cuti untuk bulan madu?" Tanya balik Kevin.
"Tidak boleh pak ! Saya bisa repot sendiri nanti." Protes Sahila.
"Kenapa kau yang sibuk?" Jerry menyebikkan bibirnya.
"Ya pikir saja, WO kita sedang sangat sibuk-sibuknya dan kau mau minta ijin cuti untuk bulan madu. Enak sekali kau ini." Ujar Sahila.
"Aku tidak minta cuti untuk bulan madu. Aku hanya bertanya pada pak Kevin." Ucap Jerry.
"Aku tidak bulan madu Jerry, Sahila. Hanya ada syuting iklan untuk brand perhiasan milik ayah."
"Oh.." Jerry dan Sahila membulatkan bibirnya.
Ponsel Kevin berdering, Nuky menelpon mengatakan bahwa ia sudah di depan kantor Kevin. Menjemputnya untuk segera ke bandara.
"Aku sudah harus pergi. Kalian urus semuanya. Jangan bertengkar, Jerry maaf aku tidak bisa memberimu cuti untuk bulan madu. Dan kau Sahila, aku akan memberimu cuti dua Minggu jika kau akan menikah. Jadi, cepat menikahlah." Ujar Kevin keluar ruangannya, meninggalkan Jerry dan Sahila dengan pikiran mereka masing-masing.
"Cepatlah menikah, Sahila." Jerry menepuk bahu Sahila, kalimat ledekan itu membuat Sahila geram lalu menginjak kaki Jerry dengan keras.
Kevin duduk di kursi belakang. Nuky duduk di kursi sebelah kemudi. Mereka di antar oleh sopir pribadi ayah Agung.
"Kita menjemput ibu Regina dulu pak?" Tanya Nuky.
"Tidak, jemput ibu mu saja." Sahut Kevin. Membuat Nuky dan sopir di sampingnya tertawa kecil mendengarnya.
Sopir tersebut melajukan mobilnya menuju kantor Regina, menjemputnya secara paksa untuk ikut Kevin ke luar negeri.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa di like, di comment, di vote, dan di share ya. 😊
Terima kasih ❤️