
Kevin keluar kamar dan menghampiri Aldo yang duduk sendirian di ruang tamu. Sementara Jessica, ia sibuk di dapur dan entah sedang membuat apa. "Bagaimana?" tanya Kevin pada Aldo. "Apanya?" bingung Aldo. Kevin berdecak, tidak mungkin adiknya ini tidak tau apa yang ia maksud.
"Jangan berbohong, aku sudah tau semuanya." ucap Kevin, ia mengambil cangkir kopinya lalu menyeruput kopi buatan istrinya tersebut. "Jangan terlalu lama, dia bisa di ambil orang lain jika kau tidak segera mengatakan perasaanmu." imbuh Kevin. Aldo diam, memang benar apa yang di ucapkan kakaknya ini. "Sejak kapan kau mempunyai perasaan padanya?" tanya Kevin. Kevin, memang sangat suka membuat adiknya tertekan. "Sejak kapan?" tanya Kevin lagi.
"Kakak ini bicara apa? Aku tidak mengerti." masih berkilah. "Kau masih mau berbohong padaku?" Kevin menjitak kepala Aldo. "Katakan padaku semuanya !" seru Kevin. "Iya, Kak. Iya ... tapi pelankan suaramu." lirih Aldo sembari menyentuh kepalanya yang sakit oleh jitakan kakaknya.
"Aku mulai menyukainya saat Kak Regina masuk rumah sakit. Saat aku pergi makan malam dengannya." ucap Aldo. Ia sangat malu untuk mengatakan hal itu, karena selama ini ia selalu saja bertengkar dengan Jessica. "Lalu, apa kau sudah mengatakan perasaanmu?" tanya Kevin yang di jawab anggukan kepala oleh Aldo. "Kapan?" tanya Kevin lagi.
"Tadi, sebelum ke sini." jawab Aldo. "Tapi dia menolak ku, katanya aku hanya bercanda." imbuhnya.
Gubrak !!!
Suara dari dapur, Kevin dan Aldo pun segera berlari ke arah sumber suara tersebut. Meraka melihat Jessica yang tengah duduk di lantai. "Kenapa kau duduk di lantai?" tanya Aldo. Ia mengulurkan tangannya membantu Jessica berdiri. "Siapa yang duduk di lantai? Kau tidak bisa melihat, aku sedang terjatuh." seru Jessica. Regina datang, "Ada apa ini?" tanyanya.
"Jessica jatuh." jawab Kevin. "Bagaimana kau bisa jatuh, Jes?" tanya Regina. Jessica menunjuk Aldo tepat di wajahnya. "Karena dia !" Kedua alisnya Aldo tertarik ke atas. "Kenapa aku? Aku dari tadi duduk bersama, kak Kevin." Aldo membela diri.
"Tadi kau mengatakan pada Kevin jika kau sudah menyatakan perasaanmu padaku, kenapa kau seperti perempuan, hah ! Seenaknya bicara tentang hubungan kita !" seru Jessica. Aldo kembali menaikkan kedua alisnya. "Apa kau tadi menguping pembicaraan ku dengan kak Kevin?" tanya Aldo. "Iya." jawabnya.
"Lalu kenapa? Kau tidak suka? Memangnya kau ini siapa, kekasih bukan, istri juga bukan, lalu kenapa kau marah?" tanya Aldo.
"Ya, justru itu. Aku belum menjawabnya tapi kau sudah mengatakan pada semua orang." seru Jessica lagi. "Bukankah tadi kau sudah menolak ku?" tanya Aldo. "Aku bukan menolak, aku hanya ingin melihat apakah kau benar-benar mencintaiku atau tidak. Setidaknya kau kan bisa berjuang." kata Jessica.
"Jadi kau juga mencintai Aldo, Jes?" tanya Regina. "Tentu saja aku mencintainya." jawab Jessica tanpa sadar. Kevin dan Regina tersenyum simpul mendengarnya.
"Kau serius? Kau benar mencintaiku?" Aldo memastikan, Jessica mengangguk. Aldo segera berhambur memeluk tubuh Jessica dengan erat. "Akhirnya ...." ucap Aldo lega.
Kevin menepuk punggung Aldo, "Sudah, lanjutkan nanti saja acara peluk-pelukkan ini. Ayo kita keluar, biar para wanita ini memasak. Aku sudah lapar." ujar Kevin. Jessica menunduk malu setelah Aldo melepas pelukannya. Setelah kedua pria itu keluar dari dapur, Regina segera memasak dengan di bantu Jessica.
.
.
.
.
__ADS_1
.
"Kau mau sarapan apa?" tanya Regina setelah membangunkan Kevin. Kevin segera mendudukkan tubuhnya, menarik pinggang Regina agar lebih mendekat padanya. "Aku mau sarapan kau saja." ucapnya yang langsung mendapat cubitan di pipi oleh sang istri. "Aku serius, kau mau sarapan apa?" tanya Regina lagi. "Omelette saja." jawab Kevin. Regina menyuruh Kevin agar segera mandi. Regina keluar kamar, menuju dapur dan segera membuatkan menu sarapan seperti keinginan Kevin.
Setelah selesai memasak, Regina segera mandi dan bersiap dengan baju kerjanya. Setelah itu mereka duduk bersama menikmati sarapan. "Apa aku boleh makan siang bersamamu?" tanya Regina. "Tentu, sayang. Nanti saat jam makan siang aku akan ke kantormu." kata Kevin. Regina menggeleng, "Tidak, aku saja yang ke kantormu. Nanti jam sepuluh aku ada janji dengan klien di salah satu restoran yang dekat dengan kantormu. Aku akan ke sana membawa makan siang." ucap Regina dan Kevin pun mengiyakan.
Sesuai ucapan Regina, ia segera menuju kantor Kevin dengan makan siang yang dibelinya di restoran tadi. Begitu ia keluar lift, Regina dibuat terkejut dengan adanya Carlyn di sana. Wanita cantik yang menggoda suaminya itu tengah berdebat dengan Nuky — asisten Kevin. Regina semakin mendekat, samar-samar ia mendengar Nuky dan Carlyn yang berdebat.
"Maaf, Nona. Tuan Kevin sedang ada meeting. Beliau Tidak bisa di temui untuk saat ini." ujar Nuky yang mencoba mencegah Carlyn.
"Aku tau Kevin ada di dalam. Biarkan aku masuk !" Carlyn hendak memaksa masuk, namun Nuky segera menarik lengan wanita itu.
"Ada apa, Nuky?" tanya Regina. Carlyn pun menoleh, ia memandang sinis pada Regina.
"Maaf, Bu. Nona Carlyn memaksa masuk ingin menemui suami, Anda." ucap Kevin yang membuat Carlyn terkejut. "Suami?" ulang Carlyn.
"Iya, Kevin adalah suami saya. Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya Regina dengan senyum yang selalu ia tepiskan. "Kakak," Aldo mendekat begitu melihat kakak iparnya.
"Kakak ada di sini?" tanyanya. "Iya, Al." jawab Regina. Regina kembali menatap pada Carlyn. Wajah model cantik itu berubah pias begitu ia mengetahui Kevin sudah memiliki istri. "Aku ingin menemui Kevin." ucap Carlyn.
"Maaf, Nona—" Regina memotong ucapan Nuky. "Ada perlu apa Anda ingin menemui suami saya?" tanya Regina. Kevin yang mendengar suara Regina pun segera membuka pintu rumah kerjanya. Ya, Kevin memang ada di dalam dan tidak sedang ada meeting. Ia menyuruh Nuky berbohong dan mengusir Carlyn karena ia tidak ingin menemuinya.
"Anda belum menjawab pertanyaan saya, Nona." saut Regina. Carlyn mengembuskan napasnya dengan kasar sembari memejamkan matanya sejenak. "Aku ingin meminta pertanggung jawaban dari Kevin." Aldo, Nuky, Regina dan tentu Kevin di buat terkejut oleh ucapan Carlyn. "Apa maksud mu?" seru Kevin.
"Lebih baik kita masuk ke dalam. Mari, Nona." Regina masuk ke ruang kerja Kevin, di susul Kevin, Aldo serta Carlyn. Para karyawan sudah melihat apa yang sedang terjadi di depan ruangan kerja Kevin, oleh sebab itu Regina mengajak mereka masuk agar apa yang mereka bicarakan tidak menjadi konsumsi semua orang. Regina tidak ingin nama baik Kevin apalagi nama perusahaan Ayah Agung tercemar. Beruntung Ayang Agung sedang tidak berada di kantor, entah seperti apa jadinya jika ia melihat kejadian di kantor siang itu.
Regina menaruh makan siang Kevin di meja kerja. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa, di samping Kevin dan Aldo. Carlyn yang duduk di sofa tunggal pun kini tengah menatap tajam pada Regina.
"Apa yang Anda maksud dengan pertanggung jawaban, Nona?" tanya Regina masih dengan nada lembutnya.
"Karena suami mu ini sudah meniduri saya." jawab Carlyn. Seketika Aldo dan Kevin menautkan kedua alisnya begitu ia mendengar apa yang di ucapkan Carlyn. Telinga Kevin seakan terbakar. "Kapan aku meniduri mu?" seru Kevin.
"Tidak mungkin kau lupa, kita melakukannya dengan sadar. Apa aku perlu mengingatkanmu bagaimana kita melakukan semua itu." Carlyn berucap dengan tegas. Seolah dia memanglah benar. Regina yang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Kevin dan memang sudah tau bahwa Carlyn hanya membual, ia hanya memilih diam dan menunggu sampai di mana keberanian Carlyn yang ingin merebut suaminya secara terang-terangan di depannya.
"Kakak, apa benar kakak sudah menidu—"
__ADS_1
"Tidak, Aldo! Mana mungkin kakak akan meniduri seorang wanita semudah itu." tukas Kevin. "Lalu apa yang sudah dia katakan bahwa kakak sudah menidu—" kembali, Kevin memotong ucapan Aldo.
"Sudah kakak bilang, kakak tidak pernah meniduri siapapun !" seru Kevin. Kevin memiringkan tubuhnya menghadap Regina, ia mencoba meyakinkan istrinya jika apa yang di katakan Carlyn itu hanyalah bohong.
"Sayang, aku tidak pernah tidur dengannya, percayalah padaku." ucap Kevin pada Regina.
"Kau tidak bisa lari dari tanggung jawabmu, Kevin. Bagaimana jika aku hamil? Aku akan menuntutmu jika kau tidak mau menikahiku?" seru Carlyn.
"Suamiku tidak pernah tidur dengan wanita lain. Aku tau semua cerita di hotel waktu itu. Dan suamiku bukan pria kurangajar yang dengan mudahnya akan meniduri mu !" seru Regina tak mau kalah.
"Tapi itu kenyataanya! Aku akan melaporkan suamimu ini pada polisi." Carlyn berdiri, ia hendak keluar namun tangannya berhasil di raih oleh Regina. Kevin dan Aldo ikut berdiri, takut jika kedua wanita itu akan melakukan aksi jambak-jambakkan seperti di tv.
"Anda mau pergi kemana, Nona? Apa Anda merasa malu karena tidak berhasil menjebak suami saya?" sungut Regina. Carlyn menghempaskan tangan Regina. Ia Mengangkat tangannya hendak menampar Regina, namun dengan sigap Regina menghentikan tangan Carlyn sebelum berhasil mendarat di pipinya.
"Anda seorang model terkenal, Nona, jangan sampai nama baik Anda tercemar karena sikap buruk Anda ini. Anda dan perusahan ini hanya sebatas partner dalam iklan dan saling menguntungkan satu sama lain. Jangan melebihi batasan Anda, Nona. Kami juga bisa melaporkan Anda atas tuduhan pencemaran nama baik. Jika Anda masih berani mencoba merebut suami saya dengan mengambil keuntungan dari hasil kerja sama perusahaan ini ... ingatlah, bukan hanya Anda yang akan rugi. Tapi juga management tempat Anda bernaung." ujar Regina panjang lebar. Carlyn semakin marah di buatnya. Ia menarik kasar tangannya dan berlalu pergi dari ruangan Kevin dengan wajah yang tidak bisa digambarkan.
Kevin dan Aldo memandang Regina bersamaan, mereka tidak menyangka wanita di hadapan mereka ini sangat berani melawan Carlyn, wanita yang ingin sekali merebut suaminya. Regina sendiri tak habis pikir, kenapa Carlyn sangat menginginkan suaminya dan mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal. Meniduri? Huh ... Regina sangat muak mendengar kata itu.
"Kakak, kau hebat sekali." ucap Aldo yang masih menatap Regina penuh takjub. Regina mendudukkan tubuhnya, tersenyum puas penuh kemenangan. Aldo dan Kevin juga kembali duduk.
"Untuk mempertahankan apa yang aku punya, aku harus seperti itu, Al. Aku tidak ingin kalah, aku punya hak untuk melawan wanita seperti dia. Jangankan satu, seratus wanita pun aku sanggup untuk melawan." ujar Regina. Kevin dan Aldo tersenyum simpul, mereka masih di buat takjub dengan sikap Regina yang tak ingin kalah dan lemah di hadapan wanita yang berniat buruk pada rumah tangganya.
.
.
.
.
.
Hai semuanya, maaf saya agak lama upnya. Lagi stuck ide 😁
Mau tanya nih, di sini udah ada yang baca cerita Afsal dan Nayla apa belum, sih?
__ADS_1
Belum, ya? Kalo belum buruan klik profil saya, di sana ada karya lain dari saya yang berjudul CINTA DARI FACEBOOK. Kisah cinta Afsal pria dari Kashmir, India ... dan Nayla gadis dari Indonesia. Di sana bukan cuma menyuguhkan kisah cinta saja, di sana juga ada beberapa informasi tentang adat dan kebudayaan negara India. Season satu sudah tamat, season kedua akan segera tayang di minggu-minggu ini. Jangan lupa di like, di comment, dan juga di vote. Share cerita ini dan cerita lain saya di sosmed kalian, ya.
Terima kasih 😊❤️