Pelaminan

Pelaminan
Maafkan Regina


__ADS_3

Budayakan like sebelum membaca. Terima kasih ❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Usia kandungan Regina kini sudah memasuki usia delapan bulan. Sedikit demi sedikit, sikap dewasa dan mandiri Regina mulai terlihat kembali. Kevin tidak di buat repot dengan berbagai keinginan dari istrinya itu. Walau kadang sebenarnya ia juga merindukan saat dimana Regina sangat menyebalkan ... Begitu sangat menggemaskan, bagi Kevin.


Hari ini Kevin dan Regina hendak berkunjung ke rumah papi Surya dan mami Ira. Regina sudah sangat merindukan orangtuanya sebab sudah lama ia tidak pergi ke rumah yang menjadi saksi bisu tumbuh kembangnya dulu.


Tak lupa, Regina juga membawa buah tangan untuk kedua orangtuanya. Mereka terlebih dulu mampir ke sebuah toko kue untuk membeli satu kotak besar cupcake.


Kevin menggandeng tangan Regina. Mereka menekan bel rumah dan tak lama bibi membuka pintu. Bibi terlihat terkejut begitu melihat putri dari tuannya itu datang.


“Nona, datang berkunjung,” sapa bibi sembari menepiskan senyum paksa di bibirnya. “Silakan masuk, Nona, Tuan.”


“Kenapa sepi sekali?” Regina mengedarkan pandangannya, menyapu setiap sudut rumah. “Apa Mami dan Papi di kamar, Bi?” tanya Regina yang duduk di sofa ruang tamu.


Bibi menyentuh tengkuk lehernya. Ia menghindari sorot mata nona mudanya. “Tuan dan Nyonya besar,” ucapan bibi menggantung.


“Ada apa, Bi?” tanya Kevin.


Regina beranjak, ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar kedua orangtuanya. “Mami, Papi?” teriak Regina. Kevin mengikuti langkah sang istri.


“Sayang, jangan terburu-buru. Berjalan pelan saja.”


Regina tak menghiraukan. Tujuannya adalah ke kamar mami dan papinya.


“Mami,” Regina membuka pintu kamar. Kamar dalam keadaan rapi dan tidak ada satu orangpun di dalamnya. “Kevin, kemana mami dan papi? Perasaanku sungguh tidak enak,” wajah Regina berubah pias. Ia menggenggam tangan sang suami dengan perasaan takut.


“Tenangkah, mungkin mami dan papi sedang pergi keluar.”


“Tapi ini hari Minggu, kemana mami dan papi pergi?”


Kevin mengajak Regina kembali turun dan menanyakan keberadaan mertuanya kepada bibi.


“Bi, kemana mami dan papi?” tanya Kevin.


“I-itu, Tuan,”


“Itu apa, Bi? Katakan yang jelas!” seru Regina.

__ADS_1


“Sayang, tenanglah,” Kevin mengelus lembut kepala Regina yang berdiri tepat di sampingnya.


“Tuan masuk ke rumah sakit, Nona,” kata bibi takut-takut. Ia menunduk, meremas ujung bajunya.


“Masuk rumah sakit?” terkejut Regina. “Sejak kapan? Kenapa tidak ada yang memberitahuku, hah!” seru Regina.


“Sejak kapan, Bi? Dan Oapi sakit apa?” tanya Kevin dengan nada yang ia buat setenang mungkin. Ia juga merasa terkejut bahwa mertuanya masuk ke rumah sakit. Tapi, ia berusaha terlihat tenang agar istrinya tidak semakin panik.


“Sudah seminggu ini, Tuan. Nyonya besar melarang saya untuk memberitahu Nona Regina.”


Kevin dan Regina segera ke rumah sakit yang sudah di tunjukkan oleh bibi. Sepanjang perjalanan, sesekali Kevin menggenggam erat tangan sang istri, menyalurkan ketenangan. Meski sebenarnya ia juga merasa sangat khawatir. Kevin merasa menjadi menantu yang sangat egois, sampai ia sendiri tidak tahu jika mertuanya masuk ke rumah sakit.


“Papi, maafkan Regina,” tak henti Regina mengatakan hal itu.


“Sayang, jangan menyalahkan dirimu.” Kevin juga tak henti mengatakan hal itu. Ia tahu maksud dari mertuanya yang tidak memberitahu karena memang tidak ingin membuat Regina yang sedang hamil besar itu merasa khawatir.


.


.


.


.


.


Setelah satu jam membelah jalanan yang macet karena memang sedang hari Minggu atau juga bisa disebut sebagai hari keluarga, mobil Kevin sudah sampai di rumah sakit. Ia menggandeng tangan sang istri memasuki rumah sakit tersebut. Mereka segera menuju kamar inap dimana papi Surya di rawat seperti yang di katakan bibi.


“Mami,” Regina membuka pintu dan mendapati maminya duduk di sebelah bed hospital.


Tak menjawab, Regina berjalan mendekat pada papi Surya. Ia duduk di kursi sebelahnya, di raihnya tangan lemas sang papi. “Papi, maafkan Regina yang baru datang. Maaf,” ucap Regina dengan air mata yang sudah turun membasahi pipinya.


Kevin dan mami Ira masih berdiri, melihat penuh haru Regina yang menangisi papinya.


“Mi, maafkan kami, kami jarang berkunjung ke rumah hingga tidak tahu jika Papi sedang sakit.”


Mami Ira menoleh ke arah Kevin, tersenyum kepada menantunya. “Mami dan Papi tahu, kau sangat sibuk dengan segala pekerjaanmu, dan Mami tidak memberitahu karena tidak ingin membuat Regina khawatir. Sangat tidak baik untuk kehamilannya jika dia terlalu banyak pikiran.”


“Tapi, Mami, setidaknya bisa memberitahuku bukan?”


“Mami tahu, Kevin, kau sangat sibuk. Mami tidak ingin merepotkanmu.”


“Tidak ada yang merepotkan, Mi, kalian juga orang tuaku, sudah kewajiban ku untuk berbakti kepada kalian.”


Di tengah obrolan Kevin dan mami Ira, Regina berdiri lalu menghampiri keduanya. “Papi sakit apa, Mi?” tanya Regina dengan suara parau. Ia menyeka air mata di pipinya.


“Papi hanya kelelahan, sayang, akhir-akhir ini Papi sangat sibuk.”


“Sayang, kemarilah. Duduklah bersama Mami di sofa.” Kevin mengajak Regina untuk duduk di sofa yang tersedia di ruang rawat kelas VIP tersebut. Mami Ira dan Regina duduk berdampingan. Sementara Kevin, ia duduk di sofa tinggal.


“Katakan, Mi, Papi sakit apa?” tanya Regina lagi.


Mami Ira tidak punya pilihan lain, ia sudah tidak mungkin menutupi kondisi sang suami. Dengan perlahan, ia menjelaskan kepada Regina bahwa papinya mengalami serangan jantung setelah perusahaan mengalami kerugian yang di sebabkan oleh Riana—sekertaris pribadi papi Surya— yang menipu perusahaan menggunakan nama dan tanda tangan papi Surya.


Perusahaan mengalami masalah setelah Riana membawa kabur uang perusahaan dalam jumlah besar. Papi Surya sontak terkena serangan jantung begitu mengetahui semuanya. Sekertaris yang bekerja selama lima tahun itu sudah berani mengkhianati papi Surya.


Selama sebulan ini, mami Ira kesana kemari mencoba mencari pinjaman uang untuk membayar para karyawan. Dan sampai detik ini ia sama sekali belum mendapat pinjaman uang. Bank yang mendengar kabar buruk mengenai perusahaan pun menolak memberi pinjaman. Sementara para karyawan sudah banyak yang berbicara buruk mengenai perusahaan dan ada beberapa karyawan yang akan segera mengundurkan diri jika dalam waktu seminggu ini mereka tidak mendapatkan gajinya.

__ADS_1


“Ini sudah satu bulan, Mi, kenapa tidak ada yang memberitahu Regina? Apa Regina sudah tidak anggap anak lagi oleh kalian?”


“Regina! Kau ini bicara apa?” seru Kevin. “Mami sedang sedih dengan semua ini, tidak seharusnya kau berkata seperti itu.”


“Kevin, Mami bisa memahami kemarahan dan kekecewaan Regina,” timpal mami Ira. “Regina, mami tidak ingin membuatmu khawatir, itu tidak baik untuk kandunganmu. Sebulan lagi kau akan melahirkan, sayang. Kau tidak boleh terlalu banyak pikiran.” Mami Ira menjelaskan dengan penuh kelembutan.


“Kevin, apa aku boleh kembali mengurus perusahaan selama Papi sakit?” tanya Regina kepada Kevin.


“Sayang, bukan aku tidak suka kau kembali bekerja. Tapi biar aku saja yang mengurus perusahaan Papi. Apa aku boleh mengurusnya, Mi?” tanya Kevin kepada ibu mertuanya.


Mami Ira mengangguk, ia setuju jika Kevin yang mengurusnya. “Iya, Vin. Mami yakin kau bisa mengurusnya. Tapi apa kau tidak kerepotan mengurus tiga perusahaan sekaligus? Kau juga harus mengurus Wedding Organizer milikmu.”


Kevin menggeleng, menyentuh lembut jari jemari ibu mertuanya. “Tidak, Mi. Ada Aldo, Nuky, dan Kak Alan yang membantuku mengurus perusahaan. Ada juga Jerry dan Sahila yang mengurus Wedding Organizer. Mami, tenang saja.”


“Kevin, tapi aku—”


Kevin memotong ucapan Regina. “Sayang, perutmu sudah semakin besar. Aku yakin, Papi juga tidak ingin kau terlalu lelah dan banyak pikiran. Kau harus banyak istirahat, aku mohon mengertilah.”


Tak punya pilihan lain, Regina dan mami Ira setuju bahwa Kevin yang akan mengambil alih mengurus perusahaan Papi Surya untuk sementara waktu.


Regina kembali menghampiri papinya, duduk lalu menggenggam tangan lemas yang terdapat selang infus itu. Berbagai alat bantu menempel pada dada papi Surya. Begitupun selang oksigen yang masih melekat di hidung pria paruh baya tersebut. Menandakan bahwa keadaannya memanglah tidak baik.


“Mami istirahat saja di rumah, biar kami yang menjaga Papi di sini, Mi. Aku akan memanggil sopir untuk menjemput Mami.” Kevin merogoh sakunya, mengambil ponsel miliknya.


“Vin, tidak perlu memanggil sopir. Sopir pribadi Mami ada di sini. Mami akan pulang sebentar, lalu kembali kesini lagi. Kau tidak keberatan, kan? Jika menunggu Papi sebentar.


“Tentu, Mi, kami tidak keberatan sama sekali. Mami istirahat di rumah saja, biar kami yang menjaga Papi,” ucap Kevin sopan.


Setelah berpamitan kepada Regina, mami Ira pun pulang dengan di antar Kevin sampai ke parkiran. “Vin, tolong buat Regina mengerti. Jangan sampai dia stres karena memikirkan kesehatan Papinya dan perusahaan. Mami tidak ingin itu semua mempengaruhi kesehatan bayi kalian.”


“Iya, Mi. Kevin akan memberi pengertian kepada Regina.”


Mami Ira sangat lega mendengarnya, ia pun segera masuk ke mobil. Pulang untuk beristirahat sejenak. Kevin kembali masuk ke rumah sakit. Sebelumnya, ia membelikan istrinya minuman hangat dari kantin rumah sakit. Kevin masuk dengan dua minuman hangat di tangannya. Satu teh untuk Regina, dan kopi untuk dirinya sendiri.


Kevin meletakkan dua gelas minuman hangat itu di meja sofa. Ia menghampiri sang istri yang masih setia duduk di kursi samping bed hospital papi Surya.


“Sayang,” Kevin menyentuh bahu Regina.


“Sayang, kau sudah terlalu lama duduk. Sekarang berbaringlah di sofa, kau pasti sangat lelah,” ajak Kevin.


Tak menjawab ataupun bergerak menuruti perintah sang suami. Regina tetap menangis memandang wajah pucat sang papi.


“Kevin, kenapa Papi tidak membuka matanya? Apa Papi marah padaku?” tanya Regina tanpa memalingkan pandangannya dari papi Surya.


“Papi tidak marah. Kau jangan berpikir seperti itu. Papi akan sedih jika kau berpikir seperti itu,” Kevin meraih tangan sang istri lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.


“Sudah, jangan menangis,” Kevin menghapus air mata Regina dengan satu ibu jarinya. “Lihatlah. Ini alasan kenapa Mami tidak memberitahumu, kau pasti akan berpikiran yang macam-macam seperti ini.”


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2