Pelaminan

Pelaminan
Aku Bercanda (Aldo)


__ADS_3

Holla guys!


Maaf, ya ... Saya tetiba stop nulis untuk cerita Kevin dan Regina ini. Nggak tau kenapa ga ada semangat buat nulis dan ga ada ide sama sekali. Saya coba lanjutin ya, tapi pelan-pelan, saya ga bisa up rutin. Tapi sebisa mungkin saya usahakan untuk up. Jangan lupa di like dulu sebelum membaca.


Semoga rindu kalian kepada Kevin dan Regina bisa terobati dengan bab ini. Happy reading guys ❤️


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pukul satu malam, Kevin baru saja sampai di rumah. Dengan raut wajah lelah serta kemeja yang sedikit berantakan dan jas yang ia selampirkan asal dipundaknya, namun tetap tak mengurangi ketampanannya. Kevin masuk ke rumah tanpa membunyikan bel terlebih dulu, sebab ia membawa kunci cadangan yang lain.


Ia melangkah masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya. “Kenapa kamarnya gelap begini? Apa Regina tidur di kamar atas?” tanya Kevin pada dirinya sendiri. Tangannya meraba tembok di sebelah pintu lalu menyalakan saklar lampu.


“Sayang!” terkejut Kevin begitu mendapati Regina duduk di tengah tempat tidur dengan kaki yang ia selonjorkan serta sorot mata tajam yang menatap ke arahnya. “Kau mengejutkanku saja,” Kevin menyentuh dadanya seolah jantungnya akan melompat dari tempatnya karena terlalu terkejut.


Kevin melangkah mendekat, melemparkan jasnya ke sofa kamar. “Aku kira kau sudah tidur,” punggung tangan Kevin menyentuh pipi Regina dengan lembut.


“Ada apa?” tanya Kevin.


Tak menjawab, Regina mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto yang di kirim oleh Jessica tadi.


“Oh....” santai Kevin. Ia sudah bisa menebak jika Regina akan mengetahui foto itu dari orang lain.


“Jadi, kau mau mendengar penjelasan ku atau tetap bergumul dengan pikiran burukmu itu?” Kevin memberi pilihan.


“Ya, sudah. Jelaskan padaku,” kata Regina dengan bibir yang mengerucut karena kesal.


“Tapi nanti, aku akan mandi dulu. Aku sudah tidak tahan, badanku lengket semua.”


Kevin beranjak masuk ke kamar mandi. Sementara Regina, ia keluar kamar menuju dapur hendak membuatkan susu untuk suaminya. Se-marah apapun Regina kepada Kevin, ia tetap tidak bisa mengabaikan kebiasan suaminya tersebut yang harus meminum susu hangat sebelum tidur.


Regina sudah kembali ke kamar dengan segelas susu hangat di tangannya, meletakan gelas tersebut di meja nakas lalu mengambilkan baju ganti untuk suaminya.


Keduanya kini tengah duduk bersama di atas tempat tidur. Dengan Regina yang duduk bersandar di kepala tempat tidur, berselonjor ... Dan Kevin duduk di samping Regina, duduk bersila menghadap sang istri.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” Kevin membuka suara.


Regina berdecak kesal. “Tentu kau sudah tahu apa yang ingin aku tanyakan. Kenapa masih bertanya?!” seru Regina.


Kevin terkekeh, meraih satu tangan Regina lalu mencium punggung tangan wanita yang sangat ia cintai itu.


“Kau sungguh menggemaskan ketika sedang marah. Apa kau tahu? Anak kita pasti sedang tertawa di dalam sini,” Kevin mengelus lembut perut buncit Regina.


“Cepat katakan! Kenapa kau bisa berfoto dengan wanita itu. Siapa dia dan kenapa menjadi trending topik untuk beberapa jam terakhir ini.”


Kevin pun mulai mengatakan semuanya kepada sang istri. Ia sendiri pun tidak tahu kenapa foto itu bisa menjadi trending. Mungkin karena wanita itu adalah putri seorang gubernur. Tak heran, banyak sekali media yang menyoroti pernikahan tersebut, entah dengan mengambil gambar dan video dari luar ballroom hotel—sebab para wartawan tidak di ijinkan masuk. Mereka juga menyoroti akun media sosial putri kembar sang gubernur.


Baiklah, tidak ada yang harus Regina salahkan dan ragukan. Semua penjelasan Kevin memang masuk akal baginya. Tapi tetap saja, seorang istri pasti akan merasa cemburu melihat suaminya mengambil foto yang cukup dekat dengan wanita lain.


Sekalipun itu hanyalah teman, istri tetaplah akan merasa cemburu. Munafik jika tidak ada kata cemburu bagi seorang wanita. Cemburu sudah menjadi tabiatnya wanita ... Pria tidak bisa menyalahkan rasa cemburu seorang wanita.


“Tapi, kau kan bisa menolaknya. Kenapa kau justru menurut dan mengabulkan permintaannya,” Regina masih tak terima.


Kevin mengembuskan napas dengan kasar, menunduk. Bingung harus berkata apa lagi. “Sayang,” Kevin menyentuh lembut pipi Regina. “Lihat aku,” Regina menatap wajah Kevin.


“Dia hanya memiliki fotoku. Sedangkan dirimu sudah memiliki diriku. Semuanya sudah ku berikan kepadamu. Dia hanya bisa memandang fotoku, tapi kau kan bisa memeluk dan menciumku di setiap waktu.”


“Huh! Percaya diri sekali kau ini. Siapa juga yang ingin memeluk dan menciummu setiap waktu!” sungut Regina. Tidak serius, memang benar ... Bahwa ia ingin memeluk dan mencium suaminya setiap saat. Ia hanya sedang marah saja, maka dari itu ia mengatakan hal seperti itu.


“Ya, sudah.Aku saja yang memeluk dan menciummu setiap saat. Seperti ini,” Kevin meraih tubuh Regina, mencium puncak kepala wanitanya. “Aku mencintaimu.”


.


.


.


.


.


Kevin berangkat bekerja, kecemburuan Regina semalam sudah bisa ia atasi dengan memberi pengertian secara perlahan serta lembut. Bukan dengan emosi yang justru akan membuat mood Regina buruk. Ia tahu, ibu hamil memanglah sangat sensitif. Terlebih jika itu menyangkut suaminya.

__ADS_1


Hari ini Kevin datang ke kantor ayah Agung. Ia di sambut oleh Nuky—asistennya saat baru tiba di lobby kantor. Ia harus segera menyiapkan diri untuk syuting iklan besok.


“Pak, nanti pukul sebelas kita akan menemui nona Merry dan managernya untuk membahas syuting esok hari lalu di lanjut makan siang bersama,” Nuky mengingatkan sembari tetap berjalan di samping Kevin, masuk ke dalam lift.


Kevin mengangguk. “Iya, atur saja semuanya. Oh, iya, nanti akan ada Jerry, asistenku dari wedding organizer yang akan datang kemari. Mungkin nanti sekitar pukul sembilan. Selama aku bersamanya, jangan sampai ada yang menggangguku,” perintah Kevin. Pintu lift terbuka. Kevin melangkah keluar dan di susul Nuky di belakangnya.


Tak menjawab, Nuky berjalan menunduk ... Ia masih hanyut dalam pikirannya sendiri. Jangan menganggu ketika bersama Jerry. Pak Kevin masih normal kan? Istrinya saja sedang hamil. Tapi—


“Heh! Apa yang sedang kau pikirkan?!” Kevin menghentikan langkahnya begitu tak mendapat sahutan dari Nuky.


Nuky salah tingkah, ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sama sekali. “Ti-tidak, Pak,” gugup Nuky.


“Jangan-jangan, kau berpikir bahwa aku ini penyuka sesama jenis(?)”


“Iya, Pak.” jawab Nuky cepat dan tanpa sadar. Nuky sadar akan apa yang ia ucapkan saat Kevin membulatkan mata tajam kepadanya.


“Eh! Mak-maksud saya bukan seperti itu, Pak. Maksud saya—”


“Kau ini sudah lama bekerja denganku, bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. Jika aku menyukai pisang, sudah dari dulu aku menjamah dirimu!” ucap Kevin penuh penekanan.


Nuky bergidik, merinding akan apa yang di ucapkan Kevin. Ia menelan saliva dengan keras.


Menjamah? Yang benar saja, Pak. Aku mana bisa dengan pisang!


“Sudahlah! Pagi-pagi otakmu itu sudah kau isi dengan hal kotor. Lepas dulu dan cucilah di tukang laundry. Mereka akan mencucinya sampai bersih hingga ke serat-seratnya dan pastinya akan lebih wangi.” Kevin berlalu, masuk ke ruang kerjanya. Meninggalkan Nuky yang masih mematung keheranan akan ucapan atasannya itu.


“Iya, Pak. Dan mulutmu itu juga perlu di laundry agar lebih rapi saat sudah di setrika!” umpat Nuky.


.


.


.


.


.


Sore hari pukul lima, Jessica datang berkunjung ke rumah Regina. Ia sudah sangat merindukan sahabatnya itu. Bi Tanti segera membuka pintu begitu ia mendengar suara bel yang di tekan berkali-kali. Bi Tanti cukup hafal, siapa sosok yang suka menekan bel rumah berkali-kali. Hanya Jessica yang bisa melakukan hal itu.


“Terima kasih, Bi,” ucap Jessica begitu ia melangkah masuk. “Regina di mana, Bi?”


“Ada di taman belakang, Nona, sedang memberi makan ikan koi,” jawabnya.


Jessica segera menyusul ke taman belakang. Menyapa Regina dengan hebohnya.


Regina hanya melirik dan tidak menjawab sapaan Jessica.


“Kau kenapa? Kau tidak suka aku datang kesini?” seru Jessica.


“Aku sangat kesal denganmu!” Regina menabur makanan ikan perlahan.


“Kenapa?” tanya Jessica.


“Kenapa kau mengirim foto itu kepadaku, kau sangat kesal padamu!”


“Apa kau tidak salah? Seharusnya kau berterima kasih padaku. Jika aku tidak mengirim foto itu, Kevin pasti sudah berselingkuh di depanmu!” ujar Jessica.


“Di belakang! Mana ada, orang berselingkuh di depan.” koreksi Regina.


“Oh, iya, aku lupa,” Jessica terkekeh sendiri. “Tapi benar kan apa yang ku katakan? Kevin pasti tidak mengatakan padamu tentang foto itu. Dia pasti akan menyembunyikan perselingkuhannya.”


Regina mendaratkan sebuah jitakan di kepala Jessica, membuat sahabatnya itu meringis kesakitan.


“Kau ini sedang hamil tapi tetap saja jahat kepadaku,” melas Jessica, satu tangannya menyentuh bagian kepala yang di jitak oleh Regina.


Regina sangat geram akan ucapan Jessica, sebab itu ia mendaratkan sebuah jitakan di kepala sahabatnya. Ia merasa risih akan kata ‘Perselingkuhan’ ... Bukankah ucapan sama halnya dengan doa(?)


“Jika mulutmu itu masih mengatakan tentang perselingkuhan, aku akan menyuruh Aldo untuk memutuskan hubungannya denganmu!” ancam Regina.


Bukan takut, Jessica justru tersenyum penuh percaya diri. Ia tahu, Aldo tidak akan menuruti perintah Regina. Aldo sangat mencintainya, sehingga mustahil jika pria yang menjadi adik ipar sahabatnya itu akan memutuskan hubungan dengannya atas perintah kakak iparnya—Regina.


“Dia sangat mencintaiku, Re. Mana mungkin dia mau berpisah dariku.”


“Cih! Percaya diri sekali kau ini. Dia sangat menurut akan apa yang aku perintahkan, aku ini kakak ipar kesayangannya. Saat Kevin melukai hatiku saja, dia menjadi orang pertama yang marah dan memusuhi kakaknya sendiri. Jadi sudah pasti ia akan menurut jika aku menyuruhnya untuk berpisah denganmu.”


Jessica terdiam, memang benar bahwa Aldo sangat menyayangi Regina melebihi rasa sayangnya kepada Kevin—kakaknya sendiri.


Regina kembali berucap. “Apalagi jika aku mengatakan bahwa kau adalah sebab yang membuatku dan Kevin bertengkar semalam, sudah pasti Aldo tidak akan berpikir dua kali untuk memutuskan hubungan denganmu.”


Bahu Jessica merosot lemah, ia meraih jari jemari Regina. memohon agar tidak mengatakan pada Aldo untuk memutuskan hubungan dengan dirinya.


“Re, jangan seperti itu. Kau tahu kan, aku sangat mencintai Aldo. Aku tidak bisa berpisah dengannya, aku mencintainya, Re. Aku mencintainya,” Jessica memohon.


Regina memalingkan wajahnya ke sisi lain, bibirnya terlipat ke dalam ... Menahan tawa akan apa yang sudah ia ucapkan, di tambah melihat ekspresi wajah Jessica yang ketakutan. Regina hanya bercanda, mana mungkin ia kan melakukan hal bodoh seperti itu. Ia tidak se-jahat dan se-egois itu. Ia tidak ingin membuat cinta adik ipar dan sahabatnya itu hancur.


“Regina, jangan seperti itu. Kau kan sangat cantik, baik hati dan tidak sombong serta ra—”


“Rajin menabung!” tukas Regina.

__ADS_1


“Iya,” Jessica tersenyum dengan di buat-buat, menunjukkan deretan gigi putih dan rapinya.


Tanpa Jessica dan Regina sadari, ada dua pasang mata yang mengawasi mereka dari tengah pintu yang menjadi jalan keluar—masuk ke taman belakang. Kevin dan Aldo berdiri, menyimak pembicaraan antara Jessica dan Regina.


Kevin dan Aldo tahu jika Regina hanyalah bercanda, namun entah mengapa ... Jessica menganggap serius apa yang di ucapkan Regina. Di saat Jessica masih tetap memohon pada Regina, di situ Aldo tersenyum penuh maksud ... Ia ingin ikut mengerjai kekasihnya itu—Jessica.


Aldo melangkah, mendekat kepada Jessica dan kakak iparnya.


“Jadi kau yang sudah menyebabkan kak Kevin dan kak Regina bertengkar hebat!” seru Aldo.


Jessica dan Regina kompak menoleh pada sumber suara tersebut. Jessica berdiri, semakin mendekatkan diri kepada Aldo. Raut wajahnya sudah terlihat bahwa ia sangat ketakutan. Kevin membantu Regina berdiri.


“Aldo, aku bisa menjelas—”


Aldo memotong ucapan Jessica.


“Aku tidak menyangka kau akan berbuat hal seperti itu. Kau tahu bukan, jika aku sangat menyayangi kak Regina! Berani sekali kau membuat mereka bertengkar hebat!”


Jessica kelabakan, ia sangat bingung dan ketakutan. “Tidak, Al, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak ingin jika Regina di khianati untuk yang kedua kalinya. Aku juga sangat menyayangi Regina, sama sepertimu.”


Regina melangkah, ia hendak melerai Aldo dan Jessica. Ia ingin menjelaskan pada Aldo bahwa hubungan antara dirinya dan Kevin baik-baik saja. Ia tidak bertengkar hebat karena ulah Jessica. Regina belum tahu jika Aldo juga tengah bercanda, sebab sorot mata dan raut wajah Aldo memanglah terlihat memancarkan kemarahan yang amat sangat kepada Jessica. Bahkan Aldo dengan sengaja mendorong tubuh Jessica agar menjauh darinya.


“Regina,” Kevin menarik lengan Regina. “Biarkan saja,” kata Kevin.


“Mana mungkin aku membiarkan mereka seperti itu, aku sama sekali tidak berniat menyuruh Aldo untuk memutuskan hubungannya dengan Jessica. Aku hanya bercanda, Kevin,”


Kevin berbisik di telinga Regina. “Aldo juga sedang bercanda, biarkan saja. Kita nikmati tontonan ini.”


Regina membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka Aldo bisa berakting sebagus itu. Seolah ia memang ingin memutuskan hubungan dengan Jessica. Kevin menahan tubuh Regina yang berkali-kali ingin maju untuk melerai Aldo dan Jessica yang semakin lama—semakin menjadi.


“Aldo, dengarkan aku dulu. Kau tidak bisa memutuskan hubungan ini secara sepihak. Itu tidak adil,” mata dan hidung Jessica sudah memerah, air matanya sudah bersiap menerobos keluar.


Aldo mulai merasa kasihan, tapi keinginannya untuk menjahili Jessica belum terpuaskan. Ia pun melanjutkan dramanya.


“Aku minta, sekarang kita putus! Jangan pernah menghubungiku lagi dan menemui kak Regina. Aku bersumpah akan ******* habis dirimu jika kau masih berani menghubungiku!” seru Aldo.


Jessica menurunkan kedua tangannya yang sedari tadi mencoba menarik lengan Aldo. meminta kesempatan akan hubungan mereka. Tapi sepertinya Aldo benar-benar serius atas ucapannya.


Jessica menunduk, menatap lantai di mana kakinya berpijak. Satu teres air mata itu jatuh ke lantai. Jessica merasa, ia memang bersalah sudah mengirim foto Kevin bersama Kirana kemarin kepada Regina. Ia sama sekali tidak berniat membuat Regina dan Kevin ribut ... Ia hanya tidak ingin jika Kevin sampai mengkhianati Regina.


“Maaf,” lirih Jessica, ia masih menunduk dengan tetesan air mata yang semakin lama semakin deras. Isakan itu semakin lama semakin kencang. Jessica sudah tak mampu menahan rasa sakit di hatinya akan sikap dan keputusan Aldo secara sepihak.


“Sudah cukup! Hentikan, Al, sampai kapan kau akan terus menjahili Jessica. Lihatlah, dia sudah menangis seperti itu,” seru Regina. ia mendekat dan memeluk tubuh Jessica yang gemetar.


Aldo mengulum bibirnya, masih berusaha menahan tawanya melihat sang kekasih yang kini sudah menatapnya ... Dengan sisa air mata yang membasahi pipinya.


“Jadi, kau—”


“Aku hanya bercanda, Jes, kau ini serius sekali,” tukas Aldo. Refleks, Jessica pun maju lalu memukul lengan Aldo dengan kerasnya. Membuat Aldo mengaduh dan meringis kesakitan.


“Jahat sekali kau! Aku tidak akan pernah memaafkanmu.”


Jessica masih terus berusaha memukul Aldo, baik di dada maupun lengan pria itu. Dengan sekali tarikan, tubuh Jessica sudah masuk ke dalam pelukan Aldo. Jessica kembali menangis, membuat jas kerja Aldo sedikit basah karenanya.


“Aku pikir kau tadi serius. Regina juga begitu, aku sangat takut, aku tidak ingin berpisah darimu,” lirih Jessica.


Aldo mengelus punggung serta rambut Jessica, memberi ketenangan pada wanitanya. “Maaf, aku hanya bercanda. Aku tadi melihat saat kak Regina mengerjaimu, jadi aku berpikir untuk mengerjaimu juga, maafkan aku,” ucap Aldo dengan suara terendahnya.


“Kalian semua jahat!”


“Bukan kami yang jahat, kau saja yang terlalu bodoh!” ujar Aldo.


“Aldo....” Jessica menghentakkan kakinya ke lantai.


“Tapi aku sangat mencintaimu,” ucap Aldo tulus.


Kevin dan Regina masih berdiri memperhatikan sepasang kekasih di hadapannya, yang masih berpelukan dengan eratnya. Kevin tak mau kalah, ia juga memeluk Regina ... Mencium puncak kepala sang istri, lama.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Udah dulu ya untuk hari ini. Terima kasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2