
Tubuh Regina basah, ia memeluk kedua lututnya di bawah guyuran air yang keluar dari shower. Sudah dua jam Regina duduk di kamar mandi. Meratapi hinaan yang Kevin berikan.
"Apa aku begitu buruk?"
"Bukankah dia mengatakan mencintaiku?"
"Apa salahku ?"
"Kenapa dia seperti ini?"
"Aku sudah mulai membuka hatiku, perlahan aku mencoba mencintainya, kenapa dia hanya menjadikanku pelampiasan saja."
Regina berulang kali mengatakan hal itu. Sakit sekali mengingat Kevin memberinya pil kontrasepsi setiap malam. Bodoh ! Regina merasa sangat bodoh, bagaimana bisa ia tidak tahu jika pil yang ia minum bukanlah vitamin seperti apa yang Kevin katakan.
Tubuh Regina lemas, kepalanya terasa sangat berat. Pandangannya pun kabur. Ia menggigil kedinginan. Bukan beranjak dan mengganti bajunya, Regina justru tetap duduk memeluk lututnya di bawah guyuran shower.
.
.
.
.
.
"Apa kak Kevin belum pulang?" Aldo berdiri di depan pintu utama rumah Kevin. Berkali-kali ia memencet bel namun sama sekali tidak ada yang membuka. Aldo juga menelpon Kevin.
"Dia pasti bertanya soal Regina, lebih baik tidak usah di angkat saja." Kevin mengubah mode silent di ponselnya. Ia pun melanjutkan tidurnya lagi.
Aldo juga sudah menghubungi nomor Regina, sudah sepuluh kali Aldo menelpon namun sama saja, tidak ada jawaban dari Regina.
Aldo mengintip lewat celah pintu garasi, terlihat hanya ada mobil Regina di sana.
"Liana, cari keberadaan kak Regina." Aldo menelpon sekretarisnya. Tak lama Liana sudah mengirim pesan bahwa Regina ada di dalam rumah karena sinyal GPS menunjukkan bahwa Regina memang berada di rumah. Liana memang sangat bisa di andalkan dalam setiap keadaan.
Hati Aldo khawatir, tanpa pikir panjang lagi ia pun mendobrak pintu itu. Satu, dua, tiga dan empat, Aldo berhasil mendobrak pintu tersebut.
"Kak ??"
"Kak Regina??" Teriak Aldo, ia melangkah menaiki tangga menuju kamar Regina. Aldo masuk setelah ia mengetuk namun tidak ada sahutan sang pemilik kamar. Aldo mendengar suara guyuran air, namun saat Aldo menoleh ia di buat bingung karena pintu kamar mandi tidak tertutup.
"Apa kak Regina sedang mandi? tapi kenapa pintunya tidak di tutup?" Sedikit ragu, Aldo melangkah mendekati kamar mandi.
"Kak.." Panggil Aldo.
"Kak.."
Tangan kanan Aldo mendorong pintu itu perlahan. Tak ada teriakan atau apapun, Aldo semakin mendorong pintu itu sampai terbuka lebar.
"Kakak !" Teriak Aldo, matanya membulat melihat Regina yang tergeletak di bawah guyuran air. Tanpa pikir panjang Aldo pun mengangkat tubuh basah itu, bibirnya tak henti memanggil-manggil kakak iparnya agar terbangun. Aldo menuruni tangga dengan susah payah. Ia pun memasukkan Regina di kursi belakang mobilnya.
Aldo segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Kenapa kak Regina bisa sampai seperti itu? lalu di mana kak Kevin." Aldo berbicara pada dirinya sendiri.
Begitu sampai di rumah sakit, Aldo kembali menggendong tubuh Regina. Kebetulan Rio sedang bertugas pagi itu. Dengan sedikit berlari Rio menghampiri Aldo.
"Al, ada apa ini? kenapa dengan Regina?" Tanyanya.
"Aku tidak tahu, lebih baik kau periksa dia sekarang." Ujar Aldo. Aldo menunggu di luar, sementara Rio dan perawat sedang memeriksa Regina.
Rio keluar, wajah cemasnya terlihat jelas di mata Aldo. Aldo mendekat,
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Aldo.
"Dia demam tinggi. Perawat sedang mengganti bajunya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Regina? kenapa bajunya bisa sampai basah seperti itu, apa dia habis tenggelam?" Tanya dokter Rio.
"Tidak, aku menemukan kak Regina di kamar mandi. Dia tergelatak di bawah shower yang masih menyala." Jawab Aldo.
"Apa kau sudah menghubungi Kevin?"
"Sudah, tapi panggilanku tidak di terima sama sekali. Aku sudah menghubunginya sejak tadi pagi."Ujar Aldo.
"Dia akan segera di pindahkan ke ruang rawat." Kata Rio. Aldo pun mengangguk.
.
.
.
.
.
Hari semakin siang, Aldo masih setia menunggu kakak iparnya yang belum bangun. Kata Rio itu karena pengaruh obat yang ia suntikan pada tubuh Regina. Ia masih berusaha menghubungi Kevin, mengirim pesan, menelepon, tapi tetap saja sama, tidak ada balasan dari Kevin.
Aldo hendak menghubungi ayahnya, namun ia ingat jika bundanya tidak menyukai Regina. Ia pun membatalkan niatnya itu. Aldo juga tidak bisa menghubungi orang tua Regina karena ia tidak tahu nomor ponsel mereka.
Suara dering ponsel Aldo terdengar, ia pun segera mengambil ponsel yang awalnya ia letakkan di meja itu, berharap Kevin lah yang menelpon.
"Kak Regina?" Aldo melihat layar ponsel lalu beralih melihat ke arah Regina.
__ADS_1
"Kak Regina di sini, lalu siapa yang menelponku?" Bingung Aldo. Butuh waktu sedikit lama untuk Aldo menggeser icon panggil hijau itu.
"Heh ! lama sekali kau mengangkat telpon ku !" Seru wanita di seberang.
"Siapa kau ?" Aldo tidak bisa membalas perkataan gadis itu, ia ingat jika ia berada di rumah sakit. Walau sejujurnya ia juga ingin mengumpat gadis itu.
"Di mana Regina?" Kembali, gadis itu berbicara dengan nada menyebalkan bagi Aldo.
"Siapa kau? kenapa kau menelpon menggunakan ponsel kak Regina. Apa kau pencuri?" Tanya Aldo.
"Kenapa kau sangat sialan hah !" Umpat gadis itu yang lain ialah Jessica.
"Beraninya kau memaki ku ! Siapa kau? aku akan membunuhmu !" Aldo keluar ruangan, tangannya mengepal geram.
"Aku Jessica, kau ingin membunuhku? dengan apa ? dengan cinta mu ? sangat lucu !" Ujar Jessica.
"Diam kau ! kemarilah, aku akan membunuhmu !" Seru Aldo.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat sekarang." Ucap Jessica.
"Tidak ingin berdebat, dari tadi kau juga sudah mengajak berdebat. Dasar gadis gila !" Umpat Aldo dalam hatinya.
"Hei tuan, katakan di mana Regina? aku berada di rumahnya sekarang. Pintunya terbuka, lalu aku naik ke kamar dan melihat ada banyak panggilan darimu di ponselnya." Kata Jessica lagi.
"Aku tidak bertanya kau di mana." Ketus Aldo.
Jessica memejamkan matanya seraya mengepalkan tangannya ke udara merasa geram pada Aldo.
"Baiklah baiklah, nanti saja kita berdebat lagi. Cepat katakan."
"Kak Regina berada dirumah sakit sekarang." Ucap Aldo.
"Apa !!"
"Jangan berteriak ! aku tidak tuli." Seru Aldo.
Aldo pun mengatakan pada Jessica nama rumah sakit tempat di mana Regina di rawat. Jessica pun melakukan mobilnya ke rumah sakit. Jessica segera menuju ruang rawat Regina karena Aldo sudah memberitahunya sebelum mengakhiri panggilannya tadi.
Ceklek
Aldo menoleh lalu membuang mukanya begitu ia melihat Jessica yang datang.
"Menyebalkan !!" Umpat Jessica. Tanpa menyapa Aldo, Jessica segera mendekati Regina.
"Regina, apa yang terjadi?" Jessica menyentuh tangan dingin Regina.
"Sudah tahu sedang tidak sadar, masih saja di tanya !" Gumam Aldo lirih namun masih bisa di dengar oleh Jessica.
Jessica hanya melirik sinis pada Aldo.
"Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Jessica pada Aldo.
"Tuan menyebalkan ! aku sedang bertanya padamu." Kata Jessica lagi.
"Aku ?" Aldo menunjuk dirinya sendiri.
"Lalu siapa lagi jika bukan kau ? sudah tahu Regina tidak sadar mana mungkin dia bisa menjawab ku."
"Hei itu dialog ku !" Seru Aldo lirih, ia menahan suaranya agar tak mengganggu Regina.
"Terserah !" Kata Jessica.
Aldo menjelaskan apa yang terjadi dengan Regina pada Jessica, ia juga menyuruh Jessica menghubungi orang tua Regina karena Kevin masih belum bisa di hubungi.
"Berani sekali kau menyuruhku, tanpa kau suruh aku juga akan menghubungi mereka." Dengus Jessica.
"Kau kan bodoh, buktinya kau belum menghubungi mereka sampai sekarang. Kau malah asik memandang wajah tampan ku ini." Ujar Aldo dengan ekspresi datar.
"cih !!"
Jessica menghubungi papi Surya, mengabari jika Regina masuk ke rumah sakit. Setelah menunggu beberapa saat, Regina mengerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke indera penglihatannya.
"Re, kau bangun.." Kata Jessica. Aldo beranjak mendekat pada Regina.
"Kakak sudah bangun?" Kata Aldo.
"Apa matamu buta ? sudah melihatnya membuka mata masih saja bertanya." Ucap Jessica yang mendapat tatapan tajam dari Aldo. Bukan lagi takut, Jessica pun membalas tatapan tajam Aldo.
"Kevin..." Lirih Regina.
"Tenanglah kak, aku sudah menghubungi kak Kevin. Sebentar lagi dia akan datang." Ujar Aldo. Aldo merogoh saku celananya mengambil ponselnya, ia mengirim pesan pada Kevin bahwa Regina sudah sadar dan mencarinya.
Papi Surya dan mami Ira datang, mami Ira merengkuh tubuh Regina. Di ciumnya pipi sang putri.
"Mami.." Lirih Regina.
"Di mana suamimu?" Tanya papi Surya.
"Kak Kevin.."
"Kevin sedang keluar kota, Pi." Tukas Regina. Aldo memandang Regina heran, sudah jelas kakak iparnya ini tahu jika Kevin sedang tidak keluar kota, tapi kenapa justru ia mengatakan hal itu.
Aldo dan Jessica permisi keluar, meninggalkan Regina agar lebih leluasa bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Aku pergi, aku ingin minum kopi dulu." Kata Aldo.
"Kenapa kau berpamitan padaku?" Tanya Jessica.
"Tidak, takutnya kau merasa aku tidak menganggap mu. Makanya aku berpamitan." Ujar Aldo.
"Aku tidak peduli, kau terbang ke Antartika pun aku juga tidak peduli !"
"Nanti kau merindukanku." Aldo menepiskan senyum meledeknya pada Jessica.
"Cihhh !!"
"Pergilah sana !" Usir Jessica.
"Apa kau tidak mau ikut denganku?" Tanya Aldo.
"Kemana ?"
"Ke pelaminan !" Seru Aldo.
Jessica berdecak kesal. Mengeratkan barisan giginya dengan geram.
"Sudah tahu aku ingin mencari kopi, masih saja bertanya." Ucap Aldo.
"Memangnya ada yang membuang kopi sampai kau akan mencarinya." Seru Jessica.
"Astaga ! gadis ini selalu menjawab ku. Ingin sekali ku sumpal mulutnya dengan ikan duyung !" Batin kesal Aldo.
"Apa ! kau mengumpat ku dalam hati !" Seru Jessica.
"Iya, kau sangat mengerti diriku rupanya." Aldo mengacak-acak rambut Jessica lalu pergi meninggalkannya.
"Dasar menyebalkan !" Gerutu Jessica.
"Eh tapi aku dengan siapa di sini. Lebih baik aku ikut dengannya minum kopi." Jessica berlari kecil menyusul Aldo.
"Tunggu !" Teriak Jessica, Aldo yang sudah hafal suara tersebut pun tetap berjalan tak mempedulikan Jessica.
Jessica semakin mempercepat larinya, beruntung ia memakai flat shoes hari ini. Ia menarik tangan Aldo setelah berhasil meraihnya dan membuat pria menyebalkan baginya itu berhenti.
"Apa kau sengaja hah !" Jessica berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
"Apa?" Tanya Aldo seolah memang tak tahu apa-apa.
"Aku sudah memanggil mu, kenapa kau justru mempercepat langkahmu." Jessica masih memegang tangan Aldo.
"Kapan kau memanggilku? aku tidak mendengarnya."
"Dia memang suka mencari gara-gara denganku. Awas saja kau, aku akan membalasmu." Batin kesal Jessica.
"Sudahlah, aku ikut denganmu." Jessica menyerah, ia sudah cukup lelah berlari mengejar Kevin.
"Kemana?" Tanya Kevin dengan wajah bodohnya menurut Jessica.
"Ke pelaminan !" Seru Jessica.
Aldo tertawa sarkas.
"Kau sangat ingin ku nikahi rupanya. Baiklah, ayo kita ke pelaminan. Biar aku bisa menyiksamu." Ucap Aldo.
"Sudah diam ! aku sangat lelah. Jangan mengajakku berdebat sekarang." Ujar Jessica.
"Baiklah baiklah, kita akan minum kopi." Mereka kedua berjalan menuju parkiran.
"Apa kau takut aku meninggalkanmu?" Tanya Aldo tanpa menghentikan langkahnya.
"Maksud mu?" Bingung Jessica.
"Kau takut aku meninggalkanmu sampai kau tidak mau melepaskan tanganku." Kata Aldo yang tetap menatap lurus ke depan.
Jessica membulatkan mata dan bibirnya dengan sempurna sembari melihat cengkeraman tangannya pada lengan Aldo.
"Kau sedang mencuri kesempatan dalam kesempitan ! dasar kurangajar !" Seru Jessica, ia menghempaskan tangan Aldo.
"C**ihhh." Dengus Aldo.
.
.
.
.
•
•
.
.
.
__ADS_1
.