Pelaminan

Pelaminan
bab 20


__ADS_3

malam semakin larut, hujan dan angin pun sudah mulai berhenti. namun lampu tak kunjung menyala. Regina kini sudah tertidur lelap di pelukan Kevin.


namun Kevin, ia masih terjaga dan tetap mengusap lembut puncak kepala Regina. mereka di dalam satu selimut yang sama. jantung Kevin masih berdebar tak karuan, oh iya, jangan lupakan juniornya.. tentu ia masih bangun.


"Tuhan... aku tidak ingin melukai hati nona Regina, jangan mengujiku seperti ini..." frustasi Kevin.


Kevin memejamkan matanya dan berusaha tidur agar juniornya tidak semakin meronta meminta sesuatu yang belum waktunya.


dan setelah beberapa saat akhirnya Kevin bisa tidur dengan posisi tetap memeluk Regina.


.


.


.


.


.


pagi menyapa dengan hangatnya, matahari perlahan naik menunjukkan sinar indahnya pada dunia.


bi Tanti sudah melakukan aktivitasnya pagi-pagi buta. memasak sarapan, membersihkan rumah dan halaman serta taman belakang, dedaunan yang jatuh berserakan akibat hujan angin semalam sudah selesai bi Tanti bersihkan sendiri.


waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun Regina dan Kevin belum juga bangun. entah karena memang sangat lelah atau merasa nyaman dalam pelukan satu sama lain yang membuat mereka seakan enggan untuk bangun.


dering telpon rumah berbunyi, bi Tanti segera mengangkat telpon tersebut yang ternyata dari ayah Kevin.


"bi, saya menghubungi ponsel Kevin dari tadi tapi kenapa tidak di angkat? apa Kevin sudah berangkat bekerja?" tanya ayah Agung.


"belum tuan, tuan muda masih tidur dengan nyonya muda.." jawaban bi Tanti membuat ayah Agung terkejut.


"maksud bibi? sekarang Kevin dan Regina sudah tidur satu kamar?" tanya ayah Agung bersemangat.


"iya semalam tuan, tapi mungkin nanti malam mereka tidak tidur sekamar lagi.." jelas bi Tanti.


"maksudnya bi?"


"semalam kan hujan angin tuan, lampu juga tiba-tiba mati. nona Regina menangis ketakutan, jadi tuan Kevin menemani nona tidur di kamarnya."

__ADS_1


"ohhh..." ayah Agung manggut-manggut.


"ya sudah bi, nanti sampaikan saja pada Kevin kalau saya menelponnya."


"iya tuan..." bi Tanti dan ayah Agung sama-sama mengakhiri panggilannya.


bunda Hana yang mendengar suaminya baru saja membicarakan Kevin di telpon, membuat ia melirik sinis ke arah suaminya itu.


"ada apa bunda?" tanya ayah Agung.


"tidak, ayah kenapa belum berangkat ke kantor? ini kan sudah siang. ayah libur?.." ketus bunda Hana.


"anak kedua kita belum juga pulang Bun, ayah sangat kerepotan mengurus perusahaan sendiri."


"kalau begitu suruh saja Kevin membantu di perusahaan.."


"bunda ini seperti tidak tahu Kevin saja. mana mau dia mengurus perusahaan, menginjakkan kaki di depan lobby kantor saja dia tidak mau."


"ya di paksa kan bisa.." ketus bunda Hana lagi.


ayah Agung menghela nafas dalam-dalam melihat sikap istrinya itu yang masih saja marah karena masalah Kevin menikahi Regina.


"bunda... jangan mencampurkan masalah kantor dan amarah bunda pada Kevin. selama ini Kevin selalu menuruti apa kata bunda kan? jadi ayah mohon untuk sekali ini saja bunda menyetujui pernikahan Kevin. Regina itu anak baik bun. buktinya, saat bunda menamparnya, ia hanya diam saja. tidak membalas bunda kan. kita doakan saja rumah tangga Kevin dan Regina selalu bahagia.." ucap ayah Agung panjang lebar serta penuh kelembutan.


"jadi bunda juga masih mempermasalahkan keputusan Kevin yang tidak mau ikut andil di perusahaan dan tetap pada usahanya itu? terserah bunda sajalah, ayah sudah lelah jika harus membicarakan tentang Kevin. seharusnya bunda bangga punya anak mandiri seperti Kevin, usaha yang ia geluti dari nol sekarang sudah besar dan punya nama yang tidak di ragukan lagi. ayah pergi.." ayah Agung berlalu meninggalkan bunda Hana yang masih kesal pada Kevin.


.


.


.


.


.


sinar matahari yang masuk ke kamar dari sela-sela jendela membuat mata Regina silau dan mengerjapkan matanya perlahan.


Regina terkejut begitu ia membuka matanya dengan sempurna, ia melihat wajah Kevin tepat di hadapannya. mereka tidur berhadapan dan masih saling memeluk.

__ADS_1


ingin Regina berteriak, tapi ingatannya dengan cepat dapat menangkap apa yang sudah terjadi semalam. tentu Kevin akan tidur di kamarnya dan memeluknya itu karena permintaannya yang ketakutan semalam.


Regina tidak berani bergerak sedikitpun, ia takut menganggu tidur Kevin. dipandanginya wajah tampan pria di hadapannya kini. terlihat jelas guratan lelah di wajahnya. meskipun begitu, tidak mengurangi ketampanan Kevin yang masih terlelap di alam mimpinya.


tubuh Kevin menggeliat, Regina berpura-pura masih tidur. ia segera menutup matanya.


Kevin sudah membuka matanya dengan sempurna, di pandangnya wajah cantik Regina. Kevin merapikan anak rambut Regina yang menutupi keningnya.


"kau cantik.." gumam Kevin lirih yang tentunya masih bisa di dengar Regina.


dan....


cuupp


Kevin mencium kening Regina sebelum ia beranjak keluar kamar.


setelah beberapa saat, Regina memicingkan matanya melihat Kevin apakah benar-benar sudah keluar kamarnya atau belum.


"sial !!!" umpat Regina dalam hati saat ia sudah membuka sebelah matanya dengan sempurna.


ternyata Kevin masih memandanginya dan tak bergerak sedikitpun.


Kevin juga tak kalah terkejut saat mengetahui Regina ternyata sudah bangun. ia berusaha santai, tapi bagaimanapun juga mimik wajah Kevin terlihat jelas ia cukup gugup.


"eemm... selamat pagi tuan.." sapa Regina kikuk.


"pagi nona.." Kevin juga tak kalah kikuk.


pandangan mereka bertemu, karena memang jarak wajah Kevin dan Regina hanya tersisa beberapa centi saja.


setelah saling menyapa, yang hanya ada keheningan antara Kevin dan Regina.


.


.


.


.

__ADS_1


.


@ummy_wachida_


__ADS_2