
Regina masih hanyut dalam keheranannya akan sikap Kevin yang tiba-tiba mesra. ditambah panggilan sayang yang di selipkan Kevin di setiap ucapannya membuat ia selalu menautkan kedua alisnya.
"sayang apa kau lelah?" tanya Kevin sembari merapikan anak rambut Regina dengan mesra.
"tuh kan.. sayang lagi ! oh Tuhan... ada apa ini ?!" batin Regina menjerit.
"sayang..." ucap Kevin lagi karena Regina masih diam menatap heran padanya.
"eemm, tidak tuan." jawab Regina.
"kenapa kau masih memanggilku tuan ? panggil aku sayang." kata Kevin.
"hah ??!!! gila !! apa dia serius menyuruhku memanggilnya sayang. hentikan semua ini !!!"
"mari sayang kita pulang.. ini sudah malam." ucap Kevin lagi. Regina hanya bisa pasrah saat Kevin menggandeng tangannya berpamitan pada kedua mempelai dan keluar ballrom hotel lalu masuk ke mobilnya.
sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tidak ada yang membuka suara terlebih dahulu. sesampainya di rumah, Kevin segera masuk mendahului Regina yang menatapnya penuh dengan keheranan.
"sayang..." panggil Regina begitu ia masuk dan mengunci pintu rumah. sontak Kevin pun berbalik dan mendekati Regina.
"ada apa nona?" tanya Kevin.
Regina menautkan kedua alisnya,
"nona?" ulang Regina.
"bukankah anda tadi memanggilku sayang?" tanya Regina.
Kevin menahan senyumnya, ia menyembunyikan wajah malunya dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"sayang !" seru Regina.
"iya sayang..." Kevin menyentuh lembut kepala Regina.
Regina kembali dibuat heran,
"anda ini kenapa ?! tadi di sana anda memanggil saya sayang, dan sekarang di rumah anda memanggi nona. sebenarnya anda ingin memanggil saya seperti apa ?!" Regina menaikkan nada suaranya merasa jengah dengan sikap Kevin.
"anda maunya di panggil apa?" tanya Kevin.
"SAYANG !!" sahut Regina dengan cepat.
"baiklah.. tidurlah sayang, ini sudah malam." ucap Kevin.
"eh loh ! kenapa mulutku mengatakan itu ? kenapa aku ingin di panggil sayang ? tidak-tidak !! aku hanya mencintai Anton, bukan dia ataupun yang lain." batin Regina.
tanpa berkata apapun, Regina melepas sepatu high heelsnya lalu berlari menaiki tangga dan masuk ke kamarnya.
"lucu sekali dia" gumam Kevin.
.
.
.
.
.
paginya, Regina sudah duduk di meja makan. ia tengah menikmati sarapannya. pagi ini ia tidak memasak, ia hanya memakan roti dan susu. suasana hatinya masih kesal akan sikap Kevin yang seenaknya sendiri memanggilnya sayang dan tiba-tiba berubah memanggilnya nona lagi.
"tidak konsisten !" pikir Regina.
"selamat pagi sayang.." sapa Kevin seraya mengacak-acak rambut Regina.
Regina hanya melirik sinis pada Kevin yang duduk di sampingnya.
"sayang, mana kopiku?" tanya Kevin. tanpa menjawab, Regina kembali ke dapur dan membuatkan Kevin kopi. sebenarnya ia enggan membuatkannya, tapi entah mengapa kakinya mengajak pergi ke dapur dan membuat kopi.
Regina kembali dengan secangkir kopi dan roti selai cokelat untuk Kevin. ia pun kembali duduk dan menikmati sarapannya. Kevin menyeruput kopi panas buatan Regina dan memakan rotinya.
Regina hendak berdiri dan berangkat bekerja karena sarapannya sudah habis, namun tangan Kevin mencegahnya dan menyuruhnya duduk kembali.
"maaf.." ucap Kevin.
"maaf?" ulang Regina.
"maaf semalam saya memanggil anda sayang dan..." ucap Kevin menggantung.
__ADS_1
"maksudnya?" tanya Regina.
"karena para pria di pesta itu memandang anda dengan tatapan nakal, jadi saya terpaksa memanggil anda sayang." tutur Kevin dengan lembut, ia takut membuat Regina tersinggung.
"jadi anda hanya pura-pura? tidak serius ?" seru Regina.
"aku serius !!" batin Kevin menjawab.
"lalu apa anda serius menyuruh saya memanggil anda sayang ?" tanya Regina.
Kevin diam, ingin sekali ia menjawab iya. tapi mulutnya seakan terkunci untuk menjawabnya.
"apa anda juga serius menyuruh saya memanggil anda sayang?" tanya Kevin balik.
"TENTU SERIUS !" seru Regina.
Kevin tersenyum simpul. hatinya sangat bahagia mendengarnya.
seketika Regina menutup mulutnya dengan kedua tangannya begitu ia sadar saat melihat senyuman Kevin.
"eemm... maksud saya iya. eh, tidak tuan. tidak." ucap Regina dengan gugup, ia menunduk sembari menggigit bibir bawahnya merasa malu akan ucapannya sendiri.
"aku pergi bekerja." Regina segera beranjak dan berjalan cepat keluar rumah.
"dasar mulut ! kenapa rem mu blong seperti ini !" gerutu Regina pada dirinya sendiri.
Kevin yang masih duduk memandang Regina pergi sembari tersenyum mengingat bagaimana ekspresi wajah Regina yang mengatakan TENTU SERIUS tentang panggilan sayang. lucu dan menggemaskan bagi Kevin.
"baiklah, mulai sekarang aku akan memanggilmu sayang." gumam Kevin.
Regina melangkahkan kakinya masuk ke kantor dengan wajah yang kesal dengan dirinya sendiri. ia tak habis pikir akan dirinya sendiri yang jelas-jelas meminta di panggil sayang. berkali-kali Regina kembali mengingatkan hati dan pikirannya akan Anton, pria yang masih ia cintai.
"kau hanya mencintai Anton. kau hanya mencintai Anton !" Regina meyakinkan dirinya sendiri.
Regina masuk ke ruangannya, papi Surya yang melihat Regina dengan ekspresi wajah kesal pun menghampirinya dan masuk ke ruangan sang putri.
"Regina.." papi Surya mendorong pintu kaca.
"papi.." Regina yang awalnya menyandarkan kepalanya di atas meja pun sontak mengangkat kepalanya.
Regina berdiri dan duduk di sofa double di ruangannya. papi Surya juga duduk di sampingnya, di belainya lembut kepala sang putri dengan lembut.
"tidak ada pi.."
"benarkah? apa ada masalah dengan rumah tanggamu?" tanyanya lagi.
Regina ingin sekali menceritakan tentang apa yang terjadi di pesta pernikahan Jerry semalam dan saat sarapan pagi tadi bersama Kevin, namun Regina mengurungkan niatnya karena tahu papinya itu pasti berpihak pada Kevin, bukan Anton. papinya pasti akan mendukung Kevin sepenuhnya.
"rumah tangga Regina baik pi.. papi tidak perlu khawatir." ucap Regina.
"baiklah, papi tidak akan memaksamu jika kau memang belum ingin bercerita dengan papi. papi hanya berpesan padamu, jangan sampai kau terlambat menyadarinya." papi Surya pergi dari ruangan Regina setelah mencium kening putrinya lama.
"papi selalu seperti itu."
.
.
.
.
.
Regina pulang terlambat karena harus menyelesaikan pekerjaannya. pukul tujuh malam ia baru keluar kantor. Regina melajukan mobilnya menuju apartemen Jessica, ia berniat bermalam di sana. Regina sangat malu untuk bertemu Kevin setelah apa yang terjadi pagi tadi.
"huahahahahaha.." Jessica tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Regina tenang ia yang ingin di panggil sayang oleh Kevin.
Regina berdecak kesal,
"diam kau ! jangan meledekku seperti itu." sungut Regina.
"aku tidak meledekmu Re, aku tahu lambat laun kau pasti akan mulai mencintai suamimu." ucap Jessica.
"kata siapa aku mencintainya? aku mencintai Anton !" seru Jessica.
"kau bodoh sekali Re ! jelas-jelas Anton tidak mencintaimu, dan tuan Kevin yang mencintaimu. sudah lupakan Anton dan mulai hidup barumu bersama tuan Kevin."
"aku tidak mencintai tuan Kevin Jes, dia juga tidak mencintaiku." ujar Regina.
__ADS_1
"terserah kau sajalah." ketus Jessica.
jam sembilan malam Kevin pulang, ia tidak mendapati Regina di rumah. dengan cepat ia mengirim pesan padanya.
"sayang kamu dimana?" isi pesan Kevin.
Kevin sudah selesai mandi, ia melihat ponselnya yang belum ada balasan dari Regina, bahkan di baca pun tidak. Regina memang sengaja tidak membaca ataupun membalasnya. rasa malunya belum hilang, entah bagaimana ia akan menghadapi Kevin.
"sayang...kamu masih di kantor? aku jemput ya?" Kevin kembali mengirim pesan pada Regina.
Regina yang sedang berbaring santai di tempat tidur Jessica pun mendengus kesal setelah membaca isi pesan Kevin. di seberang, Kevin tersenyum simpul begitu melihat Regina membaca pesannya dan terlihat sedang mengetik.
"saya di apartemen Jessica tuan, saya menginap disini. Jessica sedang tidak enak badan." balas Regina yang berbohong tentang kesehatan Jessica.
Kevin tidak membalas Regina, ia menelpon papi Surya untuk menanyakan alamat apartemen Jessica. setelah menjelaskan bahwa rumah tangganya benar-benar tidak ada masalah, papi Surya pun mengakhiri panggilan Kevin dan mengirim alamat Jessica lewat pesan singkat.
Ting tong..
Jessica pun membukakan pintu, ia terkejut melihat Kevin yang berdiri di depannya.
"tuan Kevin?"
"apa anda sedang sakit nona?" tanya Kevin.
"tidak, kata siapa saya sakit?" tanya Jessica balik.
"kata...."
"siapa Jes?" Regina keluar kamar, ia membulatkan matanya melihat Kevin yang menepiskan senyum padanya. bahkan ia tidak sadar tengah memakai hotpants dan tanktop sexy di depan Kevin.
"sayang..." panggil Kevin. kini giliran Jessica yang menganga sekaligus membulatkan matanya.
"kenapa aku ikut merinding mendengar tuan Kevin memanggil Regina dengan sebutan sayang." batin Jessica.
"apa saya tidak di perbolehkan masuk?" tanya Kevin.
"eh iya tuan.. maaf, maafkan saya. silahkan masuk tuan." kata Jessica, ia menggeser tubuhnya agar Kevin bisa masuk. Regina masih mematung di tempatnya, Kevin pun mendekat dan menyentuh lembut pipi istrinya.
"sayang, ayo kita pulang.." ajak Kevin, Regina mengedipkan matanya berkali-kali pada Kevin yang berdiri di hadapannya.
Jessica masuk ke kamar, ia mengambil tas kerja Regina dan jaket miliknya dari dalam lemari.
"ini Re, pakai jaketnya dan pulanglah." kata Jessica sembari menyerahkan jaket dan tas pada Regina.
"Jes, kau mengusirku?" tanya Regina.
"tidak ! tapi suami mu sudah menjemputmu. lebih baik kau pulang saja." kata Jessica.
Kevin mengambil jaket dari tangan Regina, tanpa bertanya ia pun membantu Regina memakainya. dan entah kenapa Regina tidak menolak, ia menurut seperti anak kecil yang tengah di pakaikan jaket oleh ayahnya.
"permisi nona Jessica, kami pulang dulu." pamit Kevin. Regina di gandeng Kevin keluar apartemen dengan tetap melihat ke arah Jessica yang melambaikan tangan sembari tersenyum yang menurut Regina itu adalah senyum meledek.
"tuan tuan.. mobil saya?" tanya Regina pada Kevin yang tengah membukakan pintu untuknya.
"biar di sini saja sayang..." ucap Kevin.
"oh Tuhan.... situasi seperti apa ini ?! aaaaa aku ingin menghilang saja..." jerit Regina dalam hati akan sikap dan tutur kata Kevin yang sangat lembut padanya.
"jika kau mengantuk, tidurlah sayang.. aku akan menggendongmu nanti." tutur Kevin seraya menyentuh puncak kepala Regina.
"iya.." sahut Regina.
"eh ! kenapa aku menurut sekali padanya ?" batin Regina. ia menatap Kevin yang tengah serius mengendarai mobil.
Regina bertekad tidak akan tidur, ia tidak ingin Kevin menggendongnya masuk ke dalam rumah. tapi tak sesuai rencananya, Regina kini sudah tertidur karena rasa lelah dan kantuk yang tidak bisa ia tahan.
kembali, Kevin menggendong tubuh Regina masuk ke dalam kamarnya. Regina hanya menggeliat, ia justru menenggelamkan wajahnya pada dada Kevin.
setelah membaringkan tubuh Regina, Kevin mengambil bantal dan kembali tidur di sofa. ia tidak ingin membuat juniornya semakin menegang dengan tidur di samping Regina. karena pemandangan tubuh Regina yang memakai hotpants dan tanktop sexy membuat ia sudah menelan ludahnya berkali-kali. tak di pungkiri, Kevin sebenarnya sudah pernah melihat tubuh Regina tanpa sehelai benang pun. Kevin menahan dirinya, ia tidak ingin menyentuh Regina lagi jika tanpa ijin.
.
.
.
.
jangan lupa di like,
__ADS_1
terima kasih ❤️🤗