PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Prolog


__ADS_3

Seorang pemuda yatim piatu berumur 17 tahun terlihat lesu dan tak bertenaga, beberapa hari yang lalu dirinya baru saja ditinggal oleh satu-satunya orang yang begitu sayang dan perhatian dengan hidupnya.


Wardi nama almarhum kakeknya, dan pemuda itu bernama Zen. Benar hanya Zen, tidak ada nama tengah ataupun nama belakang.


Zen sendiri masih berstatus pelajar SMA salah satu sekolah negeri dikampungnya.


Setiap hari dirinya memulai hari lebih awal dibandingkan kawan-kawan seumurannya.


Langit merah belum terlihat dibagian sebelah timur, namun Zen sudah bergelut dengan keringat serta dinginnya udara pagi untuk menjadi kuli panggul dipasar besar yang berjarak puluhan kilometer jauhnya dari gubuk reotnya.


Para pedagang pasar yang melihat kegigihan Zen dalam bekerja banyak yang tersentuh, kadang mereka memberikan upah panggul yang dilebihkan, dengan alasan buat makan!


Upah panggul dipasar besar sendiri hanya dua ribu per angkat dan turun. Ongkos yang sangat tidak manusiawi tentunya. Mau bagaimana lagi, namanya juga kampung kecil pinggiran kota, dari sejak jam 3 pagi hingga menjelang jam 6, Zen biasanya mendapatkan upah sepuluh hingga lima belas ribu rupiah saja.


“..aahh, cukuplah buat sarapan dan buat nabung!” ujar Zen ketika melihat pecahan warna ungu dengan warna hijau yang artinya dia memiliki dua belas ribu rupiah digenggamannya.


“..woi Zen, sudah balik saja jam segini?!” tanya salah seorang bos beras yang kerap memakai jasa Zen.


“..iya pak Karta! Persiapan sekolah! Takut telat! Hari senin kan ini!” jawab Zen sambil berlalu menundukkan tubuhnya tanda memberikan hormat.


Zen terkenal sebagai pemuda yang sopan dalam bersikap dan santun dalam berbicara tentunya dengan orang yang lebih tua, siapapun!


Tanpa memilih dan milah, Zen selalu merendahkan dirinya jika berhadapan dengan orang yang lebih tua darinya.

__ADS_1


Salah satu ajaran mendiang sang kakek yang selalu diterapkan didalam kehidupannya sehari-hari.


***


Sementara itu disebuah rumah keluarga yang masih satu desa dengan Zen. Drama rumah tangga itu sudah dimulai sejak pagi hari.


“..putri! bangun nak! Sudah jam berapa ini?!” ucap ibunya yang terlihat berusaha membangunkan putri tunggalnya.


“..aaaggjjhhh, ngantuuk buuu! Lima menit lagi yaaa” jawab sosok gadis belia yang terlihat bermalas – malasan setelah semalaman dirinya begadang untuk sekedar scrolling medsos di hape canggih dengan kamera boba dibelakangnya.


“..dasar yaa.. mau jadi apa kamu putri!” orang tua laki-lakinya terlihat tidak senang dengan respon putri yang dibangunkan oleh ibunya.


Sosok laki laki yang merupakan bapak kandungnya itu barusan pulang dari pasar besar, setelah membuka tokonya pagi dini hari yang kemudian dilanjutkan oleh para pegawainya.


“..gitu itu kalo kamu manjakan buuk!”


“..awas saja kalo sampai si putri hamil duluan!” si bapak ngomel-ngomel melihat respon anak gadisnya.


“..iyaa pak iyaa!” sosok ibu yang lebih sayang kepada anaknya terlihat tidak berdaya dengan ucapan suaminya sendiri.


***


Beda dengan putri dan keluarganya, disebuah rumah dinas kemiliteran, pagi itu terdapat tiga orang yang terlihat lebih disiplin terkait pemanfaatan waktu.

__ADS_1


“..ziva! apa agenda kamu hari ini?!” tanya orang tua laki-lakinya.


Ziva juga anak semata wayang orang tuanya, namun dari kecil dirinya sudah dididik kedisiplinan militer tingkat tinggi dari bapaknya.


Orang tua laki-laki Ziva adalah ASN berbaju loreng dan bertindak sebagai pimpinan batalyon yang ada dilingkungan desa kecil dibawah kaki gunung dengan ketinggian 3000 mdpl.


“..hari ini Ziva hanya ada agenda sekolah yah! Habis itu sore ada jadwal les, setelah itu tidak ada lagi” jawab Ziva sambil menikmati roti lapis bakar madu bikinan ibunya.


“..kalo Ibu?!” tanya sang ayah sambil menoleh kearah paras tiga puluh tahunan namun terlihat cantik diusianya.


“..ibu hari ini ada urusan pekerjaan kekota ayah! Dewan pembina kan meminta bantuan ibu untuk membeli beberapa kebutuhan buat acara minggu ini, gima sih! Ayah lupa ya?!” tanya sosok perempuan yang menjadi ibunya Ziva.


Ibu Ziva sendiri adalah salah satu anggota dewan pembina koperasi disebuah perusahaan dikota.


“..ya sudah, kalo jadwal kalian seperti itu, ayah hanya berpesan, jangan lupa selalu hati-hati dijalan! Banyak kejahatan belakangan ini!” ujar sosok yang terlihat sudah siap dengan baju dinas loreng dengan pangkat yang mentereng untuk tingkatan kabupaten.


Sosok kepala keluarga itu segera berdiri dari kursi meja makannya dan disambut oleh ajudan yang sudah membawakan tongkat komando serta atribut lain yang diperlukan.


“..ayah berangkat dulu ya..!” ujar sang kepala keluarga yang mengulurkan tangannya dan disambut secara bergantian antara ibu dan anaknya.


“..hati-hati yah!” ujar Ziva dan ibunya secara bersamaan.


“..heummmnn” sang ayah langsung berbalik menuju pintu keluar rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2