
Zen yang sudah langsung berpindah tempat secara instan dari dalam hilikopter, kini melihat kondisi cekungan tanah yang berwarna hitam dengan beberapa kepulan asap dipojokannya, sangat kontras dengan kondisi disekitarnya yang masih terlihat rimbun dengan pepohonan tebu yang tinggi menjulang.
“..apa ini?!” Zen memeriksa kondisi hutan tebu milik ayah mertuanya yang terlihat tanahnya cekung kearah dalam.
Kepulan asap seolah-olah bekas hantaman benda dari angkasa beberapa waktu yang lalu membuat pemandangan Zen samar-samar.
Zen langsung mengedarkan persepsi kesadarannya.
“..hemmm.. ada yang aneh, dan ini bukan merupakan bagian dari manusia biasa!” Zen nampak menganalisa kondisi disekitarnya, sekali lagi.
“..auranya sangat lembut, bahkan bisa dikatakan menenangkan!” kembali Zen bergumam.
{swooosshhh}
Letupan gelembung udara pun terjadi, gelombang udara yang mengirimkan angin layaknya riak gelombang yang terjadi pada air tenang yang dijatuhi batu dari atas.
Dengan kemampuannya, Zen langsung melebarkan auranya.
“..keluarlah!!” Zen langsung berteriak dengan menggunakan penekanan kekuatannya.
{kruseekkk.. kruseekkk..}
Dari lebatnya hutan tebu, muncul makhluk berwarna biru muda kulitnya, dengan telinga yang sangat panjang dan runcing mirip dengan cerita didongeng, sosok peri!!, dikatakan peri karena dibelakang punggungnya ada sayap transparan yang bergetar membuatnya melayang beberapa centimeter dari atas permukaan tanah.
Tubuhnya yang kecil-mungil bahkan hanya beberapa centimeter, ditambah kondisinya dalam mode kamuflase membuat manusia biasa tidak akan bisa mengenalinya.
“..siapa dia? Kenapa mirip sekali dengan sosok peri dicerita dongeng?!” gumam Zen.
{tringgg}
[terdeteksi keberadaan Peri trinity, salah satu bangsa peri yang memiliki kemampuan penyembuhan, teleportasi dan ahli teknologi!]
Buku kehidupan langsung bereaksi ketika mendapati makhluk dari bangsa peri muncul didepan Zen.
“..waah, ternyata benar, peri itu memang ada!” seru Zen.
Tidak ingin ayah mertuanya melihat sosok peri tersebut, Zen langsung mengunci sosok peri kecil yang terlihat ketakutan, dengan menggunakan mantra khusus yang sudah diajarkan oleh buku kehidupan, setelah terkunci, Zen langsung memasukkan Peri dan sebuah benda aneh yang masih tergeletak dicekungan tanah yang ada didekatnya.
{slappp}
Satu benda mati dan satu benda hidup langsung disimpan dalam dunia jiwa miliknya.
Setelah dirasa aman, Zen segera mengembalikan seperti semula kondisi cekungan tanah yang ada didekatnya.
{wiiiingggg}
Suara baling-baling helikopter terdengar kencang menandakan helikopter tersebut sedang melakukan manuver mendarat disebuah ruang lapang dengan jarak beberapa ratus meter dari posisi Zen berdiri.
{zlaappp}
Zen langsung berpindah lokasi secara instan menuju koordinat helikopter ayah mertuanya.
{tapp}
Zen menyentuh punggung ayah mertuanya.
“..eh Zen! Ngagetin ayah saja!” spontan ayah mertuanya langsung kaget ketika mendapati Zen sudah ada dibelakangnya sesaat setelah ayah mertuanya keluar dari dalam helikopter.
“..jadi bagaimana?” tanya ayahnya.
Zen yang paham kemana arah pertanyaan ayahnya, langsung menjawab dengan gestur tubuh yang menginginkan agar dibahas dirumah saja.
“..tidak ada apa-apa ayah!”
Ayah mertuanya yang tahu jikalau Zen sedang membuat sebuah drama langsung mengiyakan saja jawaban anak menantunya.
“..Baiklah-baiklah, jika menurutmu tidak ada masalah, sebaiknya kita segera kembali ke rumah, ayah ada hal penting yang ingin dibicarakan juga!” ujar ayahnya yang memerintahkan Zen untuk segera memasuki helikopter kembali.
“..kita kembali ke mansion!” ujar ayah mertuanya pada pilot yang menerbangkan helikopter pribadinya.
“..baik tuan Pedro!” jawab pilot yang menerbangkan helikopter.
{wiiingggg}
Helikopter pun kembali mengudara membawa dua laki-laki beda usia yang kembali berdiskusi ringan diudara.
Percakapan mereka hanya sebatas menanyakan kondisi Evelyn selama ikut bersama Zen, tidak ada yang melebar.
Lima belas menit lamanya mereka mengudara, helikopter yang membawa mereka pun kembali mendarat dihalaman belakang mansion ayah mertua Zen.
“..kamu masuklah dulu, mungkin kamu bisa istirahat dahulu, nanti sore kita berdiskusi, ayah ada yang harus dikerjakan!” ucap ayah mertuanya yang berjalan beriringan dengan Zen memasuki mansion mewah miliknya.
“..baik ayah!” jawab Zen sopan.
Setelah berpisah dengan ayah mertuanya, Zen langsung masuk kedalam kamar milik Evelyn.
masuk didalam kamar evelyn, Zen langsung membuat formasi pelindung yang kedap suara, dikeluarkannya dua buah benda yang disimpan didalam dimensi ruang jiwa miliknya.
{slapp}
Muncul dikekosongan udara dua benda, satu hidup satu benda mati.
{gluduukk}
Benda mirip bola berwarna hitam namun terdapat beberapa kerusakan dipermukaannya terlihat jatuh dan menggelinding hingga berhenti ketika mengenai pojokan kamar tidur.
“..tidak perlu takut, sini aku obati lukamu!” Zen langsung bersuara lembut dan berusaha untuk mendapatkan hati peri kecil yang terlihat terluka disekujur tubuhnya.
Ragu, namun melihat Zen yang selalu mengadahkan tangannya memanggi-manggill dirinya untuk mendekat, seperti terhipnotis, peri kecil itu mendekati Zen.
__ADS_1
“..waah, kejadian seperti apa yang telah menimpamu, hingga menjadi seperti ini?” dengan telaten Zen mengoleskan salep khusus buatannya keatas luka-luka yang terbuka.
Peri kecil yang sudah nyaman duduk ditelapak tangan Zen terlihat meringis sesekali.
Pemandangan kontras pun terlihat, peri yang hanya memiliki tinggi badan 12 centimeter itu terlihat memandangi Zen yang mirip seorang raksasa bagi dirinya.
“..nah, minumlah tetesan air kehidupan ini, pasti kamu akan segera sembuh!” ujar Zen yang sudah memegang pipet berisi cairan air kehidupan yang siap dijatuhkan.
Tidak ada kecurigaan dalam diri peri tersebut, hingga mulutnya terbuka lebar siap menerima tetesan air kehidupan.
{glukk}
Satu tetesan air kehidupan sudah masuk kedalam kerongkongan peri kecil yang terlihat kedua tangannya berusaha menopang tubuhnya ditelapak tangan Zen.
{swooossshhh}
Sangat ajaib! Gelembung udara langsung meledak seketika, dan tubuh peri kecil itupun kini telah kembali sehat seperti sedia kala.
{tinggg...tinggg..}
Dengan kegirangan peri kecil itu terbang kesana kemari berputar-putar dengan penuh riang gembira.
Keadaan yang sangat berbeda 180 derajat dibandingkan dengan kondisinya yang terluka parah beberapa waktu yang lalu.
Setelah puas dengan kegembiraannya, peri kecil itupun duduk diantara daun telinga Zen, dia ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang Zen berikan.
Beberapa kali peri kecil itu memeluk pipi Zen tanda dirinya sangat bahagia.
Melihat peri kecil itu sudah puas meluapkan kegembiraanya, Zen lantas memerintahkannya untuk duduk diatas telapak tangannya kembali.
“..nah sekarang, coba ceritakan siapa dirimu sebenarnya, dan bagaimana kamu bisa mendapatkan luka yang sangat serius seperti tadi?!”
Ada raut wajah ragu untuk bercerita, namun keraguannya seketika lenyap saat dirinya ingat bagaimana Zen telah berjasa menyembuhkan luka-lukanya.
Zen yang memang memiliki kemampuan khusus dalam berkomunikasi, langsung mendengarkan semua cerita peri kecil dari bangsa Trinity.
Sebuah bangsa yang merupakan penguasa elemen angin dan teknologi sejak dulu, sebuah bangsa yang merupakan bagian dari dunia tersembunyi nomor dua yang menghilang 3000 tahun yang lalu sejak kejadian pecahnya lempeng benua.
Luka-luka yang dideritanya dikarenakan peperangan yang terjadi diantara bangsanya sendiri.
Peri kecil itu bernama Saren.
Saren ini merupakan salah satu ilmuwan terpercaya didunianya, umurnya sudah 3800 tahun lamanya, artinya dia memang salah satu pemegang sejarah hidup yang bisa menceritakan kejadian diwaktu lampau.
Meski Zen sudah memiliki buku kehidupan yang terpercaya segala informasinya, namun dirinya dibuat takjub dengan keberadaan peri kecil didepannya.
Saren juga menceritakan jikalau dirinya berjuang mempergunakan kapsul canggih guna melarikan diri menembus formasi pelindung dunianya dengan dunia luar.
Sebuah teknologi kapsul yang memang sengaja dibuatnya dalam kurun waktu ratusan tahun lama pembuatannya.
Formasi pelindung yang dibuat bangsanya sangatlah kuat dan berlapis-lapis, hingga dunia luar tidak bisa melihat keberadaan dunia mereka begitupun sebaliknya.
Bangsa peri sendiri sudah sangat bersyukur dengan fenomena alam yang memisahkan benua mereka dengan benua utama, hingga mereka bisa melanjutkan kehidupan bangsa peri tanpa ada gangguan dari bangsa manusia.
Kehidupan yang sudah berlangsung ribuan tahun lamanya itu harus terusik dengan kedatangan bangsa asing yang tadinya mereka tolong karena terluka parah tubuhnya.
Bangsa asing dengan ukuran dan jenis yang sama dengan mereka, yang membedakan hanyalah warna kulitnya saja.
Sebuah blunder dilakukan oleh pemimpin bangsa peri kala itu, kaum bangsa asing itupun mulai berusaha menguasai dunia bangsa peri karena melihat teknologi yang jauh dari tempat asal mereka, puncaknya adalah perang besar yang terjadi hingga membuat runtuhnya kejayaan benua bangsa peri.
Kepergian Saren sendiri diketahui oleh musuh bangsa peri, dan mungkin saat ini mereka sedang mencari saren diseluruh penjuru dunia, karena saren pergi dengan membawa semua data teknologi serta harta tak ternilai bangsa peri yang disimpannya didalam sebuah dimensi khusus.
Sebuah dimensi yang merupakan tempat penyimpanan harta kerajaan bangsa peri tentunya, hanya sarenlah yang bisa membukanya saat ini.
Zen yang akhirnya paham situasinya turut prihatin, dirinya tidak bisa banyak membantu, karena dari apa yang diceritakan oleh Saren, beda teknologi dunia luar dengan dunia bangsa peri sangatlah njomplang.
Teknologi dunia luar atau bumi saat ini, sangat jauh tertinggal dari dunia bangsa peri.
Sebuah perbedaan seperti halnya langit dan bumi tentunya.
Zen tidak memaksakan Saren untuk bercerita terkait dimana letak dunianya dan dimana dimensi khusus yang menyimpa harta dan teknologi milik bangsa peri, karena itu semua adalah rahasia milik Saren pribadi.
“..apakah kamu berkenan bertemu dengan para wanitaku?!” tiba-tiba Zen terbesit untuk mempertemukan Saren dengan para wanitanya.
Saren sedikit terkejut dengan arah pembicaraan dari Zen.
Namun setelah Zen menjelaskan tentang para wanitanya, saren menjadi semakin tertarik untuk bertemu dengan mereka.
{sriingggg}
Zen langsung membuka gerbang teleportasi didepan mereka berdua.
“..ayo! ikuti aku!” ujar Zen
“..berpeganglah yang kuat!” perintah Zen sebelum memasuki gerbang teleportasi.
{zappp}
Gerbang teleportasi itupun tertutup seketika saat Zen sudah melintas.
{clapp}
Zen melangkah keluar dari gerbang teleportasi dengan diiringi tatapan penuh selidik dari saren yang ada diatas pundaknya.
“..suamii!!” adalah clara yang mengetahui lebih dulu kedatangan Zen.
Wanitanya Zen yang lain langsung mencari arah suara clara dan segera berhamburan mengerubungi keberadaan suami mereka.
Saren yang melihat begitu banyak wanita dengan rupa wajah yang cantik-cantik dengan tubuh yang sangat panas langsung terbang beberapa meter menghindar.
__ADS_1
“..waah banyak juga wanitanya!” gumam Saren.
“..semua cantik-cantik!”
“..dan tadi itu, apakah manusia didepanku ini manusia yang sama seperti penghuni didunia luar atau dia adalah manusia khusus yang menyembunyikan kekuatannya?!” saren berperang sendiri dengan pola pikirnya.
Setelah wanita Zen puas melepas kangen mereka, Zen memberikan kode pada saren untuk mendekat.
Para wanitanya heran, kenapa Zen menggerak-gerakkan tangannya seolah memanggil seseorang.
“..perkenalkan dirimu pada mereka, dan hilangkan mode kamuflasemu, sebab mereka hanyalah manusia biasa tidak seperti diriku yang bisa melihatmu dalam keadaan berkamuflase!” ujar Zen meminta saren.
{crinngg}
Perlahan tubuh saren mulai muncul dari kekosongan udara.
Peri!!
Terbang!!
Lucu!!
Imut!!
Berbagai respon keluar dari bibir para wanita Zen.
“..kalian ingatlah baik-baik, ini hanya rahasia diantara kita semua, jangan sampai keluar!” perintah Zen yang langsung dibalas dengan anggukan kepala dari para wanitanya yang langsung menyerbu Saren.
Melihat reaksi para wanitanya Zen, saren pun tertawa gembira.
“..ternyata para manusia ini sangat baik! Tidak seperti cerita para leluhur” gumam pelan saren yang bisa didengar oleh Zen.
Saren akhirnya menjadi pusat perhatian semua wanita Zen yang mengelilinginya sebagai bentuk kekaguman.
Dasar wanita, selalu ada yang bisa mereka lakukan ketika berkumpul bersama, saren yang paham segera membagikan sebuah alat yang sangat kecil dan langsung menempel di genderang telinga masing-masing dari seluruh wanita Zen bertujuan untuk melancarkan komunikasi.
Jadilah Zen seperti patung didiamkan tanpa ada yang menolehnya.
“..nasib bener daaah aaah..!”
Zen memberitahukan pada saren jikalau dirinya bermaksud kembali ketempat dimana saren terjatuh, karena ada hal yang mesti dikerjakannya.
Saren semakin yakin jikalau Zen adalah manusia spesial yang ada didunia luar dengan kemampuan serta kekuatannya yang diluar nalarnya, mungkin tidak hanya bagi manusia didunia luar namun bagi dirinya sendiri, kemampuan Zen sudah sangat luar biasa.
***
{dok..dok..dok}
Suara pintu ruangan kamar evelyn diketuk dari luar.
“..Zen!” sapa ayah mertuanya.
“..sebentar ayah!” jawab Zen yang terlihat pas keluar dari gerbang teleportasi.
{krieeet}
Pintu kamar terbuka dari arah dalam.
“..ayo kita bicara sambil makan sore di halaman belakang!” pinta ayah mertuanya Zen.
“..baik!’ Zen bergegas mengikuti ayah mertuanya dari arah belakangnya.
Tidak ada yang dibicarakan selama perjalanan menuruni anak tangga, hingga menjelajahi lorong mansion, ratusan langkah kemudian, keduanya tiba dihalaman belakang tempat dimana helipad berada.
Pemandangan mirip hutan kecil tergambar disepanjang mata memandang.
Suara gemericik air kolam yang cukup luas dan dihuni oleh biota air tawar sungai amazon membentang puluhan meter didepan Zen.
Pekarangan yang sudah didesain untuk sebuah acara makan sekeluarga itupun terlihat sepi.
{srinnggg}
Sementara itu gerbang teleportasi terbuka didalam kamarnya evelyn.
Zen yang melihat kegundahan ayah mertuanya langsung paham, sepanjang perjalanan menuju halaman belakang Zen memang sengaja mengirim chat pada Evelyn untuk mengajak semuanya bersiap makan malam dimansion milik ayahnya.
Evelyn dan semua wanita Zen bermaksud untuk memberikan surprise bagi ayahnya evelyn.
{tapp}
Evelyn menutup mata ayahnya dari arah belakang saat dirinya duduk.
“..cup” sebuah kecupan hangat dipipi bagian kiri ayahnya tanda sambutan dari evelyn.
“..eve!!” ayahnya langsung terkejut ketika mendapati anak kesayangannya sudah ada dibelakangnya.
“..kalian?” sapa ayahnya Evelyn.
“..salam om..” sapa semua wanitanya Zen yang berdiri dibelakang evelyn melihat pemandangan penuh haru untuk beberapa saat lamanya.
“..duduk-duduk..waah, kalian semua sudah membuat suasana rumah ini kembali ramai!” seru ayahnya evelyn yang terlihat sumringah, tertawa puas.
Setelah semua wanitanya Zen memberikan hormatnya dengan cara mencium punggung telapak tangan ayahnya evelyn secara bergantian, mereka semua duduk dikursi yang terlihat kosong.
Suasana makan malam terlihat sangat ramai, ada senyuman puas tergambar diraut wajah ayahnya evelyn, kehangatan sebuah keluarga besar yang telah lama hilang.
Saren yang melihat pemandangan berkumpulnya sebuah keluarga dari sudut pandangnya merasa sangat beruntung, dirinya bisa terdampar didalam sebuah lingkungan keluarga yang penuh dengan energi positif.
Untuk sementara waktu saren melupakan kondisi dunianya, dan dirinya turut menikmati kebahagiaan yang telah lama hilang darinya.
__ADS_1
Ada banyak rencana yang akan saren susun kedepan, tentunya dia akan meminta bantuan Zen untuk menyelesaikannya.