
Zen hari ini tengah berada disebuah kampus bertaraf internasional di kota besar.
Beberapa saat yang lalu dirinya sudah selesai melakukan pendaftaran ulang, sekaligus melunasi semua biaya perkuliahannya hingga 4 tahun kedepan.
Adalah fakultas ilmu kedokteran jurusan yang diambil Zen, sesuai dengan mimpi yang cita-citakannya.
Zen kembali ke konoha setelah segala urusan terkait bisnis serta pengaturan AD/ART rumah tangga gangster harimau emas telah diselesaikan.
Gangster harimau emas kini semakin ditakuti didunia bawah tanah negeri gingseng, dan dunia, karena telah tersebar kabar melalui video streaming, dikalahkannya para petarung dunia yang dibayar oleh 10 pemberontak kekuatan bawah tanah sebelumnya, kini mengalami kecacatan fisik dan mental mereka.
Hidup keempat petarung yang tadinya sangat ditakuti kini berubah menjadi sampah yang tidak dilihat sekitarnya. Sungguh menyedihkan memang kehidupan dunia bawah tanah.
10 pemberontak sendiri sudah dimiskinkan, namun keluarganya diizinkan untuk meninggalkan negeri gingseng.
Dunia per gangsteran memang sangatlah kejam, namun Zen memutuskan mengampuni anggota keluarga mereka dengan peringatan keras, nantinya jika mereka kembali berniat membalas dendam, maka artinya tidak ada lagi yang namanya pengampunan.
Saat Zen sedang berjalan dari ruang rektorat sambil mengamati kartu mahasiswanya, tiba-tiba..
{bruggghh}
Tubuhnya menabrak, lebih tepatnya ditabrak oleh sosok wanita dengan warna kulit putih, mulus, berambut panjang, namun sedang digelung kebelakang, dengan setelan rok span selutut serta baju putih yang keliatan terlalu ketat untuk menampung area dadanya.
“..aduh!!” teriak orang yang menabrak Zen.
“...maaf!” Zen segera meminta maaf sambil mengumpulkan beberapa berkas yang berserakan.
Terlihat wanita itu juga melakukan hal yang sama untuk memungut dokumennya yang tercecer, hingga zen bisa melihat dengan jelas ada warna putih nyelip, dilorong rok span miliknya, selipan warna putih itu terlihat jelas ketika sang wanita jongkok didepan Zen.
“..kamuu!!” wanita itu sadar kemana arah mata Zen melihat.
“..dasar mesumm!!!”
“..maaf, habis ibu sendiri yang jongkok didepan saya!”
“..saya hanya menikmati pemandangan yang ada didepan saya!!”
Pembelaan Zen ketika dirinya dipermasalahkan.
“...iisshhh,, siniin berkas saya!!” wanita itu terlihat kesal sambil berdiri membetulkan roknya dan segera merebut berkas yang ada ditangan Zen.
{klok}..{klok}..{klok}
Suara heelsnya terlihat sangat dominan menjejak lantai rektorat yang terlihat sunyi.
“..wanita yang aneh!” gumam Zen.
***
Disebuah ruangan digedung rektorat.
{tok}..{tok}..{tok}
Pintu diketuk dari arah luar.
“..masuk” ucap orang yang berada didalam ruangan.
{ceklek}
Handle pintu dibuka dari arah luar ruangan.
“..masuklah Clara!”
“..terima kasih pak!”
Didalam ruangan terlihat sudah banyak berkumpul bapak dan ibu dosen yang lain, karena hari ini mereka akan membahas acara penerimaan mahasiswa baru.
Rapat konsolidasi antar jurusan itu terlihat alot dengan banyaknya opini terkait masa orientasi calon mahasiswa baru.
Setelah terjadi perdebatan selama dua jam tanpa istirahat, akhirnya didapatkan kesimpulan jikalau masa orientasi mahasiswa hanya diberikan waktu selama satu minggu saja, dan tidak boleh ada yang namanya pembullyan, bahkan sampai mengarah kepada kekerasan fisik dan mental calon mahasiswa baru.
Dokter Clara sendiri merupakan dosen di fakultas ilmu kedokteran, tercatat sebagai salah satu dokter termuda dengan usia baru menginjak umur 30 tahun.
Sendirinya ditunjuk sebagai koordinator di fakultas ilmu kedokteran, untuk menjadi pembina sekaligus penanggung jawab acara orientasi mahasiswa baru.
“..eh Clara, kenapa tadi kamu telat?!” tanya rektor universitas.
“..maaf pak, tadi saya ada sedikit masalah diperjalanan” Clara sengaja tidak memberitahu pria paruh baya didepannya, jikalau dirinya bertemu dengan mahasiswa mesum yang telah melihat isi dalam roknya.
Seumur hidup Clara, baru kali ini dirinya mengalami kejadian yang memalukan, lebih lagi, ada pemuda yang telah melihat isi dalam roknya, meski masih dibalut segitiga warna putih, namun baginya itu sangat memalukan.
Tidak ingin bertanya lebih jauh, sang rektorpun menganggukkan kepalanya tanda menyetujui alasan yang sudah diutarakan.
Dokter Clara langsung pamit undur diri setelahnya, dirinya beralasan mesti berkoordinasi dengan himpunan mahasiswa kedokteran terkait acara ospek yang akan dimulai esok hari.
***
Didepan sebuah papan pengumuman perkuliahan di fakultas kedokteran, terlihat banyak sekali mahasiswa baru yang notabene adalah anak dari para konglomerat dan dokter terkenal di kota besar berkumpul melihat papan informasi.
Mereka sedang melihat papan pengumuman terkait agenda ospek esok hari.
Zen yang bisa melihat tembus pandang dari jarak jauh, tidak perlu repot untuk berkumpul layaknya antri sembako gratis dikelurahan desa.
Dengan santainya, Zen duduk dibawah pohon, namun sesekali dirinya melihat kearah papan informasi yang masih dikerumuni oleh banyak maba.
Pulpen yang dipegangnya terlihat begitu rapi menuangkan tulisan didalam kertas putih yang diletakkan diatas kakinya.
Setelah dirasa semua informasi kebutuhan ospek sudah ditulis, Zen kemudian berdiri sambil mengibas-ngibaskan tangannya untuk membersihkan celananya yang terlihat kotor.
__ADS_1
Zen berjalan dengan sedikit tergesa menuju toilet mahasiswa. Dirinya terlihat sudah tidak tahan untuk membuang sekresi beningnya didalam urinoir bilik toilet.
Didalam toilet, Zen mendapati jika semua lubang urinoir dalam tahap perbaikan dengan tulisan yang tertera jelas disana.
Tidak ingin menahan, Zen segera mencari bilik ruangan toilet, namun dari sekian banyak bilik toilet yang ditemui, semuanya ditulisi dalam keadaan rusak dan dalam perbaikan.
Ada satu bilik toilet yang tidak ada tulisannya dan terlihat tidak dikunci.
{brakkkk}
Pintu bilik toilet itu dibuka Zen dari luar, dengan posisi naganya sudah keluar dari sarangnya.
“...kyaaaaaaaa!” suara jeritan wanita dari arah dalam, posisi roknya sudah diturunkan, segitiga warna putih itu juga sudah turun dibawah lutut kakinya, sedangkan wanita itu posisinya duduk diatas closet dengan ekspresi yang terkejut serta malu.
Area sensitifnya telah dilihat pemuda yang membuka bilik toilet.
Dari point of view Zen, bulu halus itu terlihat masih banyak buliran air yang menempel.
“..mesummmm!!!! pergi...!!”
“...apa itu?!! Kyaaaaa”
Teriakan wanita yang terkejut ketika melihat naga milik Zen terlihat sudah dikeluarkan dari sarangnya dengan ukuran yang sangat besar menggelembung.
Zen yang terkejut, spontan langsung memasukkan kembali, naga yang telah dikeluarkan dan segera menunda aktivitas kekamar mandinya.
“..ibu kenapa ada didalam toilet laki-laki?!”
Zen terlihat masih berada didepan wanita yang masih terlihat duduk diatas closet dengan posisi membelakangi untuk membetulkan resliting celananya.
“..kamu k-e-l-u-a-r!!!” usir sang wanita.
“..dasar wanita aneh!!” ucap Zen yang bisa didengar olehnya
“..apa barusan kamu bilang!!!” teriak wanita yang terlihat sudah berdiri dan mulai membetulkan kembali pakaiannya.
“..wanita aneh!!” jawab Zen ngasal sambil mengarah pintu keluar toilet.
Zen yang tadinya sudah kebelet, jadi hilang rasa.
{zlaappp}
Dengan menggunakan kemampuan teleportasi, Zen sudah berpindah kedalam rumah mewahnya yang ada di belahan bagian selatan kota besar.
“..kemana perginya pemuda mesum tadi!!”
“..bisa-bisanya dia melihat bagian sensitifku terus main pergi!! Dasar pemuda tidak bertanggung jawab!!”
Dokter Clara terlihat menghentak-hentakkan kakinya ketika tidak mendapati Zen yang telah membuatnya malu seumur hidup.
“..lagian, mana itu mahasiswa yang aku suruh jagain pintu diluar!” gumamnya.
“..awas saja sampai aku bertemu lagi dengan pemuda mesum itu!” ucap dokter Clara yang masih jengkel dengan Zen.
***
Zen sudah tinggal didalam rumahnya yang merupakan hadiah dari bank swasta terbesar kapan hari.
Rumah yang terletak dibagian selatan kota besar itu terlihat sangat mewah karena dilengkapi dengan kolam renang pribadi dengan ukuran lahan yang sangat luas.
Letaknya yang berada dikawasan prime elite, membuat rumah Zen berharga ratusan milyar rupiah.
Setelah melanjutkan acara membuang sekresi, Zen terlihat duduk dimeja kerjanya sambil memandangi layar monitor super lebar yang mempertontonkan aktivitas disemua lini bisnisnya.
Hasil investasi Zen baik didunia saham dan dunia forex juga sudah mulai bisa dipanen.
Jika saja majalah forbes bisa mendeteksi jumlah kekayaan Zen saat ini, kemungkinan dirinya sudah menjadi orang terkaya di dunia.
“..kotak makan sudah”
“..kardus tulisan sudah”
Zen terlihat mulai mengecek lagi kelengkapan ospeknya, semua dipersiapkan dengan sangat rapi sesuai dengan isi tulisan didalam papan informasi.
***
Sementara itu disebuah rumah yang tidak kalah mewahnya dibelahan yang sama namun berbeda kawasan.
“..kamu kenapa sih Clara?! Dari tadi ini, mama lihat marah-marah mulu!” tanya mamanya Clara melihat anak kesayangannya terlihat sewot sendiri.
“..eh, mama, engga kok mam!!”
“..yang bener?! Cerita dong sama mama, ada apa?!”
Dokter Clara terlihat ragu untuk mengutarakannya,
“..jadi gini mama, tadi itu ada pemuda, keliatannya mahasiswa baru deh, cuman sudah 2 kali bikin Clara sebel!” ungkap dokter Clara.
Sang Mama yang paham betul karakter anak gadisnya, langsung tersenyum simpul.
“..jangan terlalu sebel, nanti yang ada, jadi jatuh cinta lho!” ujarnya sambil mengelus kepala anak gadisnya.
“..eh,!” dokter clara terkejut dengan omongan mamanya.
Dokter muda dengan segudang prestasi akademik selama bertahun-tahun itu terlihat kebingungan.
“..C-I-N-T-A?!” dokter clara bergumam pelan.
__ADS_1
“..iyaa.. awal dari cinta adalah sebel!” jawab mamanya yang terlihat senyum sendiri melihat perubahan sikap anak gadisnya.
Dokter clara kini terlihat merenung dengan kata-kata mamanya barusan.
Mengingat wajah sang pemuda yang sudah melihat bagian sensitifnya 2x dalam hari yang sama, meski dalam sebuah momen yang tidak bisa disalahkan, tapi wajah pemuda yang sudah membuatnya sebel itu terlihat masih menempel kuat didalam memori terdalamnya.
“..kyaaa...tidak.. tidak.. tidak..!!”
Tiba-tiba dokter Clara berteriak sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Mamanya langsung berdiri sambil tersenyum gembira.
“..apaan sih mama, senyum-senyum begitu?!”
“..engga kok.. kamu terusin saja sebelnya kamu sampai puas!! Hehehehe!”
“..tuuh kan mama ngetawain Clara lagi!!!”
“...hahahaha!!” karena sudah tidak tahan, sang mama langsung meledak ketawanya.
“..clara,..clara..akhirnya..!” sang mama terlihat bahagia dengan perubahan sikap anaknya yang tadinya sangat antipati dengan yang namanya hubungan lawan jenis, kini sudah mulai berubah 180 derajat.
***
“..ayo..ayoo..jangan lelet, segera kerjakan tugas dari senior kalian!”
“..ingat kalian ini akan membawa nama besar almamater kampus kita!!”
“..benar, jangan sampai kalian dicap lembek, malas, dan semua hal yang bisa mencoreng nama besar universitas kita ini!!”
Begitulah beragam teriakan terdengar pagi hari jam 7 waktu konoha, acara ospek yang sudah dimulai dari sejak pukul 5:30 pagi, terlihat sekali banyak calon mahasiswa baru yang terlambat.
Tidak berlaku bagi Zen, dengan mudahnya Zen bisa berpindah tempat dari rumahnya kearea kampus.
Beberapa calon Maba yang terlambat sudah mulai menerima hukuman fisik mereka.
Meski pihak rektorat tidak memperbolehkan adanya tindakan pembulyan yang mengarah kepada kekerasan fisik dan mental calon Maba, hanya saja pihak himpunan serta dokter Clara sudah saling sepakat, jikalau hukuman fisik yang diberikan adalah hukuman sebatas menggerakkan badan layaknya senam pagi.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul 08 pagi, terlihat semua calon maba telah berkumpul dihalaman fakultas ilmu kedokteran untuk menjalankan acara makan pagi bersama.
“..kamu!” tunjuk dokter clara pada Zen.
Zen yang masih dalam posisi menunduk sambil melihat bekal makanan yang telah dipersiapkan terlihat acuh tak acuh.
“..ssttt!!”
“..psssttt!!”
Kawan-kawan Zen yang berada didekatnya mencoba untuk memberitahu, namun Zen masih saja bersikap acuh tidak memperhatikan.
“..anak ini!!” gumam dokter Clara.
{siuuutt}
Tiba-tiba dokter clara melempar gumpalan kertas yang diarahkan pada Zen.
{ctassshh}
Reflek Zen sangat hebat, dengan tanpa melihat, Zen langsung membalikkan gumpalan kertas yang diarahkan padanya, dengan sangat kencang gumpalan kertas itu langsung menuju kearah pelemparnya.
{takkk}
“..aduh!!!” dokter Clara terlihat kesakitan karena gumpalan kertas itu langsung menyasar ke dahinya.
Entah bagaimana, gumpalan kertas itu rasanya seperti kerikil kecil yang langsung membuat dahinya berdarah.
“..hah!!”
“..bb-bagaimana bisa?!”
Aksi Zen barusan, spontan membuat semua calon maba serta panitia ospek terkejut.
“..anak itu, bagaimana bisa dirinya tanpa melihat, membalikkan arah gumpalan kertas pada pelemparnya, dan lagi bunyi tadi!!”
Beberapa panitia ospek terlihat bertanya-tanya dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
“...maaf reflek!!” hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Zen.
“..kk-kamu!!! Issshhhh....Bener-bener ya!!”
“..huftt!!”
“..kalian lanjutkan acaranya!” perintah dokter Clara yang terlihat memegang dahinya yang mulai mengeluarkan darah segar menetes.
“..bukannya itu cuman gumpalan kertas ya?!”
“..bagaimana bisa? Gumpalan kertas membuat bocor dahi?!”
“..entahlah, keliatannya kertasnya tajam mungkin?!”
Kasak kusuk pembicaraan menghebohkan pagi itu terdengar tak terkendali.
Zen sendiri sebagai pelaku terlihat memasang wajah tidak bersalahnya ketika para panitia ospek melihatnya dengan tatapan tidak suka.
Setelah beberapa saat, aktivitas kegiatan pengenalan lingkungan kampus kembali berjalan seperti semula.
Dokter Clara sendiri sudah terlihat kembali dilapangan dengan dahi yang diplester bening.
__ADS_1
Tatapannya begitu tajam mengarah ke Zen.
“..lihat saja nanti dikelas perkulihan!!” gumam pelan dokter clara.