PEMULUNG SUKSES

PEMULUNG SUKSES
Karma


__ADS_3

“..begitulah ayah gambaran ceritanya!” ucap Zen mengakhiri ceritanya panjang lebar.


Berita tentang hilangnya seluruh penemuan dari ilmuwan di gunung es abadi Islandia membuat gempar dunia, kamera CCTV bekerja dengan baik, dan tidak ada menunjukkan tanda-tanda pencurian.


Para konglomerasi yang sudah berdatangan langsung balik kanan kenegara mereka masing-masing.


“..waah jika seperti yang telah kamu ceritakan, ayah rasa keputusanmu itu sudah sangat benar Zen, setidaknya semuanya bisa terselamatkan dari wabah yang mengerikan kedepannya!”


“..euhmmmnn” Zen mengganggukkan kepalanya tanda menyetujui pernyataan dari ayah mertuanya.


Setelah dirasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Zen langsung pamit undur diri.


Hari ini Zen berencana untuk mendatangi kantor bank swasta terbesar di konoha, sudah hampir dua bulan lebih dirinya tidak ada datang.


Zen memilih menggunakan moda transportasi umum, dengan menggunakan kaos V neck warna putih bawahannya adalah celana jeans warna biru terang.


Adalah aplikasi online yang menjadi pilihan Zen untuk menuju ke gedung menara bank swasta terbesar di konoha.


“..dengan tuan Zen!” sapa pengemudi yang terlihat umurnya lebih tua 8 tahun darinya.


“..benar,..langsung saja ke tujuan ya pak!” ujar Zen ketika sudah memasuki kendaraan roda empat yang dipilihnya.


“..baik, sesuai aplikasi!” jawab sang pengemudi sopan.


Sepanjang perjalanan, tidak ada hal yang istimewa, karena jarak gedung menara bank swasta terbesar di konoha dengan rumah sakit internasional hanya 6 kilometer saja.


{dap}


“..terima kasih sudah menggunakan jasa kami!” sapa pengemudi dengan sopan dan ramah.


Zen membalas dengan senyuman, bukan karena apa, disepanjang perjalanan, mobil yang dikendarainya ternyata acnya mati, membuatnya kurang nyaman.


Satpam yang mengetahui jikalau yang baru turun dari mobil taksi online adalah bos besar mereka, satu regu langsung mendatangi dengan penuh sigap dan antusias.


“..selamat pagi tuan Zen!” sapa satpam yang bertugas


“..pagi! tetap bekerja seperti biasa, jangan terganggu dengan kedatangan saya!”


“..siap tuan Zen!” puluhan satpam yang tadinya bergerumul langsung membubarkan diri dengan rapi sesuai instruksi Zen.


Lain satpam, lain pula dengan para front officer, setelah mendapat informasi via radio telekomunikasi semua front officer meninggalkan kerjaan mereka dan berbaris membentuk lorong manusia.


“..selamat pagi tuan Zen!’ seru kompak semua karyawan bank swasta terbesar dikonoha menyambut.


“..terimakasih, lain kali jangan seperti ini, tetap bekerja seperti biasa, saya kurang suka dengan penyambutan semacam ini!” Zen berbicara dengan sangat tegas dan bisa didengar oleh seluruh karyawan yang ada.


Dengan berjalan penuh ketegasan, Zen menuju lift ruangan yang khusus untuk memfasilitasi dirinya sendiri.


“..aah legaa!!”


“..tuan Zen sungguh baik hati!”


“..iyaa.. dia bahkan tidak suka dengan penghormatan ala-ala negeri k-pop!”


“..benar, tuan Zen tidak gila hormat memang!”


Semua karyawan kembali ke posisi masing-masing sambil bergunjing terkait pribadi Zen yang terlihat sudah bergerak menaiki lift berkaca bening, posisi lift ruangan sudah naik ke lantai paling atas.


{tinggg}


Suara lift ruangan terbuka,


“..selamat datang kembali tuan Zen!” sekretaris direksi langsung menyapa Zen didepan pintu lift ruangan.


“..apakah para direksi ada ditempat?!” tanya Zen.


“..aa-ada tuan Zen!” jawab sekretaris sedikit gagap.


“..siapkan ruang meeting dalam 15 menit kita akan adakan rapat direksi!” ujar Zen memberikan perintah.sih


“..bb-baik tuan Zen, segera saya informasikan permintaan tuan Zen!” sekretaris langsung menundukkan badan dan mundur kebelakang, dan segera menjalankan perintah Zen.


Lima belas menit berselang, seluruh direksi yang dipanggil sudah berada didalam ruang rapat direksi.


{kriieeet}


Pintu ruang rapat terbuka dan Zen muncul dari arah luar.


“..selamat pagi semuanya!” Zen mulai menyapa semua direksi yang hadir.


Kharisma pemimpin yang dimiliki oleh Zen langsung membuat para direksi tertegun.


“..pagi tuan Zen!” kompak semua direksi menyapa Zen.


Ada beberapa pembahasan yang ingin Zen bicarakan dengan para direksi terkait kebijakan bank sentral pemerintah konoha yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 6%, kemudian terkait progress dari pertumbuhan kredit serta debitur yang terbaru, hingga sistem block chain yang sudah selesai diinstal oleh 10 hacker anak buahnya.

__ADS_1


Beberapa direksi mulai memberikan penjelasan mereka masing-masing, Zen langsung menginterupsi dan memberikan gagasan yang sangat diluar nalar.


Ada banyak kekaguman ditunjukkan dari ekspresi para direksi ketika mengetahui Zen bisa memberikan solusi dan ide-ide cemerlang diluar nalar para direksi.


Zen menutup rapat koordinasi direksi setelah empat jam lamanya bereka saling beradu argumen.


Wajah-wajah bahagia tersirat dalam setiap direksi yang mendapatkan tanggapan dari Zen, bukan bagaimana, selama ini mereka hanya mengerjalan segala sesuatunya sesuai juklak atau tatanan SOP perusahaan, namun berbeda dengan apa yang telah Zen lontarkan, sebuah ide cemerlang yang bisa mendongkrak market dari awalnya biasa menjadi luar biasa.


{tinggg}


Zen langsung masuk kedalam lift ruangan khusus dan menekan tombol untuk diarahkan kelantai bawah.


Tujuan selanjutnya Zen adalah kantin karyawan.


Boleh dibilang Zen ingin mengetahui bagaimana para karyawannya menghabiskan waktu istirahatnya didalam kantin khusus karyawan.


Dengan berbekal informasi yang diberikan oleh satpam penjaga pintu lift ruangan, Zen langsung menuju kearah belakang gedung.


Didepannya kini terdapat sebuah bangunan permanen dengan luasan yang mampu menampung 500 orang lengkap dengan fasilitas tempat ibadah dan berbagai gerai yang membuka menu bermacam-macam.


Setelah celingukan kesana kemari Zen langsung memilih duduk disebuah set meja kursi kantin yang masih kosong.


“..mau pesan makan apa mas?” sapa sopan wanita muda sambil membawa lembaran laminating menu makanan.


Belum sempat Zen ingin menjawab pertanyaan wanita muda yang ada didepanya,


“..waaah... ada siapa ini disini? Lihatlah semua”


“..udah mbak, engga usah ditawarin, dia ini gembel desa belimbing!” ucap pria yang memakai jas dan dasi yang terlihat klimis rambutnya.


“..masih ingat kan Zen!”


“..euhmmm!” anggukan kepala Zen ketika mendapati kawan SMA nya bernama Teguh Sanusi sedang memprovokasi pegawai kantin.


“..bagus kalo kamu ingat!”


“..denger ya mbak, dia ini gembel, jadi pasti engga bakal ada duit buat bayar makanan, yang ada setelah makan dia bakalan melarikan diri, embaknya juga yang bakalan rugi!” Teguh nyerocos tidak ada berhenti untuk membully Zen dengan perkataannya.


Aksi Teguh langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang sedang menikmati istirahat makan siangnya.


Beberapa karyawan yang mengetahui bos besar mereka sedang dibully hendak bergerak, namun Zen memberikan aba-aba dengan tangannya.


“..habislah itu si tukang kredit abal-abal”


“..akhirnya tiba juga hari dimana si tukang kredit abal-abal menerima karmanya!”


Berbagai gumaman dan cibiran ditujukan pada Teguh yang tidak tahu siapa lawan bicaranya kali ini.


Teguh sendiri adalah salah satu pemilik bank keliling yang memang suka mangkal di kantin gedung menara bank swasta terbesar di konoha.


Sudah banyak targetnya yang meminjam uang pada dirinya dengan bunga pengembalian yang menjerat leher tentunya.


Zen yang melihat dan mendengar berbagai reaksi dari pengguna fasilitas kantin bisa menangkap dengan jelas keinginan dari para korban si Teguh.


“..bagaimana kalo kita bertaruh!” ujar zen memprovokasi balik Teguh yang merasa sudah diatas angin.


“..apa yang kamu pertaruhkan! Duit saja engga ada! ciiih” sarkasme Teguh semakin menjadi.


“..hehehe.. aku akan berjalan tanpa menggunakan baju dan celana milikku, jika aku tidak bisa membayar makanan yang aku pesan! Begitu juga sebaliknya” jawab Zen.


Teguh yang mendengar Zen mengucapkan sesuatu yang jelas bakal mempermalukan dirinya sendiri langsung bereaksi.


“..setuju!” Teguh langsung menyetujui.


“..tapi, jika aku bisa membayar makanan yang aku pesan, sekalian semua makanan yang dimakan oleh para karyawan siang ini, kamu Teguh Sanusi! Harus angkat kaki dari kantin ini dengan polosan! Dan, semua piutang yang telah kamu sebar disini dianggap lunas! Bagaimana?!” Zen semakin memprovokasi Teguh Sanusi kawan SMA nya yang selalu membuly dirinya dulu.


“...hahaha.. kamu mau membayar semua makanan yang telah dimakan karyawan dikantin ini?! NGIMPI!!!”


“..oke! kalian semua saksinya!” Teguh Sanusi yang gampang terprovoskasi segera meminta semua orang menjadi saksi baginya.


Teguh sangat percaya diri, selama ini dirinya tidak pernah mengikuti perkembangan Zen, terakhir kali, bahkan Zen tidak ada datang diacara kelulusan SMA nya, meski nama Zen menjadi paling atas dengan nilai kelulusan yang sempurna.


Sementara itu wanita muda yang tadi sudah mencatat semua pesanan Zen sudah datang kembali dengan nampan berisi semua pesanan Zen.


Menu yang Zen pesan ada lontong sate kambing set, sop iga bakar set, jus sirsak, air mineral dingin, buah potong, serta pudding kelapa.


Teguh yang melihat pesanan Zen langsung tertegun!


“..bocah ini, benar-benar membuat kuburannya sendiri!” batinnya.


Zen menikmati dengan perlahan semua makanan yang disajikan diatas mejanya, sementara Teguh terus menatap kearah Zen dengan tatapan yang mengejek.


Beberapa karyawan front office serta satpam gedung sudah ada dilokasi, tentunya mereka ingin melihat hasil akhir yang membuat Teguh Sanusi kapok untuk menginjakkan kakinya di gedung bank swasta terbesar dikonoha.


“..slruuuppppp...aaachhh” Zen menyelesaikan hidangan terakhirnya dengan ekspresi yang seolah mengejek Teguh Sanusi, karena sedari tadi dirinya hanya melihat aktivitas makan Zen tanpa ada memesan makanan.

__ADS_1


Teguh Sanusi telah melewatkan kesempatan makan enak gratis ternyata.


Karyawan karyawati yang sudah mendengar taruhan yang ada dikantin langsung memesan semua makanan yang ada dikantin.


Para pemilik gerai makan di kantin begitu gembira, karena hari ini bisa dipastikan semua dagangan mereka laris terjual, apalagi setelah karyawan gedung bank swasta terbesar di konoha memberikan bocoran informasi siapa sosok yang sedang dibully oleh Teguh.


“..Teguh ini tagihannya semua! Lihatlah semua masakan dikantin ini juga sudah habis terjual !” ibu kantin yang memang bertugas sebagai kasir langsung memberikan bon yang panjangnya bisa sampai puluhan meter berisi semua menu yang habis terjual.


“..du-dua ratus - delapan puluh lima juta!!” Teguh langsung tertegun dengan tagihan yang dipegangnya.


Uang dua ratus juta saja dirinya tidak pernah megang, apalagi mesti membayar bon kantin yang menjadi pertaruhannya.


“...hahaha..matilah kamu Zen! Lihatlah tagihan ini, 285jt!!” Teguh Sanusi segera berteriak mengolok-olok Zen yang terlihat seperti orang ketakutan menurut sudut pandangnya.


Zen segera merogoh sakunya, mengambil sebuah kartu berlogo bank swasta terbesar di konoha namun kartunya berwarna sangat aneh, tidak seperti kartu pada umumnya.


“..gila itu kartu ultima!”


“..apa? siapa dia sebenarnya!”


Semua karyawan bank swasta terbesar di konoha sangat paham apa arti kartu ultima, beda dengan orang lain yang bukan menjadi bagian dari bank tersebut.


{trett}


Kartu edc yang dipergunakan langsung bereaksi dengan mengeluarkan bon tanda disetujuinya pembayaran.


Sejenak Teguh seperti tidak menapak diatas permukaan lantai kantin, tubuhnya langsung lemas ketika mendapati kertas tanda persetujuan bayar keluar dengan lancar sekali dari mesin EDC.


“..mampus si Teguh!”


“..mamam itu, telanjang-telanjang sudah dia!”


“..rasain, azab itu..karma sedang berlaku!”


Beberapa puluh karyawan yang melihat sejak awal olokan Teguh pada Zen langsung berkomentar, ada pula yang tertawa bahagia karena sebentar lagi mereka akan melihat Teguh Sanusi orang yang sering bergentayangan menawarkan kreditan dengan bunga tinggi pada karyawan akan menerima karmanya.


“..satpam!” ucap Zen memanggil.


Dengan bergegas satpam yang memang sudah menyaksikan dari tadi langsung menemui Zen.


“..kamu pastikan orang ini keluar dari kantin dalam keadaan tanpa memakai pakaian, kasih dia kardus bekas air mineral buat menutupi ***********!” perintah Zen.


“..siapp tuan Zen!” seru satpam.


“..tu-tuan Zen!” Teguh terbata, belum selesai dirinya shock dengan mesin edc yang mengeluarkan bukti pelunasan pembayaran, sekarang Teguh Sanusi harus menelan ludahnya lagi karena pribadi Zen yang sungguh diluar nalarnya.


Dengan tanpa menoleh kebelakang, Zen meninggalkan kantin setelahnya.


Semua karyawan yang melihat Zen sudah pergi meninggalkan kantin lantas melempar tatapan intimidasi pada Teguh yang tidak bisa lagi mengelak.


“..kamu mau melepas pakaianmu apa kita semua yang melakukannya!”


{brukkkk}


“..ambil itu kardus!” salah satu karyawan kantin melemparkan kardus bekas air kemasan yang sudah kosong.


Satpam terlihat mulai tidak sabar, mereka segera mengerubungi Teguh.


“..baik-baik...tunggu-tunggulah!” Teguh merasa dunianya sudah hancur, tidak ada tempat untuk bersembunyi.


Dengan sangat terpaksa Teguh segera melepaskan semua pakaiannya tanpa terkecuali,


“..omong saja gede, eeh giliran buka celana isinya cacing kremi!” sarkasme salah satu pengunjung kantin.


“..makanya jangan songong elu Teguh! Kena batunya kan elu sekarang!”


“..wwuuuuu”


Dengan diiringi cacian dan makian semua orang, Teguh meninggalkan kantin tanpa membawa pakaiannya, karena semua pakaiannya disita oleh satpam.


Suasana kantin pun berangsur kembali normal, para pegawai kantin yang baru pertama kalinya melihat pemilik dari bank swasta terbesar dikonoha dibuat heboh dengan berbagai ghibahan yang tidak kunjung selesai.


Sementara itu Teguh meninggalkan lingkungan gedung menara bank swasta dengan penuh cemoohan dari banyak orang.


Mentalnya sudah jatuh, dirinya tidak menyangka jika sosok Zen yang dulu sering di bully merupakan pemilik bank swasta terbesar di konoha.


Batinnya berkecamuk tidak percaya, aliran darahnya tidak stabil, hingga membuat sirkulasi oksigen ke otaknya tidak normal.


Tekanan mental yang sangat kuat menjadikan Teguh benar-benar gila sekarang.


“..pergi-pergi sana orang gila!”


“..dasar Gila!”


Beberapa orang yang ditemuinya langsung merundungnya dengan usiran dan cacian yang tidak ada habisnya.

__ADS_1


Tidak ada yang kasihan, karena Teguh Sanusi ini memang terkenal di sepanjang jalan dan gedung perkantoran sebagai rentenir harian, tidak jarang dirinya memberikan tekanan pada klien debiturnya jika mereka tidak bisa membayar.


Karma memang berlaku dan itu tunai didunia ini, seperti itulah yang terjadi dalam diri Teguh Sanusi.


__ADS_2