
Setelah satu minggu penuh acara pengenalan lingkungan kampus dilaksanakan, dan ditutup dengan acara penerimaan calon Maba menjadi bagian dari kampus oleh pihak rektorat, kini semua mahasiswa sudah kembali pada aktivitasnya perkuliahan mereka kembali.
Pukul 06:45 namun terlihat para mahasiswa sudah hadir dan bersiap didalam kelas, perkuliahan pagi ini akan diberikan oleh dokter Clara.
Dokter killer! Itulah Sebutan yang disematkan oleh para senior, karena dosen clara atau dokter clara adalah satu-satunya dosen yang sangat susah memberikan nilai B dalam mata kuliahnya.
Banyak mahasiswa senior yang mengulang sks dari dokter clara, seperti pagi ini, mahasiswa baru hanya berjumlah 40 orang, karena ditambah dengan jumlah mahasiswa senior yang mengulang sksnya, jumlah peserta perkuliahan bisa 3x jumlah mahasiswa baru, jadilah acara perkuliahan pagi ini seperti layaknya seminar umum.
Dengan mempergunakan ruangan auditorium fakultas yang mampu menampung 200 orang, terlihat semua mahasiswa sudah duduk di bangku mereka masing masing.
Dosen yang terkenal killer itu akan selalu datang 5 menit dari jadwal, hingga semua mahasiswanya selalu datang 15 menit lebih awal.
Meskipun peraturan rektorat, memperbolehkan mahasiswa bisa tetap dan mengikuti perkuliahan, apabila terlambat dibawah 15 menit dari waktu yang ditetapkan.
{brakkk}
Pintu ruangan auditorium dibuka dari arah luar.
Sosok wanita masih muda berumur 30 tahun dengan mempergunakan set pakaian rok span berwarna hitam dengan blazer warna yang sama, namun didalam blazer terdapat kemeja warna putih yang semakin menambah aura kecantikannya.
Jam dinding menunjukkan pukul 06:55!
“..untung aku tidak telat!”
“..iyaa, bisa-bisa kita ngulang terus tiap semester kalo sampai telat!”
“..ssstt, diamm!!”
Beberapa komentar terdengar kasak kusuk yang akhirnya behenti setelah salah satu senior mereka menegur.
“..pagi semua!!”
“..pagi Buu!!”
“..saya harap pagi ini tidak ada yang terlambat jam perkuliahan saya, karena jika terlambat lebih dari 15 menit, jangan harap bisa masuk kedalam kelas saya!”
Setelah itu dosen Clara segera menyalakan proyektornya dan mulai memberikan penjelasannya terkait mata kuliah Kardiovaskuler.
Dosen Clara atau dokter clara dunia medis memanggilnya, adalah salah satu praktisi akademis yang menguasai ilmu kardiovaskuler, Kardiovaskuler sendiri adalah ilmu yang mempelajari mengenai sistem kerja organ jantung dan juga pembuluh darah.
Merupakan ilmu wajib dikuasai oleh semua calon dokter diawal dunia perkuliahan kedokteran.
Seperti diketahui, setiap yang mengambil fakultas ilmu kedokteran total ada 47 mata kuliah dengan 148 sks yang harus dihabiskan minimal sebagai syarat menyelesaikan perkuliahan ilmu kedokteran selama 4 tahun bisa lebih tergantung kepintaran dan pemahaman mahasiswanya.
{brakkk}
Tiba-tiba pintu dibuka dari arah luar.
Zen terlihat mengatur nafasnya seolah-olah dirinya habis berlari marathon.
“..07:12!!” ucap dokter clara sambil melihat jam tangan digital miliknya.
Zen dengan santainya langsung berjalan menuju tempat duduk kosong yang ada dibagian paling depan.
“..siapa yang menyuruh kamu boleh duduk!” dosen clara yang melihat ini adalah momen yang sangat pas untuk mempermalukan Zen didepan mahasiswa lainnya segera menunjukkan dominasinya.
“..aturan kampus bu!?”jawab Zen singkat sambil mengeluarkan buku tulis dan perlengkapan kuliah lainnya.
“..hah?!” kali ini dosen clara terlihat menaikkan ekspresinya.
“..bukankah ibu sendiri yang bilang tadi, apa ibu lupa?!” Zen terlihat berekspresi dingin membalikkan ekspresi dosen clara yang masih terlihat memendam kejengkelannya.
“..huuuffttt!! baiklah!”
“..karena kamu datang terlambat, coba kamu ringkas apa itu yang namanya jantung?!”
Zen yang merasa jika dosen didepannya ini masih mendam jengkel akibat 3 kali pertemuannya berujung kesialan, mulai memasang ekspresi serius.
Jantung adalah organ vital yang berfungsi sebagai pemompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Apabila jantung mengalami gangguan, peredaran darah dalam tubuh dapat terganggu sehingga menjaga kesehatan jantung sangatlah penting agar terhindar dari berbagai jenis penyakit jantung.
Zen sudah selesai memberikan penjelasan yang sangat sempurna, meski belum mengikuti sejak awal jam perkuliahan, namun jawaban Zen membuat semua mahasiswa yang hadir terpukau.
Dokter clara semakin jengkel, karena niat ingin mempermalukan Zen, malah berbalik membuat Zen memperoleh wajah didepan mahasiswanya.
Satu jam empat puluh lima menit lamanya perkuliahan dokter clara berjalan. Dalam kurun waktu itupula dokter clara semakin dibuat jengkel, karena setiap pertanyaan yang diberikan, Zen bisa menjawab dengan jawaban yang sempurna.
Bahkan ada sesi perdebatan yang pada akhirnya jawaban zen yang lebih tepat dibandingkan jawaban dari dosen clara.
“..baiklah acara perkuliahan ini kita sudahi dulu, dan jangan lupa tugas yang saya berikan dikerjakan untuk dikonversikan ke nilai kalian nantinya!”
Dosen clara terlihat mulai mematikan laptopnya lebih awal dan langsung meninggalkan kelas perkuliahan lebih awal dari jam biasanya.
“..bro!! hebat betul kamu”
“..yap benar! Dosen killer itu sampai kehabisan kata-kata berdebat denganmu!!”
“..salut gue sama elu bro!!”
Berbagai pujian dilontarkan senior dan kawan seangkatannya karena baru kali ini mereka bisa melihat dosen killer kehabisan kata-kata dalam berdebat akademis.
Zen hanya menanggapi dengan senyuman simpulnya tidak terlalu memperdulikan pujian yang datang padanya.
“..eh nesya, kamu lihat maba itu tadi?!”
“..euummnn!” wanita yang dipanggil dengan nama neysa itu terlihat hanya merespon dingin.
“..ganteng juga ya?!” kawan satunya menimpali.
Adalah trio EN (Nela, Nuri, Nesya) tiga wanita yang merupakan anak dari dokter hebat ibukota, bahkan ada salah satu yang menjadi anak mentri kesehatan negara konoha, terlihat saling bergunjing terkait Zen yang berhasil mematahkan perdebatan antara dosen dan mahasiswa, sebuah perdebatan yang sangat langka terjadi, bahkan dimenangkan oleh seorang mahasiswa berstatus maba.
“..lihat sendiri kan tadi, itu perawan tua tidak biasanya mengakhiri perkuliahan lebih awal?!”
“..biasanya saja selalu lebih 30 menit dari jam yang semestinya, barulah selesai! Hufft!”
__ADS_1
“..iya bener itu! Kita beruntung semester ini ada maba yang jenius seperti anak itu!?
“..apa kamu tidak tertarik dengannya neysa?!”
“..tertarik?!!” kali ini wanita yang dipanggil neysa menoleh kearah dua temannya yang menunggu jawabannya.
“..apaan sih kalian!! Ga level!” jawab Neysa sambil mentoyor dahi keduanya secara bergantian, lanjut berdiri meninggalkan keduanya yang terlihat bengong.
“..neysa tunggu!!!” keduanya berdiri dari bangku perkuliahan mereka lanjut berlari mengejar langkah sahabat karibnya yang terlihat sudah menjauh dari ruangan.
Zen yang memang dasar laki-laki dingin, tidak ambil pusing dengan sikap kawan perkuliahan serta seniornya yang tidak kunjung selesai memujinya.
***
Di ruangan dosen fakultas kedokteran.
{brugghhh}
“..iisshhhhh!! sebel-sebel-sebel!!!”
Nampak dosen clara menjatuhkan tasnya dengan begitu kasar ketas mejanya.
Didalam ruangan sendiri terlihat kosong, hanya ada satu dosen wanita dengan umur yang hampir sama dengan dosen clara, namanya Wina.
“..ada apa siih Cla?” sapa Wina kalem.
“..tau engga Win, itu maba,..?!”
“..maba yang mana?!”
“..aisssh wina, itu maba yang bikin aku kesel beberapa hari kemarin!?”
“..ooh, maba yang sudah lihat kamu lagi pipis di toilet maksud kamu?!”
“..iyaa, maba mana lagi coba?! Kamu iissshh!”
“..hehehe..kirain ada maba baru lage!..kenapa memangnya?! Bikin ulah apalagi dia?!” wina yang merupakan sahabat karib clara baik selama menjadi mahasiswa sampai sekarang mencoba untuk mencari tahu lebih banyak.
“..tau engga?!”
“..euuhmmnn!!” wina menjawab sekenanya.
“..winaa!! issshhh...dengerin kek aku ngomong!!”
{plokkk}
Telapak tangan wina langsung diarahkan ke dahi clara.
“..diiih, apaan sih win?!”
“..habis dari tadi kamu ngoceh mulu, bukannya segera ngejelasin, ini muteer terus, tahu engga..tau engga?” wina menjawab dengan sewot kawan baiknya.
“..hehehe..”
“..malah nyengiir! Jadi apa? Kenapa dengan si maba itu?!”
{sluuurruuupppp}
Dosen clara mengambil tumbler air minumnya yang berisi cairan air mineral kekinian dengan campuran lemon dan kayu manis.
“..aahhh”
Wina terlihat sabar menunggu penjelasan kawan baiknya.
“..jadi gini,..”
“..tadi itu kan...”
Clara menjelaskan dari awal hingga akhir layaknya wanita yang sedang curhat satu sama lain. Hingga..
“..hahahaha....”
“..kok malah ketawa sih kamu win! Sebel!”
“..clara-clara, akhirnya ada juga yang mengalahkan kamu dalam berdebat!!”
“..dosen killer yang terkenal super perfect itu akhirnya kalah berdebat dengan seorang maba!!”
“..hahahaha...”
Melihat kawannya tertawa lepas.
“..puas kamu! Huft...! terus saja ketawain” jawab Clara dengan memasang wajah juteknya.
“...maaf..hehehe..!”
“..cuman gini Cla, hati-hati lho, biasanya semakin kamu sebel, yang ada kamu bakalan jatuh cinta!” kata wina sambil menggoda sahabatnya yang sedang merajuk.
“..apaan sih, engga kamu, engga mama aku, sama!”
“..diih, beneran itu.. awas ya kalo kamu sampai jatuh cinta beneran! Liat saja, bakalan aku umumin di grup kuliah, biar kawan-kawan seangkatan pada tahu semua, clara yang perfeksionis itu jatuh cinta sama seorang maba!”
“..apaan sih wina!! Siapa juga yang jatuh cinta!”
Clara semakin sebal dengan kawan baiknya yang tidak selesai menggodanya.
{drrrrtttt}
Hape milik Clara bergetar, dilayar menunjukkan wajah sosok paruh bayar dengan jas warna putih serta stetoskop yang melingkar dilehernya.
“..ayah!” ucap Clara spontan.
“..angkat dulu, siapa tahu penting?!” ujar wina.
__ADS_1
Clara memberikan gerakan tubuh agar wina diam saat dirinya angkat panggilan dari ayahnya.
“..pagi yah!?”
Sambungan jarak jauh lewat sinyal komunikasi hape itu tersambung.
“..baik yah, Clara akan segera ke rumah sakit sekarang juga!”
Tidak lama setelah clara menjawab telepon dari ayahnya, clara nampak bergegas berdiri dari kursinya.
“..ada apa cla?!” tanya wina dengan curiga?
“..ada pasien gagal jantung, butuh penanganan, sedangkan rumah sakit dokter jantung satu-satunya sedang melakukan operasi yang tidak kalah pentingnya diruangan sebelah!”
“..truss?!”
“..kamu ini lupa apa bagaimana sih win?! Aku kan salah satu dokter jantung dirumah sakit ayah!”
{plokk}
Kali ini wina menepuk jidatnya yang kelupaan jika sahabatnya adalah salah satu dokter spesialis jantung tersohor di rumah sakit, hanya karena dirinya yang lebih suka menjadi akademisi, membuat jam terbang Clara hanya sesuai panggilan saja.
{ceklek}
Pintu ruangan dosen terbuka dari arah dalam.
{brukkkk}
Tertabrak!!
Ruangan dosen ini, saat keluar dari ruangan, akan langsung menuruni anak tangga beton, meski tidak terlalu tinggi, namun jika tertabrak seperti sekarang, siapapun bisa langsung kesleo kakinya.
“..adduuhhh!!” Clara mengerang kesakitan, karena kakinya terkilir, heels sepatunya juga langsung patah.
“..kamuuu!!! aduuh!!’
Clara yang sepintas melihat orang yang menabraknya hingga kakinya terkilir, langsung mengerang kesakitan.
Sebelum clara terjatuh pemuda didepannya langsung mengambil tubuh wanita didepannya dengan cara merangkulnya.
“..clara!! aduh-duuuh...” teriak wina sahabatnya dari arah dalam yang melihat Clara terjatuh dalam pelukan seorang pemuda.
“..cepat-cepat taruh diatas sofa dulu, kita lakukan observasi!” ujar wina yang langsung menyuruh pemuda didepannya bertindak cepat.
Clara yang terlihat mengerang kesakitan, ingin rasanya memarahi pemuda yang saat ini sudah membopongnya layaknya pangeran impian didunia dongeng yang sering dirinya baca waktu kecil.
Dengan sangat pelan tubuh dosen cantik itu untuk diletakkan diatas sofa panjang yang ada di dalam ruangan dosen.
“..maaf!..” satu kata yang terucap dari mulut pemuda yang merasa bersalah.
“..sudah-sudah, kita selesaikan dulu permasalahan terkilir ini!” jawab Wina menengahi.
“..aduuh -duuh, kakimu bengkak Cla!”
“..auuuchhh!!” Clara mengerang kesakitan ketika wina mencoba untuk memegangnya.
“..jika ibu percaya, saya bisa menyembuhkannya!” tiba-tiba pemuda didepan mereka berbicara dengan penuh kepercayaan diri.
“..gimana Cla?!” tanya wina yang meminta persetujuannya.
“..mau bagaimana lagi! Lakukan lah! Tanggung jawab! Gegara kamu waktuku terbuang, ada pasien yang harus dioperasi di rumah sakit, jadi cepatlah!” ucap Clara yang terdengar dengan nada marahnya.
“..baik, tapi saya minta maaf, karena apa yang saya lakukan ini, sedikit sakit, dan tolong dimaafkan sikap saya!”
{tappp}
Tiba-tiba tangan Zen sudah ada didalam rok dosen cantik clara, lebih tepatnya, jempol tangannya menekan urat otot dan syaraf yang terletak dibagian paha mulusnya.
“..pppffttt”wina melotot dengan menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang telah dilihatnya.
Dengan gerakan perlahan, Zen mengurut nadi dan titik syaraf yang ditekan jempol jarinya semakin masuk kedalam rok dosen cantik clara hingga menyentuh pangkal paha bagian dalam.
“..pppfffttt” kembali wina membungkam mulutnya sendiri, jika bukan karena demi pengobatan, pemuda yang bernama Zen didepannya pasti sudah digebukin, karena sudah berbuat cabul pada dosennya sendiri.
“..aaauuuhhh!!” dosen clara terlihat menjerit kesakitan.
“..tahan, sebentar lagi selesai!”
“..sakiitttt tahu!!!” clara mencoba memprotes omongan Zen.
{klakkk}
Dengan gerak cepat Zen memlintir engsel kaki bagian bawah clara.
“...aaauuuccchhh!!” lagi-lagi dosen clara menjerit kesakitan hingga air matanya keluar.
“..sudah-sudah.. sudah selesai, coba sekarang ibu dosen berdiri jika tidak percaya!”
Hanya berjalan sepuluh menit kurang, penyembuhan kaki dosen clara yang terkilir selesai.
Clara yang terlihat kacau, mencoba berdiri dengan dibantu sahabatnya, roknya yang tadi sempat terangkat tinggi, sampai mempertontonkan segitiga pengaman berwarna pink berenda miliknya, kini dirapikan kembali.
semua karena teknik pengobatan yang dilakukan oleh Zen, dengan perlahan dosen clara menurunkan roknya, kemudian memperbaiki posisi segitiga pink berenda yang sempat nyempil dibelahan belakangnya.
Setelah clara berdiri dengan sempurna,...
{plaakkk}
Tamparan keras diberikan pada wajah ganteng Zen.
“..aauuccchh!!” wina langsung berkomentar ketika sahabatnya langsung main gaplok saja.
“..wanita aneh!” gumam Zen yang terlihat mengelus pipinya dengan ekspresi tak bersalahnya.
__ADS_1
“..apa!!” teriak Clara tidak suka.
Dirinya memang sudah tidak sakit lagi kakinya, bahkan rasanya seperti tidak pernah mengalami kejadian terkilir, namun teknik pengobatan yang dilakukan oleh Zen yang Clara tidak suka, jari Zen yang sudah berhasil menyentuh pangkal paha mulusnya, bahkan jari telunjuk Zen sudah menyenggol titik sensitifnya, perlakuan Zen itulah yang membuat Clara tidak sabar untuk segera menamparnya saat dirinya sudah bisa berdiri.